
Awalnya aku tidak pergi jauh, hanya ke kedai kopi kecil di sekitar rumah. Aku memesan caramel latte dan membiarkan aroma kopi segar menenangkan denyut nadiku yang berpacu karena mengingat Reza tidak kunjung memberikan keputusan untuk mendepak Salsya dari kehidupan kami, sementara kelebat kekacauan yang lebih hebat mengancamku dalam waktu tiga bulan. Salsya akan melahirkan pada awal November.
Lima belas menit kemudian, aku menyadari ada yang mengikuti. Aku tidak tahu namanya, tapi aku mengingat wajahnya, salah satu karyawan Reza yang pernah bertemu denganku sewaktu ia mengantar mendiang ibu mertuaku -- sehari setelah Reza melamarku dan aku ribut dengan ayahku. Aku memang lemah mengingat apa yang pernah telingaku dengar, tapi aku memiliki ingatan yang sangat tajam atas apa dan siapa yang pernah kulihat, seperti rekaman sebuah kamera pengintai.
Bagus. Reza tidak mengirimkan Erik, tapi mengirimkan orang lain sebagai gantinya.
Sebenarnya aku tidak marah untuk hal ini. Aku bisa menganggap orang itu tidak ada selama dia berada jauh beberapa meter jauhnya dariku. Tapi sepercik ide untuk menyentil mental Reza tiba-tiba muncul di otakku ketika aku melewati kantor biro hukum tempat Rizki bekerja yang terletak di lantai tiga sebuah bangunan mengilap, tidak jauh dari Mall Taman Anggrek -- tempat yang sebenarnya ingin kutuju. Dinding-dindingnya terbuat dari kaca, karpetnya sewarna karamel, dan perabotnya terbuat dari jenis kulit licin yang membuat pantatmu selalu merosot kalau duduk di kursinya.
Saat aku tiba di sana, resepsionisnya menanyaiku -- apakah aku sudah membuat janji temu dengan Rizki sebelumnya.
"Belum," kataku. "Tolong katakan adiknya -- Inara Satria -- ingin bertemu."
Ah, secara tidak langsung aku telah mengakui bahwa dia adalah saudara angkatku, meski sebenarnya aku tidak suka.
"Mari," kata resepsionis itu, persis setelah ia meletakkan gagang telepon dari tangannya.
Rizki Satria Anggara bangkit dari balik mejanya yang superbesar waktu aku masuk ke ruangannya. "Hai," dia menyapaku.
"Aku harap kedatanganku tidak mengganggu."
"Tentu, sama sekali tidak. Jadi, hal apa yang membawamu kemari?"
Aku menggeleng. "Tidak ada," kataku. "Aku kebetulan lewat sini dan berpikir untuk mampir."
Rizki menunduk dengan memasukkan kedua tangannya ke saku, dia nampak santai untuk seorang pengacara yang selama ini kupikir merupakan pribadi yang kaku, atau berengsek seperti ayahku. "Sayangnya matamu tidak berkata demikian, Dik."
Aku tergelak. Dia menyebutku Dik. Itu terkenal aneh sekaligus lucu. "Yeah. Sejujurnya aku berpikir mungkin aku akan memerlukan bantuanmu. Maksudku, bukan sekarang. Mungkin suatu saat. Boleh aku menyimpan kontakmu? Kalau kamu tidak keberatan."
"Kamu sedang ada masalah? Dengan... suamimu?"
Hening. Aku tidak tahu mesti mengatakan apa.
__ADS_1
"Baiklah. Hubungi aku kapan pun kamu butuh bantuanku." Rizki membuka lacinya dan memberikan kartu namanya padaku. "Tapi aku ingin kamu bahagia. Jangan gegabah mengambil keputusan. Oke?"
Aku mengangguk. "Ya. Pasti. Kalau begitu, aku permisi -- Kak."
"Senang bertemu denganmu."
"Aku juga," sahutku.
Aku menyimpan kartu nama itu lalu melangkah pergi.
...♡♡♡...
Aku menghabiskan waktu soreku di Mall Taman Anggrek. Awalnya aku ingin ke arena ice skating, tapi tidak jadi. Aku belum pernah mencobanya dan tiba-tiba takut kalau ternyata aku bebal, dan hanya akan menghabiskan waktu dengan jatuh - berdiri - dan jatuh lagi.
Kualihkan tujuan ke supermarket dan membeli banyak barang yang sengaja kubeli dalam jumlah yang tak sewajarnya untuk kebutuhan dua orang. Sewaktu aku memilih barang-barang untuk peralatan mandi dan hendak memasukkannya ke keranjang trolley, aku kaget tiba-tiba melihat Reza yang tahu-tahu berdiri di dekatku dan siap-siap mendorongkan trolley belanjaanku.
"Kamu? Kok ada di sini?" Aku mengenalinya meski ia memakai masker.
Pembohong. Kamu takut aku tidak pulang. Aku tahu itu. "Baguslah," kataku. "Aku tidak perlu susah-susah mendorong trolley ini. Silakan."
"Kamu belanja sebanyak ini untuk apa?" Reza mulai heran.
"Tidak apa-apa. Untuk stok saja," jawabku.
"Sebelum ke sini, kamu pergi ke mana saja tadi?"
Kena. Itu pertanyaan yang kutunggu-tunggu. "Aku ke sini mau belanja, bukan mau mengobrol."
Reza diam. Walau begitu dia berusaha semanis dan semesra mungkin denganku. Aku menyadarinya, tapi aku pura-pura -- biasa-biasa saja, aku tidak menolaknya dengan kasar. Misalnya; sewaktu aku hendak menggapai barang di rak yang tinggi, Reza mengangkat tubuhku hingga aku berhasil menggapai barang-barang itu. Padahal dia bisa mengambilkannya langsung tanpa harus mengangkatku. Kemudian, sewaktu aku membeli barang-barang yang banyak varian rasa atau aromanya, dia akan berkomentar yang A, tapi aku memilih yang B. Contohnya; sewaktu aku memilih pengharum ruangan, antara aroma jeruk atau aroma apel, Reza berkomentar supaya aku memilih aroma jeruk, tapi aku sengaja memilih aroma apel. Contoh lainnya; ketika Reza haus dan membuka botol greentea kesukaannya, aku malah membuka botol air mineral. Dan terakhir, setiap kali dia berusaha menempel padaku, seperti saat ia menggenggam tanganku, merangkul pinggang atau pundakku, aku menghindar sehalus mungkin, seperti pura-pura mencari sesuatu di rak yang lain. Tentang semua itu -- aku bukan sedang menguji kesabarannya. Aku hanya ingin dia sadar bahwa aku bisa pergi kalau dia tidak menjaga perasaanku baik-baik.
Dalam perjalanan pulang, waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Aku sengaja mengajaknya untuk makan pecel lele di pinggir jalan, dengan alasan aku capek dan merasa tidak sanggup kalau harus memasak untuk makan malam, plus aku sudah lapar sebagai alasan tambahan. Kami pun mampir ke sebuah tenda dan makan di sana.
__ADS_1
Sembari menunggu pesanan, Reza menjulurkan tangan kirinya di atas meja. Dia ingin menggenggam tanganku dan aku sengaja membiarkannya beberapa menit -- sebelum aku mengatakan beberapa hal yang sangat ingin kusampaikan, meski itu akan sedikit menyakiti hatinya.
Kupandangi tanganku yang ia genggam dan menggumamkan hal pertama yang ingin kukatakan padanya -- tanpa mengalihkan pandangan dari tanganku yang ia genggam. "Ingat tidak, pertama kali kita makan berdua di tenda seperti ini? Waktu itu tanganku sakit, dan itu karena trauma kamu. Sekarang, yang sakit hatiku, tapi penyebannya sama, sama-sama karena trauma kamu."
Halus seperti godam, ucapanku yang terang-terangan membuat kepala Reza tersentak tegak, dan kulihat pipinya merah padam. "Maksudnya?"
Kutarik tanganku dan aku menatap matanya. "Aku tahu tentang trauma kamu atas apa yang menimpa Aruna."
"Alfi menceritakannya?"
Aku mengangguk. "Aku berusaha mengalahkan traumaku demi cinta, demi impianku untuk bahagia bersama kamu. Bisa kamu menghargai itu?"
Reza diam -- dia bingung harus memberikan jawaban apa kepadaku.
"Aku ingin kamu juga mengalahkan trauma kamu, demi cinta kita, demi rumah tangga dan demi kebahagiaan kita. Bisa?
Reza masih diam dan masih kebingungan.
"Bukankah aku -- istrimu, lalu rumah tangga kita, dan kebahagiaan kita adalah prioritas utama? Bukannya Salsya. Iya kan?"
Reza mengangguk. "Yeah. Aku mengerti maksudmu," katanya.
"Lalu? Kamu bisa kan benar-benar memutuskan hubunganmu dengannya?"
Reza tidak menjawab lagi. Di saat bersamaan makanan pesanan kami datang.
"Kuberikan kamu waktu sampai besok pagi untuk berpikir dan menentukan sikap. Oke?"
Reza mengangguk.
"Baiklah, lupakan dulu semuanya. Silakan makan."
__ADS_1
Sebenarnya, aku juga tidak percaya aku berhasil mengatakan semua ini, tapi kuharap dengan segenap hatiku, ini akan membawa kami ke masa depan yang lebih jelas.