
Selama dalam perjalanan pulang, Reza terus memelukku dan menyandarkanku ke dadanya. Aku tidak bisa melepaskan diri dari dekapan tangannya. Bahkan dia tidak peduli dan sama sekali tidak malu pada Erik yang mengemudi di depan, meskipun aku sedikit protes dan memintanya untuk melepaskan aku.
"Tidak perlu malu di depan Erik. Dia punya banyak pekerjaan untuk menghabiskan waktu, bukan untuk mengomentari kita."
"Ya, Bu. Santai saja," Erik menyahut seraya melirik ke spion.
Jadi ya sudahlah. Terserah padanya. Kuanggap itu upaya Reza untuk mengikis luka di hatiku secara perlahan.
Setibanya di rumah, masih banyak kejutan lain untukku. Mulai dari pekarangan rumah yang sudah bersih tanpa daun-daun yang berserakan, taman bungaku yang sudah bersih dari rumput-rumput liar, dan sebuah kursi ayunan besi yang cantik ada di dekat kolam ikan, kendati kolam itu masih kosong dalam waktu yang mungkin akan lebih lama.
"Ayunan baru, ya? Kenapa ditaruh di situ? Mending di dalam, kan?"
"Di dalam ada banyak. Semuanya untukmu."
"O ya?"
Aku yang kegirangan refleks melihat ke beranda depan, ada satu ayunan berbahan kayu dengan warna cokelat mengilap. Lalu dengan kegirangan yang sama, aku cepat-cepat masuk dan mendapati sebuah ayunan rotan sintetis model kepompong jumbo ada di atas, di beranda pribadi kami. Setelah itu barulah aku mengintip ke dalam rumah dari pintu kaca sambil menunggu Reza yang masih mengobrol dengan Erik. Dia meminta Erik supaya membawa dan menyervis mobilnya. Sementara mobil Erik diistirahatkan dulu di garasi.
Merasa tidak sabar, aku mengeluarkan kunciku dari dalam tas dan langsung menggeser full pintu kaca di tepi kolam. Di sana, sebuah sofabed baru dan sebuah ayunan rotan sintetis untuk selonjoran menyambutku dengan manis. Aku suka sekali dua benda itu ada di sana, terlebih sofabed itu sangat cocok dipasangkan dengan meja lesehan panjang yang juga ada di sana. Kemudian, setelah itu aku langsung ke halaman belakang, ada dua ayunan besi, satu di tepi kolam anak dan satunya di tepi kolam ikan. Kalau saja Reza tidak melarangku, aku ingin ke roof top dan melihat ayunan yang ada di lantai empat itu.
"Yang di atas itu ayunan besi. Kamu tidak perlu naik untuk melihatnya. Jaga kandunganmu baik-baik dan jangan sampai kelelahan. Oke?"
"Iya. Aku akan menurut," kataku sambil memeluknya dengan segenap perasaan sayang. "Terima kasih karena kamu sudah begitu perhatian dan memberikan semua ini untukku."
"Yap. Nikmati masa kehamilanmu. Kamu tidak boleh stres sedikit pun. Ya?"
__ADS_1
"Tidak akan, selama kamu menjaga keharmonisan kita dengan baik."
"Pasti. Omong-omong soal keharmonisan, aku punya satu hadiah lagi untukmu."
"Apa?"
"Sebentar, aku harus menutup matamu dulu."
"Waw. Sepertinya sesuatu yang sangat menyenangkan."
"Tentu saja. Kamu akan menyukainya."
Tanpa protes, aku membiarkan dia menutup mataku dan menggendongku ke kamar atas. "Jangan buka mata sebelum aku mengizinkan, oke?"
"Buka matamu," katanya kemudian.
Dan waw! Aku langsung tergelak melihat sesuatu yang ia sebut "kejutan" itu. Sebuah sofa tantra, plus tubuh seksinya yang bertelanjang dada dengan otot-otot yang langsung merangsang saraf. Dia membuatku kepingin bercinta sekali lagi. "Kamu menggodaku," kataku. Aku mendekat dan duduk di pahanya. Untung saja dia tidak melepaskan celananya, atau aku akan lebih ngakak dan perutku bisa keram dengan penyambutan yang menggelikan.
"Jadi, bagaimana? Kamu menyukai sofa ini?" tanyanya dengan nada sensual dan dengan tangan yang sudah melingkar erat di pinggangku.
"Yeah, tentu. Ini sempurna."
"Mau mencobanya?"
"Mmm-hmm, dengan senang hati. Ayo," kataku malu-malu. Tanganku yang nakal mulai merabahi otot-otot yang menghiasi dada dan lengannya.
__ADS_1
"Tapi sebelum itu, aku ingin mengatakan sesuatu."
"Apa? Mau jahil lagi?"
Dia menggeleng. "Aku mau bicara serius."
"Oke, katakan saja. Apa?"
"Apa yang akan kukatakan ini mungkin kamu tidak akan percaya. Tapi demi Tuhan, sejak ada kamu, aku tidak pernah lagi terbayang, apalagi mengenang masa laluku, tidak sekali pun. Termasuk sebelas Januari yang belakangan ini mengganggu pikiranmu."
Aku tertegun, aku tidak pernah menyangka Reza akan membahas hal ini denganku. Aku bahkan tidak tahu apakah dan kapan -- Alfi menceritakan obrolan kami malam itu kepada Reza. "Soal itu..."
"Daripada kamu memikirkan kenangan orang lain, lebih baik kamu mengenang sebelas Januari milikmu sendiri. Hmm?"
"Milikku? Maksudnya? Kenangan apa?"
"Kenangan tentang hari ini. Tentang saat ini."
"Ummmmm..."
Bibir Reza langsung menempel dan menghisapi leherku. Aku sempat tertegun, kukira dia akan menuturkan kata-kata yang lebih panjang. Ternyata tidak. Dia langsung memberikan kenangan yang manis itu untukku. "I, love, you, Inara. Aku mencintaimu," katanya berbisik di telinga, dan itu berhasil membuat hatiku bergetar. Aku jadi malu, bahkan sampai menunduk dengan pipi merona.
Kau tahu, ini bukan hanya sekadar tentang bercinta, bukan sekadar tentang gairah sepasang kekasih halal yang membara, bukan sekadar tentang sentuhannya di setiap inci tubuhku. Tapi ini tentang perjuangannya -- tentang dia yang berusaha menghapus luka-lukaku. Seandainya dia tidak mencintaiku dengan begitu dalam, tentu mudah saja baginya untuk pergi, dia tidak perlu repot-repot memperjuangkan kembali hatiku yang sudah hancur dan penuh dengan luka.
Hari ini, yang mungkin menurut orang lain aku melakukan suatu kebodohan, tapi aku sungguh menyadari; dia yang menggoreskan luka, hanya dia juga yang mampu menyembuhkannya.
__ADS_1