
Aku pergi ke minimarket sebentar membeli minuman dingin untuk melegakan tenggorokan yang sakit sebab menahan amarah. Kuambil dua botol air mineral dari lemari pendingin, satu botol kubuka di tempat dan kutenggak lebih dari setengah botol. Minuman dingin itu serasa mengguyur otakku sampai beku dan semakin menambah pening kepalaku yang sejak tadi sudah berdenyut-denyut hebat. Sewaktu aku hendak membayar ke meja kasir, cewek yang bertugas di mesin kasir itu rupanya memerhatikan aku dan seolah menganggapku aneh, mungkin karena cuaca di luar sedang mendung, tetapi aku meminum minuman dingin seperti orang kegerahan -- seolah cuaca sedang panas-panasnya.
Dunia sudah terbalik, sungguh. Harusnya yang ia pandang aneh itu cewek yang antre di sebelahku, masih remaja belia malah sudah mengenal dan membeli kond*m. Melihat cewek itu membuatku membayangkan Salsya yang sedang berusaha menempel pada Reza. Saat itu juga aku memutuskan untuk pergi ke tempat Alfi dan Mayra. Mereka kenal dengan Reza dan Salsya. Mereka pasti bisa memberiku saran yang objektif.
Waktu aku memencet bel, Mayra bertanya siapa di luar, dan dia kelihatannya tidak kaget sedikit pun ketika mendengar yang datang itu aku, padahal aku belum pernah mampir ke rumah mereka. Dia memberikan pelukan hangat dan keibuan padaku. Aku yakin dia tetap akan menjadi teman yang baik, andaipun Reza mendepakku dan kembali menjalin cinta dengan Salsya.
Rumah Alfi dan Mayra kecil, berbentuk kubus yang hanya terbagi dalam lima ruangan. Berbeda dengan rumah mereka di Bali yang besar dan bertingkat. Ada dua kamar tidur di sisi kanan dan kiri ruang tamu, dan satu kamar utama bersampingan dengan dapur, persis di depan ruang tamu itu. Busa-busa putih menyembul dari sela-sela sofa wol mereka yang lusuh, bantalan-bantalannya tersusun rapi, ada sebuah televisi di depan sofa itu -- menempel di dinding penyekat antara ruang tamu dan dapur. Ruang tamunya kecil, hanya muat untuk satu set sofa leter L, dan satu kasur rasfur bulu-bulu yang digelar di lantai -- antara sofa dan dinding tempat televisi itu ditaruh. Tirai-tirai jendelanya sudah berjumbai-jumbai, namun tak ada satu pun barang yang tidak berada di tempatnya. Lantai rumah itu tampak baru dibersihkan belum lama ini, bisa ketahuan dari bau ruang tamu itu, baunya seperti mobil yang masih baru. Nampak sekali kalau rumah itu sudah lama ditinggal pemiliknya dan baru ditempati lagi.
"Reza baru saja meneleponku," kata Mayra. Dia menutup pintu di belakangku.
"May, dia bilang apa?"
"Dia menanyakan apa kamu ke sini, kubilang tidak."
"Oh, aku tadi ngaso dulu di minimarket."
"Boleh aku memberitahunya, kamu ada di sini?"
Aku menggeleng. "Tidak perlu, nanti aku aktifkan ponsel. Dia akan tahu sendiri di mana aku. Omong-omong, maaf ya, aku berkunjung di jam yang tidak tepat."
"Tidak masalah, kamu bukan orang lain, sudah seperti keluargaku sendiri. So, silakan duduk, biar kuambilkan minum, setelah itu kamu wajib menceritakan semuanya padaku," katanya, lalu ia melesat ke dapur.
Mayra membawa dua cangkir cokelat panas dengan sepiring pisang goreng yang ditaburi cokelat dan keju di atasnya. "Tadi Tirta yang minta digorengkan pisang, tapi dia malah ikut papanya tidur."
Mengetahui ada penghuni rumah yang sedang tidur, aku pun mengajak Mayra untuk mengobrol di luar saja, di teras berkeramik hitam mengkilap, tidak ada kursi ataupun sofa, tapi ada meja untuk lesehan di sana.
"Menurutmu apa Reza masih mencintai Salsya?" Aku bertanya blak-blakan tanpa menceritakan ini-itu ataupun kalimat-kalimat pembuka lainnya, bahkan tanpa menanggapi perihal pisang goreng itu.
Mayra diam sejenak dengan dramatis. "Aku sudah kenal Reza sejak dia pindah ke sini, sejak kami masuk SD. Aku belum pernah -- sungguh-sungguh belum pernah -- melihat dia lebih bahagia daripada sekarang ini. Bersamamu. Tapi ini dalam urusan asmara ya, bukan dalam konteks kegilaannya berteman dengan Alfi atau hubungannya dengan keluarganya -- sebelum dia sebatangkara."
__ADS_1
"May, kamu tahu kalau Salsya hamil? Dan... Reza... berjanji untuk menikahinya, kamu tahu itu?"
Mayra mengangguk, lalu menenggak cokelatnya dua tegukan. "Aku tahu. Sehari setelah kamu pulang ke Jakarta, aku dan Alfi tiba di sini. Kami sempat ke rumah Reza, dan... Reza menceritakan itu pada kami."
"Apa dia hamil karena Reza?"
Mayra tercengang -- hampir melotot kepadaku, seolah keterlaluan sekali aku tidak percaya pada sahabatnya itu yang sudah ia kenal sedari kecil.
"Wajar kan kalau aku curiga?" tanyaku, sebelum Mayra mengomeliku karena aku meragukan Reza. "Aku berusaha percaya, May. Tapi Reza berkali-kali mematahkan kepercayaanku. Sejak tahu Salsya hamil, dia sangat peduli padanya. Bahkan dia tega sampai berkali-kali menyakiti aku hanya karena Salsya."
Mayra menaruh kembali cangkir di tangannya sebelum menjawab pertanyaanku. "Kutanya dulu padamu dan kuharap kamu menjawab dengan jujur. Apa dia pernah menyentuhmu? Menyentuhmu dalam tanda kutip, bukan sekadar mencium atau memelukmu."
Aku menggeleng. "Tidak pernah," kataku. "Kami belum pernah melakukan itu. Maksudku dia tidak pernah melakukan itu padaku."
"Nah, kalau padamu saja dia tidak berbuat seperti itu, apalagi pada mantannya. Ayolah, dia pemuda baik-baik. Jangankan menyentuh wanita, dia bahkan tidak pernah menyentuh alkohol. Jadi aku yakin, dia tidak pernah menyentuh Salsya, dan itu benar-benar bukan anaknya."
Entahlah, kurasa jawaban Mayra sama sekali tidak membantu. "Bagaimana menurut pendapatmu soal janji Reza pada Salsya?"
"Kamu ada di sini?" ujarnya.
Aku tersenyum. "Kuharap kehadiranku tidak mengganggu."
"Tentu," sahutnya. "Di mana Reza?"
"Masih di rumah sakit," jawabku cepat. "Tenang saja. Ada Salsya yang menemaninya. Dia pasti akan baik-baik saja bersama cinta lamanya itu."
Alfi yang baru saja bangun tidur ikut duduk bersama kami, dia tersenyum kecil mendengar kata-kataku yang menyiratkan kecemburuan terhadap Salsya. Lalu dia melihat ke cokelatku yang masih full belum berkurang. Dia pun menyuruhku meminumnya sampai habis.
"Aku ingin mengatakan sesuatu tentang sobat kita itu," Alfi berkata. "Dia tidak seperti cowok-cowok lain pada umumnya, kamu tahu?"
__ADS_1
"Aku tahu."
"Apa kamu yakin kamu benar-benar tahu? Maksudku begini, pada umumnya sebagian besar lelaki menginginkan perempuan -- tubuh yang hangat -- untuk berbaring di sampingnya, kalau bisa dengan tubuh dan lekuk-lekuknya yang indah, tentu saja kalau bisa dengan paras wajah yang cantik, dan mungkin seseorang yang mau memasak untuknya dan mau diajak bercinta secara rutin. Cukup sederhana, kan? Nah, bagi kami kaum lelaki, yang tidak kami inginkan adalah seseorang yang tiba-tiba datang lalu mengacaukan hidup kami. Kami tidak suka perempuan seperti itu. Sejauh ini kamu mengerti?"
Aku mengangguk.
"Oke, bagus. Sekarang lupakan. Lupakan semua itu," kata Alfi. "Sebab Reza tidak seperti itu. Sejak dulu dia tidak pernah seperti itu. Dia tidak pernah mengutamakan paras dan kecantikan. Jangankan untuk kembali pada Salsya, Zahra yang sudah sesempurna itu pun tidak bisa menggetarkan hatinya. Dia menginginkan seseorang yang membuatnya mabuk kepayang, seseorang yang bisa merasuki jiwanya, yang membuatnya sangat tergila-gila. Dan omong-omong, kata-kata romantis itu dia sendiri yang mengucapkan, bukan aku. Itulah pencarian hidupnya. Itulah arti hidup, untuknya. Kamu mengerti yang kumaksud? Pencarian itu berhenti di kamu."
Aku mengangguk lagi.
"Nah, sekarang kamu sudah tahu. Boleh aku jujur? Andai aku jadi dia, akan kuborgol dan kurantai kakimu, seenaknya saja kabur setiap kali ada masalah."
Mayra terkikik kendati ia berusaha menahannya. Mungkin Alfi pernah melakukan hal itu kepadanya. Mungkin.
"Bagaimana dengan sikap baiknya pada Salsya? Dia bahkan berjanji akan menikahinya."
"Ayolah, Ra. Demi Tuhan. Percayalah. Aku sudah mengenal dia jauh lebih lama daripada kamu. Bahkan aku mengenalnya jauh lebih baik daripada May yang mengenalnya sejak kecil. Dia pemuda yang baik, dia tidak akan pernah mengkhianatimu."
Alfi mengambil cangkir milik Mayra dan menenggak habis cokelat itu sekali tegukan. Melihatku yang seolah belum lega membuat Alfi menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan berat. "Baiklah, akan kuceritakan satu rahasia kepada kalian, tidak ada yang tahu tentang ini selain aku, tapi... mungkin Salsya juga tahu. Mungkin. Aku tidak tahu, maksudku aku tidak tahu -- Salsya tahu atau tidak."
Hening sejenak. Dan aku benar-benar penasaran menunggu Alfi kembali membuka mulutnya untuk bercerita. Diamnya Alfi beberapa detik itu seperti bermenit-menit bagiku.
"Ini tentang Aruna," katanya. "Reza pernah menceritakan tentang kematian Aruna?"
Aku mengangguk. Aku sadar betul saat itu aku fokus menatap Alfi, tidak memedulikan hal lain sama sekali. "Apa yang kamu tahu?" tanyanya.
"Aruna mati karena bunuh diri, sekitar dua bulan setelah dipermalukan oleh istrinya Dannali," kataku, persis seperti yang aku tahu.
"Hanya itu?" Alfi bertanya lagi. "Itu benar, tapi tidak sepenuhnya benar. Maksudku, cerita itu sangat tidak lengkap. Mmm... apa yang menimpa Salsya saat ini, dulu pernah terjadi pada Aruna. Bedanya, apa yang terjadi pada Aruna itu dilakukan oleh pacarnya sendiri yang ternyata sudah punya istri. Kisah itu berawal saat Aruna pingsan setelah diberi obat bius oleh Dan. Dia dibawa ke hotel dan terjadilah... tidak perlu kukatakan, kalian pasti mengerti. Yap, dia ditiduri lelaki berengsek itu. Bodohnya, Aruna takut kalau kejadian itu sampai diketahui oleh keluarganya, dan itu malah dijadikan si Dan sebagai alat untuk mengulangi terus perbuatannya pada Aruna. Sampai akhirnya, Tika, istrinya Dan, mengetahui perselingkuhan suaminya. Suatu hari Tika diam-diam mengikuti mereka dan akhirnya memergoki mereka di kamar hotel, yang saat itu mereka berdua hampir tanpa busana. Yah, namanya perempuan sedang kalap, dia menyeret Aruna keluar dari kamar itu dan mempermalukannya di depan publik. Setelah itu Aruna setres, dan... dia semakin depresi saat dia tahu kalau dirinya hamil. Sedangkan Dan tidak mau bertanggung jawab, dia malah menghilang. Akhirnya, Aruna kembali memilih jalan yang keliru, dia bunuh diri. Reza yang pertama kali melihat mayatnya -- tergantung di pohon -- di belakang rumahnya. Kalian tahu kan bagaimana kira-kira ekspresi wajah mayat yang mati karena gantung diri? Itu yang tidak pernah bisa dilupakan oleh Reza. Dia menyimpan rasa bersalah karena gagal menyelamatkan hidup adiknya. Sekarang dia takut Salsya sama labilnya dengan Aruna dan melakukan hal yang sama -- termasuk mengorbankan nyawa janin yang tidak berdosa itu. Terlebih sekarang Salsya menjadikan Reza sebagai alasan untuknya bertahan hidup."
__ADS_1
Aku dan Mayra tidak mengatakan apa pun, bahkan tidak menyela kata-kata Alfi sedikit pun sewaktu ia bercerita. Rasanya lebih dari terkejut, lebih dari tercengang. Apalagi aku, aku tidak pernah tahu kalau di dalam diri Reza ada trauma sebesar itu. Trauma yang tidak menggerogotinya setiap waktu, tetapi melahapnya mentah-mentah ketika kejadian itu terulang.
"Kuharap setelah ini kamu bisa lebih mengerti dia. Itu juga yang membuat Reza muram sewaktu sepupu-sepupumu mengerjai kalian di Bali. Kalau saja waktu itu aku tahu rencana mereka, pasti aku akan mencegahnya." Alfi berkata sebelum berdiri dan kembali masuk, meninggalkan aku dan Mayra yang membisu di luar sana.