CCI

CCI
53


__ADS_3

Hari ini, hari kedua kami berada di Bandung. Waktunya untuk kami menikmati hari-hari terakhir kebersamaan kami sebelum Reza mengantarku pulang ke Jakarta dan dia akan pulang ke Bogor. Sedangkan kemarin setelah makan siang, aku hanya menghabiskan waktu sendirian, dan Reza sibuk dengan pekerjaannya hingga larut malam.


Sejak pukul tujuh pagi aku sudah ikut Reza berkeliling menikmati suasana kota Bandung. Katanya dia suka sekali icip-icip kuliner pagi kalau sedang berkunjung ke kota kembang ini. Sebenarnya aku agak malas bangun, aku ingin menikmati sejuknya suasana pagi kota Bandung dari balik selimut. Tapi karena Reza terus menggangguku, terpaksa aku bangun, mandi, dan ikut ke mana pun ia pergi.


Kami sepakat hanya membeli satu porsi perjenis makanan yang ingin kami cicipi, jadi perut kami diperkirakan bisa menampung semuanya. Pertama-tama, indra pengecap kami menikmati bubur ayam Bandung yang memang sudah melegenda akan kenikmatannya. Bubur ayam yang kental plus ceker ayam kering, juga dilengkapi dengan kerupuknya yang garing, sangat terasa enak sebagai menu sarapan pagi.


"Mau makan apa habis ini, Sayang?" tanya Reza sambil menikmati bubur dan memandangiku yang sedang makan sambil searching informasi kuliner khas Bandung.


"Mau makan kupat tahu, lotek, plus roti gempol. Kalau kamu tidak keberatan mengantre, aku juga mau nyicip sate jondo," ujarku sambil tetap menikmati bubur dan mata tetap fokus ke layar ponsel. "Sate jondonya beli dua porsi, ya. Biar aku puas makan seporsi sendirian."


"Kamu sanggup makan semuanya?"


"Kalau kenyang kan bisa dimakan nanti jam makan siang. Yang penting kan bisa nyicip semuanya." Aku pun nyengir.


Tak butuh waktu lama untuk menghabiskan seporsi bubur ayam berdua. Kami pun langsung melesat mencari kupat tahu dan teman-temannya.


Setelah itu, dengan berbekal itinerary wisata ke Bandung versi Tripzilla, kami menghabiskan hari ini ke daerah Ciwidey, bagian selatan Bandung yang asri dengan nuansa natural yang menyenangkan.


Kawah Putih menjadi destinasi pertama yang kami tuju, sebuah danau yang terjadi karena letusan Gunung Patuha yang sangat Instagenik. Aku sendiri sudah pernah ke sini dulu semasa kuliah. Dan sekarang ke sini lagi hanya untuk membingkai kenangan bersama Reza, juga mengabadikannya dalam video manis kami berdua. Dan omong-omong tentang bingkai kenangan, di sini kami mengambil foto dengan tema Strawberry Kisses. Ceritanya begini, aku suka sekali strawberry, dan di sini banyak penjual strawaberry segar, kami membeli dalam jumlah banyak sekalian untuk di bawa pulang. Tentu saja aku mengambil satu cup untuk kucemil di sana. Melihat Reza dengan strawberry di tangannya mengingatkan aku pada sosok Timur, topeng Reza Rahadian dalam film Strawberry Surprise.


"Kamu suka strawberry, kan?"

__ADS_1


"Suka. Memangnya kenapa?" Dia balik bertanya.


"Ya syukur, berarti tidak seperti Timur."


"Timur? Siapa?"


"Sosok tokoh utama di film Strawberry Surprise, yang diperankan oleh Reza Rahadian."


"Oh...," Reza pun manggut-manggut.


"Lah, katanya suka, kok tidak mau?" tanyaku saat Reza menolak strawberry dariku.


"Aku mau kalau makannya berdua dengan kamu," katanya.


"So sweet...." Kulihat kanan-kiri, depan-belakang. Ah bodoh amatlah, sosor saja, toh aku senang melihat Reza senang, dan aku senang membuat Reza senang. Dari situ, dia mengajakku foto berdua dengan strawberry di antara bibir kami. Dan terciptalah satu-satunya foto berduaan yang kami jepret di tempat ini.


"Dahsyat, ya. Strawberry-nya jadi lebih segar."


Hah! Karena bibirku -- dia mendadak doyan sekali makan strawberry.


...♡♡♡...

__ADS_1


Dari Kawah Putih, kami meneruskan perjalanan ke Kampung Cai Ranca Upas untuk bersinggah ke penangkaran rusa. Aku memang bukan pecinta binatang, tapi demi Reza yang sangat menyukai binatang, aku tidak menolak, sebab kali ini Reza bukan bertanya tapi mengajak. Maka aku pun mengiyakan. Dan dengan berbaik hati, aku rela jadi photographer dadakan walau dia tidak meminta. Ini adalah contoh kedua perbedaan hal yang Reza sukai dan yang tidak aku sukai dalam masa hubungan kami yang bahkan belum seumur jagung. Karena Reza selalu pengertian padaku, aku akan belajar untuk mengerti dia. Harus belajar.


Selanjutnya kami singgah ke Perkebunan Teh Rancabali untuk sekadar menghirup udara segar khas pegunungan dan merasakan ketenangan yang menyenangkan, juga merekam momen kami berdua di tengah-tengah pemandangan hijau di sekeliling kami.


"Ternyata enakan jalan ramai-ramai, ya Mas. Biar ada yang motoin kita," kataku.


"Yap, enakan foto seperti kemarin daripada selfi-selfi sendiri." Dia sependapat denganku. "Omong-omong kamu sudah pernah ke sini sebelumnya?"


"Kalau ke sini belum pernah. Tapi kalau ke perkebunan teh sudah pernah, di Pagaralam. Dan yang terpenting itu bukan perkebunan tehnya, melainkan dengan siapa aku di sini dan dengan siapa aku saat ini." Aku berkata dengan menatap matanya.


Setelah itu, Reza maju beberapa langkah sampai rapat di depanku. Jujur saja, kukira dia akan menciumku seperti kebiasaannya kalau tiba-tiba merapatkan dirinya padaku, ternyata kali ini dia hanya ingin merangkulku dengan menyalungkan satu tangannya ke tengkuk leherku. Saat itu kami tidak bicara dalam waktu beberapa menit, hanya menikmati waktu bersama sambil memandangi hamparan hijau nan luas sejauh mata memandang, juga merasakan nikmatnya tertiup angin yang membelai dengan sentuhannya yang mesra. Sebelum akhirnya kami mengakhiri hari di Situ Patenggang, danau di wilayah Ciwidey yang menawarkan pemandangan asri dan atmosfer alami.


...♡♡♡...


Jumat pagi. Reza dan aku hanya menyusuri seputaran kota Bandung, dari Gedung Sate hingga ke Gedung Merdeka, lalu ke Alun-Alun kota Bandung, dan siangnya kami singgah ke Masjid Agung. Karena hari ini hari jumat, Reza ingin salat jumat di sana. Ini adalah tempat-tempat yang seringkali kulihat dalam drama Preman Pensiun yang sudah kutonton semua tayangannya, baik yang series, ftv atau versi layar lebarnya. Yang kuharap selalu ada kelanjutannya, sebab aku suka sebuah tontonan yang sarat akan pembelajaran dan arti sebuah hubungan kekeluargaan.


Setelah makan siang, Reza memenuhi keinginanku untuk pergi ke Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Perahu, dan agak sorenya kami menyambangi Orchid Forest Cikole. Sebuah destinasi objek wisata yang disebut-sebut sebagai taman anggrek terbesar di Indonesia. Dalam lahan yang sangat luas ini, terdapat lebih dari seratus lima puluh tujuh jenis bunga anggrek yang dibudidayakan. Tidak hanya itu, spot foto di tempat ini juga menjadi incaranku.


Berfoto di tengah-tengah hutan pinus, dengan kanan-kiri depan-belakang dikeliligi tanaman-tanaman. Dengan tak tahu malunya, aku meminta seseorang yang tidak kukenal untuk memoto kami dengan pose seperti di poster Ee Samayam Na Hrudayam video song, salah satu soundtrack lagu dalam film 24 Kisses. Ah biarlah, aku tidak mau menyesal dengan melewatkan kesempatan ini. Cuek saja.


Memang, aku sengaja ingin ke sini sore hari, sebab aku mengincar spot foto jembatan gantung kayu dan juga wooden bridge yang menjadi spot foto favorit pengunjung, yang lebih indah dengan instalasi lampu-lampunya saat menjelang malam. Berfoto dengan pose tema Love seperti yang dilakukan Tiger Shroff dalam film Student of The Year 2, juga pose ala wallpaper 9 dari film Fitoor. Lagi-lagi dengan minta tolong orang tak dikenal. Hehe.

__ADS_1


"Maafkan aku jika aku membuat kamu malu," kataku pada Reza yang selalu manis dan rela menahan rasa malunya demi aku. Aku benar-benar terkikik melihat lelakiku yang bucin itu.


__ADS_2