CCI

CCI
133


__ADS_3

Menjadi seorang pasien yang harus terbaring di bed rumah sakit sungguh membuatku jengah. Padahal, sewaktu Reza sakit dulu, aku betah-betah saja tinggal di ruang rawat itu bersamanya. Tapi sekarang aku malah bosan setengah mati. Sempat terbesit pemikiran di benakku; mungkin dulu karena kami belum menikah, sementara setelah menikah -- kebosanan itu mulai terasa.


Tidak. Tidak. Tidak mungkin seperti itu. Kuenyahkan segera pikiran aneh itu dari benakku. Ini karena sekarang akulah yang menjadi pasien dan akulah yang dilarang melakukan apa pun selain terbaring karena dianggap dalam kondisi lemah.


Lain aku -- lain pula dengan Reza, dia justru memanfaatkan keadaan itu dengan sebaik mungkin. Seperti tawanan yang terbebas dari kurungan, dia memanfaatkan keadaan itu untuk menikmati segala hal yang bisa ia dapatkan dari luar, misalnya menikmati fasilitas yang serba online seperti delivery order makanan. Dengan sesuka hati dia memesan semua yang ia pingin -- yang tidak bisa kami lakukan dari rumah. Terutama pizza dan burger, dia memesan makanan itu beberapa kali. Dan tiap kali dia memesan makanan itu, akulah yang paling banyak menghabiskannya. Rasanya menyenangkan bisa memesan makanan dari luar tanpa harus khawatir ada yang mengintai ketika kita membuka pintu.


"Omong-omong, kamu sudah menyukai mayones?"


Aku menggeleng. "Tidak," kataku. "Tidak pakai mayones, kan?"


Reza mengedikkan bahu. "Itu berarti anak-anakku juga doyan mayones."


Hah! Tawaku langsung pecah. "Bisa begitu? Menurutku ini memang tanpa mayones."


Dia tertawa kecil. "Nikmati saja," katanya.


Aku jadi curiga kalau memang ada mayones di pizza dan burger itu. Tapi masa iya karena anak-anakku suka aku jadi tidak mual? Ah, aku tidak mau membahas itu. Intinya aku suka bisa memakan apa pun yang Reza makan dengan bebas. Tapi...


Aku tidak suka bagian ketika aku harus tidur terpisah dengannya. Belum genap satu minggu tidur seranjang, kami malah harus terpisah ranjang lagi.


"Bagaimana rasanya menemani pasien di rumah sakit?" tanyaku malam itu saat Reza sudah berbaring di sofa dengan sebuah bantal di pelukannya. Dia sedang santai sambil menonton televisi.


"Menyenangkan, kan pasiennya kamu, istriku."


"Kamu tidak bosan?"


"Di mana pun, asal ada kamu dan bersama kamu, akan selalu menyenangkan," jawabnya seraya menatapku dengan senyuman.

__ADS_1


"Kamu masih ingat dengan kalimat itu, Mas?" Aku tersenyum senang.


"Tidak akan pernah lupa, Sayang," katanya. "Kamu tahu, ini jauh lebih baik daripada tinggal di rumah besar tanpa kamu."


"Yah, tapi aku tidak suka," kataku, dan itu membuat dia mengernyitkan dahi. "Aku tidak bisa tidur nyaman tanpa pelukan dari kamu."


Dan yey! Kemanjaanku membuahkan hasil, Reza langsung tersenyum dan mematikan televisi. Tanpa komentar, ia langsung bangkit dan berbaring di sampingku. Dan dengan penuh kehangatan, dia mencium dan memelukku sepanjang malam. "Selamat tidur, Sayang. Mimpi yang indah."


Oh Tuhan... Reza membuat hari-hari berikutnya menjadi lebih menyenangkan, hingga aku merasa betah meski harus terkurung di ruangan rumah sakit tanpa keluar sama sekali. Dan tanpa terasa, tiba juga waktunya dokter mengizinkanku untuk pulang.


"Kita akan tinggal di mes untuk sementara waktu sampai kondisimu benar-benar membaik," ujar Reza pagi itu.


"Lo? Tapi, Mas..."


"Keputusanku sudah bulat. Oke?"


"Anak yang baik," katanya sambil mengelus kepalaku seperti seorang bocah.


"Sebentar lagi aku menjadi seorang ibu, kenapa kamu masih memperlakukan aku seperti anak kecil? Hmm?"


"Karena kamu seperti anak kecil," katanya. "Ambekan plus selalu minta diemong."


Yap. Kuakui itu benar. Aku jadi tersenyum saat menangkap sorot matanya yang menatapku dengan cinta. "Yah, terserah. Dibilang seperti anak kecil tidak apa-apa. Tapi kamu harus berjanji kalau keadaan kita akan baik-baik saja selama di mes, ya?"


Dia mengangguk dan meraih tanganku. "Pasti. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan apa pun."


Sayangnya, hujan lebat sudah turun sejak pagi, membasahi jalanan dan membasuh semuanya dalam kabut kelabu yang murung, warna-warni berani lampu di sisi-sisi jalan dan rumah-rumah serta bangunan menjadi satu-satunya pengecualian dari keredupan itu. Setelah perjalanan lambat yang membuat frustasi karena terjebak dalam antrean lalu lintas yang tidak berujung, akhirnya kami tiba juga di resto, tempat yang satu setengah bulan lalu memberikan kenangan terburuk dalam ingatanku.

__ADS_1


"Aku takut," kataku saat pintu mobil terbuka dan beberapa pasang mata melihat ke arah kami.


"Rileks. Terserah dengan orang lain. Tapi di sini, tidak akan ada seorang karyawan pun yang berani mengatakan hal buruk tentangmu. Tidak satu pun. Oke?"


Reza menelusupkan tangannya ke ruas jemariku dan menggandengku dalam genggamannya. Aku menghela napas dengan berat saat melintasi beberapa orang yang menunduk hormat kepadanya, juga padaku yang berjalan menunduk. Aku merasa seolah mimpi buruk itu baru terjadi kemarin sore dan semua pasang mata itu bersiap untuk menghujatku tanpa ampun.


"Lihat aku," pintanya. Reza berkata sesaat setelah menutup pintu di belakangku. Dengan lembut kedua tangannya menyentuh pundakku. "Aku janji, semua akan baik-baik saja. Aku akan berusaha sebisa mungkin membuat kamu melupakan kejadian itu."


"Apa itu alasan kamu membawaku ke sini?"


"Yap. Salah satunya."


"Maksudnya? Ada alasan lain?"


"Jangan berpikir yang aneh-aneh. Aku hanya mau kamu bed rest total. Karena apa? Kalau di rumah kamu pasti petakilan, pecicilan. Mau masaklah, cuci ini, cuci itu, menyapu, mengepel, dan lain-lain."


"Berlebihan kamu, Mas. Itu kan pekerjaan ringan."


"Iya. Kamu boleh mengerjakan itu, tapi nanti kalau kamu benar-benar sudah sehat."


"Tap--"


Aku baru hendak menjawab ketika bibir manisnya mengulum bibirku dengan nikmat. "Hati-hati. Ciuman kamu bisa membuatku bergairah di saat cuaca dingin seperti ini. Itu pekerjaan berat."


"Baiklah. Tidak lagi. Sekarang kamu istirahat." Dia langsung mengangkat dan menggendongku ke tempat tidur. "Mas sayang kamu. Jadilah istri yang penurut."


Setelah ini, obrolan normal berlanjut, namun kata-kata Reza terngiang-ngiang dalam benakku selama sisa hari itu.

__ADS_1


__ADS_2