
Kami pergi ke Surabaya Carnival Park lagi pada jam setengah lima sore. Kali itu Reza mengajakku ke wahana remaja. Wahana remaja di Surabaya Carnival Park cenderung bernuansa penuh tantangan, menguji adrenalin, dan tentu saja menegangkan. Dia mengajakku menguji adrenalin kami, merasakan sensasi menegangkan wahana-wahana permainan di sana.
Wahana pertama yang kami jajali adalah Bledek Coaster. Kecepatan wahana itu membuatku menjerit sejadi-jadinya, dan itu membuat Reza tertawa sampai terpingkal-pingkal. Dia menertawaiku tanpa ampun. Betapa senangnya dia hari itu. Begitu pun denganku, aku seperti tenggelam ke dalam dunianya.
Berikutnya, kami menjajal wahana Munyer Ser dan Blue Shake, keduanya sama-sama membuatku merasa jera. Sumpah. Aku menyerah dan tidak mau lagi menguji adrenalinku. Bukan hanya karena takut, tapi juga karena menyiksa fisikku, kepalaku didera rasa pusing yang teramat sangat dan perutku terasa mual. Begitu pun dengan Reza, hanya saja dia belum merasakan mual saat itu. Meski begitu, dia tetap terlihat sangat bahagia, aku pun ikut bahagia melihatnya.
Setelah sama-sama pulih, dia mengajakku untuk naik wahana gondal gandul. Tetapi aku menolak. Meskipun dia memaksa, aku bersikeras menolaknya. Akhirnya dia menjajalnya sendiri. Wahana itu seperti kursi ayunan. Kau cukup duduk dan berpegangan pada dua rantai yang ada di kedua sisinya. Saat wahana itu diputar, kau akan melambung dengan rotasi melingkar tiga ratus enam puluh derajat dan dengan kecepatan tinggi. Aku ingat, Reza sampai muntah begitu banyak setelah turun dari sana. Karena itu kami membutuhkan waktu cukup lama untuk memulihkan dia dari rasa mabuk. Wajahnya pucat pasi, keadaan itu mengharuskan aku mengusapkan minyak kayu putih ke punggungnya.
"Enak? Coba sekali lagi, biar keluar semua isi perut kamu," kataku jengkel.
Suasana malam di Surabaya Carnival Park begitu indah karena dihiasi lampu-lampu dan lampion dengan berbagai karakter. Saat memasuki kawasan yang penuh dengan lampion berbagai macam karakter itu, Reza meraih tanganku dan menggenggam tanganku di sepanjang jalan. Awalnya aku merasa kikuk, agak tercengang dan sekaligus berdebar senang.
"Kamu boleh melepas genggaman tanganku kalau kamu keberatan," katanya sambil terus berjalan dan menggandeng tanganku.
Genggaman tangan itu membuatku deg-degan, sampai aku tidak bisa memberikan respons dengan kata-kata. Tetapi yang pasti, aku tidak melepaskan tanganku dari genggamannya, justru aku membalasnya dengan mengeratkan genggaman tanganku. Sekilas kuperhatikan ada senyuman yang tersungging di bibirnya. Itu untuk pertama kalinya seseorang menggandeng tanganku, mengajakku bergandengan dengan langkah kaki perlahan, dia di sampingku bak malaikat penjaga. Meski tak berani lagi menoleh, aku dapat merasakan tatapan matanya. Mual dan pusing benar-benar tak lagi mendera, digantikan dengan debaran yang semakin menggila, plus senyuman yang tak henti mengembang sempurna.
"Status hubungan kita apa?" tanya Reza seraya menoleh ke arahku. Aku menaikkan kedua alisku. "Status hubungan kita apa?" Dia mengulangi pertanyaannya dengan pelan.
Bagaimana mau menjawab kalau wajahku terasa merah begini. Aku malu.... "Mmm... begini, selagi belum mendapatkan restu dari orang tua masing-masing, status kita tetap sebagai teman. Aku adalah teman kamu, dan kamu adalah temanku. Seandainya tidak sesuai harapan, aku tidak mau ada kata putus di antara kita. Kita tetap berteman."
"Teman? Oke. Teman tapi mesra atau teman rasa pacar?"
__ADS_1
"Terserah kamu."
"Kalau begitu dua-duanya. Teman tapi mesra, juga teman rasa pacar."
Aku geleng-geleng kepala dan tersenyum karena sikap pemuda tampan itu. Kami pun lanjut mengobrol sambil berjalan-jalan dari satu lampion ke lampion berikutnya. "Aku boleh tanya-tanya tentang cinta pertama kamu?" tanyaku hati-hati. Dia menganggukkan kepala tanda setuju. "Kamu dulu pasti sangat mencintai pacar kamu, ya kan?"
"Iya, dulu. Tapi sekarang sudah tidak lagi."
"Boleh tahu kenapa dulu kamu tidak berusaha memperjuangkan hubungan kalian? Apa ada alasannya?" tanyaku sedikit kepo.
Dia mengedikkan bahu. "Sebenarnya bukan tidak mau memperjuangkan," ucapnya seperti mengeja kata satu persatu. "Tapi... menurutku untuk apa menjalin hubungan tanpa restu orang tua? Restu orang tua kan penting. Hubungan itu untuk mengikat dua keluarga, bukan sebaliknya, bukan untuk memutus hubungan lama demi hubungan baru. Percuma kalau dia menjadi istriku, tapi hubungannya dengan kedua orang tuanya jadi renggang dan tidak harmonis lagi. Dan, untuk apa juga aku menempatkan diriku di antara orang-orang yang tidak akan pernah menyukaiku? Could you understand, Baby?"
Dia menatapku sesaat, lalu menggaruk dagunya yang mendadak gatal. "Mungkin bisa. Tapi aku tidak mau memaksakan keadaan," katanya. "Lagipula itu semua sudah menjadi masa lalu. Sudah lewat. Kami sudah di jalan masing-masing. Dia sudah punya suami, dan sudah menjadi istri seseorang. Singkatnya; kami tidak berjodoh."
"Mmm... kamu tidak pernah menyesal setelah kehilangan dia?"
Dia mengedikkan bahu lagi. "Kalau kamu menanyakannya saat dulu, mungkin aku akan menjawab kalau aku menyesal. Mungkin."
"Kalau sekarang, bagaimana?"
"Tidak sama sekali. Tidak ada penyesalan sama sekali. Tidak sedikit pun," jelasnya dengan tegas dan penuh keyakinan.
__ADS_1
"Oke, pertanyaan terakhir. Kalau seandainya itu terjadi lagi dalam hubungan kita, bagaimana?"
Reza menghentikan langkahnya. Dia mengernyitkan dahi dan bertanya apa maksudku, seolah dia tidak mengerti. Dengan sedikit jengkel, kulepaskan tanganku dari genggamannya, Aku melangkah ke kursi taman yang bahannya terbuat dari besi-besi kokoh dan dicat warna hitam. Aku duduk di situ.
Reza melangkahkan kakinya ke arahku. Aku mengira dia akan duduk di sampingku. Ternyata tidak. Dia malah duduk berjongkok lutut di hadapanku. Ditangkupnya kedua tanganku dalam genggamannya. Wajahnya mendongak ke atas, memandangiku dengan lekat.
"Kamu ngerti. Apa aku perlu memperjelas pertanyaanku? Oke, biar kuperjelas. Ehm, seandainya orang tuaku atau orang tua kamu tidak merestui hubungan kita, apa kamu juga tidak akan memperjuangkan hubungan kita? Menyerah begitu saja seperti kamu menyerah pada cinta pertamamu?"
Reza menatap jauh ke dalam mataku, seolah dia bisa mengetahui isi hatiku dari tatapannya itu. Seolah dia bisa membaca pikiranku bahwa aku ingin dia berjuang, aku ingin dia memperjuangkan aku, demi aku, demi masa depannya bersamaku. Keinginan untuk menjadi bagian dari masa depannya mulai muncul perlahan.
"Aku akan memperjuangkan kamu. Aku janji. Aku pasti akan memperjuangkan kamu," ucapnya meyakinkan. Ia menundukkan wajahnya dan mengecup lembut punggung tanganku.
Oh Tuhan, kecupan itu membuatku melayang. Ada gelembung kebahagiaan yang meluap-luap di dalam dadaku. Ah, Ingin aku memeluk tubuhnya erat-erat. Tapi aku harus mengontrol diri, dan sejauh ini aku pandai melakukan itu.
"Omong-omong, ibuku pasti merestui. Kalau ibumu, bagaimana?" tanyanya.
"Bunda? Bunda juga pasti merestui," kataku. "Tapi bukan restu Bunda yang menjadi tantangan bagi kamu. Tapi aku, karena masa laluku sering membuatku sensitif hampir pada semua hal. Dan aku tidak tahu seberapa sabar kamu menghadapiku."
Dia tersenyum. "Aku akan berusaha, Sayang."
Eh? Sayang?
__ADS_1