CCI

CCI
95


__ADS_3

Delapan hari berikutnya berlalu dengan cepat. Setiap malam Reza meneleponku dan kami menghabiskan waktu berjam-jam di telepon, memimpikan masa depan kami, dan merencanakan bulan madu yang tidak ke mana-mana. Reza ingin kami tinggal di kampung sampai selesai perayaan iduladha. "Kamu mau, kan?" tanyanya.


"Iya, aku mau," kataku. "Tidak masalah. Di mana pun asal bersama kamu -- akan selalu menyenangkan."


Reza terkekeh di seberang sana, membuatku semakin rindu melihat wajah dan senyumannya -- yang terakhir kali kulihat sebelum aku pulang ke Jakarta, karena setelah hari itu kami tidak pernah melihat wajah satu sama lain meski lewat video call. Kata Reza dia ingin melihatku lagi setelah akad, setelah dia mengucapkan ijab, setelah aku resmi menjadi istrinya.


Di malam terakhir menjelang pernikahan kami, Reza mengabarkan kalau dia sudah berada di Palembang -- bersama Alfi, Mayra, Tirta, Erik, dan Mbok Tin. Dia juga akan membawa serombongan karyawan Dinata Resto Palembang bersamanya di hari pernikahan kami. Sekalian untuk membantu membawakan seserahan katanya. "Tidak ada siapa-siapa lagi," dia mengatakan itu. Dengan sigap aku melarangnya. Dengan memohon, kukatakan jangan membahas hal itu. Aku tidak mau ada kesedihan sedikit pun menjelang hari pernikahan kami. Dan akhirnya kami memilih untuk segera tidur.


"Ehm...," Reza berdeham sebelum menutup telepon. "Apa kamu masih mencintaiku?"


Ya ampun.... Pertanyaan macam apa itu? Tapi aku tidak mau memperdebatkannya.


"Masih. Akan selalu. Terus. Dan selamanya. Aku akan mencintaimu tanpa henti. Selama darahku masih mengalir dan selama jantungku masih berdetak."


Reza terkekeh lagi. "Aku lelaki yang beruntung karena akan menikahi seorang penulis novel roman. Semoga kehidupanku sebahagia cerita fiksi."


"Aamiin...," sahutku. Aku berguling dan berbaring tengkurap, melihat jam di samping tempat tidurku. "Coba bayangkan, dalam dua belas jam dan lima belas menit lagi, aku akan menjadi seorang Nyonya Dinata."


Lagi-lagi Reza terkekeh, tapi kali ini terkekeh pelan. "Aku juga sedang menghitung jam, Sayang."


"O ya?"


"Mmm-hmm. Aku mencintaimu," ujar Reza dengan parau. "Sampai ketemu. Aku akan menjadi orang yang paling bahagia sekaligus orang paling gugup dalam balutan tuksedo besok pagi."


...♡♡♡...


Hari pernikahan itu pun tiba. Hari yang kutunggu-tunggu sejak aku menyadari bahwa aku telah jatuh cinta pada sosok Reza Dinata. Begitu bangun dari tidur, pikiran pertamaku adalah bahwa hari ini hari pernikahanku. Hari yang indah. Langit berwarna biru cerah; cuacanya menjanjikan kehangatan.


Sekilas aku memandang ke arah jam yang menunjukkan bahwa aku hanya memiliki waktu kurang dari tiga jam untuk mandi, makan, berpakaian dan berhias.

__ADS_1


Aku baru turun dari tempat tidur ketika terdengar ketukan di pintu. "Sayang, kamu sudah bangun?"


Itu ibuku. "Ya," seruku. "Masuk, Bund."


Ibuku tersenyum ketika masuk ke kamar dengan secangkir creamy latte di tangannya. "Hari inilah harinya," ujarnya sambil mengulurkan cangkir itu kepadaku.


Aku mengangguk, aku menyadari diriku gugup. Tetapi aku merasa hal itu sudah sewajarnya. Bukankah para pengantin memang seharusnya gugup?


"Tenangkan dirimu. Pergilah mandi, nanti Bunda buatkan makanan untukmu."


"Terima kasih, Bunda."


Ia memelukku, dengan air mata berkilauan di matanya, lalu keluar dari kamar. Pasti ia merasa kehidupan yang selama ini terasa berjalan dengan lambat, tapi hari ini malah terasa berjalan dengan begitu cepat, sebab Inara kecilnya sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan. Inara kecilnya akan dinikahi seorang lelaki asing yang mencintainya.


Aku pun cepat-cepat mandi, dan ketika aku kembali ke kamar, ibuku sudah ada di sana. Dia membuatkan bubur ayam kesukaanku. "Terima kasih, Bund. Tapi Nara makannya nanti, ya?"


"Makanlah sekarang. Merias pengantin butuh waktu yang lama. Cacingmu nanti bisa meronta-ronta selama kamu dirias."


...♡♡♡...


Suara-suara keramaian sudah terdengar di luar sana sewaktu aku selesai dengan riasanku. Kulirik diriku untuk terakhir kali di depan cermin sebelum keluar dari ruang rias. Aku suka riasan ala Zaza. Mataku berkilauan, pipiku kemerahan. Di saat bersamaan aku memikirkan Reza, dan itu membuatku merasa cantik dalam balutan kebaya putih yang dirancangkan Mayra khusus untukku.


"Hai," suara lembut Ihsan menyapaku. "Kamu luar biasa. Sangat cantik."


"Trims... tapi aku tidak punya uang receh." Aku pun cekikikan. "Ada apa? Ada yang ingin kamu katakan?" tanyaku.


"Cuma mau bertanya, sedikit."


"Mmm-hmm?"

__ADS_1


"Kamu... yakin mau aku yang menjadi wali nikahmu? Apa mau..."


"Kenapa kamu yang ragu?"


"Bukan ragu. Hanya mau memastikan. Kan dia--"


"Dia tidak berhak. Kamu yang berhak. Kamu yang selalu ada dan kamu yang selalu melindungi aku. Bukan dia."


Ihsan baru akan membuka mulutnya lagi untuk menjawab. Tapi aku langsung memotongnya. "Stop. Aku mau calon suamiku menerima tanggung jawab -- atas diriku -- itu dari kamu. No debat." Kuraih tangan Ihsan dan menggenggamnya dengan kuat. "Aku mau dia menjabat tanganmu, tangan ini, tangan yang selalu melindungiku. Bukan tangan orang asing. Oke?"


Ihsan mengangguk tanpa mengatakan apa-apa. Dia langsung memelukku dengan erat. "Aku sangat menyayangimu," katanya. Dia tersenyum lalu menghapus air di sudut-sudut matanya. "Tidak terasa, dua puluh tiga tahun berjalan dengan cepat."


Ah, Ihsan kecilku benar-benar sudah menjelma menjadi pria dewasa. Bahkan sejak dulu -- dia sudah dewasa sejak dulu. Adik lelakiku yang tampan. Pelindungku.


Untungnya aku stand by memegang tisu. Kalau tidak, air mata itu akan merusak mekapku.


Prosesi akad pernikahan di kampungku bukanlah seperti akad pernikahan yang sering kaulihat di tayangan televisi, di mana mempelai pria dan mempelai wanitanya duduk berdampingan saat ijab kabul dengan sepotong kain putih menutupi kepala keduanya. Tidak seperti itu. Jika kausuka menonton film-film Malaysia, maka seperti itulah gambarannya. Mempelai wanita akan memasuki ruang akad menjelang saat sang mempelai pria akan mengucapkan ijab kabul, dan mempelai wanita akan duduk agak jauh di belakang calon suaminya.


Saat aku memasuki ruang akad itu, aku hanya bisa melihat Reza dari belakang. Melihatnya justru membuatku semakin gugup. Aku harus mengerahkan seluruh konsentrasi untuk mendengarkan kata-kata penuh makna yang akan menjadikanku istri sah Reza Dinata. Kata-kata indah yang mengikatku pada lelaki impianku. Mataku sampai berkaca-kaca ketika Reza menyebutkan namaku dalam ijab kabul, yang membuat lelaki itu menjadi suamiku -- pasangan halalku. Lalu kata sah dari para saksi pernikahan melebur semua perasaanku, benar-benar lega rasanya menyadari bahwa aku dan Reza sudah terikat dalam pernikahan yang sah.


Setelah itu barulah mempelai priaku itu diperbolehkan melihatku -- yang sudah halal baginya. Ia membalik badan dalam gerak lambat dan langsung menatapku dengan lekat selama beberapa detik, seakan ia ingin mengenang saat ini selamanya. Yeah, mata kelamnya sarat dengan cinta dan janji abadi. Sementara aku malah tersipu malu, beruntung aku bisa menguasai diriku saat kami saling menyematkan cincin dijari satu sama lain dan saat aku menciumi tangannya. Ah... senangnya, kelopak mataku sampai bergetar terpejam dan semua hal terlupakan begitu Reza mencium keningku untuk pertama kalinya sebagai suami.


Pernikahan yang sederhana, bukan? Begitulah adat di kampungku, tidak ada potong kue, lempar bunga, apalagi wedding dance. Kecuali jika kaumenggelar pesta resepsi mewah dan menyewa gedung mewah di luar kampung, di kota mungkin, atau minimal di pusat kecamatan. Tapi aku harus mengubur mimpi itu -- mimpi menggelar pesta pernikahan impian dengan gaun mewah, potong kue, lempar bunga, dan dilengkapi dengan dansa bersama mempelai priaku. Hanya itu, bukan tentang ribuan undangan atau sajian mewahnya. Tapi... ya sudahlah. Yang terpenting aku dan Reza sudah sah sebagai pasangan suami istri. Dan setidaknya, hampir seluruh anggota keluarga besarku hadir, memberikan pelukan dan ucapan selamat kepada kami berdua. Reza sampai terheran-heran melihat antrian yang begitu panjang. "Kamu punya keluarga besar sekarang," bisikku. Dia tersenyum, bahagia sekali.


Sampai pada akhirnya ayahku datang -- dalam antrian itu. Dia mengucapkan selamat pada kami. Reza menciumi tangannya dan saling berpelukan. Sedangkan aku... aku terdiam sejenak -- sebab aku keberatan untuk mencium tangannya -- tangan yang mengabaikan aku -- tangan yang seharusnya...


"Sayang," Reza menegur. Sebelum mendapat ceramah atau ocehan pertama dari suamiku, lekas-lekas aku meraih tangan lelaki itu dan... dengan terpaksa aku menciumnya -- tangan yang kubenci. Kubiarkan lelaki itu memelukku -- pelukan asing yang seandainya bisa ingin cepat-cepat kulepaskan. Tetapi aku tidak melakukannya. Demi tidak meninggalkan kesan buruk di hari pernikahanku, kubiarkan dia memelukku seberapa lama yang dia mau. Pun di saat sesi dokumentasi, kubiarkan dia berdiri di sampingku, yang sebenarnya terasa konyol. Anak dan ayah kandung berada dalam satu jepretan foto setelah dua puluh dua tahun tidak pernah saling mengasihi. Yeah, apa boleh buat, aku membiarkan momen-momen itu terjadi. Dan di saat itulah aku menyadari, meski aku sangat membencinya, namun tetap saja -- untuk suatu alasan yang aneh -- aku menemukan penghiburan dalam keberadaannya. Maksudku, aku punya ayah. Walaupun ayah yang tidak berguna. Walaupun aku tidak mau bicara dengannya. Walapun dia meninggalkan kekecewaan yang sangat dalam pada diriku, tetap saja aku cukup senang akan keberadaannya -- SEBAB setidaknya aku bisa mengakui diriku sebagai anak yang terlahir dari sebuah pernikahan yang sah, bukan anak yang asal-usulnya tidak jelas, bukan anak yang dikandung di luar pernikahan, apalagi anak yang terlahir di luar nikah. Karena aku sudah cukup malu menyandang status anak Product Broken Home, apalagi kalau aku harus menyandang status lebih komplit dari itu.


"Aku mencintaimu." Reza mengucapkan kata itu tanpa suara saat jemarinya mengenggam tanganku.

__ADS_1


"Aku juga mencintaimu." Kuakui, aku tenggelam dalam cinta yang terpancar dari matanya.


__ADS_2