CCI

CCI
59


__ADS_3

Aku terbangun oleh cahaya matahari yang menyelubungiku seperti selimut listrik tak kasat mata. Cahayanya yang terang benderang sampai-sampai nyaris membutakan. Kukerjap-kerjapkan mataku, dan pikiranku melayang-layang pada saat-saat dua puluh empat jam yang lalu.


"Ah, sialan. Lagi-lagi aku tidur seperti orang mati," gumamku, saat kusadari diriku benar-benar berada di dalam kamarku, bukan berada di dalam mobil bersama Reza.


Eh? Apa ini? Selembar kertas menarik perhatianku saat aku hendak meraih ponselku dari atas meja. Aku tahu, itu surat dari Reza.


Selamat pagi Naraku sayang...


Gadis cantik yang paling kucinta dan kusayangi di dunia ini.


Terima kasih untuk 21 hari yang indah yang telah kita lewati dengan penuh cinta.


Mungkin tidak ada kata lain selain "Dealova" yang mampu mengungkapkan, betapa bahagianya aku saat bersamamu, saat bercanda dan tertawa bersamamu, juga betapa aku merasa nyaman berada di sisimu.


Percayalah, engkau adalah segalaku.


Betapa aku mencintaimu dengan segenap hatiku, sepenuh jiwa dan ragaku.


Engkau adalah satu-satunya orang yang kuinginkan menjadi teman hingga masa tuaku.


Satu-satunya Dealova yang menjadi tujuan hidupku.


Dariku, seseorang yang selalu tergila-gila padamu dan senantiasa merindukanmu.


Dengan penuh cinta - Reza


Emmm... aku jadi senyum-senyum sendiri. Reza selalu bisa membuat senyumku mengembang dan hatiku melambung.


Tetapi sayangnya hal itu terusik saat samar-samar kudengar suara Ihsan menggelegar di bawah sana. Aku pun buru-buru keluar dari kamar, lalu menuruni anak tangga secepat yang kubisa.


Dia lagi, dia lagi, dia lagi. Lelaki itu, yang kaukenal sebagai ayahku. Bibiku benar-benar melakukan kesalahan besar dengan memberikan alamat rumah ini kepadanya.


"Kamu seharusnya bisa menegur Nara. Tidak baik jika dia selalu bersama Reza sementara mereka belum menikah," katanya menegur ibuku.


"Aku percaya pada Reza seperti aku percaya pada anak gadisku. Aku yang membesarkannya, aku yang mendidiknya. Aku percaya walaupun mereka bersama, mereka tahu batasan." Ibuku yang selalu jadi garda terdepan membelaku.

__ADS_1


Tapi bukan ayahku namanya kalau dia tidak sok suci dan sok benar. Dia akan terus menghakimi siapa pun yang salah di matanya. "Bagaimanapun juga, yang namanya lelaki--"


"Mas Reza menjaga kehormatanku sebagai perempuan." Aku menyela ucapan ayahku. "Ya, dia memelukku, dia menciumku, tapi hanya sebatas itu. Kami belum pernah bercinta, belum pernah bersetubuh layaknya suami istri. Mas Reza cukup beradab, dia bukan lelaki yang suka celup sana celup sini. Dia bukan seperti seseorang yang bernama Satria tapi kelakuannya lebih mirip... Anda tahu, kan? Mirip setan. Dia tidak seperti Anda."


Tidak peduli durhaka atau tidak, tapi aku tidak sudi berbicara sopan dengan lelaki itu.


"Yang sopan. Dia ayahmu," tegur seorang wanita asing yang baru kusadari keberadaannya.


"Anda siapa? Dia bukan ayah yang membesarkan saya, untuk apa saya sopan? Dia hanya lelaki asing yang kebetulan darahnya mengalir di dalam tubuh saya."


"Tolong kalian pergi dari sini. Biar saya bicara dengan Nara."


"Bund? Maksud Bunda apa? Apa yang mau dibicarakan? Bunda bisa bawa aku ke dokter kalau Bunda tidak percaya padaku. Bunda bisa cek aku masih perawan atau tidak."


"Meskipun begitu, bukan berarti kamu bebas tinggal bersamanya." Lagi-lagi ayahku menculut api.


"Ayolah, itu hanya sekadar liburan, memang kami tinggal di villa yang sama, masih mending begitu kan daripada sekamar di hotel? Mas Reza tidak pernah membawaku ke hotel. Kami pun tidur di kamar terpisah," tuturku setengah jujur, setengahnya... ya kau tahulah maksudku.


"Sudah dengar kan klarifikasi dari orangnya langsung? Lagipula apa pun tentang kami, itu bukan urusan Anda. Silakan angkat kaki dari sini." Ihsan ikut menimbrung.


Aku baru maju selangkah untuk menampar mulut lelaki asing itu, kalau saja ibuku tidak melerai dan meminta Ihsan menarikku ke lantai atas, aku pasti sudah membuatnya merasakan sakit tujuh hari tujuh malam dan mengenang sejarah itu di sisa hidupnya.


...♡♡♡...


"Masih memikirkan masalah tadi?" tanya ibuku saat aku sedang melamun di balkon lantai atas, aku baru saja selesai mandi, masih dengan handuk membungkus rambut di kepala.


"Eh, ada Bunda."


"Kamu melamun, ya?" Kuanggukkan kepala dan ibuku pun mengulangi pertanyaannya.


Aku menggeleng lemah. "Tidak. Bukan," jawabku. "Emm... Bund, soal... ciuman dan pelukan itu... maafkan Nara, ya?"


Aduh... ibuku melotot seram. Ekspresinya membuatku merinding ngeri, aku takut dia marah padaku, terlebih takut ia marah pada Reza. "Sejauh mana yang kalian lakukan? Jujur pada Bunda."


Deg!

__ADS_1


Jujur, tidak, jujur, tidak. Ah, kenapa ibuku jadi mengintrogasiku? Mungkin sebaiknya aku jujur, pikirku.


"Jujur, iya. Nara pernah sekamar dengan Mas Reza, itu bukan salahnya Mas Reza, Nara yang minta. Nara yang minta dia memeluk Nara sepanjang malam. Tapi Nara benar-benar jujur, Nara hanya sebatas tidur di pelukan Mas Reza. Nara dan Mas Reza tidak pernah berhubungan intim, Mas Reza tidak pernah bersikap kurang ajar pada Nara. Nara tahu Nara salah. Tapi... maafkan, Nara." Rasa-rasanya aku pasrah melihat ibuku kembali tak bergeming. "Tidak ada gunanya menjelaskan ini. Nara minta maaf, Nara salah." Aku tertunduk. Mengakui hal ini saja aku takut ibuku jadi tidak menyukai Reza, tidak mungkin aku mengatakan Reza pernah mencumbu leherku.


Ibuku melotot. "Ikut Bunda," cetusnya.


"Ke mana?"


"Ikut saja. Kamu tidak akan takut kalau kamu tidak bersalah."


"Iya, Nara ikut supaya Bunda tidak meragukan Nara. Mau ke semua klinik se-Jabodetabek juga Nara jabani. Kalau begitu Nara siap-siap dulu, ya." Kucium pipi ibuku untuk mencairkan suasana. "Senyum dong, Bunda." Tapi ia masih enggan tersenyum. "Ya sudah kalau mau cemberut terus, jelek lo." Aku masuk ke kamar dan meninggalkan ibuku di sana.


Dua puluh menit kemudian aku sudah siap berangkat, bahkan ibuku sudah duduk santai di dalam taksi. Ibuku masih saja diam sepanjang perjalanan. Pikir, pikir, pikir. Ah, yeah. Kucoba mencairkan suasana dengan mengajaknya mengobrol. Kutanyakan padanya siapa perempuan yang datang bersama ayahku tadi pagi. Ibuku bilang itu yang namanya Rhea. Berarti benar, yang tempo hari kulihat adalah Yanti. "Berarti sekarang laki-laki itu punya dua istri?"


Ibuku mengangkat bahu. "Siapa yang tahu, bisa iya, bisa lebih."


"Kenapa ya Bund mereka mau?"


"Entahlah. Mungkin sebegitu cintanya mereka pada ayahmu. Dia tampan, kan?"


"Memang. Tapi untuk apa ketampanan tapi cintanya terbagi?"


Ibuku mengelus jemariku. "Setiap orang punya pilihannya masing-masing, Sayang. Mungkin ayahmu bisa adil dan bisa membahagiakan mereka, jadi mungkin mereka tidak mempermasalahkan kalau mereka bukan istri satu-satunya. Kan sudah jelas juga dari awal mereka tahu ayahmu punya istri dan anak, tapi mereka mau jadi selingkuhan, mau jadi istri siri. Jadi tidak ada yang aneh."


"Yeah. Mungkin laki-laki itu hebat di ranjang dan ahli segala gaya. Pasti perempuan-perempuan itu suka sekali disodok dari belakang seperti doggy."


"Nara...," Ibuku menegur.


"Apa sih, Bund? Nara tu lagi membayangkan si Yanti lagi disodok-sodok dari belakang. Pasti ekspresinya begini, uh... Kang... lagi Kang... iya... terus Kang... terus... ah... uh... oh yeah... ah, Akang meni hebat pisan euy."


Aku terbahak-bahak setelahnya. Sementara ibuku menutup mulut menahan tawa, dan Pak Supir di depanku tak henti melirik ke arahku melalui kaca spion. "Lihat ke depan, Pak. Nanti nabrak."


"Eh, ya Mbak. Maaf, maaf." Dia gelagapan.


Kau pasti berpikir orang macam apa ibuku sampai aku sebagai anak berani bercanda seperti itu. Aku sepenuhnya hormat padanya sebagai orang tuaku. Tapi selebihnya kami seperti teman. Aku tidak segan padanya tentang apa pun itu dalam konteks bercanda. Tapi itu tidak mengurangi sedikit pun rasa hormatku kepadanya sebagai wanita yang melahirkan aku ke dunia ini. Jadi jangan heran kalau aku dan ibuku sama gilanya dalam hal bercanda.

__ADS_1


__ADS_2