
"Kamu sedang apa tadi di dapur?"
"Oh, itu, emm... maksudku tidak sedang apa-apa. Aku haus. Aku mau minum tadi." Aku gugup, nampak sekali kalau aku berbohong lagi.
"Yakin?"
"Yeah, tapi aku belum sempat minum. Aku, aku ke dapur dulu, ya Mas. Kamu duluan saja ke kamar."
Reza belum sempat menyahut tapi aku langsung ngacir -- buru-buru ke dapur, karena aku ingat aku meninggalkan suratku di sana.
"Apa itu?" tanyanya saat aku mengambil dan melipat kertas surat itu, ternyata dia mengikutiku dan sudah berada di belakangku. Lantas saja itu membuatku kaget dan mematung.
Aku menggelengkan kepala kuat-kuat. "Bukan apa-apa kok, Mas. Hanya catatan untuk tulisanku." Lagi-lagi aku berbohong.
"Boleh aku lihat?"
"Jangan," jawabku spontan. "Maksudku tidak perlu, ini bukan apa-apa, Mas. Lagian kan kamu tidak suka membaca novel."
"Kamu bohong, ya?" tanyanya dengan ekspresi curiga yang sangat kental tersirat dari wajahnya.
Aku hanya menggeleng, tanpa mengucap kata tidak. Tapi tetap saja itu sebagai jawaban bohong.
"Kalau kamu jujur, kamu tidak akan takut aku melihatnya."
"Apa sih, Mas?"
"Aku mau lihat. Kalau memang itu sekadar tulisan untuk novel, nanti langsung kukembalikan."
"Mas, apa pun ini, ini kan privasiku, aku punya hak untuk mengizinkan kamu melihatnya atau tidak."
"Sayang? Mau kamu serahkan baik-baik atau aku akan merebutnya."
"Oke, Mas, oke. Ini surat untuk kamu. Aku akan memberikannya ke kamu besok, setibanya kita di Jakarta. Oke?"
"Kalau bisa sekarang, kenapa harus besok?"
"Besok!"
"Right know, please? Berikan padaku."
"Tidak."
__ADS_1
Aku berbalik, kusembunyikan kertas surat itu ke dalam bajuku, maksudku -- aku menyelipkannya ke bra-ku. Kupikir dengan begitu surat itu aman.
"Mau kamu keluarkan sendiri atau aku sendiri yang mengambilnya?"
Aku menggeleng. "Kamu tidak akan seberani itu. Kamu tidak mungkin kurang ajar terhadapku."
"Tentu saja tidak dengan niat kurang ajar." Dia menyahut sembari melangkah maju menghampiriku.
Aku ingin mundur, tapi terhalang meja. Dan dalam sedetik kemudian Reza sudah berdiri persis rapat di depanku. Aku ingin mendorongnya tapi tidak sempat, dia langsung mencekal tanganku dan menahan kedua tanganku ke belakang. "Aku beri kamu kesempatan, mau kamu yang mengeluarkannya sendiri atau aku yang mengambilnya langsung?"
"Aku saja," kataku.
Yap. Dia melepaskanku. Dengan begitu aku punya kesempatan untuk kabur, kudorong dia yang tengah lengah. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung melesat menuju kamar. Kupikir aku bisa lebih dulu sampai di sana dan mengunci pintu semalaman. Tetapi dengan gesit dia mengejarku. Dia menyengkatku persis waktu aku berhasil masuk ke dalam. Dan dia berhasil menahanku lagi, kali ini dia berdiri di belakangku.
"Tidak semudah itu kamu bisa lepas dariku," bisiknya. Aku berusaha berontak sekuat tenaga, tapi Reza lebih kuat daripada aku. "Jangan berontak atau aku akan salah sasaran."
Ya ampun... aku salah fokus. Suaranya terdengar begitu sensual di telingaku. Sadar dong, Nara... lihat situasi. "Lepaskan aku, Mas. Biar aku yang keluarkan sendiri, ya? Tolong?"
"Kamu terlalu banyak bohong malam ini. Mana bisa aku percaya."
"Mas..."
"Ssst...," desisnya. Tangannya sudah menyusup ke dalam bajuku.
"Kamu menyukainya?" Reza berbisik di telingaku. Dia memain-mainkan jarinya di seputar pusarku. Seperti membentuk lingkaran-lingkaran, atau... Entahlah. Tapi itu membuatku berdebar-debar. Sungguh, aku menyukai dan menikmatinya.
Aku tidak menjawab. Aku salah tingkah. Aku berusaha menahan senyum malu dengan pipi yang merona. Dan aku... aaah...
Bibirnya menempel di leherku. Aku melayang.
"Mas... kita akan pulang, jangan meninggalkan jejak di leherku." Tapi dia tidak mau mendengar. Dia menghisapku. Menghisapku lembut, nikmat, dan...
Aku tidak kuasa melarangnya. Terpaksa aku membiarkannya. Sori, maksudku -- aku dengan senang hati menerima perlakuannya. Tidak apa-apa kan hanya sebatas leher? batinku bertanya pada diriku sendiri.
*Tidak apa-apa, Nara. Nikmati saja. Asyik, kan?
Ah, Setan! Jangan ikut-ikutan membujukku*.
Jangan naif! Kau deg-degan karena kausuka. Jangan bodoh!
Yap. Itu benar. Aku suka. Aku deg-degan saat jari-jarinya melangkah naik -- dari perut ke dadaku -- dengan jejak-jejak lurus perlahan melewati belahan dada.
__ADS_1
"Mas...," aku mendesah kendati sambil menggeleng. "Jangan sentuh..."
Benar-benar naif. Aku menolak tapi sebenarnya aku juga ingin, dan... aku terus menikmatinya. Terlebih... dia mengusap-usapkan jemarinya di dadaku. Terasa panas...
Nikmat...
Dan...
Arrrgh!
Dengan cepat tangannya menyelinap lalu menarik keluar kertas surat itu.
"Silakan melanjutkan adegan tadi dalam fantasimu," katanya. Dia pun tersenyum penuh ledekan, melepaskan tanganku dan berlalu meninggalkan aku dalam keadaan tanggung. Yah, TANGGUNG. Benar-benar tanggung.
Iiih... kesal!
...♡♡♡...
Entah Reza bersembunyi di mana, aku tidak bisa menemukannya. Kupanggil-panggil namanya, dia tidak menyahut. Aku pun menyerah, lalu pergi ke halaman belakang.
Aku mondar-mandir di pinggir kolam. Aku resah, aku gelisah. Seperti lagu Kisah Kasih di Sekolah. Aku berkeringat padahal angin malam berembus dengan kencang.
Aduh... selama itukah dia membutuhkan waktu untuk membaca suratku, berpikir, dan mengambil keputusan? Sungguh kamu membuatku resah, gelisah dan hampir nelangsa.
Satu menit. Dua menit. Lima menit. Bahkan lebih dari dua puluh menit. Reza tidak kunjung muncul. Sambil mondar mandir aku menggigit-gigiti kukuku, menyibak-nyibakkan rambutku yang tertiup angin, dan mengelus-elus tanganku yang mulai kedinginan. Yah, akhirnya aku duduk, menekuk kedua kakiku dan menahannya dengan kedua tangan. Kubenamkan wajahku di antara kedua lutut. Tuhan, aku pasrah, batinku. Tentu saja. Mungkin dia akan menganggap aku ini wanita gila. Siapa yang mau menikah dengan wanita gila, liar, dan tidak bisa mengendalikan diri sendiri?
Eh? Apa ini?
Reza mendekapku dengan selimut menyelubungi tubuh kami. Kuberanikan diri menatap wajahnya. Dia tersenyum. "Aku. Cinta. Kamu," ucapnya.
Aku terdiam. Aku menunggu dia mengucapkan kalimat-kalimat lain sebagai tanda bahwa hubungan kami tetap berlanjut, kami baik-baik saja, tetap Sakinah, Mawaddah, Warahmah. Eh?
"Aku cinta kamu apa pun dan bagaimanapun diri kamu. Terima kasih karena kamu sudah jujur padaku. Kita akan tetap menikah. Aku, kamu, kita. We are the best couple forever and ever."
Itu -- itu yang ingin kudengar. Segera saja aku menyurukkan kepalaku ke dadanya. Aku bahagia. Aku bahagia. Aku bahagia. Saking bahagianya air mataku bahkan menetes tanpa izin.
"Mau berdansa denganku?"
"Sekarang? Dengan penampilan seperti ini?"
"Memangnya siapa yang mau melihat?"
__ADS_1
"Yeah. Ayo," sahutku.
Di bawah taburan kerlap-kerlip bintang di angkasa, di dalam balutan selimut, dihangatkan oleh dekapan seorang Reza, dan bertemankan alunan merdu suara Once dalam lagu Dealova, sungguh betapa bahagianya aku malam ini. Rasa-rasanya -- semua beban di hatiku -- luruh.