CCI

CCI
2


__ADS_3

Kurindu disayangi sepenuh hati


Sedalam cintaku, setulus hatiku


Kuingin dimiliki kekasih hati


Tanpa air mata, tanpa kesalahan


Bukan cinta yang melukai diriku


Dan meninggalkan hidupku lagi


Tolonglah aku dari kehampaan ini


Selamatkan cintaku dari hancurnya hatiku


Hempaskan kesendirian yang tak pernah berakhir


Bebaskan aku dari keadaan ini


Sempurnakan hidupku dari rapuhnya jiwaku


Adakah seseorang yang melepaskanku dari kesepian ini?


Bukan cinta yang melukai diriku


Dan meninggalkan hidupku lagi

__ADS_1


Tolonglah aku dari kehampaan ini


Selamatkan cintaku dari hancurnya hatiku


Hempaskan kesendirian yang tak pernah berakhir


Bebaskan aku dari keadaan ini


Sempurnakan hidupku dari rapuhnya jiwaku


Adakah seseorang yang melepaskanku dari kesepian ini?


Kesepian ini...


Itu -- sebuah lagu berjudul kesepian milik Dygta. Aku mempersembahkannya kepada semua orang yang memaksa sang "nona pengembara" ini untuk menyumbangkan suaranya di hadapan para tamu undangan dalam resepsi pernikahan Zia, saudari sepupuku yang pada waktu itu menikah dengan seorang lelaki bernama Ari. Zia berumur satu setengah tahun lebih muda dariku, dan hanya berbeda empat hari dengan Ihsan. Jika saja itu pernikahan orang lain aku tidak akan hadir meskipun mendapatkan undangan dan suvenir emas sekalipun. Tapi, Zia adalah salah satu saudari sepupuku, anak ketiga dari bibi sulung-ku, saudari kandung ibuku, karena itulah aku harus hadir, atau gendang telingaku bisa pecah mendengar ceramah ibuku yang hampir tak berujung.


Dalam keluarga besarku aku dijuluki "nona pengembara" sejak aku sering bepergian dan jarang pulang. Jika aku pulang -- itu karena perintah ibuku atau karena permintaannya. Selain itu bagiku kepulanganku hanya sekadar untuk bertemu keluarga. Tapi siapa sangka, mereka malah memaksaku untuk menyanyi di atas panggung resepsi itu, lebih tepatnya sebuah tantangan -- bahwa aku bukanlah seorang pecundang yang hanya bisa lari dari kenyataan. Andai mereka tahu -- aku sudah muak diperolok. Sebab, sedari kecil dulu teman-teman sepermainanku seringkali memperolokku hanya karena aku tidak punya ayah.


Aku mengenakan longdress warna biru muda lengan panjang di hari resepsi pernikahan Ari dan Zia. Warna kulitku sawo matang, karena itu semua pakaianku berwarna soft. Aku tidak percaya diri jika memakai pakaian berwarna terang, putih, hitam, dan warna-warna gelap lainnya. Sebagai perempuan aku merasa cukup cantik dan cukup manis, meski dengan tinggi badanku yang tidak lebih dari seratus enam puluh sentimeter yang selalu kututupi dengan wedges yang lumayan tinggi. Tubuhku cukup berisi, tidak kurus kerempeng, juga tidak gemuk. Rambutku panjang, berwarna hitam dan dijuluki orang dengan istilah keriting sosis -- roll alami. Selain sewaktu aku mandi, aku selalu mengikat atau menjepit rambutku, hampir tidak pernah terurai.


Aku percaya diri dengan penampilanku hari itu, sehingga aku nekat naik ke atas panggung. Aku tahu menyanyi itu harus dari dalam hati dan tergantung keadaan dan suasana hati -- agar lebih indah di telinga pendengarnya. Dan itulah keadaan hatiku -- hampa dan kesepian. Tetapi rasa hampa dan kesepian itu malah mengundang tepuk tangan meriah saat lagu itu berakhir.


Mereka menghujaniku tepuk tangan meriah karena menurut mereka penampilanku spektakuler, aku tahu itu. Tapi yang kurasakan malah sebaliknya; mereka memberikan tepuk tangan atas kehampaan dan kesepian yang kurasakan. Itu yang terlintas dalam pikiranku. Tentu saja aku harus menahan emosiku. Sensitif, memang. Aku terlalu baper karena masa laluku yang teramat pahit.


Aku turun dari atas panggung, kembali ke tempat semula, di teras rumah Ari. Aku tidak suka duduk di bawah tenda yang menurutku sangat panas dan gerah, segerah hatiku yang selalu gersang dan nestapa -- meski tenda itu dihias dengan begitu megahnya.


"Perform yang bagus. Tapi lagu itu terlalu sedih untuk orang secantik kamu," kata seseorang di belakangku. Entah siapa, aku tidak menolehnya. Ucapan orang itu terdengar seperti rayuan gombal dan aku tidak suka itu.

__ADS_1


Aku berdeham. "Terima kasih. Tapi cuma itu lagu yang kuhafal," jawabku tanpa menoleh sedikit pun. Walau sebenarnya waktu itu aku berbohong, ada lagu-lagu lain yang aku juga hafal semua liriknya. Aku hanya tidak suka meladeni orang itu.


"Sori, bukannya karena itu gambaran suasana dalam hati kamu? Kalau yang aku lihat rasanya seperti itu," komentarnya.


Aku mendesah sebal. "Jangan sok tahu!" kataku kasar. Aku tidak suka pada orang asing yang sok akrab, apalagi menurutku dia berlagak seperti juri-juri dalam kontes menyanyi. Aku pun langsung pergi dari sana tanpa menoleh si pemilik suara.


...♡♡♡...


Aku suka berkumpul bersama sepupu-sepupuku, karena memang sedari kecil kami sering sekali berkumpul. Satu atau dua kali dalam sebulan mereka akan berkunjung ke rumah nenek, rumah tempat aku dan adikku dibesarkan. Aku bisa tertawa saat bersama mereka, karena mereka tidak seperti teman-teman tetanggaku yang sering mempertanyakan keberadaan ayahku yang entah ada di mana.


Rasanya aku ingin selalu bersama mereka, tapi tentu itu tidak bisa. Aku tidak mungkin ikut tinggal di rumah mereka dan tidak mungkin juga bisa sering bertemu, karena jarak rumah mereka yang cukup jauh. Tapi itu dulu, sewaktu kami masih kecil sampai kami sudah cukup dewasa, dan sebelum mereka menikah. Karena kau tahu kan hubungan dekat semasa kecil akan sedikit merenggang setelah dewasa, dan lebih merenggang setelah masing-masing menikah, apalagi setelah masing-masing mempunyai anak. Kita hanya bisa berkumpul sesekali, itulah yang sering terjadi dalam masa kehidupan manusia.


Malam itu aku cukup senang bisa tertawa saat berkumpul dengan mereka, walaupun selebihnya aku cukup minder karena ketiga sepupuku sudah menikah. Memang sih masih ada yang belum menikah, tentu yang belum menikah itu semuanya lebih muda dari aku, mereka masih kuliah dan masih sekolah. Aku satu-satunya yang berusia sudah cukup matang tapi masih menyandang status single.


"Ra, tadi siang ada temannya Ari nanya tentang kamu. Kamu tahu, orangnya tampan. Aku jamin kamu akan menyukainya. Dia suka perform kamu tadi," cerocos Hengky, suaminya Zaza, saudari sepupuku, anak pertama Bibi Sulung.


"Sekali lagi ada yang bahas hal-hal semacam ini -- kutinggal ke kamar, ya."


"Kamu sih, Mas. Sudah tahu Inara tidak suka dicomblang-comblangkan begitu," celetuk Zaza seraya menyikut suaminya. Hengky pun langsung mencebik.


"Mau sampai kapan sih Ra kamu begini?" tanya Zizi, yang juga sepupuku.


Zaza dan Zizi, anak kembar Bibi Sulung. Zaza anak pertama, Zizi anak kedua, mereka kembar tapi tak seiras. Mereka memiliki wajah dan warna kulit yang berbeda, kulit Zaza lebih putih dari warna kulit Zizi. Beda halnya dengan Zaim dan Zain yang kembar seiras, anak keempat dan kelima bibiku. Benar-benar susah membedakan dua lelaki tampan berkulit putih itu. Tapi meskipun begitu -- Zaza dan Zizi sekompak anak kembar lainnya. Usia Zaza dan Zizi dua setengah tahun lebih tua dariku. Mereka sudah menikah saat umur mereka dua puluh tiga tahun. Sementara usiaku saat kumpul keluarga itu adalah dua puluh empat tahun lebih dan masih lajang, itu yang menjadi alasan bagi para sepupuku itu untuk mencarikan aku seorang pasangan.


"Kita semua sayang kamu, Ra." Zaza turut menimpali. "Kita tidak mau kamu begini terus. Coba kamu buka hati. Tidak semua yang kita takuti akan terjadi," sambungnya.


Aku memerhatikan mereka semua, Zia, Zaim, dan Zain, yang usianya lebih muda dari aku tidak ikut bicara mungkin karena merasa segan. Sedangkan Dimas, suaminya Zizi, memang pembawaannya yang pendiam, memang jarang ikut bicara. Dan Ari, yang baru masuk dalam anggota keluarga tampak bingung, tidak mengerti apa yang dimaksud oleh ipar-iparnya. Begitu pun dengan Ihsan, adikku yang tampan itu, dia tahu betul kalau aku akan terganggu bila mereka membahas hal-hal yang menyangkut urusan pribadiku.

__ADS_1


"Sudah?" tanyaku. "Aku tahu kalian semua peduli padaku. Tapi aku percaya kalau jodoh tidak akan ke mana, dia akan datang tepat pada waktunya. Jadi kalian tidak perlu sibuk jadi mak comblang, oke? Aku sayang kalian. Selamat malam. Bye." Aku langsung meninggalkan tempat.


__ADS_2