CCI

CCI
110


__ADS_3

"Maaf."


Tidak! Aku sudah muak mendengar kata maaf itu keluar dari mulutnya. Jangankan memaafkan, aku bahkan tidak bergeming sedikit pun.


Reza mencoba menjelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi. Meski aku tidak menggubrisnya, tapi sesungguhnya aku mendengar alasan yang dituturkan Reza. Katanya, malam itu Salsya meneleponnya dan bilang dia tidak bisa tidur, ada yang ingin Salsya bicarakan dengannya. Reza mengatakan padaku bahwa dia sudah menolak, tetapi Salsya nekat mengetuk -- pelan -- pintu kamar kami, terus-terusan. Reza tidak ingin aku terganggu, sebab itu dia mengikuti keinginan Salsya untuk bicara dengannya di beranda depan.


"Dia melihat kita bermesraan di pinggir kolam, sebab itu dia...," Reza tidak melanjutkan kata-katanya, tapi aku tahu persis apa kelanjutan kalimat itu. Salsya ingin Reza bermesraan juga dengannya. Dia ingin Reza mencium dan mencumbuinya, seperti yang dilakukan Reza padaku, seperti kehangatan yang kurasakan -- kehangatan yang diberikan seorang suami pada istrinya. Kasarnya; dia minta jatah.


Mendengar itu aku malah geregetan dan terpancing menekan es batu kuat-kuat pada luka lebamnya, sehingga ia agak memekik karena sakit. Tapi aku tetap tidak menggubris alasan yang dituturkannya itu. Aku tetap membungkam mulutku dan tidak menatap padanya.


"Erik masih di sini, kan? Minta dia menggantikan Alfi dan May mengurusi Salsya di rumah sakit. Alfi dan Mayra itu sahabatmu, bukan karyawanmu."


Aku berdiri, menaruh baskom dan es batu itu ke meja, lalu keluar dari kamar, menuruni anak tangga dengan lunglai. Tungkai kakiku terasa lemas.


Sesampainya di bawah, aku ke toilet, mencuci wajah, lalu keluar dan duduk di sofa, memegangi kepala dengan dua tangan sambil menatap ke lantai.


"Kamu menunggu May dan Alfi? Biar aku saja," suara Reza membuatku kaget. Tiba-tiba Reza sudah berdiri di ujung tangga.


Oh, dengan senang hati. Aku berdiri, menaiki tangga dengan melewati Reza tanpa melihat ke arahnya sedikit pun. Tetapi aku tidak langsung masuk ke kamar, aku masih berdiri di sana, di dekat tangga. Hingga beberapa menit kemudian, terdengar suara pintu terbuka, dan suara Mayra langsung mengusir keheningan. "Mukamu kenapa? Kok lebam-lebam."


Reza tidak menjelaskan, dia hanya bilang dia tidak apa-apa.


"Biar kuobati," kata Mayra.


"Tidak usah. Tadi sudah dikompres. Sudah diobati Nara."


"Oh, oke. Oh ya, Tirta tidak rewel, kan?"


"Dia masih tidur. Tadi sempat bangun, ditemani Aarin. Sekarang sudah pulas lagi. Emm... bagaimana dengan Salsya?"

__ADS_1


"Dia tidak kenapa-kenapa. Sudah dibawa Erik ke mes."


Sudah kuduga. Aku tahu dia tidak apa-apa. Aku tahu dia hanya berpura-pura.


"Trims, ya. Maaf sudah merepotkan kalian berdua."


"Santai." Alfi menjawab. "Nara, bagaimana?"


Hening. Lalu terdengar embusan napas yang kuat. "Ya, begitu. Tapi semoga semua baik-baik saja. Gue... duluan, ke atas. Sekali lagi terima kasih."


Aku cepat-cepat masuk ke kamar, tidak ingin Reza memergokiku mendengar obrolannya dengan Alfi dan Mayra di bawah. Aku pun naik ke ranjang dan pura-pura tidur dengan posisi memunggunginya.


Entah Reza tahu atau tidak kalau aku pura-pura tidur, tapi waktu ia hendak mencium keningku, dia tidak sengaja menyentuh luka lebam di punggungku. Aku mendesis, meringis merasakan sakitnya. Lalu, dengan sigap Reza memeriksa lukaku dan mendapati luka lebam itu. Dia mengompresnya. Dan aku membiarkan dia melakukan itu.


"Maafkan aku," suaranya lirih dan pelan sekali.


Setelah mengompresi luka lebamku, Reza menutup kembali bajuku, merapikan selimutku, dan berbaring rapat padaku. Dia tidur sambil memelukku. Aku juga membiarkannya. Kendati pelukan itu tidak senyaman biasanya. Pelukan yang biasanya hangat, tapi kali ini...


Menjijikkan.


...♡♡♡...


Aku gelisah sepanjang malam. Tidak bisa tidur nyenyak, terutama karena pikiranku yang kacau, ditambah luka lebamku yang terasa sakit, membuatku tidak bisa tidur terlentang. Maka dari itu, daripada aku tidak melakukan apa-apa di kamar, kuputuskan untuk bangun. Aku turun ke lantai bawah, masuk ke dapur dan mulai masak -- mie tek-tek kesukaan Reza -- untuk semua orang.


Sewaktu aku menumis dan racikan bumbu-bumbu dapur itu menguar memenuhi ruangan, Mayra terbangun, lalu dia membantuku masak. Senyuman manisnya menyapaku dengan hangat. Aku tahu, dia pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mengumandangkan kultum paginya untukku.


"Aku tidak keberatan untuk mendengar nasihatmu," kataku sebelum dia memulai membuka suara. Dia sedang mencuci tangannya di wastafel waktu itu. Dan dia tersenyum sekali lagi padaku.


"Ada yang bisa kubantu?" tanyanya.

__ADS_1


"Yeah, tentu. Kalau tidak keberatan, tolong ambilkan beberapa mie di dalam laci dan tolong sekalian direbus."


Mayra mengangguk dan langsung mengeksekusi mie-mie itu dengan cepat. "Bagaimana keadaanmu?"


"Seperti yang kamu lihat. Aku baik."


"Hati dan perasaanmu?"


"Sedikit kacau. Tapi aku bisa mengatasinya. Tidak perlu khawatir."


Mayra seperti mencari-cari keyakinan di wajahku. "Aku tahu, kamu sosok istri yang kuat, dan tegar."


Pujian itu mengaduk-aduk hatiku. Aku berusaha sekuat tenaga memusatkan perhatian pada masakanku. "Trims, May."


Mayra tersenyum, lagi. Lalu dia mengatakan padaku, menurutnya kisah cintaku itu persis cinta segitiga antara Sarah, Doel, dan Zaenab. Salsya persis seperti Zaenab, mantan pacar yang sok lemah dan memanfaatkan kehamilannya untuk merusak rumah tangga orang, tuturnya. "Dan kamu, persis seperti Sarah, sosok yang keras, bisa dibilang kalau dia itu perempuan tangguh -- sama sepertimu. Tapi kuharap, ketangguhan itu tidak membuatmu mengambil keputusan yang salah seperti yang dilakukan Sarah."


Kupertimbangkan jawabanku sesaat, karena ini mengarah ke obrolan yang cukup serius antara kami berdua. "Aku tidak tahu, May. Aku belum memikirkan sejauh itu. Tidak tahu bagaimana nanti."


Mayra mendekat padaku dan menaruh kedua tangannya di bahuku. "Aku mengharapkan yang terbaik, Ra. Baik untukmu, juga untuk Reza. Tapi kalau akhirnya kamu menyerah, yah... mau bagaimana. Aku hanya minta -- jangan menghilang tanpa jejak seperti Sarah."


Aku menggeleng. "Tidak akan. Tapi seandainya keadaan mengharuskan aku untuk pergi, aku akan pergi baik-baik, berpisah baik-baik dengan cara yang seharusnya. Karena aku bukan ayahku. Dan... mengenai itu, mungkin ayahku mau menguruskan perpisahan itu untukku. Aku akan berbaikan dengannya kalau dia mau melakukan hal itu untukku."


Mayra mengamatiku tak berdaya, wajahnya dipenuhi kekhawatiran. "Aku harap itu tidak akan pernah terjadi. Kalian berhak bahagia dengan cerita cinta yang berakhir bahagia. Maksudku -- bahagia yang tiada akhir."


Dalam hati aku mengamini, bersamaan dengan mematikan kompor yang sudah panas, lalu mengedikkan bahu. "Semoga, itu tergantung bagaimana sikap sahabatmu. Oh ya, omong-omong soal sikap, dia itu persis si Doel; plinplan dan lemah. Aku tidak tahu apakah dia akan sama tidak bertanggung jawabnya seperti si Doel kalau nanti aku hamil dan punya anak." Aku mendengus. "Seperti ayahku. Dan, yeah, aku tidak tahu, apa saat ini aku menyesali pernikahan ini, atau..."


Ya Tuhan, aku lupa mencicipi masakanku. Segera kuambil sendok dan mencicipi kuah mie-ku, dan rasanya pas. "Nanti kalau ada yang mau sarapan, tinggal panaskan mie dan kuahnya dengan panci kecil."


Mayra mengangguk. "Oke," katanya. Aku pun permisi padanya untuk kembali ke kamar.

__ADS_1


__ADS_2