
Maret. Bulan di mana Reza mengenang dua tahun dia mengenalku -- meski di tahun pertama hanya tahu nama dan wajahku, dan berstatus sebagai calon istri pada tahun kedua. Tapi di tahun ini aku sudah berstatus sebagai istri sekaligus ibu bagi anak-anaknya. Perlakuannya semakin manis setiap hari. Terlebih pada 20 Maret, dia sengaja mengajakku bercinta plus keramas bareng di siang bolong. Setelah itu, dia mengajakku selfi dengan tubuh hanya terbungkus handuk. Dia ingin mencetaknya besar-besar dan memajangnya di kamar.
"Untuk apa?" tanyaku.
Untuk kenang-kenangan katanya. "Supaya di saat kita bertengkar -- amit-amit -- kita bisa ingat, kita memiliki banyak kenangan manis. Jadikan itu sebagai penegur untuk diri kita, supaya kita selalu menjaga kehangatan di antara kita." Lalu dia tertawa. "Ngomong apa sih aku?"
Aku cekikikan. "Dasar aneh. Ayo kalau mau foto."
Iuuuh... kami punya tiga pose terbaik. Yang pertama, aku yang berdiri di depan, Reza yang berdiri di belakangku -- merangkulkan tangannya di atas pundakku dan menutup dadaku. Pada pose kedua, aku masih berdiri di depannya dengan posisi memunggungi kamera, dan sedikit menoleh ke kamera. Dan pada pose ketiga, Reza lah yang berdiri di depan, foto yang mengekspos tubuh sixpack-nya dalam pelukanku. Sementara aku tersenyum dengan kepala bertopang di pundaknya.
"Puas? Hati-hati lo Mas pas nyetaknya nanti. Minta datanya langsung di hapus."
"Tenang, Sayang. Nanti kucetak di studio temanku. Cewek. Tidak mungkin juga aku sembarangan. Tubuh istriku tidak boleh dilihat pria lain."
Aku hanya tersenyum dan baru hendak ke ruang ganti, tapi Reza tiba-tiba memanggilku. "Boleh minta satu hal lagi?"
__ADS_1
"Tidak capek?"
"Eh, kuping.... Aku bilang satu hal lagi, bukan satu kali lagi."
"Oh...," mulutku membulat. Malunya...
"Bilang saja mau sekali lagi."
"Sembarangan. Capek, tahu!"
"Baru juga dua kali."
"Satu April nanti kita ke Bogor, ya. Kamu ikut. Ya?"
Aku mengangguk. Kendati lumayan jauh dan tidak bisa di tempuh dengan kebut-kebutan, itu tidak masalah. Ada kasur mobil juga di belakang, dan kami sepakat semobil dengan Erik untuk bergantian menyetir dengan Reza. Jadi sewaktu aku mual dan butuh suamiku untuk menenangkan dan mengurusku, kami bisa tetap melanjutkan perjalanan dengan mengandalkan Erik.
__ADS_1
Dan seperti biasa, pada hari itu, ada banyak tempat yang kami singgahi. Tapi kali kecuali bukit gantole, kami tidak ke sana. Reza mulai mau mengindari hal-hal yang menurutku berbahaya.
"Ingat masa depan. Sebentar lagi kamu punya anak," kataku.
Aku senang dia menurut, tanpa bantah sedikit pun. "Iya, Mama yang cerewet...," sahutnya.
Bodoh amat! Yang penting dia menurut padaku.
Satu April itu, kami menghadiri acara syukuran di panti asuhan. Satu hal yang membahagiakan, hari itu ada sepasang suami istri yang berniat akan mengadopsi Khiara. Aku senang sekali, akhirnya anak itu bisa merasakan memiliki orang tua yang akan menyayanginya.
"Khiala pasti lindu tempat ini," katanya. "Khiala juga akan lindu pada Tante."
Ya ampun... aku terharu. Aku menangis cengeng.
"Tante juga akan merindukan Khiara." Kupeluk dia dan kami saling mengusap air mata.
__ADS_1
Bapak dan Ibu Atmaja, orang tua angkat Khiara menghampiri kami. "Nanti Khiara bisa kok sering-sering main ke sini. Mama mau nanti menemani Khiara."
Tak pelak, gadis kecil itu melompat kegirangan dan mengucapkan terimakasih atas pengertian dua orang yang hari itu -- secara hukum -- resmi menjadi orang tuanya.