CCI

CCI
127


__ADS_3

Tatapan mata dan senyuman Reza mulai berbeda semenjak kami keluar dari warung sate, dan itu sungguh membuatku merasa malu. Sesampainya di rumah, selagi Reza mengunci pintu, aku langsung melepaskan jaket dan lekas ke wastafel untuk mencuci tanganku, lalu menyiapkan susu khusus ibu hamil dan segera meminumnya. Sedangkan Reza -- setelah mencuci tangan, dia berdiri saja di dekat wastafel dengan dua tangan santai di dalam saku sambil memandangiku. Seusai meneguk segelas susu itu hingga tandas, kubawa gelas yang sudah kosong itu ke wastafel dan langsung mencucinya. Seakan tidak ingin kehangatan di antara kami kembali sirna, Reza langsung memelukku dan mendaratkan satu ciuman di tengkuk leherku. Jeda yang cukup lama -- yang terjadi di antara kami membuatku kembali merasa nervous. Aku merasakan lagi getaran-getaran yang mendebarkan seperti yang kurasakan dulu.


Dengan begitu lembut, Reza memutar tubuhku, lalu mengangkatku dan mendudukkan aku ke meja dapur di samping wastafel. Dia menatap lama ke dalam mataku -- jauh lebih lama dibanding yang pernah dilakukannya selama ini. Dia seolah menyampaikan pertanyaan tanpa kata. Sebuah isyarat yang kumengerti tanpa ia harus benar-benar bertanya. Aku mengangguk, kupejamkan mataku perlahan sebagai isyarat bahwa aku mengizinkannya melakukan apa pun yang ia inginkan dariku. Barulah Reza memberanikan diri menciumku -- menikmati bibirku dengan lembut dan penuh perasaan, seolah itu adalah ciuman kami yang pertama.


Tetapi, hanya itu saja yang ia lakukan -- dia hanya menciumku, kendati aku tahu dia sudah menegang, sebab aku merasakannya. Dan itu membuatku mengutuk diri sendiri. Gara-gara aku. Aku menghukumnya terlalu lama sehingga merusak mental dan kepercayaan dirinya sebagai lelaki.


Akan kuperbaiki semuanya. Akan kubebaskan dia dari belenggu penyesalan dan kecemasan yang menyiksa. Kugerakkan tanganku dan kuberanikan diri untuk melepas tali celananya. "Ayo," kataku.


Dia tersenyum dan menarikku lebih rapat hingga aku menempel padanya. "Maaf, ya. Mungkin ini tidak akan berlangsung lama. Kita sudah lama.... Maksudku, aku sudah lama tidak--"


"Tidak apa-apa. Kita bisa mengulanginya lagi nanti."


Lagi-lagi dia tersenyum dengan sangat sumringah. Matanya memancarkan kebahagiaan. Dan seperti yang ia katakan, momen itu hanya berlangsung sesaat. Durasi tersingkat yang pernah kami lakukan.


"Thanks," bisiknya.


"Urwell. Tolong, turunkan aku."


Untuk pertama kalinya semenjak aku pulang, Reza menjulurkan tangannya. "Ikut aku ke atas," katanya. Tanpa bertanya, aku menyambut uluran tangannya dan mengikutinya. Dia mengajakku ke roof top -- ke panggungku. Sesampainya kami di atas, dia menutup mataku dengan kedua tangannya. "Ada kejutan untukmu," katanya. Dia menggiring dan mendudukkan aku di sebuah kursi. "Jangan buka mata sebelum aku suruh, oke? Kamu siap?"


"Hmm, baik." Reaksi kimiawi sedari tadi menyergapku. Aku deg-degan.


King of dramatisir. Dia menghitung sampai tiga. "Buka matamu."


"Eh? Ini...."


Sebuah piano besar hitam mengilap ada di depan mataku. Sambil berdiri dengan mulut menganga, mataku tak bisa lepas memandanginya. "Ya ampun, Mas. Waktu itu aku hanya--"


"Benda ini sudah lama menunggumu. Dan aku selalu yakin, kamu pasti akan pulang ke sini." Reza berkata sambil memeluk erat tubuhku dari belakang, dia menenggerkan kepalanya di pundakku. "Jalani hari-harimu dengan baik, ya? Aku tidak mau kamu stres."


Dengan agak gemetaran, kusentuh dan kuremas lembut jemarinya. "Terima kasih, Mas."


"Sama-sama," sahutnya, sesaat setelah ia mengecup sisi kepalaku. "Terima kasih karena kamu sudah mau pulang. Aku tidak akan menghabiskan waktuku sendirian lagi di sini."


Tunggu sebentar -- di sini?


"Maksud kamu di rumah ini, atau... di panggung ini?"


"Di sini, di panggung ini."


"Belajar piano?"


"Yap." Dia mengangguk. "Maaf, aku sudah mendahuluimu."

__ADS_1


Aku tertawa. "Baguslah. Kamu bisa mengajariku nanti. Tapi untuk malam ini, aku mau request, nyanyikan lagu untukku."


Reza tergelak dengan lambaian tangan. Dia menolak. Tapi aku memohon dan memaksanya. "Masa iya Mas Reza-nya Nara malu?"


Dia memonyongkan bibirnya sesaat. "Aku belum mahir," dalihnya.


"Yang kamu sudah mahir pasti ada, kan?"


"Ada sih, cuma dua lagu."


"Aku mau dengar, dua-duanya," kataku.


Untuk sesaat Reza terlihat sangat ragu. Tapi melihatku yang sudah duduk manis di sampingnya, dia pun tidak tega untuk menolak. Lagu pertamanya Biarkan Aku Jatuh Cinta - ST12. Waktu itu aku baru menyadari bahwa setiap lirik lagu itu -- sedetail-detailnya -- sangat sesuai dengan perasaan dan isi hatinya. Dari dulu -- sejak dia mendekatiku  sampai ke momen perpisahan kami -- lagu itu benar-benar mewakili perasaannya, cinta dan kesedihannya. Aku bertepuk tangan dan langsung menagih lagu kedua.


"Tidak usah," katanya.


"Aku tidak mau ada penolakan." Kunaikkan kedua alisku sambil tersenyum simpul.


Dan...


Pulangkan dia padaku


Tunjukkan jalan padanya


Bahwa ku tetap di sini


Pulangkan dia padaku


Tunjukkan jalan padanya


Bahwa ku tetap di sini


Berharap dia kembali pulang untukku


Penantian ini teramatlah panjang


Coba kau rasakan sayang


Letihku di ujung jalan


Dia menghilang 


Membawa semua kenangan

__ADS_1


Terindah yang kurasakan


Saat bersamanya sayang


Penantian ini teramatlah panjang


Coba kau rasakan sayang, letihku di ujung jalan


Dia menghilang membawa semua kenangan


Terindah yang ku rasakan saat bersamanya sayang


Hatiku pilu


Sepilu-pilunya


Keceriaanku seketika langsung meredup. Reza menyanyikan lagu Penantian miliknya Armada dengan sepenuh perasaan hingga mampu membombardir hatiku menjadi kepingan-kepingan kecil. Aku membayangkan selama ini -- dia -- setiap hari -- berdoa lewat lagu itu, memohon supaya yang Mahakuasa di atas sana berkenan mengembalikan aku kepadanya.


Pada akhirnya, aku tidak sanggup untuk bertahan di sana. Aku tidak sanggup melihatnya melantunkan nada-nada penuh luka. Luka yang serasa menggenang dan menenggelamkanku seketika. Aku pun pergi.


Pengecut, memang. Aku Hanya bisa lari, menangis, dan bersembunyi. Yah, itulah aku. Begitulah aku -- bodoh dan pengecut.


...♡♡♡...


Setelah beberapa menit membiarkan aku sendiri, Reza menyusulku. Dia masuk ke kamar dan menutup pintu di belakangnya perlahan-lahan. Aku yang duduk di tempat tidur menoleh, menatap sebentar kepadanya dengan mata merah. Jujur saja, aku merasa bersalah karena begitu tega menghukumnya seberat itu. Tapi di sisi lain, aku juga membenarkan sikapku, sebab jika aku begitu mudah memaafkannya seperti yang sudah-sudah, Reza tidak akan memiliki penyesalan yang mendalam dan tidak akan menjadikan masalah itu sebagai pelajaran berharga untuknya. Bahkan mungkin saja dia akan terus menganggap bahwa aku wanita bodoh yang gampang di tipu dan gampang juga memaafkan saat dia melakukan kesalahan, hingga membuatnya tidak akan pernah takut kehilangan aku dan anak-anakku.


"Aku mau tidur. Aku sudah mengantuk," kataku. Aku langsung merebahkan tubuhku, meringkuk ke tempat tidur dan menyelubungi tubuhku dengan selimut.


Aku tahu betul saat Reza naik ke tempat tidur. Yang membuatku cemas adalah ketika Reza menyelinap masuk ke dalam selimutku. Dia ikut meringkuk di sebelahku dan meletakkan satu tangannya di atas bahuku. Itu mengingatkan aku dengan kisah kami dulu, sewaktu aku merajuk gara-gara muntah setelah mencicipi mayones. "Tadi aku sudah bilang kan tidak usah. Tapi kamu yang memaksaku menyanyikan lagu itu. Kalau kamu seperti ini, aku jadi serba salah," katanya.


"Jangan bahas sekarang, ya. Tolong?"


Reza mengangguk. "Kalau melakukan hal lain, bagaimana?" tanyanya sambil meremas lembut bahuku dengan jemarinya. "Mas masih kangen kamu. Boleh Mas minta lagi?"


Kendati aku tidak menyahut, Reza sama sekali tidak berhenti. Tangannya yang tadinya hanya nangkring di atas bahuku, sekarang mulai menjelajahi lekuk tubuhku. Karena aku diam saja, dia menganggap diamku itu sebagai persetujuan. Dan tak pelak, dia langsung menyelipkan tangannya dan mengelus bagian dalam pahaku, hingga aku merasakan kembali nikmatnya belaian dan sentuhannya yang sudah lama tidak kurasakan. Dan yeah, aku tidak sengaja mendesah. Dia juga berhasil membuatku basah. Dan aku sangat malu karena dia menyadari hal itu. Aku yang malu langsung membenamkan wajahku ke bantal. "Tidak perlu malu," bisiknya. "Nikmati saja."


Oh, Mas. Justru celotehan-celotehanmu itu membuatku bertambah malu.


"Sayang, Mas boleh masuk sekarang?"


"Aku milik kamu, Mas. Kamu tidak perlu bertanya."


"Trims. Kamu selalu mengakhiri penantianku dengan indah. Mas sayang kamu, Nara." Dia pun mulai masuk perlahan dan menyelamiku sedalamnya.

__ADS_1


__ADS_2