
Reza seperti orang yang benar-benar kehabisan tenaga. Dia sengaja mengurung diri di kamar ibunya semalaman, sampai dia tertidur lelap di sana. Bahkan dia memintaku atau siapa pun untuk tidak mengganggunya, katanya dia ingin istirahat. Akhirnya dia keluar dari kamar setelah matahari terbit; dalam keadaan masih mengantuk, rambutnya terikat tanpa disisir, ia belum mandi ataupun berganti pakaian, masih dengan pakaian yang sama yang ia pakai tadi malam. Untuk pertama kalinya aku melihat Reza dengan tampang kusut, penampilannya saat itu benar-benar berantakan. Aku langsung teringat saat-saat kemarin, saat ibunya berpesan agar aku menemani dan mengurusinya, seakan ia tahu bahwa itu saat-saat terakhirnya di dunia, dia tidak ingin anaknya sendirian tanpa ada yang mengurusi dan menemaninya melewati hari-hari yang terselubung duka.
Kupaksakan bibirku untuk tersenyum. "Pagi, Mas," sapaku. Saat itu aku tengah berdiri di depan wastafel, baru selesai mencuci piring dan cangkir kotor bekas aku dan Mayra sarapan. Reza hanya merespons dengan senyuman kecil, hampir tak terlihat. "Mas Alfi ada di halaman belakang. Nanti siang mereka akan pulang. Kamu mau ngobrol dulu? Nanti aku bawakan sarapan. Kamu mau apa? Nasi goreng, bubur, roti, atau semuanya?" berondongku sambil berjalan menghampirinya. Aku berusaha seceria mungkin di depan Reza, rasa sedih melihatnya seperti itu tak bisa kutepis begitu saja.
"Roti saja, tolong buatkan kopi, ya," pintanya. Suaranya terdengar serak.
Aku langsung menempelkan tanganku di kening dan lehernya, panas. Fix, dia demam. "Kamu demam, jangan minum kopi dulu, ya. Kamu harus minum obat."
"Tolong? Aku butuh kopi," katanya memohon. "Obatnya nanti siang saja, ya?"
Aku menggeleng pelan, bak seorang istri yang ingin menjaga ketat kesehatan suaminya.
"Please, Sayang?"
Ah, dari kemarin malam, jangankan memanggilku Sayang, dia bahkan hampir tidak bicara denganku, bahkan dengan siapa pun.
"Iya, akan kubuatkan," kataku mengalah. Aku tidak ingin berdebat dengannya yang masih diliputi duka.
"Sekalian tolong diantar ke belakang, ya."
"Iya, Mas." Aku mengangguk.
"Trims..."
Sebelum ia melangkahkan kaki, ia sempat mengecup keningku. Meski hanya sekilas, ciuman itu membuat bibirku menyungging senyum dan menaruh harapan agar duka itu segera berlalu.
Reza dan Alfi berdiri di dekat kolam di halaman belakang saat aku membawakan sarapan. Mereka tidak menyadari keberadaanku. Kudengar mereka sedang membahas tentang pernikahan kami.
"Bagaimana dengan rencana pernikahan kalian? Tidak akan diundur, kan?" tanya Alfi.
__ADS_1
Pertanyaan itu membuatku mematung, aku ingin tahu apa jawaban Reza, ini tanggal dua puluh tiga Maret, aku sendiri bahkan tidak berani menanyakan pertanyaan itu padanya.
Reza menggeleng. "Tidak, malah kalau bisa dipercepat."
Aku mengulum senyum. Setengah bahagia mendengar jawabannya yang tidak akan mengundur rencana pernikahan kami, setengah lagi merasa sedih, sebab aku merasa keinginannya agar lebih cepat menikah denganku itu bukan sungguh-sungguh permintaan hatinya.
"Mas, sarapan dulu," seruku. Reza langsung menghampiriku dan mengajak Alfi untuk sarapan bersamanya.
"Maaf ya, aku sudah merepotkan kamu."
"Tidak apa-apa, Mas. Aku senang melakukan ini untuk kamu. Tapi... aku boleh bicara?"
"Apa?" tanyanya, lalu menggigit ujung roti selai serikaya kesukaannya.
"Aku mau kita menikah atas dasar cinta dan kebahagiaan yang kita tunggu-tunggu, bukan sekadar untuk menutupi duka dan kesedihan kamu."
Reza manggut-manggut sambil menatapku. "Aku mengerti."
Siangnya, Alfi dan Mayra berpamitan. Mereka tidak bisa lama-lama meninggalkan Tirta di rumah sepupu Alfi. Sebelum pergi, Alfi merangkul Reza. Melihat pemandangan itu mataku berkaca, haru atau apa aku tak tahu, yang pasti aku rasanya ingin menangis.
"Jaga Reza ya, Ra," pesan Alfi. "Kalau ada apa-apa, langsung kabari kami."
Aku mengangguk. Alfi dan Mayra pun naik ke taksi dan kami saling melambaikan tangan.
Saat aku membalikkan badan, aku menangkap basah Reza sedang menghapus air matanya. Aku tahu, kali ini dia bukan menangisi kehilangannya, melainkan karena kenyataan menyadarkannya bahwa dia hanya sebatang kara, dia tidak memiliki seorang pun anggota keluarga yang sedarah dengannya. Alfi dan Mayra hanya sebatas sahabat meski sudah seperti keluarga sendiri, begitu pun sosok Inara, AKU -- hanya sosok kekasih yang menyandang status sebagai calon istri, bukan dan belum menjadi istri.
Kuhampiri ia, kuraih tangannya dan kutelusupkan jemariku ke ruas jarinya. "Kamu tidak sendiri, ada aku. I am here with you," kataku, bak penggalan lirik lagu You Are Not Alone miliknya Michael Jackson.
"Aku lapar, aku mau makan masakan kamu," katanya, suaranya gemetar.
__ADS_1
"Ayo, masuk. Aku masakkan sup untuk kamu. Tapi jangan memprotes rasanya, ya?"
"Iya, rasanya akan tetap enak kok kalau kamu yang menyuapi."
Kupaksakan selalu tersenyum walau hatiku meringis. Mungkin kaupikir Reza sedang menggombaliku atau sedang bercanda denganku. Tapi sumpah, jika kaumelihatnya sendiri, kau akan tahu, dia tidak sedang menggombaliku apalagi bercanda. Dia sedang berusaha menyembunyikan dan menutupi kesedihannya.
Malamnya, Reza kembali menyendiri di teras belakang, dia duduk termangu di ayunan. Waktu itu kami baru saja selesai makan malam. Aku baru saja menaruh piring kotor di wastafel, tapi Mbok Tin dengan sigap mengambil alih posisiku.
"Non temani Den Reza saja. Ajak masuk, nanti tambah sakit kena angin malam," kata si Mbok, perhatiannya memang luar biasa.
Aku diam sejenak, memikirkan cara membujuk Reza supaya mau masuk. Sekilas terpikir untuk menemaninya sebentar, lalu berpura-pura kedinginan, berharap dia akan iba padaku dan membawaku masuk. Tapi sekelebat kenangan manis sewaktu kami di villa muncul di otakku. Aku mengambil sehelai selimut flanel lebar, dan membuat cokelat panas yang mengepul untuk masing-masing.
Dia tersenyum padaku sewaktu aku datang menghampirinya. Kutaruh cokelat panas di atas meja, di sisi kiri ayunan, lalu duduk di sampingnya. Kami meringkuk berpelukan dalam gelap, terlindung dalam selimut lebar yang nyaman. Satu tangannya memeluk pinggangku, dan satu tanganku kuletakkan dengan aman di dadanya. Kami memandangi bintang-bintang sambil mendengar lantunan merdu Michael Jackson dalam lagu You Are Not Alone, juga Bryan Adams dalam Everything I Do.
Dalam keadaan seperti ini, semesta menuntutku untuk berperan sebagai teman yang paling bijak baginya. Yah, duka ditinggal pergi oleh orang yang dicintai memang bisa dialami oleh siapa saja. Namun, tidak ada kesedihan yang benar-benar sama. Kusadari, penting untuk tidak membandingkan sedih dan duka yang pernah kualami atau dialami oleh orang-orang lainnya di situasi seperti ini. Aku tahu, orang yang sedang berduka tidak butuh dihibur, ia hanya ingin dimengerti, dipahami, dan dimaklumi bahwa kehilangan seseorang itu menyakitkan.
"Kegelisahanku malam itu ternyata isyarat kalau ibu akan pergi. Aku sebatang kara. Aku tidak punya keluarga -- maksudku yang benar-benar anggota keluarga. Seanggota. Sekeluarga. Yang..."
Kulepaskan pelukan dan kutegakkan bahuku, lalu kutatap ia dengan iba. "Aku tahu, aku paham apa yang ingin kamu katakan," ujarku menyalip ucapannya, yang Reza sendiri bingung bagaimana merangkai kalimat yang tepat. "Tapi, kamu punya aku. Kita akan menikah, dan kamu akan punya istri. Selain itu kamu akan punya ibu mertua, punya saudara ipar, ada banyak sepupu, keponakan, tante, oom, dan yang terpenting selain kamu punya istri, kamu akan punya empat orang anak, atau bisa lebih. Tidak masalah kalau aku harus hamil terus," celotehku berapi-api. "Kamu akan punya banyak anak, darah kamu akan mengalir di tubuh mereka. Akan ada Dinata-Dinata kecil yang meramaikan rumah kita. Kamu tidak akan pernah sendirian. Ada aku, aku akan selalu menemani kamu, selalu ada di sisi kamu walau apa pun yang terjadi. Apa pun yang terjadi, Mas. Aku akan selalu ada untuk kamu, ya?" Air mataku kembali menetes.
Reza mengangguk. "Tapi tetap saja, aku menyesal," ucapnya lirih. "Harusnya aku penuhi keinginan Ibu, harusnya aku turuti apa yang dia mau. Dia hanya ingin melihatku menikah." Reza mengalihkan pandang sebelum munuturkan lagi kalimat-kalimat penyesalannya. "Aku bodoh, apa susahnya mengiyakan waktu Ibu minta kita menikah seminggu setelah lamaran itu? Benar-benar bodoh."
Aku tersentak mendengar kalimat penyesalan itu, seolah dia juga menyalahkan aku. Waktu itu dia tidak ingin buru-buru menikah jelas karena melihat reaksiku yang terkejut. Dan, hatiku lebih sakit saat mendengar Reza mengucapkan, "Atau bahkan harusnya aku menikah sejak dulu, supaya Ibu merasakan bahagianya menimang cucu."
Yang dulu bersama kamu itu bukan aku, Mas. Hatiku menjerit. Sakit. Tapi apa dayaku. Aku tidak boleh sakit hati. Kutekan segala rasa yang berkecamuk. Saat ini, bukan hanya sultan yang bebas, orang yang diselimuti kesedihan pun bebas, bebas mau bicara apa dan bebas mau berbuat apa pun.
"Ibu sudah bahagia di atas sana. Ibu ingin kamu juga bahagia di sini. Meskipun Ibu sudah tidak ada di tengah-tengah kita, ia akan tetap melihat kamu menikah. Dia akan melihat kamu dari sana."
Sekali lagi Reza mengangguk. Dia sudah lebih tenang. "Boleh aku tidur di pelukanmu?"
__ADS_1
Aku mengangguk dan senyumku mengembang. Kuajak dia masuk dan kami tidur di kamarnya. Sengaja aku menyetel lagu Bintang, lagu miliknya Anima. Dan aku tahu, Mbok Tin tidak akan berpikir macam-macam perihal aku yang menemani Reza di kamarnya, karena aku tahu ia juga sayang pada Reza. Yang terpenting Reza tertidur, demamnya sembuh, dan dukanya berkurang. Hanya itu yang bisa kulakukan untuk menjaganya. Aku mencintainya, melebihi diriku sendiri