
Pagi ini, suara musik yang menghentak dari halaman belakang terdengar saat aku keluar dari kamar. Kuintip Reza dari balik gorden jendela. Dia sedang berenang tanpa kaus membalut tubuh kekarnya. Otot-ototnya membangkitkan gairahku, ingin sekali rasanya aku menyentuhnya, tapi aku malu. Bahkan untuk mendekat saja aku malu. Dia belum pernah bertelanjang dada di dekatku saat kami hanya berdua.
Kututup gorden itu secepat kilat saat dia melihat ke arahku. Haddeh! Ketahuan. Aku berdiri kaku di balik jendela. Tidak lama, Reza pun mengetuk kaca jendela. Tak pelak, aku mendapati sosoknya yang seksi persis di depanku saat aku menyibakkan gorden di antara kami.
"Mau kamu yang keluar atau aku yang masuk?"
Kuangkat bahu tanda terserah. Dia pun masuk dengan tubuh seksinya yang masih basah. Tetesan-tetesan air membasahi lantai seiring langkah kakinya, menambahkan kesan dramatis dalam fantasiku yang menggebu. Dan akhirnya dia di sini, persis rapat di depanku. Lengannya yang berotot itu melingkar erat di pinggangku. Sementara matanya yang tajam setajam mata elang itu menatap lekat kedua mataku, membuat jantungku berdetak melebihi irama yang seharusnya.
"Berikan aku senyuman," bisiknya.
Tiga kata yang diucapkannya itu spontan membuatku tak mampu menahan senyum. Hayyaaa, kukira dia akan menciumku. Yeah, antara perkiraan atau harapan. Entahlah. Yang mana menurutmu saja. Dan senyuman manis nan renyah pun langsung terlukis dari wajahku pagi ini.
"Trims... Cantik. Sekarang waktunya berenang," katanya sambil mengangkatku dan membawaku ke pinggir kolam.
"Jangan menjatuhkan aku, apalagi melemparku ke kolam. Aku akan marah kalau kamu melakukan itu."
"Tidak akan. Apa aku pernah berlaku kasar padamu?"
"Pernah."
"Kapan?" Dahinya mengerut.
"Kemarin, sewaktu kita di hostel."
"Ouwww... menurut kamu itu perlakuan kasar?"
"Yeah, tapi aku suka. Dan tidak keberatan jika kamu mengulanginya."
"Akan kita lakukan nanti. Sebelum itu... kita berenang dulu."
Byurrr...
Kami berenang, tapi aku hanya berenang sebentar, lalu menepi, duduk di sisi kolam dengan kedalaman satu setengah meter, dan kubiarkan kakiku terendam. Reza pun menghampiriku dan berdiri di sela kakiku, membuatku harus memperlebar interval antar pahaku. Dia menatapku dalam-dalam, membuatku kembali nervous dan lengah. Di saat itulah dengan cepat Reza menarikku. Dengan proses yang tak bisa kujelaskan, pokoknya aku sudah berada di gendongannya, kedua kakiku melingkar di pinggangnya, dan tangannya yang kekar menahan tubuhku, lengannya persis menahan paha dan pantatku. Aku pun spontan berpegangan pada pundak dan lehernya begitu tubuhku tertarik dan masuk ke air. Dengan posisi seperti itu dan dengan tatapan mata elangnya itu, dia membuatku menelan ludah dan membuat hasratku menjalar ke mana-mana.
"Boleh?" tanyanya.
Aku menggeleng dengan senyuman malu. Padahal dalam hati berteriak iya boleh, silakan cium aku. Aku menantikannya.
"Boleh, ya?" tanyanya lagi dengan senyuman menggoda.
Ah, pipiku merah. "Boleh apa?" tanyaku -- pura-pura bodoh.
Tanpa menjawab dan tanpa bertanya lagi, dia menyandarkanku dan menghimpit tubuhku ke sisi dinding kolam.
"Awas lepas kontrol," kataku, sekadar untuk menutupi nervous dan irama jantungku yang semakin berdetak tak karuan.
Reza tersenyum dan menggeleng. Hanya selang beberapa detik berikutnya -- dia mencium bibirku dengan lembut -- maksudku mulanya dia menciumku dengan lembut, dan setelahnya menjadi ciuman panas nan ganas. Lidahnya masuk menari-nari bebas di dalam mulutku, menghisap lidahku, dan mengulum bibirku dengan gairahnya yang membara. Aku tahu dia menikmati sensasi kenyal dari bibirku yang menggugah hasratnya.
"Aku sungguh tergila-gila padamu." Napasnya tersengal menyapu telinga.
...♡♡♡...
Siang harinya kami bersantai dengan hammock. Berpelukan mesra sambil browsing hendak ke mana lagi tujuan kami menghabiskan hari-hari terakhir di Bali. Reza yang browsing dan membacanya, sementara aku yang memutuskan iya atau tidaknya. Sebuah obrolan panjang menemani siang kami.
"Kita awali dengan informasi air terjun."
"Tidak mau, Mas. Terlalu jauh. Dua air terjun hari itu sudah cukup. Kapan-kapan saja lagi," tolakku.
"Oke. Selanjutnya informasi danau."
__ADS_1
"Sama saja, Mas, air terjun, danau, bukit, gunung, semuanya jauh dari sini."
"Kalau wisata air panas?"
"Sama, jauh juga. Di kamar mandi saja kalau mau mah."
"Museum?"
"Emm... tidak usah, ya."
"Pura?"
"Kan kemaren sudah. Memang banyak jenis pura lain, tapi aku segan kalau masuk-masuk ke kawasan tempat suci. Aku--"
Seketika aku sadar dan tidak jadi melanjutkan ucapanku. Oh Tuhan, mulutku sekarang suka sekali nyerocos tanpa konfirmasi dulu pada otakku.
"Kamu? Kenapa?" tanyanya penasaran.
"Tidak apa-apa."
"Kenapa?"
"Tidak usah dibahas, Mas. Please...," rengekku.
"Oke, oke," responsnya cepat begitu menyadari reaksiku.
Seketika itu juga dia mengelus-elus bahuku dan menciumi kepalaku, bermaksud menenangkan dengan pura-pura semuanya baik-baik saja dan barusan tidak ada hal-hal semacam itu. "Oke, kita lanjutkan. Kalau ke pusat perbelanjaan, mau?"
Aku menggeleng. "Nanti saja kalau aku sudah jadi istri kamu. Aku bisa kok menghabiskan uang kamu. Jangan khawatir," tuturku dengan cengiran lebar.
"Yeah, oke. Selanjutnya ke pusat oleh-oleh."
"Tidak mau. Kan tidak ada yang perlu diberikan oleh-oleh. Lagipula aku sudah pernah mendatangi pusat oleh-oleh di sini."
"Dulu, semasa kuliah. Aku sudah pernah ke sini."
"Ooo...," katanya manggut-manggut. "Kukira baru pertama kali kamu ke sini."
"Sudah pernah. Tapi aku lupa sih nama-nama tempatnya. Yang paling aku ingat itu ke Jogger dan Krisna."
"Baiklah. Kalau ke Waterboom, Waterpark."
"Tidak perlu kujawab, kamu tahu jawabannya. Kita sudah melakukannya di Surabaya. Dan di Palembang ada beberapa tempat bermain air yang hits. Dan di masa lalu aku sudah cukup puas merasakannya."
"Garuda Wisnu Kencana."
"Aku sudah pernah ke sana. Patung-patungnya memang luar biasa. Tapi aku sudah punya foto-foto kenangan di sana. Itu sudah cukup."
"Wisata kuliner?"
"Kan sudah di Jimbaran kemarin malam dan di kapal pesiar. Lagipula aku bisa makan sepuasnya di restoran kamu."
"Oke. Jenis permainan, jetski sudah. Banana boat sudah. Parasailing sudah. Snorkeling sudah. Apalagi? Permainan air semacam selancar dan sejenisnya kamu tidak bisa. 5GX?"
"Tidak! Aku tidak berani. Sumpah!"
"Mendaki gunung?"
"Tidak mau. Dijuluki nona pengembara bukan berarti aku mau mendaki gunung. Aku cukup waras dan sadar diri dengan daya tahan tubuhku yang lemah. Tetanggaku di kampung ada yang meninggal waktu mendaki, tidak sempat dilarikan ke rumah sakit. Digotong-gotong tengah malam menuruni gunung. Akhirnya tidak tertolong. Aku tidak mau mati konyol seperti itu."
__ADS_1
Reza menarik napas panjang. Sepertinya kesabarannya mulai menipis.
"Kenapa? Kesal, ya?" tanyaku.
"Emm... tidak. Stok sabarku selalu seluas alam semesta kalau untuk kamu."
"Hoekkk," ledekku.
"Ada banyak jenis permainan air dengan alat modern."
"Tidak mau. Tidak kepingin."
"Emm... yang menantang dan menguras tenaga, semacam flying fox, sejenis arung jeram, terus..."
"Jangan dilanjutkan. Itu bagus. Kamu bisa bermain. Tapi aku tidak. Nanti aku nge-drop kalau aku terlalu capek."
Reza menarik napas panjang lagi. "Sudah kesal, ya?" tanyaku lagi.
"Bukan," kilahnya. "Cuma apa, ya. Ya gitu deh... tidak usah dibahas. Emm... sepertinya... sudah habis. Eh, masih ada Zoo, kebun binatang. Bagaimana?"
"Tidak mau. Suatu saat saja, kalau kita sudah punya anak dan anak kita sudah bisa berjalan. Pasti lucu melihatnya girang diajak ke kebun binatang."
"Oke. Bagaimana kalau ke tempat-tempat yang berbau horor dan mistis?"
Aku menggeleng. "Kenapa? Takut?" Aku tidak menyahut sebab aku tidak mau dia tahu kalau aku tidak berani. Bukan penakut lo, ya. Hanya tidak berani.
"O-ouwww... ternyata Nona Pengembaraku ini penakut..."
"Bukan penakut, Mas. Hanya... tidak berani. He he."
"Sama."
"Beda."
"Sama..."
"Beda, Mas..."
"Oke, beda," katanya menyerah. Dan aku terkikik.
"Ke pemandangan sawah?"
"Jauh, lagi pula aku tidak tertarik. Aku anak kampung, masa kecilku aku sudah puas bermain di sawah dan memandangi hamparan sawah. Kamu ini, Mas, Mas. Anak kampung, jauh-jauh ke Bali kok diajak melihat sawah." Bibirku manyun.
"Yeah, Gadis Kampungku. Maaf aku salah. Kalau begitu kita naik unta, yuk?"
"Tidak mau. Aku sudah pernah naik gajah, jalannya pelan. Sama kan dengan unta? Pelan juga? Kalau naik kuda aku mau. Tapi yang benar-benar berkuda, bukan jalan pelan-pelan seperti unta atau gajah. Bagaimana? Yuk? Eh, kamu bisa berkuda, kan?"
Dia menggeleng. "Aku tidak bisa berkuda," jawabnya.
"O...," sahutku dengan panjang. "Ada juga ternyata hal yang tidak bisa kamu lakukan."
"Aku kan manusia biasa, Sayang."
"Iya, iya. Suam--"
"
Dengan cepat dia berpindah menyilangkan kaki ke atasku dan menindihku. "Kamu mau apa?" tanyaku.
__ADS_1
"Kamu kan mau berkuda. Yuk?" Dia pun tersenyum nakal.
Aku mendelik. "Berkuda, bukan kuda-kudaan, Bambang..."