CCI

CCI
87


__ADS_3

"Hai, Tante," sapaku.


Bibi bungsuku itu langsung tersenyum dan memberikan pelukan untukku. Pelukan yang sejak dulu sangat kusukai, sebab bibiku memiliki jenis pelukan yang kuat tapi juga lembut yang membuat semuanya tampak lebih baik, perlakuan murah hati yang perlu dicicipi dan dinikmati. Tapi bukan berarti aku orang yang sangat doyan pelukan dan mau dipeluk oleh siapa saja, aku hanya suka pelukan dari orang-orang yang menyayangiku. Terlebih pelukan dari Reza, itu pelukan ternyaman yang pernah kurasakan, sama nyamannya seperti pelukan ibuku.


"Kuharap Tante tidak keberatan aku mampir tanpa memberitahu terlebih dahulu?"


"Tentu saja tidak, Sayang. Lagipula kamu sudah lama tidak mampir ke sini, padahal kamu sering kan ke Bogor." Bibiku berkata sambil menggandengku masuk.


Aku sedang tidak kepingin keluyuran, jadi kuputuskan berkunjung ke rumahnya. Beruntung Raline dan Raheel sedang ada di rumah, dan lebih menyenangkan lagi mereka sedang mengupas buah dan menyiapkan bumbu rujaknya.


"Nah, sekarang lihat dirimu." Bibiku meraih bahuku lalu memegangiku selengan jauhnya, matanya memicing. "Hmm... ya ampun. Ada sesuatu yang serius di dalam pikiranmu. Ayo, kita duduk, kita merujak sambil mendengarkanmu bercerita."


Aku menggeleng dengan sedikit senyuman kecut. "Mau cerita apa, Tant? Tidak ada apa-apa," kilahku.


"Jangan bohong. Tante mengenalmu sedari kamu masih merah. Tangan ini yang membersihkan pup pertamamu. Kamu tahu, Tante bisa membacamu semudah buku. Kamu membawa beban seberat dunia sejak datang, dan jangan coba-coba protes. Sekarang ceritakan kepada Tante -- semuanya."


Benar, bukan ide yang bagus kalau aku menolak, sama seperti pada ibuku -- aku tidak bisa merahasiakan sesuatu dari bibiku, walaupun ada Raline dan Raheel juga di sana. Tidak masalah, toh mereka juga memahami apa yang terjadi dalam hidupku sejak kecil hingga sekarang -- yang berbeda tiga ratus enam puluh derajat dengan kehidupan mereka.

__ADS_1


Mereka mendengarkan aku dengan serius sementara aku menceritakan semua tentang Reza dan Salsya, mereka menghentikanku sesekali untuk bertanya. "Jadi aku harus bagaimana?"


"Tinggalkan dan pilih Bang Aris." Si bungsu Raheel menjawabku dengan tandas.


Bibiku langsung mendelik pada putri bungsungnya itu, diikuti Raline yang langsung menjitak kepalanya. Tapi begitulah Raheel, Aris sangat memanjakannya, jadi dia menyayangi Aris seperti dia sayang pada dua kakaknya, Rafasya dan Randhika


"Sebenarnya agak rumit ya, Sayang, karena ini terjadi padamu, maaf, gadis yang tumbuh besar dalam keluarga broken home, yang karena masa lalu itu kamu jadi trauma. Sekalinya jatuh cinta malah terjadi hal seperti ini. Tapi Tante tidak bisa berkomentar apa-apa, sebab Tante tidak mengenal Reza. Tante tidak tahu bagaimana karakternya."


Kulahap sepotong besar mangga muda sampai wajahku menyeringai karena rasanya yang asam.


Bibiku bangkit untuk mengambil air dari lemari es. "Ikuti kata hatimu," katanya. "Jika hatimu ingin bersama Reza, perjuangkan saja. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Mudah-mudahan Reza bisa menjaga kesetiaannya."


Saat bibiku kembali duduk dia langsung menumpangkan satu tangannya di atas tanganku. "Tante setuju dengan Bunda, kamu boleh pergi seandainya suatu saat kamu merasa Reza bukan yang terbaik -- bukan lelaki yang bisa mempertahankan kesetiaannya untuk kamu."


Aku menggeleng. "Itu sulit, Tant. Dari sekarang pun sudah terlihat kalau Reza tidak akan melepaskan aku segampang itu. Apalagi nanti setelah menikah."


Raline yang sedari tadi menyimak sambil menikmati rujaknya tiba-tiba langsung berpikir. Dia meletakkan siku ke meja, melipat tangan kemudian menyandarkan dagu ke atasnya. "Kamu pernah nonton film Ketika Cinta Bertasbih season pertama, Mbak?"

__ADS_1


"Pernah, dulu, kenapa?"


"Kamu masih ingat detail ceritanya?"


Aku menggeleng. "Sudah lupa. Cuma ingat garis besar ceritanya saja," jelasku.


Raline pun menceritakan tentang peran Oki Setiana Dewi sebagai Anna yang mengajukan syarat pranikah sewaktu ia dilamar oleh Furqon yang diperankan oleh Andi Arsyil, syaratnya; selama Anna masih hidup dan mampu menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri -- maka Furqon tidak boleh menikah lagi -- tidak boleh menikahi perempuan lain lagi. Dan syarat itu menjadi syarat sah-nya akad nikah dan halalnya Anna sebagai istri bagi Furqon selama Furqon memenuhi syarat tersebut. "Tidak ada salahnya kalau kamu mengajukan syarat seperti itu. Kalau akhirnya Mas Reza ingkar, maka dengan sendirinya kamu bebas dan menjadi haram baginya, sebab itu sama artinya dia sudah menjatuhkan talak terhadapmu. Kamu bahkan boleh menambahkan kalau syarat itu tidak berlaku jika kamu sudah memberikannya izin untuk berpoligami, semisalnya -- amit-amit -- kalau kamu sakit parah, sakit menahun, atau tidak bisa memberikan keturunan. Kamu bisa mencabut syarat itu. Bagaimana?"


Waw. Aku dan bibiku saling bertukar lirikan disertai alis yang naik. Bahkan Raheel yang sedari tadi mengunyah sampai tersedak mendengar pemaparan atas pandangan saudari perempuannya itu.


"Amazing!" bibiku berseru. "Anak Mama benar-benar sudah dewasa."


Raheel yang sudah menenggak habis sisa air di gelasnya langsungĀ  bertepuk tangan penuh semangat.


"Trims, adikku." Kupeluk Raline dengan hangat dan momen itu sempat di abadikan oleh bibiku. Aku tidak pernah tahu ada sosok dewasa di balik umurnya yang masih belia itu.


Raline mengangguk. "Aku tahu betapa kamu mencintai Mas Reza, dan aku juga tahu kalau kamu jauh lebih kuat daripada yang terlihat. Seandainya -- tapi amit-amit jabang bayi ya -- jika suatu saat pernikahan itu tidak seindah yang kita harapkan, kamu pasti bisa melewati semuanya, karena kamu itu persis seperti Bunda, seorang wanita tangguh yang kuat dan setegar karang."

__ADS_1


"Benar," bibiku menyahut. "Makanya itu, kita sebagai perempuan harus pintar mencari uang meski kita juga sibuk mengurusi keluarga, meski suami kita mencukupi kebutuhan kita, kita mesti punya tabungan, kalau kelak nasib kita bertemu lelaki seperti ayahmu yang melepas tanggung jawab terhadap anak-anaknya, kita masih bisa berdiri sendiri untuk menafkahi anak-anak kita. Tapi... semoga Reza tidak seperti itu, tidak akan seperti ayahmu."


"Aamiin...," kami bertiga kompak mengamini ucapan wanita penuh kasih itu.


__ADS_2