CCI

CCI
98


__ADS_3

Hari-hari berikutnya adalah hari-hari yang menyenangkan sekaligus monoton. Suasana sudah kembali sepi karena semua orang sudah pulang. Tetapi tidak bagi hatiku dan Reza, hari-hari kami penuh cinta di setiap harinya. Reza dengan cepat bisa beradaptasi dengan suasana kampung, termasuk dengan para tetangga. Harus kuacungi jempol, Reza berhasil menjadi sosok orang kampung, bukan lagi pria metropolitan dengan balutan kemeja kerja apalagi dengan setelan jas dan dasi panjangnya. Boro-boro, dia justru mengenakan kaus-kaus biasa yang ia beli di pedagang kaki lima. Dia ingin terkesan sama seperti orang-orang kampung lainnya.


Dalam kegiatan sehari-sehari, Reza menghabiskan waktunya dengan berbagai hal. Biasanya, dari pagi hingga siang ia habiskan dengan berpetualang di sungai, sawah, rawa-rawa, atau di perkebunan. Dia bukannya mandi, bukannya bertani padi, apalagi bercocok tanam. Dia ngebolang; mencari ikan, kadang memancing, kadang menjaring, malah beberapa kali menangkap ikan di lumpur yang kami sebut ngabal. Kadang juga menggunakan alat semacam keranjang jaring-jaring, kami menyebutnya menangguk. Kalau dia sudah bosan makan ikan, dia malah mencari keong dan siput sawah, bahkan dia pernah membawa pulang seekor belut. Dan aku berani taruhan, seandainya dia punya senapan sendiri, dia akan berburu burung hampir setiap hari. Dia sangat senang setiap kali tetangga kami mengajaknya berburu burung di perkebunan-perkebunan atau ke rawa-rawa yang habitatnya masih alami.


Jujur saja aku cemas melihatnya setiap hari menghabiskan waktu di luar. Reza selalu pulang menjelang zuhur, mandi, salat, makan, istirahat. Kadang-kadang dia menghabiskan siang dengan tidur sekitar satu sampai dua jam. Setelah asar, dia keluar rumah lagi, sekadar bercengkerama dengan tetangga, bermain catur, gaple tanpa judi, atau main biliar. Dan yang paling membuatku tercengang adalah ketika dia pulang membawa layangan. Dia cengengesan melihatku yang menggeleng-gelengkan kepala. Meski demikian, dia selalu pulang sebelum matahari terbenam. Dia selalu menyempatkan pergi ke masjid dan pulang setelah isya. Dan itu mengurangi sedikit kecemasanku -- sedikit. Aku cemas sebab aku takut jika di dalam dirinya mengalir sifat-sifat ayah biologisnya. Aku takut dia terpengaruh kebiasaan pemuda-pemuda di kampungku. Aku takut dia penasaran dan mencobai sesuatu yang buruk, seperti narkoba, alkohol, bahkan aku takut dia kepingin merokok. Karena aku tahu, hal-hal semacam itu bukan sesuatu yang tabu dilingkungan tempat tinggalku.


Hal-hal monoton lainnya adalah; Reza menghabiskan waktunya sebelum tidur dengan menerima telepon dari Salsya sambil membuat tirai dari cangkang kerang. Dia memintaku membawakan koleksi cangkang kerang itu ke kampung, untuk mengisi waktu luang katanya. Yeah, awalnya Reza meminta izin untuk menerima telepon Salsya. Eh, tahu-tahu hampir setiap malam dia menelepon Reza. Dan setelah lumayan terbiasa mendengarnya mengobrol dengan Salsya lewat telepon, aku tidak keberatan untuk itu -- selagi Reza tidak sembunyi-sembunyi, memelankan suara, apalagi kucing-kucingan dariku. Lagipula aku menyuruhnya mengatakan pada Salsya kalau aku mengizinkannya menelepon Reza hanya lima belas menit, setiap jam delapan malam. Tidak lebih dan tidak di jam lain.


Tapi namanya juga Salsya, perempuan tidak tahu malu yang berusaha merebut suamiku, dia pernah molor hampir dua menit. Langsung saja kuambil ponsel dari tangan Reza, kukatakan pada Salsya jam teleponnya sudah berakhir, dan jangan coba-coba melewati batas.


"Aku berhak kan melakukan itu? Apa aku lancang?"


Reza menggeleng. "Tidak," katanya. "Kamu berhak." Dia justru berterima kasih karena aku sudah melakukan itu untuknya.


Dan setengah jam berikutnya kami habiskan dengan bercumbu mesra, lalu tidur, dan bangun sebelum subuh.


Itu tadi kegiatan-kegiatan Reza. Bagaimana denganku? Aku malah berkecimpung dengan urusan rumah tangga sehari-hari. Dimulai pagi-pagi merapikan kamar dan keseluruhan rumah, lalu masak, cuci pakaian, cuci piring, menyapu dan kadang-kadang lantai itu perlu dipel. Kadang-kadang Reza menyempatkan diri membantu meringankan pekerjaanku. Sisanya, aku menghabiskan waktu luangku dengan menulis, kadang-kadang dengan ponselku, atau sekadar santai di depan televisi.


Terlepas dari itu semua, Reza juga tidak mengabaikan tanggung jawabnya pada restoran dan karyawan-karyawannya. Dia rutin mengontrol semuanya melalui Erik. Erik pun beberapa kali datang ke kampung, untuk menyampaikan laporan dan perkembangan restoran, sekalian untuk mengunjungi kami.


Dan di antara kegiatan-kegiatan yang monoton itu, ada banyak hal-hal yang juga ingin kuceritakan melalui tulisan-tulisan ini.

__ADS_1


Pertama, ada momen paling bermakna yang kami lalui -- momen ramadan pertama kami bersama. Reza tidak bisa menyembunyikan kebahagiannya karena di hari-hari yang suci itu dia tidak melewatinya sendirian. Terlebih pada sahur dan buka di hari pertama, dia sangat antusias sampai-sampai dia membangunkan aku dan memintaku segera menyiapkan sahur, padahal jam baru menunjukkan pukul dua kurang lima belas menit. Sedangkan dia baru akan makan jam empat kurang lima belas. Mungkin dikiranya aku akan masak dari awal, mulai dari ngulek-ngulek bumbu sampai ini itunya.


"Tinggal dipanaskan saja, Mas..."


"Oh...," katanya. "Ya sudah, ayo tidur lagi."


Ha Ha Ha! Capcay!


Tapi setidaknya selama tiga puluh hari itu dia selalu menghujaniku kecupan terima kasih karena sudah menjadi istri yang melayaninya dengan baik. Kalau kata Kang Sule mah prikitiwww... itu menyenangkan.


Momen indah lainnya tentu saja momen di saat lebaran -- idulfitri dan iduladha. Alasannya, karena aku melihat kebahagiaan di wajah ibuku, juga di wajah suamiku. Ibuku bahagia karena di lebaran tahun ini -- anak gadisnya sudah menjadi seorang istri. Sedangkan Reza -- dia bahagia karena sudah punya istri, dia punya ibu mertua, punya banyak keluarga, ada banyak kue dan hidangan lebaran -- intinya dia tidak sebatang kara dan tidak kehilangan momen lebarannya, dia tidak kesepian seperti yang ia takutkan sebelum ini -- semenjak ia kehilangan ibunya. Dengan senang hati dia memakai baju muslim couple denganku, so sweet sekali suamiku itu. Dia juga senang membagikan THR pada keponakan-keponakanku yang sekarang menjadi keponakan-keponakannya juga, anak dari semua sepupu-sepupuku.


"Aku belum pernah merasakan  semua ini," katanya. "Jangankan keponakan, saudara saja tidak punya."


Reza tersenyum, manis dan tampan berkolaborasi menjadi satu, menghiasi wajahnya.


Tetapi, di antara kebahagiaan itu terselip cerita yang menyebalkan, ketika ayahku mengundang Reza untuk buka bersama. Aku tahu itu hanya untuk membuat Reza tidak enak untuk menolak, padahal yang sesungguhnya ia inginkan adalah untuk bertemu denganku. "Boleh, tapi nanti ya saat aku menstruasi, atau kamu bisa pergi sendiri. Kalau keukeuh mau aku ikut, tunggu di hari aku tidak puasa. Aku tidak mau buka bersama dia."


Reza baru mau membuka mulutnya, tapi aku mendahuluinya. "Aku tidak bermaksud mengingkari janji pada Tuhan. Tidak bermaksud durhaka terhadap kamu. Tapi tolong jangan posisikan aku di tempat itu -- tempat di mana aku bisa jadi durhaka terhadap kamu. Tolong... jangan paksa aku. Setidaknya aku mau kan kamu ajak bertemu dia?"


Reza mengangguk. "Oke, katanya. Sabar... kamu sedang berpuasa."

__ADS_1


Yeah... akhirnya sampai juga ke hari itu -- hari di mana Reza sudah menjadwalkan buka bersama dengan ayahku DAN keluarga besarnya. Maaf, Mas. Aku tidak bermaksud durhaka terhadap kamu. Tapi aku harus melakukan ini.


Aku hanya mengaduk-aduk makananku. Toh, aku tidak lapar karena sedang tidak berpuasa.


"Kenapa, Nak? Kamu tidak suka makanannya?" Ayahku bertanya.


"Bukan. Tapi suasananya. Aku tidak suka suasananya, tidak suka orang-orangnya. Aku tidak suka berada di dekat kalian semua." Kalimat ini kuucapkan dengan intonasi standar ya... tidak berteriak-teriak apalagi menjerit-jerit -- tidak dengan emosi yang meluap-luap.


Hening. Semua orang terdiam dan berhenti mengunyah. Sementara Reza berusaha menyuruhku diam.


"Aku bukan bermaksud untuk mempermalukan kamu, Mas. Kamu suami terbaik. Tapi ini layak diterima orang asing ini. Biarkan aku bicara dan mengeluarkan semua unek-unek yang kupendam belasan tahun. Oke?"


Akhirnya Reza mengerti dan mengangguk. Dia membiarkan aku bicara sampai tuntas, bahkan melerai bagi siapa pun yang ingin buka suara. "Mungkin dengan seperti ini Nara akan merasa plong. Dan aku akan tetap mambantu Anda bertemu Nara kalau sekali ini Anda mau mendengarkan semua unek-uneknya." Begitu kata Reza membelaku dan membuatku bisa mengeluarkan unek-unekku.


"Saya tanya pada Anda, kenapa tidak dari dulu Anda mengajak saya buka bersama? Misalnya dulu saat saya menjalani puasa pertama di usia balig? Itu akan lebih berarti. Dan... jujur, tadinya saya kira Anda akan datang sendiri, bukannya ramai seperti ini. Mereka semua orang asing, bukan bagian keluarga saya. Tolong, jangan samakan saya dengan ibu Anda dan anak-anak Anda, juga keponakan-keponakan Anda. Saya tidak seperti mereka yang bisa menerima hubungan saudara tiri atau hubungan sedarah tapi tidak seibu. Saya tidak bisa menerima mereka karena mereka tidak seibu dengan saya. Tapi sebenarnya titik beratnya bukan di situ, tetapi karena mereka semua terlahir dari hasrat yang salah, dari perselingkuhan, dari pernikahan di bawah tangan -- yang sebenarnya bukan salah mereka, tapi salah si empunya hasrat. Lenjeh! Kanji! Padahal sudah tua, sudah berkeluarga, kok ya seperti keladi -- Gatal! Maaf kasar, tapi itu faktanya. Dan yeah, saya memang berbeda dengan ibu Anda. Ibu Anda jelas anak paling bontot, anak bungsu. Dia bukan seorang kakak yang harus menerima kehadiran adik-adik tirinya, adik-adik yang merebut ayah dari kakaknya. Apalagi seperti Mita. Wajar Mita bisa menerima adik-adik tirinya, karena mereka terlahir dari rahim yang sama, meski bu*ungnya berbeda. Ya kan Ta? Oh ya, aku ingat. Apa kamu sudah pernah bertemu adik laki-lakimu yang diserahkan ibumu pada pasutri yang mengadopsinya? Kalau belum, kalian harus kenal. Jangan sampai jatuh cinta pada saudara sendiri. Jangan seperti kakekmu yang menolaknya mentah-mentah. Kata Bunda sih sebenarnya ibumu sayang pada adikmu itu, tapi karena kakekmu menolak, jadinya terpaksa dia harus diberikan pada orang lain. Ayahku loh yang menyerahkannya. Ya kan AYAH? Yeah, ayahku dan Yanti, ibumu." Aku menunjuk pada adik tiriku, anak ayahku dengan Yanti yang hampir seumuran dengan Ihsan. "Boleh aku tanya? Apa kau bangga terlahir sebagai anak dari lelaki ini? Kau anak hasil perselingkuhan. Ibumu janda gatal yang menggoda ayahku. Oh yeah, kau pasti tidak peduli tentang itu. Dan kamu, Aska. Ibumu hamil enam bulan ketika ayahmu menikahinya. Tapi itu bukan salahmu dan aku tidak bermaksud menilaimu buruk. Kau tetaplah anak yang terlahir suci. Dan aku juga tidak bermaksud menghakimi ibumu, karena aku juga cukup nakal sebelum menikah. Aku hanya ingin memberitahumu, bahwa seharusnya ibumu dinikahi ulang oleh ayahmu ketika kamu sudah terlahir. Tapi, sayangnya ayahku ini dan kakekmu yang kamu banggakqan itu -- tidak peduli. Tapi wajar sih, wajar dia tidak peduli, wajar mereka juga tidak peduli padaku dan Ihsan, apalagi pada anak yang dibuang itu. Karena mereka tidak punya hati. Sudah keturunannya, seperti kalian semua, tidak ada yang punya hati. Menikmati hidup dari hasil keringat ayahku, sementara aku di abaikan. Lucu sekali, Aska saja yang hanya keponakan bisa minum susu dari uang ayahku. Sementara Ihsan? Heh! Kalian seumuran, waktu itu masih sama-sama bayi merah. Tapi tangan kokoh ayahku justru lebih sering menggendongmu, ketimbang menggendong anak kandungnya sendiri. Miris sekali. Tapi, yah, aku tahu tidak ada gunanya menyesali semua ini. Dan yeah, rasanya unek-unekku hari ini sudah cukup. Terima kasih sudah mendengar 'dongeng yang indah ini.' Permisi." Aku berdiri dan langsung pergi.


Aku tahu itu salah. Tapi aku hanya ingin ayahku berhenti memanfaatkan Reza untuk mendekatiku. Karena rasanya sakit hatiku, benci, dan dendamku padanya sudah tidak bisa ditolong, tidak bisa disembuhkan dan tidak bisa lagi diluruskan. Aku ingin hidup tanpa dia, seperti selama ini, selama dua puluh dua tahun.


Tapi tetap saja, aku yang menangis, dadaku yang sesak. Akhirnya aku dan Reza pergi. Dia meminta maaf padaku karena ajakannya itu sama seperti mengoyak-ngoyak kembali lukaku. Kami pun mampir di restoran lain. "Maaf ya, gara-gara aku kamu harus menahan lapar."


"Aku ngerti," katanya. Entah benar-benar mengerti atau memaksakan diri untuk mengerti, tapi yang jelas Reza tidak mengajakku bertemu ayahku lagi, kecuali di hari kepulangan kami ke Jakarta. Dia mengajakku berpamitan. Hanya dengan ayahku -- tidak menyertakan keluarga besarnya.

__ADS_1


Meski momen ramadan kami sempat diwarnai huru-hara itu, momen lebaran kami tetap indah. Dulu aku hanya sungkeman pada ibuku, sekarang ada suamiku. Aku meminta maaf pada mereka berdua atas kesalahan-kasalahanku dan sikapku yang mengecewakan.


Nah, selain momen ramadan dan momen lebaran, ada lagi yang tidak kalah indah, yang berkesan dan tidak akan pernah terlupakan. Yap, momen indah Malam Pertama.


__ADS_2