CCI

CCI
67


__ADS_3

Malam itu Reza berbaring di lantai dengan jaket dan selimut yang menyelubungi tubuhnya, persis di samping sofa. Kurasa dia tidak tidur sama sekali. Dia hanya bergulak-gulik di lantai beralas karpet itu. Kutawari dia tidur di sofa, biar aku yang tidur di lantai, tapi ia menolak. Katanya dia tidak bisa tidur karena gelisah, bukan karena keras dan dinginnya lantai rumah sakit. "Ada perasaan aneh yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Semacam... rasa cemas... dan... rasa takut yang berlebihan," ujarnya. Kemudian dia bangun dan menyalakan televisi, lalu duduk di sofa, di ujung kakiku.


Aku tidak tega membiarkan Reza sendiri dengan kegelisahannya, aku ikut bangun dan membuat dua cangkir cokelat panas, satu untuk Reza dan satu lagi untuk diriku sendiri. Reza meminum cokelat panasnya dalam diam, tatapannya fokus ke layar televisi yang menyiarkan berita malam. Aku tahu dia sedang tidak ingin bicara, maka itu aku hanya menemainya dengan duduk di sampingnya. Entah berapa puluh menit setelah itu, kami sama-sama ketiduran dengan televisi masih menyala.


Aku terbangun oleh suara Reza yang memanggil-manggil ibunya dengan isak tangis yang memecah keheningan. Waktu itu sekitar jam dua pagi. Aku langsung terduduk dan meyakini aku tidak sedang bermimpi, kurasakan dingin dan menggigil melihat adegan penuh air mata itu. Seluruh tubuhku serasa lumpuh. Aku benar-benar tidak bisa merasakan kedua lengan dan kakiku, selain desiran darah di pembuluh-pembuluh nadiku. Dia memeluk dan menciumi ibunya yang sudah terbujur kaku. Menyaksikan itu, air mata langsung memenuhi kelopak mata.


Sesaat setelah berhasil menguasai kembali lengan dan kakiku, aku pun bangkit berdiri. Sepelan mungkin kupanggil namanya. Dia menoleh dan menatapku dengan wajah seorang anak yang membutuhkan pertolongan. Kuhampiri dan kuraih dia ke dalam pelukanku. Dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menenggelamkan wajahnya di pelukanku sambil menangis.

__ADS_1


Urutan-urutan cerita setelah itu adalah bagian-bagian yang tidak mampu kuceritakan, bagian yang aku sendiri tidak tahu pasti apa-apa saja yang terjadi. Yang kuingat, aku memanggil dokter, perawat atau siapa pun yang bisa datang ke ruangan itu. Aku tidak tahu apa yang dikatakan dokter dan perawat saat dan selama ada di ruangan duka itu. Kefokusanku pecah, kekhawatiran terhadap Reza mendominasi di otakku.


Sekian menit kemudian, Reza sudah bisa menguasai diri sepenuhnya, sesaat setelah perawat menutup jenazah ibunya dan memindahkannya ke ruang jenazah. Sementara Reza menyelesaikan urusan administrasi rumah sakit, aku menelepon Alfi, Ari dan Ihsan untuk menyampaikan berita duka itu. Kemudian langsung merapikan barang-barang kami untuk dibawa pulang.


...♡♡♡...


Siapa pun di dunia ini pasti pernah kehilangan orang-orang yang dicintai. Ini terjadi setiap hari, sebab ini merupakan bagian kehidupan di dunia, di mana Tuhan menakdirkan manusia untuk datang dan pergi. Sebagaimana ada yang hadir dan lahir ke dunia, ada juga yang pergi meninggalkan dunia. Itulah yang dinamakan dengan takdir. Dan hari itu, bagi orang-orang yang pernah merasakan kehilangan karena kematian, adalah hari di mana dunia mereka terasa berhenti berputar dan langit terasa runtuh tepat di atas kepala, tak terkecuali bagi seorang Reza Dinata.

__ADS_1


Setelah prosesi pemakaman, aku, ibuku, Ihsan, Alfi, Mayra dan Ari, adalah orang-orang terdekat Reza yang belum beranjak pergi, sebab ia masih duduk termangu di depan pusara mendiang ibunya. Tapi keberadaanku di sisinya hanya sekadar hadir, lidahku sama keluhnya seperti dia. Aku tidak bisa berpura-pura bicara manis ataupun dengan nada-nada yang terdengar sendu, mengharukan, dan pintar dalam menghadapi hal itu. Beruntung, ibuku berhasil membujuknya untuk beranjak dari sana. Mungkin ada semacam rasa segan atau dia terlalu menghormati orang tua, sebab itu dia mau mendengarkan kata-kata ibuku.


Kami pulang dengan mobil terpisah. Ihsan bersama ibuku. Aku hanya berdua dengan Reza, dia tidak mau ikut mobil Ihsan atau membiarkan Alfi membawa mobilnya. Aku yakin itu karena ia menghindari situasi-situasi di mana orang-orang akan menatapnya dengan iba dan kesedihan yang menggelayuti wajahnya. Kecuali padaku, dia membiarkan aku selalu di sisinya, meski dia masih terus membeku dengan pandangan lurus ke depan, seolah apa pun yang ada di depan sana begitu menarik perhatian. Dia malah meminta Alfi dan Mayra ikut mobil Ari. Zia tidak ikut, dia sedang hamil anak pertama mereka, hari itu juga aku baru tahu kalau Ari mengatakan pada Reza bahwa Zia tidak bisa ikut bagian dalam mengurus pernikahan kami, dia sedang mual-mualnya menghadapi trimester pertama usia kehamilannya. Ari menyampaikan berita bahagia itu saat kami berada di Cianjur, tetapi waktu itu Reza tidak menceritakan hal itu kepadaku.


Hari sudah menjelang siang saat kami sampai di rumah Reza. Aku, Mayra, ibuku dan Mbok Tin bergegas menyiapkan makan siang. Sedangkan Reza, Alfi, Ari dan Ihsan disibukkan dengan urusan persiapan takziah untuk malam itu. Tidak ada karyawan resto yang membantu di rumah, sebab mereka juga disibukkan dengan urusan katering untuk disuguhkan kepada para tamu, sementara sebagian karyawan lain mengurusi katering di sebuah hajatan yang aku juga tidak tahu entah di mana. Pesanan katering itu sudah dipesan dari jauh-jauh hari, sehingga tidak bisa dibatalkan hanya karena pemilik resto ditimpa musibah yang datangnya tak pernah pandang waktu, termasuk di hari minggu yang seharusnya menjadi waktu liburan nan syahdu.


Di saat makan siang sudah siap, aku bersyukur Reza memiliki rasa hormat yang tinggi terhadap ibuku, hingga lagi-lagi dia langsung menurut tanpa bisa menolak saat ibuku menyuruhnya makan, mengisi perutnya yang kosong. Setelah cokelat panas yang kubuatkan tadi malam, dia tidak makan atau minum apa pun selain air putih. Meskipun dia hanya makan sedikit, setidaknya aku lega -- ada makanan yang masuk ke perutnya. Begitu pun saat selesai acara pengajian malam itu, dia ikut makan bersama para tamu yang hadir mendoakan mendiang ibunya.

__ADS_1


Tetapi sayangnya, selepas pengajian itu ibuku langsung pulang ke Jakarta, pamit bersamaan dengan Bibi Bungsu sekeluarga, sebab Ihsan harus masuk kerja senin besok. Pun Ari yang langsung pulang ke Lampung, dia tidak bisa menginap sebab khawatir sudah seharian meninggalkan Zia yang tengah mabuk berat. Dan semua karyawan juga pulang setelah beres-beres dan bersih-bersih.


Suasana rumah itu kembali hening, sunyi dan sepi, seolah tak berpenghuni. Saat itu aku bertanya-tanya, berapa lama kabut duka itu akan menyelimuti dunia kami? Di sisi lain, hari pernikahan itu sudah ada di depan mata.


__ADS_2