CCI

CCI
72


__ADS_3

Reza kembali menyibukkan diri dengan aktivitas olahraga. Aku senang, dia hanya parkir di teras belakang, sehingga tidak ada perdebatan di antara kami, mungkin dia tahu aku akan melarangnya atau mengikutinya jika dia keluar dari rumah.


Sambil menikmati cokelat panas di tanganku, aku mengamatinya dari kejauhan, memandangi apa yang ada di hadapanku lekat-lekat. Rasanya sudah lama sekali aku tidak melihat otot-otot itu menghiasi tubuhnya. Waktu itu dia sedang olahraga angkat beban, kausnya agak tersibak sehingga aku bisa melihat kulit telanjang di atas celananya, bagian pinggang dan perutnya yang sixpack. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak melihatnya. Ingin sekali rasanya mengulurkan tangan untuk merasakan bagian dirinya yang begitu kudambakan.


Reza menoleh begitu menyadari keberadaanku. Dia menatapku, senyum tipis perlahan merekah di wajahnya. "Kamu mengamati-amatiku, ya? Dasar mesum!"


"Melamun," kataku sambil tersenyum nakal.


Dengan gerakan cepat, dia berdiri lalu membuka kausnya. Ketika terlepas, jantungku berdebar tak karuan. "Senang?" tanyanya.


"Sangat." Aku mendesah. Aku benar-benar tak bisa menahan diri untuk menatapnya. Tak bisa mencegah diriku menatap kulitnya. Sungguh memesona. Jantungku berdentum kencang seperti genderang mau perang, dan semakin kencang lagi saat dia menghampiriku. Dia melingkarkan  tangannya yang berotot itu di pinggangku. Begitu tanganku menempel di dada bidangnya, aku bisa merasakan detak jantungnya, terasa indah dan berirama. Begitu juga dengan deru napasnya yang begitu hangat menyapu telinga. ia berbau campuran pewangi berkonsentrat, keringat, dan kopi, dan aku rasanya bisa mati bahagia di situ.


"Maafkan aku sudah melewatkan tanggal dua puluh tiga itu, sekarang biar kukatakan, keputusanku sama sekali tidak akan pernah berubah. Aku mencintaimu, aku akan hidup dan menua bersamamu. I will marry you, only you," katanya.


Bunda... nikahkan aku sekarang....


Hasrat kegadisanku meronta-meronta. Sumpah! Aku bahagia, bahkan aku sampai tidak bisa mengungkapkannya dengan rangkaian kata-kata. Setidaknya Reza tahu kalau aku benar-benar bahagia saat itu.


"Aku masak nasi goreng pete spesial untuk kamu. Kamu mau makan sekarang?"


"Kedengarannya lezat. Tapi aku mau mandi dulu," katanya. Dia baru hendak melangkah tapi langsung berbalik. "Pastikan nasi gorengnya tetap hangat dan lengkap dengan kerupuk." Dia tersenyum senang.


Aku menatapnya dan mengangkat alis. "Apa yang kudapatkan sebagai balasannya?"

__ADS_1


Reza langsung menarikku, lalu tangannya berpaut di leherku. Dia mel*mat bibirku dengan lembut, perlahan-lahan lid*hnya menerobos masuk. Aku merasa dia begitu bergairah melahapku, sampai-sampai dia menyibakkan rambutku dan hendak melukiskan cinta di leherku. Tetapi ia tersadar sebelum meninggalkan jejak merah di situ.


"Sebaiknya aku mandi," katanya. "Adegan ini terlalu berbahaya bila dilanjutkan."


"Baiklah. Kamu punya hutang yang besar dan harus dibayar lunas saat malam pertama kita."


"Aku akan bayar lunas beserta bunga-bunganya," katanya, sejenak kemudian dia mencium keningku dan langsung berlalu.


...♡♡♡...


Sewaktu aku masak, Reza berjingkat-jingkat masuk ke dapur, menyelinap ke belakangku, lalu merangkul pinggangku. Aku terlompat kaget, membalikkan badan, dan memukul dadanya dengan tangan. "Jahil!"


Tetapi ia kembali merangkulku sewaktu aku mengambilkan nasi goreng untuknya. Kepalanya bertumpu di pundakku, dan dengan manisnya ia membisikkan cinta di telingaku. Aku tidak melarangnya, kubiarkan saja dia seperti itu walau sebenarnya dia memperlambat gerakku. Aku tahu dia butuh tempat untuk bermanja-manja, seperti pada ibunya dulu. Mbok Tin yang sedang menyiapkan teh hangat, tak hentinya melirik dan terus tersenyum tanpa komentar. Aku tahu dia senang karena Reza sudah kembali ceria seperti biasanya.


Betapa indahnya pemandangan di depanku hari itu. Saat aku menyaksikan Reza makan dengan lahap, menikmati suapan demi suapan nasi goreng pete di hadapannya. "Hebat," katanya. "Baru beberapa hari kamu sudah pandai memasak."


Reza tersenyum, dia tidak mengatakan apa-apa lagi setelah itu, sampai benda persegi di depannya berbunyi -- untuk mengganggunya. Padahal dia baru menghabiskan setengah porsi makanannya.


Fix, aku jengkel. Aku tidak tahu itu telepon dari siapa, nomornya tidak terdaftar di kontak Reza. Namun anehnya, setelah mendengar suara seseorang di seberang sana, Reza langsung masuk ke ruang kerjanya dan menutup pintu. Dia tidak pernah seperti itu sebelumnya. Biasanya juga dia menerima telepon di depanku. Aku merasa ada yang aneh.


Hampir setengah jam sejak pintu itu tertutup, Reza masih belum juga keluar dari sana. Aku tidak tahan. Kuketuk pintunya, dan aku masuk. Dia sedang duduk di kursinya, satu siku bertelekan di lengan kursi, dan satu tangannya masih menggenggam ponsel. Matanya menatap tajam ke dinding yang polos, menerawang. Aku jadi teringat, dia pernah seperti ini waktu pertama kali Salsya meneleponnya saat kami liburan di Bali.


"Ada apa?" tanyaku. "Siapa yang menelepon?"

__ADS_1


"Kayla," katanya.


Aku duduk di atas mejanya. Dia menaruh ponselnya dan membenamkan wajahnya di pangkuanku. "Mas, ada apa? Siapa Kayla? Ada urusan apa dia menelepon?" tanyaku. Mungkin kaumengira aku mencecarnya, tapi sungguh, aku bertanya sepelan mungkin.


Reza mengangkat wajah. Keningnya berkerut. "Kayla, temanku, sahabat dekat Salsya."


Perkiraanku tidak meleset, ini tentang Salsya. Pasti bukan berita bagus. "Ada hubungannya dengan Salsya? Dia kenapa?" tanyaku, berusaha -- untuk tetap tenang.


Reza menggosok-gosok wajahnya dan menghela napas. "Salsya hamil."


Aku terkejut, terlonjak tepatnya. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Jantungku rasanya berhenti berdetak, seolah ada jutaan peluru yang ditembakkan tepat di dadaku, menembus jantung dan menghancurkannya sedemikian rupa hingga tak bersisa. Dan, amarah pun mulai bersemayam di hatiku. Dari ekspresi wajahku, Reza pasti menyadari apa yang sedang kupikirkan. Dia pun mencoba untuk menenangkan aku.


"Bukan aku," katanya. Dia bangkit dan menaruh tangannya di pundakku. "Jangan khawatir. Bukan aku yang menghamilinya. Dia sendiri tidak tahu dia hamil dengan siapa."


Aku menarik napas dalam-dalam dan merasakan lagi jantungku berdegup. Aku turun dari meja dan menghambur ke pelukannya. "Sungguh? Kamu tidak membohongiku?"


"Aku bersumpah. Demi Tuhan," katanya. "Kayla bilang Salsya pergi ke club sehari setelah bercerai dengan suaminya. Dia mabuk dan tidak tahu siapa yang membawanya ke hotel. Saat dia sadar, dia sendirian dan dalam keadaan yang menyedihkan. Dia..."


Tel*njang. Aku yakin itu yang ingin ia katakan.


"Well, kalau kamu memang jujur, kenapa kamu--"


Reza menaruh jarinya di bibirku. Aku pun terdiam. "Sekarang dia di rumah sakit dan tidak tahu harus bagaimana." Lalu diam sejenak. "Aku hanya kasihan padanya. Dia butuh pertolongan, sedangkan dia tidak punya siapa-siapa. Kamu ngerti, kan?"

__ADS_1


Aku melepaskan diri dari pelukannya, berjalan ke arah jendela, memandang ke luar, ke langit biru di atas sana. "Mas," kataku. "Rasa kasihan itu tidak akan menyakitiku, kan?"


"Hei...," katanya sembari berjalan menghampiriku, lalu memelukku dari belakang. "Jangan berpikir kalau aku akan menyakitimu dengan cara apa pun. Oke? Kamu separuhku. Menyakitimu sama saja aku menyakiti diriku sendiri."


__ADS_2