
Sepulangnya kami ke penginapan, aku sengaja langsung pergi meninggalkan Reza di parkiran dan langsung masuk ke kamar. Tetapi, belum sempat aku menutup pintu, Reza sudah menerobos masuk, lalu mengunci pintu dari dalam.
"Keluar," kataku.
"Tidak, sebelum kita bicara," katanya santai sambil menggeleng.
"Aku tidak mau bicara denganmu. Keluar atau aku akan teriak."
"Silakan. Silakan teriak, sampai Ihsan dan semua sepupumu datang. Akan kubiarkan semua orang menghakimiku. Aku tidak akan melawan sedikit pun. Aku mau lihat, apa kamu akan merasakan sakit kalau aku sakit? Silakan. Teriaklah sekencang-kencangnya." Dia menantang.
Aku terdiam, hanya berdiri kaku di depan Reza. Ancamanku tidak berarti apa-apa baginya. Tidak mungkin aku akan membiarkannya sampai dihakimi semua orang hanya karena dia masuk ke kamarku.
Sejenak kemudian, Reza maju menghampiriku, membuatku sontak melangkah mundur dan mentok ke dinding. Lalu dia menahanku dengan kedua tangannya yang dijulurkan. Aku berusaha mendorongnya, tapi sia-sia, dia lelaki yang cukup kekar, tenaganya terlalu kuat untuk kulawan. Aku menyuruh dia untuk menyingkir baik-baik, tapi dia tetap tidak mau. Dia tetap berdiri di situ setidaknya selama semenit, sikapnya itu serasa membakar diriku lewat kedua tatapan matanya.
"Minggir," pintaku.
"Tidak," sahutnya singkat dan tenang.
"Lepaskan aku! Aku mau kita berakhir."
"Tidak akan pernah. Tidak akan ada kata berakhir di antara kita."
"Bukan kamu yang menentukan. Kamu tidak bisa mengatur-atur aku."
"Aku bisa."
"Tidak akan. Aku tidak mau menjalin hubungan dengan lelaki sepertimu, lelaki yang tidak bisa menepati janji. Kamu tipe laki-laki yang dengan sengaja membiarkan orang lain hadir di antara kita. Kamu sama seperti ayahku. Sama persis. Kamu tahu, aku membencimu."
Reza menghela napas, lalu memegangi pundakku. "Dengar, jangan selalu mengira bahwa setiap laki-laki akan pergi begitu saja dan akan mengecewakanmu suatu hari nanti. Jangan pernah berpikir kalau aku ini sama dengan mereka, apalagi sama dengan ayahmu."
"Kamu memang sama," kataku. "Kamu sama berengseknya dengan manusia bedebah itu. Dan Salsya, perempuan janda sialan itu, dia itu murahan, pel*cur, persis Yanti dan Rhea. Pel*cur-pel*cur yang bergelayutan di sisi ayahku. Kalian itu sama. Sampah! Kotor! Pergi kamu! Lepas!"
Alih-alih melepaskanku, Reza malah memelukku. Kurasakan kedua tangannya melingkar erat di tubuhku. Spontan kuinjak kakinya, aku langsung mendorongnya saat dia lengah karena kesakitan, dia pun terjengkang, jatuh ke lantai. Tapi aku malah kasihan dan merasa bersalah. Tak seharusnya aku sekasar itu.
"Maaf," kataku. "Aku tidak bermaksud menyakitimu." Kuhampiri dia dan kujulurkan tangan untuk membantunya berdiri. Tapi dia malah menarikku dan membuatku jatuh tertelungkup di atas tubuhnya. Dengan geram dia membalikkan tubuhku, menindihku, dan memegangi kedua lenganku, membuatku tidak bisa bergerak. Tahu-tahu lidahnya sudah berada di dalam mulutku -- jauh di dalam kerongkonganku. Aku nyaris tidak bisa bernapas, tetapi aku menyukainya. Ingin kugigit lidahnya, kutelan dan kucerna supaya proteinnya memberikan gizi bagi tubuhku.
__ADS_1
Saat-saat penuh kemunafikan itu pun datang. Entah karena apa, apa karena perasaanku atau karena setan yang berhasil membujukku, aku menerima ciumannya. Aku ingin Reza menjadi bagian diriku untuk selamanya. Kubebaskan tanganku menyentuh wajah dan lehernya, menikmati lidahnya bermain-main di mulutku, dan kubalas ciuman panasnya dengan gairahku yang membara. Reza mengalihkan ciumannya ke sekitar telingaku, lalu turun ke leherku. Aku menggeliat, menikmati setiap sentuhannya -- sentuhan yang memberikan sensasi nikmat yang menjalar keseluruh tubuhku. Kunikmati tubuh kekarnya yang liar di atasku. Dalam sesaat, sisi kanibal dalam diriku terdorong bangkit, kugigit dan kuhisap lehernya hingga meninggalkan jejak merah. Sejenak kemudian, dia mengangkat kepalanya, ia balas menghisapku -- lama -- dan beberapa kali hingga membuatku mengerang nikmat. Saraf-sarafku seolah bergetar begitu hebat dan menyemburkan hormon-hormon bahagia dari dalam tubuhku. Aku - lepas - kontrol. Kunikmati setiap hisapannya yang berjejak merah dengan gairah tak tertahan. Tanpa kusadari hisapannya sudah berpindah -- hampir ke dada.
Ummm...
Sambil mengerang -- kutahan ia supaya tak melepaskanku.
Tetapi saat itu Reza justru tersadar. Dia tersenyum, lalu menggeser tubuhnya. Diciumnya aku dengan manis, nyaris seperti ciuman seorang kakak, seraya menyibakkan sejumput rambut yang menutupi mataku. Separuh tubuhnya tetap ada di atasku.
"Maaf, ya? Aku terbawa suasana," ujarnya.
"Tidak apa-apa. Aku suka," kataku tidak tahu malu.
"Aku mau bicara, kamu mau mendengarkan aku?"
"Emm."
"Aku berani bersumpah, bukan aku yang menerima Salsya kembali bekerja di restoran. Tadi pagi dia langsung berangkat ke Bogor, langsung menemui Ibu. Dia menceritakan bagaimana keadaannya, dan langsung meminta pekerjaan ke Ibu. Ibu tidak enak menolaknya, sebab itu Ibu mengiyakan."
Aku tetap terdiam. Aku tidak tahu harus menanggapinya bagaimana. Tapi satu yang aku yakini, bahwa Salsya sengaja melakukan itu untuk mendekati Reza dan ibunya. Dia ingin kembali ke pelukan Reza. Aku yakin tentang itu.
Dengan setengah hati kuanggukkan kepala. Kemudian Reza berusaha duduk, lalu membantuku untuk duduk.
"Maaf, Mas. Aku menyesal telah bertingkah keterlaluan," ujarku. "Aku menyesal telah mendorong kamu. Aku menyesal karena begitu emosional, tolol, dan tidak rasional. Aku menyesal telah berkata kasar dan mengata-ngatai kamu. Apa kamu membenciku?"
Dia tersenyum dan menatapku dengan tatapan mata penuh arti. "Aku tidak akan pernah bisa membencimu. Tidak akan pernah. Dengar, aku hanya kasihan pada Salsya, tidak lebih, dan tidak untuk kembali padanya. Jangan pernah berpikir kalau aku akan menyakitimu dengan cara apa pun. Oke? Sekarang rapikan dirimu, jangan sampai orang lain melihat dan mengira aku telah melakukan itu padamu."
"Mas?"
"Emm?"
"Setelah kemesraan kita barusan, apa di mata kamu... aku... murahan?"
Ia menggeleng. "Kemesraan kita tadi itu kesalahanku, kalau aku tidak melakukan itu, kamu juga tidak akan merespons. Itu sepenuhnya salahku. Oke?"
Aku mengangguk. "Jika kamu tidak tersadar, mungkin aku bersedia kamu melakukannya," akuku.
__ADS_1
"Aku paham," katanya. "Tidak apa-apa. Asal hanya padaku, dan tidak terbawa suasana saat bersama orang lain."
Nyesss... kucubit perutnya.
"Dasar barbar...," pekiknya sambil mengelus bekas cubitanku.
"Sudah tahu aku barbar, bahkan aku buruk. Kenapa kamu masih mau? Jangan bilang aku tidak buruk seperti waktu itu. Aku jelas buruk. Dan kamu tahu itu."
"Emm... kalau begitu jawabannya karena kita sama buruknya. Yeah, mungkin aku sedikit lebih baik." Dia terkekeh. "Yang penting hati kamu baik, selamanya setia, dan hanya mencintaiku. Aku percaya kamu akan selalu setia di sisiku."
Sepercaya itu Reza akan kesetiaanku. Sedangkan aku? Aku selalu meragukan kesetiaannya. Dan itu karena ayahku. "Maaf, Mas. Aku tidak punya keyakinan sebesar itu terhadapmu."
"Tidak apa-apa. Akan kubuktikan. Asal kamu berjanji, setiap ada masalah, kamu akan selalu memberikan aku kesempatan untuk menjelaskan. Janji?"
Aku mengangguk. "Aku janji. Janji kelingking."
Kami menghabiskan beberapa menit berikutnya dengan berpelukan, saling berkata jujur betapa sakitnya kami tanpa satu sama lain. Setelah cukup lama dan hari sudah cukup larut, aku berdiri dan meregangkan tubuh, lalu berjalan menuju kamar mandi. Seraya meraih handuk, aku berbalik untuk menutup pintu di belakangku. "Aku mau mandi," kataku. "Tunggu dua puluh menit lagi, ya."
"Beritahu aku kalau kamu butuh seseorang menggosokkan punggungmu," Reza berkata dari balik pintu.
Aku hanya tertawa. "Silakan bermimpi. Otakku sedang waras. Balik, sana."
"Oke," sahutnya.
Dua puluh menit kemudian, aku berdiri di depan cermin -- sudah bersih dan sudah berpakaian, ada secarik kertas surat yang tertempel di sana. Segera saja kebahagiaan melandaku. Itu tulisan tangan Reza.
Hanya pesan singkat untukmu, Nara-ku sayang, agar kamu tahu bahwa aku selalu memikirkanmu. Kuharap hari ini, besok, dan seterusnya, aku selalu bisa membuatmu bahagia dan menjadikan hari-harimu selalu indah.
Selamat malam dan selamat istirahat.
Aku mencintaimu.
- Love R
Mmm... manis sekali. Meski hanya hal sederhana, tapi itu membuatku tidak mampu menahan senyum bahagia. "Aku juga mencintaimu."
__ADS_1