CCI

CCI
100


__ADS_3

Setelah kami selesai menikmati jamuan, dan setelah semua orang mendapatkan kesempatan untuk unjuk kebolehan dalam olah vokal, Reza dan aku memutuskan untuk segera kembali ke cottage, tapi semua orang malah memaksanya untuk menutup acara malam itu dengan sebuah lagu.


"Baiklah," katanya. "Tapi setelah ini jangan menahan kami untuk pergi."


Satu. Dua. Tiga. Dan... Reza mulai memetik gitar. Awalnya agak canggung, tetapi hal itu bisa ia tutupi dengan kegigihannya. Lagu yang dibawakannya adalah Arti Cinta, aslinya dibawakan oleh Ari Lasso, tetapi Reza membawakannya dalam versinya sendiri, versi yang sangat slow. Kurasa aku pun lebih suka lagu itu dalam versi slow, lebih menyentuh dan lebih mengena.


Setelah lagu itu berakhir, bukannya menaruh gitar -- Reza malah memanggilku. Dia ingin aku menyanyi bersamanya. Dan kusadari, kami tidak pernah duet sekali pun. Menurutku tidak ada salahnya menuruti kemauannya satu itu. Aku pun menghampirinya. Kami membawakan lagu Dealova -- dengan sangat slow juga, seperti cover Dealova dalam versi Abirama feat Ghaniya -- dan itu menjadi lagu duet pertama kami -- kenangan kami.


Setelah lagu berakhir, aku dan Reza bergegas tanpa berpamitan, tidak ingin ada yang coba-coba menahan kami lagi. Walaupun semua orang meneriaki kami, kami hanya melambaikan tangan dan terus berlari meninggalkan pantai.


Sesampainya kami di cottage, aku mendapatkan satu kejutan lagi. Aku sama sekali tidak mengira jika kamar yang tadinya kutinggalkan dalam keadaan agak berantakan -- ternyata sudah dihias bak kamar pengantin baru. Ada banyak lilin dinyalakan di dalam sana, dan dengan kelopak mawar bertaburan di mana-mana, juga tempat tidur yang di desain dengan sangat indah, terselubung kelambu putih, tipis namun tidak terawang, sehingga apa pun yang ada di dalam sana -- jika dilihat dari luar kelambu akan terlihat seperti bayang-bayang siluet. Di samping itu juga terdengar nada musik tanpa lirik mengalun merdu memenuhi ruangan, aku tidak tahu apakah itu jenis instrumen lagu atau apa, tapi nada-nadanya merileksasi. Yap, sempurna.


"Siap?" tanya Reza, matanya menatapku dan satu tangannya sudah menarik tali pengikat gaunku, hingga membuatnya terasa longgar. Tinggal menurunkan ritsletingnya maka gaunku akan terlepas turun dengan sendirinya.


Aku pun mengangguk. Tapi tetap saja aku berdebar. Meskipun kami sudah sebulan menikah, meskipun kami tidur di satu kamar yang sama, tetapi Reza belum pernah melihatku secara keseluruhan. Dia belum pernah melihatku benar-benar telanjang. Dia pun tidak pernah memaksakan itu, juga tidak pernah meminta -- sejak aku menolaknya waktu itu -- di malam pengantin kami. Mungkin dia ngambek atau apa, entahlah. Mungkin juga dia sengaja menunggu momen ini, bisa jadi. Dan jujur, meski sudah satu bulan menikah, kurasa sampai saat ini aku masih saja malu padanya.


"Boleh aku ke toilet sebentar?" tanyaku

__ADS_1


Lega. Reza mengizinkan dan aku segera melesat masuk ke dalam sana. Bersembunyi, mengatur napas, dan mengontrol rasa gugupku. "Tenangkan dirimu, Nara... ini malam yang kau tunggu-tunggu. Oke? Ayo keluar."


Hah! Aku seperti orang gila -- berbicara dengan diriku sendiri -- di depan pantulan cermin.


"Aku menunggumu," kata Reza saat aku membuka dan menutup kembali pintu toilet. Dia berdiri di luar pintu dan langsung menarikku ke dalam pelukannya, lalu menyandarkan aku ke dinding. Barulah aku menyadari, dia sudah melepaskan jas dan dasinya, juga ikat pinggangnya -- hanya menyisakan kemeja dengan semua kancing yang sudah terlepas, dan celananya yang menurutku seandainya aku melepaskan pengait dan menurunkan ritsletingnya, celana itu dengan mudah bisa terlepas dari kakinya. Tapi aku tidak ingin melakukan itu. Sebab aku sendiri tiba-tiba saja merasa takut.


Lalu, perlahan tapi pasti, aku menyadari tangan Reza sudah menyentuh ritsleting gaunku dan mulai menurunkannya perlahan hingga gaunku meluncur bebas dan benar-benar terlepas. Saat itu, aku yang malu spontan berbalik -- memunggunginya. Sesaat kemudian, aku merasakan tubuhnya menempel di kulitku, membuatku menyadari -- dia sudah menanggalkan kemejanya. Rasanya hangat.


"Aku sudah menunggu sangat lama untuk melakukan ini," katanya sambil menelusurkan satu tangan dengan lembut ke sisi wajahku. "Boleh aku meminta hak-ku sekarang?" Sekarang dia meraih tanganku dan menguncikannya ke dinding.


"Sekarang," bisiknya. Kubuka mataku, dan pandanganku langsung tertumbuk pada pantulan cermin di dinding -- pipiku langsung merona saat menyadari Reza memerhatikan setiap ekspresiku dari pantulan cermin itu. Dan ia tersenyum saat mata kami bertemu pandang.


Menyadari aku yang merasa malu, Reza pun langsung memutar tubuhku menghadapnya, tapi aku langsung menyembunyikan diriku lagi ke dalam pelukannya -- tidak ingin dia mengamati tubuh telanjangku. "Aku malu," kataku.


Reza tersenyum lagi. "Baiklah," katanya. Dia langsung menggendongku dan aku pun langsung menyalungkan tanganku di lehernya, menutupi dadaku dari pandangan matanya. Dengan hati-hati, Reza menurunkanku ke tempat tidur, lalu mengikutiku dan menindihku. Sambil menatap ke dalam mataku, tangan Reza bergerak liar menjelajahi setiap lekuk tubuhku, meremas dadaku dengan lembut, membuatku kembali mengerang. Dan aku benar-benar menegang ketika tangan Reza menyentuh bagian dalam pahaku. "Takut?" tanyanya.


Aku mengangguk. "Sedikit," kataku. Demi tidak menyakitiku, Reza rela mengulur waktu lebih lama supaya aku rileks dan siap menerimanya. Ia turun ke kakiku, melepaskan cel*na dalamku dengan perlahan, lalu menciumi milikku, menjil*tiku dengan sensual. Aku menggeli*t -- merasakan sensasi geli yang nikmat dari sentuhan lidahnya.

__ADS_1


"Mas... sekarang," pintaku dengan napas tersengal. Aku sudah siap. Setiap saraf dan sel dalam tubuhku mendambakan Reza. Dia mengangguk, melepaskan celananya, lalu dengan sangat perlahan dan sangat hati-hati, ia menyatukan tubuh kami. Aku tahu ia pun takut kalau itu akan menyakitiku. Ia ingin pengalaman pertamaku -- pengalaman pertama kami -- menjadi seperti yang selama ini kuimpikan. Meski pada akhirnya...


"Awww!" lalu aku mendesis menahan sakit saat ada sedikit rasa tidak nyaman.


"Sakit? Tahan, ya?"


"Emm. Demi kita," kataku.


Kupejamkan mataku dengan perasaan was-was, dan... kurasakan ada bulir bening mengalir dari sudut mataku saat aku merasakan dan menahan sakitnya. Tapi pada akhirnya dengan segera terlupakan saat Reza mulai bergerak di dalam diriku, memujaku dengan tangan dan bibirnya yang tiada henti menjamahku.


Aku gemetar penuh damba, tersesat dalam sensasi asing, menjerit -- mengerang hebat saat kenikmatan itu semakin meningkat dan memuncak di dalam diriku. Aku meledak dengan mata terpejam.


"Aku mencintaimu," suara Reza lirih di telingaku saat dia hampir mencapai puncaknya. Dia mempercepat gerakannya dan aku mengamati wajahnya. Dia menyipitkan mata, mendongakkan  kepala ke belakang, dan mengerang nikmat pada saat-saat puncak, seolah-olah lututnya terluka dan mesti dijahit tanpa novocaine.


Setelahnya, Reza menjatuhkan tubuhnya di atasku -- menutupi tubuhku dengan tubuhnya yang kekar, dan aku merasakan dia berdenyut-denyut di dalam diriku. Aku menyukainya -- menyukai denyutannya. Andai aku bisa, saat itu aku ingin memeluknya dengan erat, menikmati kulitnya yang panas dan berotot. Tapi aku tidak berdaya, aku kehilangan kesadaranku. Entah tidur atau pingsan, aku tidak tahu. Yang pasti sejak saat itu aku tidak malu lagi padanya, dan tidak lagi malu menciumi dan menikmati setiap bagian tubuhnya, dengan sayang. Seperti seorang ibu yang menciumi bayinya dengan gemas.


Dan yeah. Malam ini sangat indah. Terima kasih, Cinta...

__ADS_1


__ADS_2