CCI

CCI
88


__ADS_3

Hari sudah sangat senja saat aku mengendap-endap masuk ke ruang rawat inap rumah sakit tempat Reza dirawat, sedapat mungkin tanpa bersuara, lalu kupanggil namanya.


"Aku di toilet," sahutnya.


"Salsya sudah pergi?"


Hening sejenak, lalu katanya, "Ya." Aku tidak bisa melihat wajahnya, tetapi nada suaranya menyiratkan bahwa dia mendelik sebal. Seolah-olah keterlaluan sekali aku beranggapan dia ada di dalam sana bersama Salsya.


Aku duduk di sofa dengan wajah masam, sengaja -- aku ingin Reza meminta maaf kepadaku atas sakit hati yang kurasakan beberapa jam yang lalu karena sikapnya yang masih saja melempem di depan Salsya. Tetapi Reza malah langsung merapat, memeluk lalu hendak menciumku. Dengan sigap aku menghindar sebelum bibirnya mendarat di pipiku.


Aku duduk di kursi lipat, Reza malah ikut duduk di sana, di lantai, berjongkok lutut di depanku. Dia sedikit meringis sakit ketika hendak duduk, dan itu membuatku tidak tega. Aku pun berdiri dan meraih lengannya. "Ayo, kembali ke bed."


"Tidak mau. Aku maunya di dekat kamu," katanya dengan manja.


"Baiklah. Kita duduk di sofa."


Keadaan Reza sudah jauh lebih baik, tapi aku terbiasa memperlakukannya seperti pasien yang butuh perlakuan ekstra. Aku memapahnya sampai dia benar-benar duduk, tahu-tahu dia langsung menarikku sampai aku jatuh terjerembab di atasnya. Dia memegangiku dengan kuat sampai aku tidak bisa berdiri, mungkin bisa kalau aku melakukannya dengan kuat dan kasar, tetapi aku tidak mau menyakitinya dan tidak mau membuat sakitnya lebih parah. Akhirnya aku pasrah, aku duduk di pangkuannya -- di atas pahanya.


"Jangan diulangi," bentakku, bentakan yang tidak terlalu keras -- hanya level satu. "Itu berbahaya. Kalau aku jatuh mengenai lukamu, bagaimana?"


Senyuman bahagia pun langsung mengembang di wajah tampannya. "Tidak apa-apa. Demi bisa sedekat ini. Aku kangen sekali," katanya.


"Sori ya, tidak mempan. Bukan itu yang mau kudengar."


"Lalu? Apa?"


"Per min ta an ma af."


"Baiklah." Reza menghela napas panjang dan mengembuskannya dengan keras. "Aku minta maaf untuk kesekian kalinya karena selalu membuat kamu sedih."

__ADS_1


Aku menggeleng-gelengkan kepala. Permintaan maaf itu terdengar enteng, seakan sama sekali tidak berarti lagi karena terlalu sering terucap. "Sampai kapan akan begini? Aku tidak tahan, kamu selalu membuatku sakit."


"Sayang, jangan menangis..."


"Jawab aku... sampai kapan?" Aku merengek dengan mata berkaca-kaca.


"Sampai Salsya melahirkan. Aku janji setelah anak itu lahir aku akan bersikap tegas pada Salsya. Sabar, ya? Please..."


"Aku tidak tahan berdekatan dengan Salsya, Mas. Apa aku harus terus menghindar supaya aku tidak sampai menyakitinya? Seperti tadi? Membiarkan kamu berduaan dengan dia sementara aku pergi? Kamu mau aku selalu pergi, begitu?"


"Aku..."


"Kamu tidak akan pernah bisa menyuruh dia yang pergi. Kamu juga tidak bisa selalu mengandalkan aku untuk mendepak dia. Itu seharusnya tugas kamu."


"Please, Sayang. Kita sudah pernah membahasnya, kan? Tolong sabar sampai dia melahirkan."


Aku tidak menjawab, meski hal ini sudah pernah kami bahas sebelum Reza masuk rumah sakit. Tapi rasanya tetap saja berat menunggu selama itu -- sementara Salsya semakin agresif.


Reza melonggarkan lingkaran tangannya di pinggangku, dan aku cepat-cepat turun dari pangkuannya -- melesat ke kamar mandi. Tangisku langsung pecah di dalam sana, aku menangis bermenit-menit. Kurasa Reza mendengar seduh-sedan tangisku dari luar sana, sampai dia nekat membuka pintu dan masuk menghampiriku. Dia memegangi bahuku dan menarikku bangkit. Aku bersandar ke dinding dengan merunduk, sebab Reza berdiri rapat di depanku. Aku tidak bisa balas menatapnya yang menatapku -- meski raut wajahnya penuh dengan rasa bersalah.


"Bisa tidak kita menikah, lalu pergi ke tempat yang jauh, tempat di mana Salsya tidak bisa menemukan kita?"


Reza menggeleng, namun tidak mengatakan apa-apa. Kuberanikan mengangkat wajah dan balas menatapnya, aku bisa melakukan itu di saat aku tersulut api amarah. "Apa aku harus mengancammu juga? Apa aku juga harus mengancammu dengan bunuh diri supaya kamu peduli padaku dan mau meninggalkan dia?"


Reza menggeleng lagi. "Jangan. Kamu tidak harus seperti itu. Tolong, sedikit berkorban demi bayi tidak berdosa itu."


"Itu anak kamu? Iya? Hmm?"


Reza menggeleng tapi belum sempat menjawab, suara Salsya yang memanggil nama Reza sudah menggema memenuhi ruangan.

__ADS_1


"Kamu bilang dia sudah pergi. Apa ini?" Aku bertanya sepelan mungkin, lalu cepat-cepat menghapus air mataku.


Lagi-lagi Reza menggeleng dan belum sempat menjawabku. Dengan tanpa izin ataupun bertanya dulu -- Salsya lancang mendorong pintu toilet yang tidak tertutup rapat. Dia tercengang mendapati aku dan Reza berdiri rapat berhadapan, terlebih posisiku yang terhimpit di antara Reza dan dinding, ditambah lagi posisi tangannya yang mendekapku -- atau katakankah seperti itu -- satu tangannya melingkari pinggang dan satunya bertaut di leherku.


"Kenapa kamu ke sini lagi?"


Reza bertanya pada Salsya tanpa melepaskan tangannya dariku, tanpa bergeser sedikit pun. Dia hanya menoleh ke perempuan gila itu. Nada suaranya jelas menunjukkan ketidaksukaan pada kehadiran Salsya, tapi percuma, perempuan itu benar-benar gila -- dia tidak akan peduli bagaimana tanggapan kami terhadapnya.


"Aku mau menginap di sini. Aku mau menjaga kamu."


"Aku sudah bilang tidak usah. Ada Nara, kan? Biar Nara yang menemaniku di sini."


"Aku kira Nara tidak akan ke sini. Tapi tidak apa-apa, aku bisa tidur di lantai."


Berengsek! Dia kira aku tidak tahu akal piciknya. Dia pasti tahu Reza tidak akan tega membiarkan dia tidur di lantai. Ujung-ujungnya Reza akan melakukan sesuatu untuknya. Bisa saja Reza menyuruh seseorang membawakan matras, sofa atau apalah untuk perempuan itu. Tapi pada intinya aku tidak suka reza melempem alias lembek padanya. Usir dong, Mas... usir...


Reza tidak berkutik.


"Kalau kamu membiarkan dia di sini, aku yang pergi," kataku.


Aku berusaha melepaskan diri dari pelukan Reza, tapi tidak berhasil, Reza semakin mengenyakkan tubuhku ke dinding. Dalam keadaan seperti itu dia tidak akan peduli kalau aku bisa kasar dan menyakitinya. Pada akhirnya aku serba salah, bila aku nekat kasar menyakitinya pasti itu berimbas pada luka operasinya. Tapi bila aku diam saja, aku terkesan sebagai perempuan yang bisa ia tindas, dan aku tidak suka itu, meski sebenarnya aku tahu dia tidak akan pernah menganggapku seperti itu.


"Jangan pergi," katanya. Itu perintah? Permintaan? Atau permohonan? Entahlah. Reza berkata di depan wajahku, hidungnya bahkan menyentuh pipiku.


Meski tidak dengan sekuat tenaga, aku mencoba menjauhkannya dariku, tetapi usahaku untuk mendorong tubuhnya malah membuat dia bereaksi lebih agresif. Dia mencium bibirku kuat-kuat, menciumku dengan kasar di depan Salsya. Aku tidak suka. Kuinjak kakinya dan aku berhasil lepas. Sejujurnya aku tidak tega menginjak kakinya dengan wedges-ku yang keras, terlebih dia sedang bertelanjang kaki, tapi tidak ada cara yang lebih baik untuk melepaskan diri darinya. Aku terpaksa.


Sewaktu aku berhasil keluar dari toilet itu, Reza berusaha mengejarku, dia sempat keluar tapi langsung refleks terduduk ke lantai akibat efek rasa sakit dari luka bekas operasinya. Ia terduduk dengan lutut menopang tubuhnya dan satu telapak tangan menahan ke lantai. Ia meringis kesakitan sambil memegangi pinggangnya.


Aku yang berhenti dan berbalik baru hendak menghampirinya, hendak meraihnya. Tapi Salsya yang berada di dekatnya dengan sigap meraihnya dan memopangnya bangkit. Melihat tangan Reza bertaut -- berpegangan kuat pada tangan Salsya -- sekonyong-konyong melebur rasa ibaku. Aku benci pada Reza yang 'selalu' membiarkan Salsya hingga Salsya 'selalu' mendapat celah untuk berdekatan dengannya.

__ADS_1


Semenjak tahu Salsya hamil -- Reza selalu lembut terhadapnya -- meski itu di depanku.


__ADS_2