CCI

CCI
60


__ADS_3

"Ayo turun," kata ibuku seraya membuka pintu.


"Lo? Bukannya kita mau ke klinik?" Aku kebingungan. Walaupun begitu aku menuruti saja perkataan ibuku. "Memangnya di sekitar sini ada klinik, Bund?"


"Siapa yang bilang mau ke klinik? Bunda tidak bilang begitu. Bunda mengajak kamu ke pasar mau belanja, banyak yang harus dibeli."


"Bunda...," pekikku.


"Bantu Bunda bawa belanjaan, ya."


"Tahu begitu Nara tidak perlu dandan, mending pakai sandal jepit." Aku pun manyun, sementara ibuku terkekeh senang berhasil mengerjai anak gadisnya. "Kenapa tadi Bunda pesan taksi online? Kenapa tidak pakai motor saja?"


"Bunda tidak mau kamu makin imut, item mutung."


Hah? Kulihat seksama kulit sawo matangku, sepertinya ibuku benar, kulitku nampak lebih gelap. Ah, tak apalah. Toh, Reza mencintaiku apa adanya. Dan aku juga tidak masalah dengan lelucon ibuku hari ini, setelah tiga minggu tidak bertemu, rasa-rasanya lelucon ini membuat hubungan kami -- antara ibu dan anak -- menjadi lebih hangat.


Dari lapak penjual ayam dan ikan, kami berkeliling ke lapak pedagang sayuran. Senyumku terukir tatkala kulihat untaian pete di lapak salah satu pedagang.


"Kenapa? Mau beli pete?" Ibuku bertanya.


"Mas Reza suka pete," kataku. "Doyan malah."


"Kalau begitu kamu masak untuk dia."


"Ah, Bunda. Bunda kan tahu Nara tidak bisa masak."


"Belajar dong... kan sebentar lagi jadi istri."


Aku nyengir. "Mas Reza kan punya restoran. Tiap hari bisa makan di sana."


"Walaupun begitu dia pasti kepingin sesekali makan masakan kamu."


"Idih... dasar, Bunda. Jiwa novelisnya keluar." Aku terkikik.


Setelah itu kami mampir ke lapak penjual sayuran yang juga menjual tahu dan tempe. Sambil memilih tahu, tempe, dan berbagai sayuran, ibuku masih saja nyerocos. "Bunda serius lo, Sayang. Lagipula apa coba yang bisa kamu berikan sebagai ungkapan rasa sayang? Dia kaya, dia tidak perlu apa-apa, termasuk barang mahal sekalipun."


Aku memikirkan kata-kata ibuku yang menurutku benar adanya. Meskipun sebenarnya hal itu tidak begitu diperlukan, aku percaya Reza mencintaiku tanpa aku harus melakukan apa pun. Tapi tidak ada salahnya membalas kasih sayang yang dia berikan kepadaku dengan memberikan sesuatu yang sederhana seperti makanan. Ah, tapi aku kan tidak bisa masak.


"Bagaimana kalau tidak enak, Bund? Bagaimana kalau Mas Reza tidak suka? Nara kan bisa malu."


"Seperti yang pernah kamu tulis di novel, tokoh utama pria akan tetap memakan apa pun yang dimasak oleh wanitanya."


"Bunda... ini kan dunia nyata, bukan dunia fiksi," rengekku.

__ADS_1


Si ibu yang punya lapak ikut mesem-mesem mendengar percakapan kami. "Pete ndak usah dimasak rapopo atuh, Neng. Dadi lalapan ae wis. Sing penting ono nasi anget karo sambel. Mantap tenan iku," katanya ikut nimbrung dalam bahasa Jawa. Entah benar entah tidak, kira-kira seperti itu kalimat yang bisa kutangkap. Aku kan bukan orang Jawa, harap maklum saja kalau aku salah dengar dan salah tulis. Hihi.


Komentar si ibu membuatku berpikir lagi, Reza kan suka sambal pecel lele kaki lima, sambal buatan ibuku malah lebih enak. "Bunda yang bikin sambelnya, ya?" bisikku sambil cengengesan.


"Ndok, Ndok. Iku retine bukan awakmu sing masak," katanya seraya memukul kepalaku dengan seikat kangkung. Ampun deh ibuku ikut-ikutan menggunakan bahasa Jawa.


Aku geleng-geleng kepala. "Bunda kok bisa bahasa Jawa, ya?"


"Yo iso, wong aku pernah nge-kost bareng konco ku, de'e wong Jowo. Wis toh. Piye iki? Mau beli pete ora?"


Aku bingung, dan akhirnya menggeleng. "Emm... lain kali saja. Orang Mas Reza-nya sudah di Bogor sana."


"Masa? Semalam Bunda tanya katanya malam ini atau selasa besok baru pulang ke Bogor."


"Hah? Serius? Berarti Mas Reza masih di sini? Kok dia tidak bilang ke Nara?"


Ibuku hanya mengangkat bahu, lalu membayar belanjaannya, dan memberikan sekantung besar sayur mayur itu kepadaku. Weleh-weleh... beratnya bebanku. Tak apalah, demi Bunda, gumamku seraya meringis. Kami pun bergeser ke lapak lain untuk membeli telur ayam. Selagi ibuku sibuk memilih telur itu satu persatu, aku mengeluarkan ponsel dan menghubungi Reza.


"Kamu di mana, Mas? Kamu masih di sini, ya?" tanyaku.


"He'em."


"Kenapa kamu tidak memberitahuku?"


"Kalau iya, memangnya kenapa?" Aku penasaran.


"Aku tidak mau meninggalkan kamu dengan lambaian tangan. Nanti kamu menangis."


Hah! Lebay. "Siapa yang mau menangisi kamu?" kataku, membuat Reza cekikikan di seberang sana. "Kamu kapan pulang ke Bogor?"


"Nanti malam atau besok, sebelum subuh. Biar bisa ngebut."


"Jangan begitu, Mas."


"Tenang, Sayang. Aku pasti hati-hati. Aku juga tidak mau mati penasaran."


"Ah, monyet!" Aduh, Biyung. Aku keceplosan lagi.


"Monyet?" Mulut kamu tu, ya. Aku gigit nanti, keceplosan terus."


"Maaf, Mas..."


"Kamu lagi di mana? Di sekitar kamu sepertinya ramai sekali?"

__ADS_1


"Aku lagi di pasar."


"Lo?"


"Tenang, Mas. Aku pergi dengan Bunda."


"Oh... syukurlah kalau kamu tidak sendirian."


"Iya. Sudah dulu, ya Mas. Aku cuma mau tanya itu."


"Oke. Nanti kabari aku kalau sudah sampai di rumah."


"Siap, Mas."


Aku pun menutup sambungan telepon. Kemudian kuceritakan pada ibuku apa alasan Reza tidak memberitahuku kalau ia belum pulang ke Bogor.


"Kan bisa kirim makanan pakai ojek."


Usul yang bagus. Aku manggut-manggut karena sepaham dengan usul itu. Aku pun langsung meminta ibuku membelikan pete dan bumbu-bumbu yang diperlukan untuk membuat sambal.


"Alhamdulillah... anak Bunda akhirnya mau masak."


"Ah, Bunda. Belum apa-apa sudah membuat Nara malu."


...♡♡♡...


Sesampainya di rumah, kami langsung menyibukkan diri di dapur. Ibuku mendikte takaran-takaran dan tahapan-tahapan cara memasak semua yang ingin kumasak, juga membantu menyiapkan semuanya. Katanya, selagi aku yang berdiri di depan kompor dan aku yang memasukkan ini itunya -- itu artinya aku yang masak. Tentu saja, ibuku ikut mencicipi dan mengatakan oke kalau semuanya sudah oke. Dan... nasi hangat, ayam bakar yang sebelumnya kuungkep dulu, tahu dan tempe goreng, sambal, lalapan timun, kol, selada, dan pete, semua sudah siap. Aku yakin Reza pasti suka. Rasanya tidak aneh sedikit pun. "Yes, aku bisa masak. Kamu hebat Inara," gumamku memuji diri sendiri.


"Kamu mau antar sendiri ke sana?" tanya ibuku saat melihatku meraih kunci motor dari atas lemari es.


Aku mengangguk sambil nyengir. "Ini kan makanan, kalau ada yang iseng icip-icip atau menaruh sesuatu kan bahaya," dalihku.


"Idih... bilang saja kamu mau ketemu Mas-mu."


Aku nyengir lagi. "Bunda memang yang paling tahu." Kukecup pipinya dan aku pun langsung berpamitan.


Aku melajukan motor cukup kencang karena hari sudah hampir jam dua belas siang, sebab aku tahu kebiasaan Reza yang makan siang selalu tepat waktu, persis setelah selesai salat zuhur yang juga tepat waktu.


Beruntung, dia baru keluar dari musala saat aku tiba di restoran. Awalnya aku ingin langsung menemuinya,tapi aku berubah pikiran. Bila Reza tidak ingin berpisah denganku dengan lambaian tangan, baiknya aku menghargai pilihannya itu. Jadi aku menitipkan makanan hasil masakanku itu ke salah satu karyawannya. Dia nampak tersenyum dan matanya berbinar saat menerima makanan yang kutitipkan itu. Meski dia tidak bertanya itu dari siapa, tapi ekspresinya menyiratkan kalau dia tahu itu makanan dariku. Aku pun berbalik dan tersenyum penuh kemenangan.


Hal ini menurut orang lain pasti aneh. Jelas-jelas Reza seorang pemilik restoran dan sedang berada di restoran, tapi malah dibawakan makanan dari rumah. Tapi demi melihat senyumannya itu aku bisa cuek pada semua hal dan semua orang. Dan dari senyuman itu aku tahu bahwa dia senang kutitipi makanan meski aku tidak tahu dia akan suka atau tidak setelah mencicipinya.


Beberapa menit setelah itu, dia mengirimkan pesan whatsapp; gambar makanan yang kubawakan untuknya.

__ADS_1


》 Ini yang dimaksud dengan sederhana, namun indah kau mencintaiku. Terima kasih, Sayang.


__ADS_2