CCI

CCI
50


__ADS_3

Ada sisa beberapa hari yang berharga sebelum liburan kami berakhir. Aku dan Reza menghabiskan waktu dengan rutinitas yang penuh kebahagiaan. Misalnya, kami bangun pagi-pagi, dia dengan semangat berolahraga, dan aku suka sekali mengganggunya. Seperti waktu dia push up, aku dengan sengaja bertelungkup di atas tubuhnya dan menghitung berapa kali dia mampu push up dengan berat beban tubuhnya ditambah dengan aku di atasnya. Dan itu berlangsung setiap pagi. Dia yang memang rajin olahraga, mendadak sangat menggemari push up hanya karena aku. Aku membuat dia selalu semangat menyambut pagi, katanya.


Kami menghabiskan sepanjang siang dengan bersendau gurau di ayunan, kadang-kadang bersantai dan berpelukan mesra di atas hammock, atau menonton film ala layar lebar dengan led projector dan bersantai dengan satu bean bag yang sama. Dia sengaja membeli bean bag ukuran besar supaya kami bisa bersantai-santai dengan satu bean bag berdua. Tentu saja, bukan dengan popcorn, melainkan dengan kuaci, kacang, dan sebotol teh melati dingin.


Saat sore menjelang, kami berjalan di tepi pantai, tertiup angin berembus, sejukkan hati, damaikan diri, melihat biru. Persis lagu Hidupku Kan Damaikan Hatimu miliknya Caffein itu. Bahkan Reza pernah dengan sengaja membawa gitar untuk menyanyikan lagu itu spesial untukku. Dia tidak pernah membiarkan aku sendiri atau memberikan peluang untuk hal-hal yang membuatku tidak nyaman. Setiap sore menghabiskan waktu dengan pantai-pantai yang berbeda adalah hal yang sangat menyenangkan. Pantai Balangan, Pantai Kedonganan, Pantai Jerman Tuban, Pantai Kelan, dan Pantai Segara, semua lokasinya tidak terlalu jauh dari villa, pantai-pantai yang tidak terlalu terkenal, tapi jauh lebih menyenangkan sebab tidak terlalu ramai pengunjung seperti pantai di Bali pada umumnya.


Sementara malam hari kami lewati dengan bermain gitar di dekat kolam. Dia, Bidadari Tak Bersayap, Kekasih Terhebat, tiga lagu terbaik Anji menjadi lagu favorit yang ia senandungkan untukku. Pernah juga kami hanya sekadar menatap indahnya bintang-bintang yang bertaburan di langit, dengan ritme dan nada lagu-lagu syahdu yang mengalun dari speaker portable mini yang hari itu kami beli. Hal-hal kecil semacam itulah yang paling berkesan bagiku. Juga cara-caranya memanjakan aku, dia selalu menungguku sampai tertidur, barulah ia pindah ke kamar lain.


"Aku akan merindukan saat-saat seperti ini," kataku, ketika dia menyelimutiku saat aku bersiap-siap untuk tidur pada malam terakhir kami di villa.


"Kita akan selalu seperti ini, saat kita bersama. Terlebih nanti setelah kita menikah. Kebahagiaan kamu akan sempurna dengan cintaku."


Cinta. Cinta. Cinta. Kata itu berputar-putar di otakku. Kupejamkan mata, bersandar lebih intim ke dadanya. "Empat April, cepatlah datang," senandungku.


"Sayang?"


"Emm?"


"Sebelum empat April, ada tanggal dua puluh tiga Maret. Kamu ingat?"


"Yeah," kataku.


"Bisa ngobrol sebentar?"


"Tentang apa?" tanyaku, tanpa bergerak sedikit pun.


"Tentang tanggal dua puluh tiga itu. Kamu sendiri yang memintaku berpikir ulang tentang pernikahan kita."


Serrr... darahku berdesir. Kekhawatiran diam-diam mulai menyelinap masuk ke sukmaku dan menjalar ke mana-mana. Aku segera duduk dan menatap matanya. "Kamu mau bilang--"


"Aku akan tetap menikahi kamu, apa pun yang terjadi," potongnya, membuat level kekhawatiranku menurun sesaat. "Tapi... "


"Tapi apa, Mas?" tanyaku, dan level kekhawatiran itu kembali meningkat, meski tak setinggi sebelumnya.


"Tapi... kamu harus jujur tentang apa yang kamu tutupi dariku."

__ADS_1


Aku diam sejenak. Aku tidak tahu apa yang sebaiknya kukatakan. "Aku..."


"Kejujuran itu baik untuk dirimu sendiri. Supaya kamu tidak selalu merasa terbeban dan ketakutan. Kamu pasti akan merasa bebas setelahnya, tidak seperti beberapa hari ini. Sepulang kita dari Seminyak hari itu, kamu tidak seperti biasanya, kamu seperti menahan diri, takut kalau-kalau kamu salah bicara. Iya kan?"


Aku mengangguk. Ternyata dia menyadari sikapku. "Tapi aku takut, Mas."


"Takut aku berubah pikiran? Takut aku meninggalkan kamu? Begitu? Hmm? Dengar, percayalah, apa pun yang akan kamu katakan, semuanya tidak akan memengaruhi keputusanku."


"Emm... aku akan ceritakan semuanya. Tapi tidak sekarang."


"Jadi kapan? Bukankah sekarang waktu yang tepat, mumpung kita masih bersama? Setelah ini kita tidak tahu kan kapan kita akan bertemu?"


"Jangan sekarang, Mas. Aku tidak siap. Tapi aku akan cerita secepatnya. Sebelum tanggal dua puluh tiga. Aku janji."


"Oke. Aku akan menunggu."


Aku merasa takut, meskipun dia meyakinkan aku bahwa keputusannya untuk menikah denganku tidak akan pernah berubah. "Mas, aku mau malam ini bersama kamu sepanjang malam. Boleh?"


"Emm... baiklah. Aku temani. Sekarang tidur, ya... aku sayang kamu. Mimpi yang indah," ucapnya -- pelan -- di telingaku.


Aku tidak bisa tidur. Berjam-jam memikirkan bagaimana cara terbaik untuk mengatakan semua tentangku kepadanya, yang kemungkinan besar akan membuatnya berpikir seribu kali untuk memperistriku. Tapi aku menyadari sepenuhnya, pernikahan bukanlah sesuatu yang harus diawali dengan ketidakjujuran terhadap satu sama lain. Tapi aku tahu benar bahwa lidahku pasti akan keluh, kaku, dan tak akan pernah mampu untuk mengatakan semuanya, sebab aku takut kehilangan sosok Reza dari hidupku. Jadi kuputuskan untuk menceritakan semuanya melalui surat.


Dear Mas Reza


Kita telah banyak menghabiskan waktu bersama, menciptakan beberapa kenangan yang benar-benar istimewa. Bersama denganmu adalah salah satu hal paling menakjubkan yang terjadi dalam hidupku. Kamu orang yang baik, perhatian, peduli, dan manis bagiku. Hubungan yang kita miliki adalah hubungan yang tidak pernah kumiliki dengan orang lain, dan aku merasa sangat bersyukur atas betapa kamu bisa membuat aku merasa berharga.


Kamu adalah salah satu orang yang paling peduli dan penuh perhatian yang pernah kutemui dalam hidupku. Aku benar-benar bersyukur memilikimu sebagai pasanganku, dan percayalah, aku sangat berterima kasih pada Tuhan untuk itu. Kamu selalu membantu dan mendukungku untuk menjadi versi yang lebih baik atas diriku, meski aku belum mampu sepenuhnya bersikap seperti yang kamu harapkan.


Mas, aku adalah pribadi yang terbentuk dari  ketidakadilan dunia terhadapku. Aku cenderung menyakiti seseorang yang kuanggap parasit dalam hidupku. Seperti yang kamu lihat waktu pertama kali aku bertemu Salsya, aku sengaja meremas tangannya, dan itu adalah salah satu tindakan yang tidak bisa kukendalikan dari dalam diriku. Atau ketika aku bertemu dengan ayahku waktu itu, betapa kasar dan keterlaluannya sikap dan kata-kata yang kuucapkan hari itu.


Bahkan lebih dari itu. Aku tidak ingin ikut kamu ke Bandung, bukan karena aku bosan dengan tempat yang pernah kusinggahi, atau karena aku ingin pulang, kangen pada suasana rumah atau kangen pada Bunda, karena aku telah terbiasa jauh darinya, ini kukatakan bukan karena aku tidak sayang padanya.


Ada satu alasan aku tidak ingin ke Bandung, karena aku tidak ingin bertemu dengan keluarga ayahku, anak-anak dari Yanti. Waktu itu aku pernah melihat salah satunya, anak lelakinya, di sebuah restoran. Jujur saja aku membencinya karena dia salah satu orang yang merebut Ayah dariku. Waktu itu dia memesan kopi, lalu aku pura-pura tidak sengaja menabrak pelayan dan kopi itu tumpah mengenai dia. Tapi dia cukup beruntung kopi itu tidak membuat kulitnya melepuh.


Dan tentang aku yang tidak ingin ke tempat-tempat suci, aku punya cerita tentang pembalasanku terhadap salah satu anaknya Yanti, anak perempuannya. Waktu pertama kali aku ke Bali, aku bertemu dengannya, memang waktu itu kejadiannya di luar pura. Aku pura-pura tersandung dan pura-pura tidak sengaja mendorongnya, sampai kepalanya mentok ke dinding dan terluka. Tapi aku kurang beruntung sebab salah seorang penjaga di sana tahu kalau aku sengaja. Aku tahu orang itu pasti mengenaliku kalau kami bertemu lagi.

__ADS_1


Itu aku baru bertemu anak-anaknya, kalau aku bertemu dengan Yanti atau Rhea, mungkin aku akan melakukan hal lebih dari itu. Masalahnya, aku tidak tahu pasti dengan wajah mereka, meski aku pernah mencari tahu seperti apa mereka lewat sosial media.


Jujur kuakui, aku memang menyimpan dendam pada mereka semua, tapi aku tidak benar-benar berniat membalas dengan mendatangi mereka. Tapi saat tidak sengaja bertemu, aku bisa melakukan sesuatu di luar kendaliku, mungkin aku bisa membunuh mereka dengan alasan tidak sengaja. Siapa yang tahu? Ada semacam dorongan yang membuatku melakukan itu.


Juga tentang sikap kasarku yang dua kali menampar kamu dan pernah mendorong kamu, aku minta maaf atas sikap kasarku itu. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak akan berperilaku jahat dan kasar jika aku berada dalam pola pikir yang sehat dan benar.  Aku bukan orang yang secara alami jahat, dan kamu tahu itu. Tetapi aku juga sadar bahwa aku bisa menjadi keras dan kasar ketika aku sedang berhadapan dengan hal-hal pahit yang berkaitan dengan masa laluku.


Dan tentang hari itu, aku tahu Aris telah menjelaskan kepada kamu bahwa kamu membuatku takut sampai aku jatuh pingsan, tapi Aris tidak menjelaskannya secara detail karena dia sudah berjanji padaku. Aku ingin jujur, hari itu aku ketakutan sebab aku mengira kamu seorang psikopat, yang marah sesaat, kemudian seolah tidak terjadi apa-apa saat aku menemui kamu di halaman belakang.


Aku tahu, ketakutanku dan kecemasanku selalu berhasil menguasaiku, membuatku menjadi paranoid. Saat aku sedang dihadapkan pada situasi yang sulit, aku menjadi bingung dan mudah panik. Itulah yang menyebabkan aku menjadi negatif. Tapi sejauh ini Aris tidak pernah mengatakan kepadaku kalau aku gila, apa memang karena aku baik-baik saja atau karena dia ingin menutupi kenyataan dariku, karena aku bukan pasiennya. Terlebih menurutku aku waras-waras saja. Aku tidak sakit jiwa. Aku hanya punya dendam dan cenderung ingin membalaskannya ketika aku bertemu dengan orang-orang yang pernah dan akan menyakitiku.


Sejauh ini, ini yang kututupi dari kamu. Yang membuatku takut bagaimana seandainya kamu tahu.


Mas, Ketika aku pertama kali bertemu denganmu, aku tahu kamu adalah orang yang benar-benar luar biasa dan bahkan lebih dari itu kamu adalah pria yang hebat. Aku tahu kamu pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik, juga pengertian. Aku telah mengecewakanmu dengan segala tindakanku, yang mungkin membuatmu bertanya-tanya apakah aku orang yang tepat untukmu atau bukan?


Hubungan yang sehat adalah tentang kejujuran, dan aku merasa tidak baik karena tidak sepenuhnya jujur ​​padamu tentang segala hal yang telah terjadi dalam hidupku, karena aku tidak ingin mengambil risiko kehilanganmu karena kejujuranku.


Kamu benar-benar manusia yang luar biasa sabar dan pengertian. Aku berjanji bahwa aku akan menjadi lebih baik mulai saat ini. Aku akan selalu jujur dan berterus terang tentang segala hal, tidak ada lagi kebohongan dan tidak ada lagi rahasia. Aku ingin berusaha menjadi pasangan yang lebih terbuka di masa depan. Aku  akan berbagi dan bercerita tentang apa pun yang ada di pikiranku kepadamu.


Aku sadar, jauh di lubuk hatimu, kamu seratus persen berkomitmen pada hubungan kita. Jika ada satu hal yang bisa kujanjikan, maka itu adalah tidak meragukanmu, apa pun yang terjadi, dan aku akan berusaha untuk lebih percaya kepadamu.


Tapi, kamu berhak memutuskan hubungan denganku setelah mengetahui semua ini, aku akan berusaha menerima keputusan yang menjadi pilihanmu.


Kirimkan aku voice note kalau kamu sudah membaca surat ini dan katakan apa


Ya Tuhan...


Aku belum selesai menulis suratku, tiba-tiba semua ruangan gelap. Aku tidak bisa melihat apa pun dan sialnya aku tidak membawa ponselku.


Dari meja dapur, kucoba meraba-raba ke arah kamar dengan memanggil-manggil Reza. Rasanya seram sekali berada di villa yang begitu besar tapi gelap gulita tanpa setitik pun cahaya. Untung saja Reza orang yang mudah dibangunkan hanya dengan memanggil namanya.


"Sayang, kamu di mana?" teriaknya, membuatku sedikit merasa aman karena dia sudah bangun.


"Di dapur, Mas. Aku tidak bisa melihat apa-apa," aku balas berteriak.


Tidak lama, dia pun menghampiriku dengan cahaya senter dari ponselnya. "Sepertinya token listriknya habis, aku lupa isi ulang. Kamu tunggu di sini, aku ke depan dulu."

__ADS_1


Segera saja aku menolak, aku tidak mau ditinggalkan sendirian dalam gelap. Aku pun mengintil ke depan, dan beberapa menit kemudian listrik kembali menyala. Benar, tokennya habis.


__ADS_2