
Reza terbangun hampir tiga jam kemudian, sekitar pukul satu siang. Dia mengusap-usap wajahnya dengan telapak tangan. Merasa sudah sadar sepenuhnya, ia pun menatapku yang sedang duduk memangku laptop. Setelah itu pandangan matanya beralih ke kotak makanan yang masih utuh di atas meja.
Tak lama, Reza langsung berdiri, mencuci tangannya dan mengambil makanan itu, lalu duduk di sampingku. Satu boks berukuran cukup besar dengan porsi penuh, nasi putih, bebek goreng, sambal, berikut lalapannya. Menurutku itu adalah menu dari resto miliknya.
Waktu itu, Reza memberikan suapan pertamanya untukku. Awalnya aku menolak, aku bisa makan sendiri kataku. Tapi dia tidak peduli dan pura-pura tidak mendengar perkataanku. Dia malah memintaku membuka mulut, "aaa..." katanya, seperti sedang menyuapi anak kecil. Yeah, dia berhasil membuat aku menurut lagi.
Setelah menyuapiku, Reza menyuapi dirinya sendiri, dia bahkan makan dengan sendok yang sama tanpa rasa jijik sedikit pun. Aku pun sama halnya, tidak merasa jijik saat makan di suapan ketiga. Pasti dulu dia memperlakukan pacarnya seperti ini, pikirku.
"Kalau aku menyuapi kamu langsung pakai tangan, kamu jijik?" tanyanya.
Aku menggeleng. "Tidak, tidak apa-apa langsung pakai tangan," jawabku.
Reza pun melepaskan sendoknya, dan nampak lebih leluasa memotong kecil-kecil bebek itu dengan jari-jemarinya dibandingkan kalau ia harus memotongnya menggunakan sendok. Dan akhirnya dia menyuapiku langsung dengan tangannya. Makanan itu justru menjadi lebih nikmat.
Eh? Kenapa tiba-tiba aku jadi lebay plus alay? Aku mulai merasa ada yang tidak beres denganku.
"Singkirkan dulu laptop kamu," katanya. "Kamu selalu seperti ini, ya? Fokus pada tulisanmu sampai lupa waktu? Makan tidak tepat waktu?" Suaranya terdengar cukup cerewet tidak seperti biasanya.
"Aku selalu tepat waktu, Reza...," ujarku. "Tapi kamunya lagi tidur. Aku tidak mungkin makan duluan." Aku pun menutup dan meletakkan laptopku di atas tempat tidur.
"Oke, maaf. Berarti aku yang salah," akunya.
Aku menganggukkan kepala, kami pun meneruskan makan tanpa bicara.
Setelah selesai makan siang, Reza mengajakku salat zuhur, dan langsung mengatakan, "jangan menolak." Aku bahkan belum sempat mengucapkan tapi.
Aku berwudu setelah Reza. Dengan sengaja aku agak berlama-lama di belakang. Setelah berwudu, aku tidak melihat Reza di ruangan itu. Aku pun mengambil sajadah dan mukenaku yang terlipat di atas lemari. Mukena itu selalu kubawa ke mana pun aku pergi. Mukena yang diberikan ibuku saat pertama kali aku meminta izin untuk memulai pengembaraanku, mukena cantik berwarna cokelat dengan motif batik Solo. Aku masih sangat mengingat pesan ibuku saat memberikan mukena itu, pesan supaya aku selalu menunaikan salat.
__ADS_1
"Bunda tidak memaksa kamu untuk memakai hijab, Bunda tidak memaksa kamu untuk merubah semua pandangan kamu tentang kehidupan, Bunda juga tidak akan menghentikan langkah kakimu. Kamu boleh pergi ke mana pun yang kamu mau, terserah seberapa jauh dan seberapa lama. Tapi Bunda minta kamu selalu salat, Nak. Di mana pun kamu berada." Begitu pesannya.
Aku sadar, aku belum menuruti pesan ibuku sepenuhnya. Aku hanya salat jika aku di rumah atau di dalam kamar kost, dan hampir tidak pernah salat jika sedang berada di luar.
Aku telah memakai mukenaku saat Reza kembali. Kupikir dia sudah selesai salat. Ternyata belum. Dia menungguku, ingin mengajakku salat berjamaah. Barusan dia keluar untuk meminjam sajadah tetangga sebelah.
"Aku mau menjadi imam kamu. Dan aku harap kamu bersedia menjadi makmumku."
Aku terdiam beberapa detik, tak langsung merespons. Imam? Dia mau menjadi imamku? Hanya imam salat atau? Ah, aku berpikir terlalu jauh. Hanya imam salat, Inara. Jangan geer!
"Ra, kenapa? Kamu tidak mau?"
"Oh. Eh. Tidak. Maksudku, iya, aku mau." Aku gelagapan karena salah tingkah. Kutundukkan pandanganku, berusaha meredam irama jantungku yang lepas kontrol dan menghindari tatapan matanya yang selalu membuatku gerogi.
Sumpah mati, rasanya ada sesuatu yang ingin meledak dari dalam diriku. Dia memberikan aku kebahagiaan yang belum pernah kurasakan seumur hidupku, sesuatu yang kurindukan sejak lama.
Masih ada waktu sekitar satu jam sebelum kami pergi jalan-jalan. Reza menyuruhku untuk rebahan di dekatnya. "Aku tidak akan berbuat macam-macam," katanya. "Aku tahu kamu lelah, kamu capek, dari pagi kamu duduk tanpa rebahan, sini."
Aku percaya pada laki-laki yang sedang bersamaku itu. Aku hanya malu, malu karena belum pernah sedekat itu dengan lawan jenis. Reza berdiri, mendekatiku, dan mendudukkan aku di sebelah kiri tempat tidur. Setelah itu dia memutar, duduk, lalu rebahan di sisi kanan. Aku pun merebahkan tubuhku. Posisi kami berlawanan arah, hanya kepala kami yang bersebelahan di atas bantal yang sama. Kepalaku di kanan dan kepala Reza di sisi kiri. Dengan posisi santai seperti itu, kami pun bisa mengobrol dengan santai.
"Za," panggilku.
"Emm?"
"Trims, kamu sudah mengajakku salat."
Dia tersenyum samar. "Aku pikir kamu malah menilaiku berlebihan, sok religius, sok alim, atau apalah," katanya.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak punya pikiran seperti itu. Aku tahu kok, kamu tidak ada niat jahat sama sekali. Kamu juga tidak sengaja waktu kamu cium aku tadi. Mmm... maksudku bukan dengan niat sengaja, kamu cuma terbawa suasana. Semacam itulah. Dan... aku sadar, aku juga tidak pantas berteman dengan orang yang akhlaknya super mulia. Dengan sifat dan karakterku yang seperti ini, dengan hatiku yang masih dikotori rasa benci juga dendam, berteman dengan orang seperti kamu itu lebih dari cukup untukku. Kita bersama karena banyak kecocokan, dan itu yang membuat aku nyaman dekat dengan kamu. Lagipula kalau kamu berakhlak super mulia, kamu tidak akan ada di sini, tidak akan berduaan dengan lawan jenis dalam ruangan seperti ini, bahkan kamu juga tidak akan menyusulku ke pantai hari itu. Sementara aku -- aku akan tetap kesepian tanpa kamu."
Kami diam dalam hening kurang lebih satu-dua menit sebelum Reza mulai bicara. Dia memiringkan tubuhnya menghadapku dengan hangat napas yang terasa di pipiku.
"Inara," panggilnya. "Emm... nikah, yuk? Aku mau kamu halal untukku. Mau ya jadi istriku? Please..."
Aku tertegun mendengarnya. Tapi aku berusaha mengontrol diriku baik-baik, karena bagiku kehidupan tidak pernah segampang itu. Bagaimana mungkin ini terjadi? Seorang lelaki asing tiba-tiba memintaku untuk menjadi istrinya?
Aku pun memiringkan tubuhku ke kiri, posisi kami jadi saling berhadapan. Kupandangi dia lekat-lekat sebelum aku menjawabnya. "Aku tidak bermaksud menolak kamu. Tapi aku tidak bisa menjawab itu sekarang. Kamu belum mengenal keluargaku, begitu pun sebaliknya, aku juga belum mengenal keluarga kamu. Kita juga belum saling mengenal lebih jauh, belum mengenal kekurangan masing-masing. Aku tidak mau terlalu cepat mengambil keputusan," kataku, lalu kembali terlentang.
Reza merubah posisinya menjadi telungkup. Dia merebahkan kepalanya di atas lengan kiri, matanya memandangi wajahku, dan tangan kanannya yang berada di ujung kepalaku -- meraih dan menggenggam tanganku. Hawa panas langsung mengalir, merambat ke sekujur tubuhku. Rasanya ingin terbang melayang mendapat perlakuan manis seperti itu. "Aku akan datang untuk berkenalan dengan keluargamu, dan aku juga akan memperkenalkanmu pada keluargaku. Mengenai semua kekuranganmu, baik yang aku tahu ataupun yang belum aku tahu, aku akan menerima semua kekurangan itu, apa pun itu. Dan aku berharap kamu juga bisa menerima kekuranganku. Aku akan menanyakan jawaban kamu lagi suatu saat nanti. Aku akan menunggu sampai kamu memberikan aku kepastian."
"Emm... oke. Tapi omong-omong, barusan kamu melamar aku, ya? Cara kamu tidak romantis, tahu!"
Ups! Gara-gara ucapanku, Reza tersenyum kecut, lalu segera duduk. Aku jadi refleks ikut duduk dan merapikan pakaianku sebelum dia mendekat dan duduk di sampingku -- menghadapku.
Eh? Dia menggenggam tanganku dan menatapku dengan ekspresinya yang serius.
Deg! Tenang, Nara. Tenang! Jangan gugup.
"Aku memang bukan lelaki romantis. Tapi aku punya niat baik."
Dia ini serius atau hanya ingin mengetesku? Kalaupun dia bersungguh-sungguh, ini terlalu cepat. Aku harus mengatakan apa? Kutarik tanganku dan berusaha menghindari tatapan matanya. "Sori, Za."
"Ra," katanya lembut. Dia meraih tanganku lagi dan menggenggamnya lebih kuat. "Coba buka hatimu untukku, ya? Izinkan aku memiliki tempat di sana?"
Aku menelan ludah. Kawanan kupu-kupu menari-nari di dalam perutku. "Jujur, aku merasa nyaman dengan kedekatan kita. Tapi... aku... aku belum bisa menjalin hubungan serius. Kita saling mengenal lebih jauh dulu, ya?"
__ADS_1
Reza pun mengangguk dengan seulas senyuman tipis. "Aku tahu bagimu ini terlalu cepat. Tidak apa-apa kalau kamu butuh waktu untuk meyakinkan dirimu, aku bisa menunggu sampai hatimu yakin dan siap menerimaku."