
Reza pandai sekali memanfaatkan keadaan. Dia memanfaatkan sakitnya untuk bermanja-manja padaku. Mulai dari makan yang minta disuapi, minta dipijatkan kepalanya, minta disisir dan diikatkan rambutnya, bahkan dia memintaku duduk di sampingnya, di atas bed -- dia minta ditemani nonton televisi. Ditambah lagi hal-hal lain yang aku tahu dia sengaja melakukannya hanya demi mendapat perhatianku.
"Manja," kataku ketika aku membersihkan badannya. Reza mengeluhkan bau badannya karena dia belum mandi dari kemarin. Dia memintaku untuk membersihkan tubuhnya -- harus aku -- dia tidak mau perawat rumah sakit yang melakukan itu.
Reza pun melirikku. "Terserah kamu mau bilang apa. Yang penting aku tahu kamu ikhlas, karena kamu sangat menyayangi aku." Reza berkata dengan penuh percaya diri, senyum pun tak henti mengembang dari wajahnya yang tampan.
Aku balas tersenyum sambil terus melakukan tugasku. Saat itu aku tengah menyeka lehernya lalu ke sisi kiri dadanya.
"Jangan berfantasi yang aneh-aneh, ya." Dia nyengir lebar.
"Sori ya. Aku terpesona pada tubuh kamu yang atletis. Bukan tubuh pasien seperti ini," ujarku.
"Baiklah. Tunggu aku sehat."
"Tunggu setelah kita menikah," ralatku.
Aku keceplosan, seharusnya aku tidak menyinggung sedikit pun tentang pernikahan, topik yang seharusnya kuhindari untuk sementara. Tapi pada akhirnya kurasa itu sama sekali tidak berguna, Reza harus tahu dan harus bisa menerima kenyataan.
"Lusa, akan kuwujudkan semua mimpi-mimpimu." Dia menolehku, kebahagiaan memenuhi sorot matanya.
Kalimat yang baru saja terucap itu harusnya menjadi kalimat yang manis ketika aku mendengarnya. Tapi keadaan justru membuat kalimat itu seperti bongkahan es tajam yang menusuk tepat di jantungku. "Tunggu kamu benar-benar sembuh dan keluar dari rumah sakit." Akhirnya aku terpaksa berkata seperti itu. Aku tidak mau Reza terus-terusan menaruh harapan pada rencana pernikahan yang jelas-jelas tidak mungkin terlaksana.
Reza menolehku lagi, kali ini tanpa binar-binar bahagia sedikit pun. Aku bisa melihat seribu tanda tanya di wajahnya, terlebih dari kedua matanya.
"Kita bisa mengatur ulang rencana pernikahan kita. Aku akan menunggu," kataku.
"Kenapa? Apa kondisiku parah? Tolong beritahu aku."
Aku menggeleng. "Jangan khawatir, Mas." Kucoba untuk menenangkan Reza dengan meraih dan menggenggam tangannya, lalu kutatap matanya dengan cinta. "Kamu sekarang baik-baik saja, hanya butuh waktu pemulihan pasca operasi, sampai luka kamu sembuh."
Reza berusaha melihat luka jahitan di pinggangnya, jelas dia menginginkan jawaban yang lebih pasti atas pertanyaan yang bergejolak di benaknya.
"Organ di dalam sini juga ikut terluka," kataku seraya menyentuh plaster penutup lukanya.
Reza tercengang, sesaat kemudian dia langsung menunduk. Aku tahu kesedihan sedang meliputi jiwanya. Pasti karena dia menyadari bahwa dia benar-benar hampir mati. Tidak seperti dugaannya kemarin yang mengira hanya sekadar terluka karena tertusuk benda tajam.
"Kemarin kamu memang sempat kritis, kamu dioperasi. Tapi semua sudah berhasil ditangani. Yang penting sekarang kamu sudah baik-baik saja, kamu selamat, tinggal masa pemulihan. Dan aku akan selalu mendampingi kamu, aku bersedia merawat kamu sampai kamu benar-benar sembuh. Emm?"
Mata hitam Reza memicing, dia kembali tersenyum. "Aku bersyukur aku masih diberikan kesempatan hidup. Masih bisa melihat kamu, bersama kamu."
__ADS_1
"Benar," sahutku. "Kita harus bersyukur." Lalu aku memeluknya. "Nanti juga kita bisa pulang, hanya perlu menunggu beberapa hari."
"Lalu, pernikahan kita, bagaimana?"
"Jangan--"
"Aku tidak mau melewati Ramadan nanti sendirian. Tapi...," Reza menyela ucapanku, dan kalimatnya langsung terputus. Bingung sekaligus putus asa tersirat jelas di wajahnya.
Aku tersentuh. Hatiku mendengar harapan yang tertanam di hatinya, juga tentang kepedihannya -- kepedihan seorang lelaki yang hidup sebatangkara.
"Shuttt... aku mau. Kita bisa menikah secepatnya. Kapan pun yang kamu mau. Lagipula kalau aku mengurus kamu sebagai suami, itu kan ladang pahala untukku."
"Tapi kondisiku--"
"Menikah saja dulu. Kondisi kamu bisa membaik seiring waktu."
"Kamu tidak mengerti," kata Reza. "Operasi besar butuh waktu cukup lama untuk kembali normal."
Kulepaskan pelukanku dan kutatap mata Reza dengan yakin. "Aku mengerti, aku paham. Aku bisa menunggu untuk itu, sampai kamu benar-benar pulih dan kembali bugar."
"Kamu yakin?"
"Melewati malam pertama." Reza menyelesaikan kalimatku dengan lugas.
"Malam pertama." Aku mengangguk. Tak ayal, senyum malu langsung terlukis di wajahku.
"Thanks. I love you so much."
"Urwell. Sekarang apalagi yang kamu mau?"
"Ponselku," sahutnya. "Aku mau mengabari semua orang."
Kubiarkan Reza fokus menatap layar tujuh inci di tangannya -- sibuk mengatur ulang rencana-rencananya. Sementara aku bersantai, menyalakan televisi dan selonjoran di sofa.
"Sayang," panggilnya sekitar dua puluh menit kemudian, kurasa lebih. "Aku sudah bilang pada Ihsan dan semua orang kalau rencana pernikahan kita diundur. Terus aku dan Ihsan sudah berunding, kita akan menikah tanggal empat belas, di Palembang. Bagaimana?"
Siaran di televisi mendadak tidak menarik sama sekali untuk ditonton. Aku yang tadinya fokus menatap layar televisi malah tercengang. "Empat belas? Di Palembang?"
"Iya, keluarga kamu semua sudah mudik sebelum tanggal sepuluh. Kita ikut mudik dan menikah di sana. Empat belas April, hari selasa. Tidak apa-apa, toh tanggalnya bagus. Kamu masih mau pakai WO sepupu kamu, kan? Mereka sabtu dan minggu semua full booked. Kita tidak punya banyak pilihan."
__ADS_1
Aku masih saja tercengang, sementara Reza terus berceloteh tentang rencana-rencananya.
...♡♡♡...
Keesokan paginya, sekitar jam sepuluh, seorang dokter visite melakukan pemeriksaan terhadap Reza dengan bantuan seorang suster yang mencatat semua hasil pemeriksaan itu.
"Kira-kira kapan saya boleh pulang, Dok?"
"Tergantung hasil pemeriksaan, Pak. Kalau semuanya baik, Pak Reza boleh pulang dua atau tiga hari lagi. Kemudian harus kembali check up setelah satu minggu keluar dari rumah sakit."
Penjelasan dokter malah membuat Reza semakin nge-drop. Persis seperti yang kutakutkan. Aku menggenggam dan meremasi tangan Reza untuk menguatkannya. "It's ok. Tidak apa-apa," kataku.
"Boleh bicara empat mata, Dok?" tanya Reza. Dokter itu pun meminta suster yang bersamanya untuk keluar. Begitu pun Reza, meski dia tidak mengatakan apa-apa, tapi aku mengerti -- tatapan matanya menyiratkan supaya aku juga keluar dari sana.
Dokter pun keluar dari ruang rawat itu setelah beberapa menit mereka mengobrol, dan aku langsung masuk.
Hatiku ngilu, aku menangkap basah Reza sedang menyeka air mata. Aku pun menghampiri dan duduk di sampingnya. "Aku tidak tahu apa yang tadi kamu bahas dengan Dokter. Kalau kamu mau cerita, aku siap mendengar," kataku.
"Aku takut aku hanya menjadi beban kamu setelah ini."
"Beban? Coba kamu jelaskan, beban seperti apa?"
"Aku harus banyak istirahat, tidak boleh mengangkat beban berat, ke mana-mana tidak boleh menyetir sendiri. Parahnya aku harus sering check up. Menyedihkan, makan pun harus dikontrol."
Aku berdiri, kucium pipinya dengan penuh perasaan, lalu duduk di sisinya, menyandarkan kepala di bahunya sambil menggenggam erat tangannya. "Seperti apa pun keadaan kamu saat ini, kamu tetaplah tempat untuk aku bersandar. Hal-hal yang kamu sebutkan tadi itu sifatnya hanya sementara. Kamu bisa cari supir. Kamu harus banyak istirahat -- bukan berarti kamu harus selalu di kamar, bisa di taman, bisa di sofa, di pelukanku juga bisa. Terus kalau urusan angkat beban, memangnya kamu mau mengangkat apa? Galon? Karung beras? Aku bisa angkat sendiri. Kalau kamu rajin check up kamu akan cepat pulih, jangankan galon, kamu bahkan bisa menggendongku lagi nanti, kamu juga bisa push up dengan berat beban kita berdua, seperti waktu itu. Dan untuk urusan makan, aku yang akan mengurus kamu, menjadi perawat kamu seumur hidup. Kita bisa melewati semuanya -- berdua, bersama."
"Ambilkan minum, aku haus," bisik Reza -- dia merusak suasana.
Aku melotot padanya karena sikapnya yang menyebalkan. Tetapi Reza langsung merengek minta diambilkan air. Merengek yang benar-benar merengek, seperti anak kecil. Pada akhirnya aku mengalah.
"Kita akan tetap menikah tanggal empat belas. Tanggal tiga belas check up, dan langsung terbang ke Palembang," celoteh Reza setelah menenggak habis air mineralnya.
Aku mengangguk. Kurasa aku tidak punya pilihan, aku tidak ingin hati yang kujaga itu patah lagi. Aku ingin dia bahagia -- karena dia yang membuatku bahagia.
"Aku mau telepon May dulu, mau tanya apa dia jadi ke sini. Aku mau titip makanan."
"Tidak usah. Mereka tidak jadi ke sini," kata Reza sambil nyengir lebar. "Aku tidak mau ada yang mengganggu kita hari ini. Aku cuma mau berduaan dengan kamu."
Kuhela napas dalam-dalam. Aku tidak tahu, entah itu sungguhan atau hanya sekadar alasan Reza supaya aku tidak bertemu Alfi dan tidak bisa menanyakan perihal penusukan itu. Bisa jadi, dan itu sangat mungkin.
__ADS_1