CCI

CCI
37


__ADS_3

Maksud hati ingin berduaan memadu kasih dengan Reza di pinggir kolam, tapi tim photographer dengan semangat empat lima mengajak kami untuk foto prewedding lagi, sembari menghabiskan waktu kosong di pagi itu, sebab agenda jalan-jalan akan dilakukan siang hari, setelah selesai salat jumat.


Kali ini foto indoor. Hanya ada sedikit pakaian yang dibawa Mayra, hanya beberapa gaun mewah dan setelan jas untuk Reza. Sedangkan untuk pakaian kasual, supaya terlihat berganti-ganti, mereka sengaja mengumpulkan pakaian ganti mereka dan meminjamkannya padaku. Aku canggung setengah mati, karena pakaian mereka cukup seksi.


Untuk foto indoor, Reza mengatakan pada tim photographer itu hanya dibatasi empat belas foto. Tidak boleh lebih.


"Kenapa?" tanyaku heran. Dia hanya tersenyum. Memang, dia suka sekali membuatku penasaran.


Pertama, foto dengan pose ala Raisa dan Hamish, berhubung tidak ada dapur, jadinya aku duduk saja di meja rias.


Foto kedua, ala Tyas Mirasih dan suaminya, Raden, dengan busana kasual di dalam ruangan. Aku biasa rebahan di paha Reza, jadi kami tidak canggung berpose seperti itu.


Foto ketiga, pose ala Lee Jeong Hoon yang menatap Moa saat ia tertidur. Hanya saja bukan di meja makan, dalam versi kami itu di tempat tidur.


Foto keempat, ala Krisjiana dan Sibad, dengan busana serba putih, duduk berhadapan dengan posisi sedemikian rupa, lalu bersentuhan kening, dan saling memejamkan mata.


Berikutnya foto kelima, pose ala Randy Pangalila dan istri bule-nya, foto yang ia unggah dengan keterangan "Say you won't let go - James Arthur."


Foto keenam, foto prewedding ala Marcel Chandrawinata dan Deasy Priscilia, foto kaus couple warna putih, yang Marcel mencium pundaknya Deasy.


Foto ketujuh, masih dengan pose ala Marcel dan Deasy, dalam foto itu Marcel terlihat posesif memeluk Deasy dengan erat.


Foto kedelapan, foto ciuman gemas ala Angga Wijaya dan Dewi Persik. Oke, cekrek, done. Aku tidak canggung kalau Reza menciumku di pipi, meski di depan banyak orang.


Foto kesembilan, foto ala Andrew White dan Nana Mirdad. Andrew memeluk Nana dari belakang, dan mencium sisi kiri kepala Nana.


Foto kesepuluh, foto ciuman mesra ala Andrew White dan Nana Mirdad lagi, bedanya yang ini foto santai dengan secangkir minuman hangat.


Foto kesebelas, foto dengan pose ala Whulandary Herman dan Niki Ibrahim. Dengan gaun backless warna hitam. Aku merinding dan panas dingin saat bibir Reza menyentuh belakang tubuhku. Sentuhan itu membuat tubuhku bergetar. Hmm... aku malu jika dia menyadari reaksiku itu.


Aku mulai was-was dengan tiga pose berikutnya. Karena aku paham akan kebiasaan sepupu-sepupuku itu yang suka sekali nyeleneh.


Huft! Benar saja. Foto kedua belas, foto dengan pose ala Giorgino Abraham dan Irish Bella yang hampir ciuman. Ampun. Aku itu langsung kepingin kalau melihat Reza berekspresi seperti itu, pingin disosor dan kepingin nyosor. Yasalam. Tahan Nara, please...


Dengan deg-degan, tetap kupraktikkan foto ketiga belas. Foto prewedding ala Baim Wong dan Paula. Kupejamkan mataku dengan harap-harap cemas. Dan seperti dugaanku, Reza langsung menciumku di depan orang banyak. Benar-benar jahil. Bibirku langsung tersenyum sumringah tanpa bisa kutahan.


Foto terakhir, foto keempat belas. Foto yang membuatku gelisah, antara mau dan tidak mau. Mau karena memang aku mau. Tapi di sisi lain takut ibuku marah. Bagaimana tidak? Foto keempat belas itu adalah foto prewedding ala Chicco Jerikho dan Putri Marino. Foto dengan konsep Adam Hawa. Foto hitam putih yang nampak telanjang. Meski sebenarnya tubuhku tetap terbungkus kain. Tapi hasil jepretan foto itu mengatakan tidak demikian. Bila tidak malu mengunggahnya, mungkin Reza juga akan menuliskan kata "Tulang Rusukku" di foto itu, seperti yang ditulis Chicco di akun sosial media miliknya.


Foto itu membuatku cemas, dan Reza menyadarinya. "Nanti aku yang menjelaskan ke Bunda," bisiknya.


Aku terbelalak. Mustahil aku mengizinkan itu. Kegelengkan kepala kuat-kuat, hingga rasanya mau patah. "Jangan. Biar aku sendiri nanti yang bilang ke Bunda," kataku.


Tapi, omong-omong, aku suka bersandar di dada bidangnya yang tanpa terbungkus apa pun itu. Kalau tidak berusaha menahan hasrat kuat-kuat, mungkin imanku yang tipis ini benar-benar bisa goyah. Zona berbahaya.


...♡♡♡...


Masih ada waktu sekitar satu setengah jam sebelum masuk waktu salat jumat. Aku dan Reza ingin melanjutkan acara memadu kasih kami yang sempat tertunda. Meski tanpa adanya bahan obrolan, aku tetap suka berduaan dengannya, walau hanya melihatnya bermain gitar dan mendengarkannya bernyanyi. Saat itu dia menyanyikan lagu Tercipta Untuku miliknya Ungu. Tapi rupanya keberuntungan sedang tidak berpihak padaku, momen itu tak seindah harapanku.


Ada panggilan masuk di ponsel Reza, panggilan telepon dari Erik, begitu tulisan di layar ponselnya, seseorang yang waktu itu belum kukenal. Reza baru saja menerima panggilan itu, ekspresi wajahnya langsung berubah aneh. Aku tidak bisa mendengar apa yang dikatakan seseorang di seberang sana. Aku hanya mendengar ketika Reza menjawab; oh, ya, oke, sama-sama, dan terakhir bye. Jawaban singkat yang tidak bisa kuartikan apa maksudnya.


"Ada yang tidak beres?" tanyaku, persis setelah dia menutup telepon.


Dia berdiri dan meraih tanganku. "Aku belum kepingin membicarakannya sekarang, kalau kamu tidak keberatan," sahutnya lemah.

__ADS_1


Setelah itu dia masuk ke kamar, meninggalkan gitar Ihsan, dan juga aku -- yang masih kebingungan. Sayangnya aku bukanlah orang yang sabar seperti dirinya. Aku tidak tahan meski belum setengah jam dia menyendiri dan tidak keluar dari kamar. Kuketuk pintunya, dan aku masuk. Dia sedang bersandar di tempat tidur, kakinya selonjoran, dan tangannya memeluk bantal. Ekspresi wajahnya masih sama seperti saat meninggalkanku di pinggir kolam. "Ada apa?" tanyaku.


Dia mengedikkan bahu. Wajahnya menyiratkan keputusasaan. "Menurutmu kenapa?"


Aku duduk di depannya, diujung kakinya, tapi dia ingin aku duduk rapat di depannya. Aku pun menurut, dia memeluk dan menyandarkan aku ke dadanya. Kuhela napas dengan berat. "Mas, ada apa? Bicaralah padaku."


"Entahlah," ucapnya, terdengar lelah. "Kita baru saja berbaikan tadi pagi. Aku takut kalau membuatmu kecewa lagi, dan harus mengulang untuk meyakinkanmu lagi."


"Mengecewakanku? Maksud kamu? Bicaralah yang jelas, Mas."


Keningnya berkerut. "Ini tentang Salsya," katanya.


Salsya? Pikirku; pasti bukan berita bagus. Aku mulai merasa tidak nyaman dan melepaskan diri dari pelukannya. "Kenapa dengan Salsya?" tanyaku, berusaha -- kuulangi, berusaha -- untuk tetap tenang.


"Dia sudah berada di Bogor."


"Di Bogor? Apa maksudnya?"


"Dia sudah di restoran. Mulai hari ini dia sudah bekerja di sana."


Aku terdiam. Terpaku. Membeku. Atau apa pun istilah yang ingin kaugunakan. Hatiku rasanya perih tercabik-cabik.


"Kamu tenang, ya? Kita bicara baik-baik," ujarnya.


"Baru tadi pagi kamu berjanji padaku, Mas. Kamu tidak akan menerima dia bekerja. Kamu janji tidak akan membiarkan dia hadir di antara kita."


"Maaf."


Aku menggelengkan kepala dengan muak lalu menghambur keluar dari ruangan itu dan membanting pintu dengan marah. Aku merasa dikhianati dan dibohongi, dan aku takut semua impianku tidak akan kesampaian. Jauh di dalam hati, aku tahu barangkali seharusnya aku tidak semarah itu, tetapi aku termakan oleh kenanganku sendiri. Kenangan tentang ayahku yang pergi, awalnya hanya sebuah rasa kasihan terhadap wanita-wanita jandanya itu. Lalu tertarik, timbul sebuah rasa. Lalu berselingkuh dan berlanjut sampai ke atas ranjang. Aku tahu, pasti pada masa-masa itu ibuku sangat terpukul dan menyedihkan. Di dalam hatiku, aku berjanji aku tidak akan menjadi seperti ibuku. Aku akan meninggalkan sebelum ditinggalkan.


Reza keluar dari kamarnya dan menyusulku. "Sayang, tolong, Kita bicara baik-baik. Ini tidak seperti dugaanmu."


"Diam! Aku tidak mau dengar," bentakku.


Aku lari dan masuk ke kamarku. Sialnya ada Ihsan dan Aarin di dalam sana. Ihsan kaget mendapatiku dalam keadaan kacau. Dia berdiri dan menghampiriku. Lalu memelukku seperti seorang kakak. Satu tangannya di belakangku, dan satunya mengelus-elus kepalaku. Orang yang tidak tahu kalau kami bersaudara pasti akan mengira kami adalah sepasang kekasih. Aku ingat terakhir kali dia memelukku seperti itu, dulu waktu kami masih SMA, sebelum aku belajar bela diri.


"Kenapa?" tanyanya.


"Tidak apa-apa," kataku.


"Jangan bohong. Tolong, katakan padaku. Kenapa?"


Aku menggeleng. "No. I'am ok."


Dari pantulan cermin, aku melihat Reza ada di belakangku. Lalu Ihsan menggeleng dengan gerakan tangan melarangnya masuk.


"Oke. Tidak apa-apa kalau belum mau cerita. Tapi, tolong jangan ke mana-mana. Stay di sini. Jangan kabur. Ingat pesan Bunda, utamakan keluarga. Biarkan mereka menikmati liburan mereka di sini. Oke?" Ihsan diam sejenak. "Sori, bukannya aku tidak mau mengerti keadaanmu. Tapi..."


"Tidak apa-apa. Aku paham," selaku.


"Janji?"


"Iya, janji." Aku mengangguk. "Aku tidak akan ke mana-mana."

__ADS_1


"Sebentar lagi masuk waktu jumat," katanya seraya melirik jam tangannya. "Aku mau pergi sekarang. Tenangkan dirimu," pesannya, lalu ia mengecup kepalaku.


Ihsan menghampiri Aarin, membisikkan sesuatu. Mungkin ia meminta Aarin mengawasiku, menjagaku agar tidak ke mana-mana, atau sejenisnya. Mungkin juga bukan. Entahlah. Dia berlalu setelah mengecup pipi pacarnya itu.


...♡♡♡...


Kami melanjutkan agenda jalan-jalan di hari keempat. Di siang bolong, jam satu siang lewat lima belas menit, kami semua sudah siap berangkat. Hari ini tanpa mobil, semuanya naik motor, sebab rute perjalanan kami tidak terlalu jauh.


Seperti kata Ihsan, di depan semua orang, aku bersikap seolah semua baik-baik saja. Aku masih dibonceng Reza. Di sepanjang jalan kami tidak bicara sama sekali. Aku juga sengaja berkumpul dengan sepupu-sepupuku sebelum kami berangkat, supaya Reza tidak mendekatiku dan tidak mengajakku bicara.


Agenda pertama kami waktu itu mengunjungi Pantai Atuh, pantai tersembunyi dan terpencil. Lokasinya dikelilingi oleh tebing batu yang tinggi, untuk mencapai pantai harus turun tangga yang sangat panjang.


Perpaduan antara air laut, pasir, serta tebing batu membuat Pantai Atuh menjadi primadona. Sebuah surga dunia tempat hunting foto-foto yang instagenic. Pantai ini merupakan kombinasi yang pas antara pasir putih yang membentang luas, air jernih bergradasi, mulai dari warna turquoise di area dangkal, hingga biru tua menuju ke lautan. Air yang sangat jernih sehingga  terumbu karang dan bebatuan di dasar tepian pantai bisa terlihat tanpa harus berenang ke dalam air. Pun ombak yang bergulung-gulung dan deburan suara ombak bagaikan harmoni indah yang menyapa, membuatku tenang dan damai mendengarnya.


Pantai Atuh terkenal karena tebing batunya yang seolah mengepung pantai. Batuan berwarna cokelat muda kekuningan ini berdiri kokoh di berbagai tempat. Tidak hanya di sekitarnya saja, tapi juga di area laut dan di tepi pantainya juga, seolah menjadi benteng yang menghalau terjangan ombak. Di atas tebing pun tumbuh tanaman hijau yang terlihat subur, rerumputan dan semak – semak mendominasi vegetasi, yang membuatnya tampak begitu hidup. Kawasan pantai pun asri, karena tumbuhnya tanaman di hadapan pantai. Perpaduan warna biru lautan, putihnya pasir, hijaunya pepohonan, menjadi pemandangan yang menawan, ditambah lagi tebing yang tinggi menjulang, membuatnya tampak unggul dari pantai lainnya. Kulihat terumbu karang berwarna-warni, menari-nari di antara bebatuan karena diterpa ombak lautan, seolah menyindirku. Ia diterpa ombak setiap saat, tapi ia tetap indah. Berbeda denganku, yang selalu lemah dan takut pada cinta.


Demi menghormati semua orang, terutama Zizi, aku tetap mau melakoni sesi foto di sana. Kali ini bukan demi aku, bukan demi foto prewedding-ku, tapi hanya demi Zizi.


Aarin yang paham keadaan hatiku hari itu membisikkan sesuatu pada Zia. Aku tidak tahu tentang apa. Tapi di sana, Aarin yang menjadi Art Director kami. Dia mengarahkan kami berpose bak Shraddha Kapoor dan Aditya Roy Kapur. Pose saat Shraddha mencengkeram leher kaus Aditya, dan mereka seolah akan berciuman. Aarin nampak sudah mempersiapkan pose itu sebelum kami berangkat ke sana. You are the best partner, Aarin.


Setelah mengambil satu foto itu, semua orang sibuk dengan urusan masing-masing. Aku sengaja menjauh dari Reza. Karena itulah Ihsan dengan setia menemaniku, juga Aarin.


"Foto, yuk? Sudah lama kita tidak foto berdua," kata Ihsan.


Setelah foto berdua, kami foto bertiga, Ihsan di tengah, aku di sisi kanan, dan Aarin di sisi kirinya.


"Aku mau upload," kata Ihsan. "Hashtag-nya bersama dua bidadari cantik. Coba kalau Bunda ikut, jadi hashtag-nya bersama tiga bidadari cantik."


Aku tersenyum mendengar itu. Selama ini aku kehilangan banyak momen persaudaraan kami karena aku sering jauh dari keluargaku. Dan sekarang aku senang, dia satu-satunya saudara sedarah yang kuakui, yang sekarang bisa bersamaku, masih seperti Ihsan-ku yang dulu. Seorang adik yang berperan sebagai kakak untukku. Kurasa usianya bukan dua puluh tiga, sikap dewasanya membuatnya nampak seperti umur tiga puluh dua.


"Aku ke sana, ya," kataku. Aku tidak mau mengganggu momen kebersamaan Ihsan dan Aarin. Kuputuskan untuk menyewa bean bag, kupakai kaca mata hitam, lalu memasang earphone. Memutar musik dengan volume keras dan menutup mata. Hingga aku benar-benar tertidur.


Cukup lama setelah itu, suara Reza membuatku terbangun. Dia melepas earphone dari telingaku. "Ayo, semua orang sudah naik ke atas," katanya.


Rasanya aku linglung. Aku harus mengumpulkan tenaga supaya bisa bangun dari bean bag.


"Kenapa?" tanyanya. Aku menggeleng. "Sini, aku bantu," katanya, dia langsung menarikku untuk berdiri.


Aku yang baru bangun tidur -- masih kehilangan keseimbangan saat berjalan, sebab itu aku terjatuh dengan posisi lutut dan telapak tangan bertumpu di atas pasir. Reza yang berjalan di belakangku dengan cepat menghampiri, meraih lenganku, dan menggandengku sampai ke atas. Meski masih marah, ternyata aku masih saja terlena dengan perlakuannya. Omong-omong, jika di adegan sinetron, pasti si cewek tidak sampai terjatuh karena keburu diselamatkan oleh cowoknya. Tapi tak apalah, meski tak sedramatis serial televisi, setidaknya aku tahu betapa pedulinya Reza padaku.


...♡♡♡...


Rencananya, kami ingin mengunjungi Diamond Beach, tapi rasa-rasanya kami tidak sanggup kalau harus turun, kemudian naik lagi, sebab masih ngos-ngosan dari pantai Atuh. Maka dari itu, kami hanya mengambil foto dari atas tebing. Diamond Beach merupakan pantai yang menawarkan pemandangan tebing-tebing karst dengan bentuk meruncing menyerupai permata.


Aarin yang belum melihat senyumku, tetap pengertian, sebab itu dia menyuruh kami berpose ala Shraddha Kapoor dan Aditya Roy Kapur lagi, pose berdiri saling berhadapan, lalu berciuman tapi di antara bibir kami di sekat dengan telapak tanganku. Yeah, kuakui foto itu lucu, dan sempat membuatku tertawa kecil.


Selanjutnya kami menuju Pantai Suwehan. Yang ikonik di objek wisata pantai ini adalah sebuah batu besar berbentuk lancip berdiri tegak di tengah pantai, batu besar tersebut dikenal dengan nama Batu Jineng, yang menjadi pemandangan indah dan menarik yang khas dari objek wisata ini. Pemandangan indah pantai pasir putih yang masih belum terjamah ini -- berada tersembunyi di balik tebing-tebing curam, dan Batu Jineng yang berdiri tegak itu bentuknya seperti brand terkenal Volcom.


Untuk mendapatkan hasil foto terbaik, kami harus turun ke bibir pantai, kurang lebih dua puluh menit menuruni anak tangga yang cukup curam. Meski sulit, tapi kami berhasil turun mencapai bibir pantai.


Foto terakhir untuk hari ini, masih dengan pose ala Aditya Roy Kapur dan Shraddha Kapoor. Foto mereka di rel kereta, tapi dalam versi kami diganti dengan latar belakang pantai pasir putih yang cantik dengan birunya air laut.


Selesai berfoto, kupasang lagi earphone, bahkan sampai kami pulang. Ternyata, berpura-pura seakan semuanya baik-baik saja -- itu lebih menyakitkan daripada kabur dan hidup menyendiri. Dan rasa-rasanya, hari ini begitu panjang dan waktu berjalan dengan lambat, membuatku benar-benar meresapi rasa sakit di setiap detik yang berjalan.

__ADS_1


__ADS_2