CCI

CCI
132


__ADS_3

Kukira demamku kali ini seperti yang sudah-sudah, hanya butuh istirahat dan akan segera sembuh. Tapi ternyata kali ini tidak seperti biasanya. Suhu tubuhku malah meningkat drastis, aku sampai menggigil di tengah malam. Waktu hampir menjelang dini hari dan Reza tengah tidur lelap, aku terpaksa membangunkannya sebab aku sudah tidak tahan menahan dingin di saat suhu tubuhku sedang panas-panasnya.


"Dingin.... Tolong peluk aku."


Reza yang baru terbangun langsung menyentuh kening dan leherku, dia langsung panik mendapati suhu tubuhku yang tinggi. Tapi dia berusaha tenang, sambil memelukku, dia langsung browsing di internet cara mengatasi demam dan menggigil.


"Tunggu di sini, aku buatkan minuman hangat supaya kamu enakan." Dia langsung mematikan AC dan lekas ke dapur untuk membuatkan teh hangat dan mengambilkan air hangat untuk mengompresku. Setelah itu dia langsung melepaskan kausnya dan kembali memelukku plus menyelubungi tubuh kami dengan selimut.


Setelah menggigilku reda dan suhu tubuhku masih saja tinggi, Reza memutuskan untuk membawaku ke rumah sakit. Ia pun langsung menelepon Erik dan memintanya segera menjemput kami. "Kita harus ke rumah sakit," katanya. "Sabar, ya. Kita tunggu Erik."


Rasa-rasanya aku sudah kehilangan kefokusanku, aku hanya ingat sepintas kalau Reza terus memelukku, bahkan sewaktu di mobil dalam perjalanan ke rumah sakit.


Aku mendapatkan kembali kesadaranku sewaktu aku sudah berada di rumah sakit. Dan aku lega, setelah dokter memeriksa keadaanku -- aku dinyatakan hanya demam biasa dan kandunganku pun baik-baik saja. Aku tidak bisa membayangkan betapa banyak orang yang kukecewakan andai terjadi hal buruk pada kandunganku.


"Maafkan aku. Aku lalai menjaga diriku sendiri."


Menggeleng. Kali ini Reza tidak mau aku menyalahkan diriku sendiri. "Aku yang salah. Aku yang abai dan tidak tegas terhadap kamu." Dia menggenggam tanganku dan memintaku berjanji. "Kita harus lebih awas. Jangan abai dan jangan lalai lagi. Oke? Janji?"


"Ya. Aku janji. Tapi tolong jangan beritahu siapa pun kalau aku masuk rumah sakit, apalagi Bunda dan Ihsan. Aku tidak mau mereka menyalahkanmu nanti."


Reza mengangguk dan menyetujui permintaanku. "Aku berencana mengajak Mbok Tin tinggal bersama kita. Aku ingin kamu bed rest total."


"Kita bisa mempertimbangkan itu nanti setelah aku lahiran. Aku masih ingin menikmati waktu kita berdua. Aku janji, aku tidak akan memporsir tenagaku. Aku akan banyak istirahat. Ya? Aku mohon, Mas?"


Reza meringis. "Aku baru saja tadi janji akan lebih tegas ke kamu. Sekarang kamu ngeyel lagi. Dikasih enak kok tidak mau, sih?"


Aku nyengir. "Enakan berdua dengan kamu. Bebas."

__ADS_1


Dia menatapku dengan tanda tanya. "Bebas? Maksudnya?"


"Sok polos."


"Aku memang polos. Coba jelaskan, bebas apa?"


"Bebas mengekspresikan cinta," kataku terus terang. "Aku suka kebebasan kita. Kita bebas mau melakukan apa saja, kapan saja, juga di mana saja. Dan... bebas berekspresi tanpa harus menahan diri, tidak perlu khawatir atau malu kalau ada yang melihat atau mendengar saat kita bermesraan. Sejak kita kembali ke Jakarta, kita baru dua bulan benar-benar tinggal berdua. Tapi karena keadaan -- kita terpaksa harus berpisah. Jadi, aku ingin menghabiskan lima bulan ke depan hanya berdua dengan kamu."


Tepat di saat itu, dia mengerti sepenuhnya apa yang kumaksud. Aku baru jatuh cinta, dan cintaku sedang hangat-hangatnya. Dan aku sangat bahagia, sebab Tuhan memberikan aku kesempatan terindah. Kehidupan cinta yang terasa seperti bulan madu setiap hari.


...♡♡♡...


Satu minggu sejak aku meninggalkan rumah Ihsan, untuk pertama kalinya hari itu ibuku menelepon Reza dan menanyakan kabar kami. Reza yang tidak mau ada kebohongan lagi memilih untuk berterus terang, dia mengatakan kalau aku sedang berada di rumah sakit. Tentu saja, tidak sampai setengah jam ibuku dan Ihsan langsung muncul di rumah sakit. Kebetulan itu adalah hari minggu dan Ihsan ada di rumah, dan itu juga pertama kali Ihsan dan Reza kembali bertemu semenjak kejadian heboh waktu itu. Tapi entah kenapa malah aku yang cemas. Tatapan mata Ihsan masih dipenuhi dengan kebencian terhadap Reza. Bahkan dia tidak mau menerima jabat tangan Reza sewaktu Reza mengulurkan tangan.


Aku melirik ke arahnya. "Hei, Oom Ihsan," sapaku canggung dan berusaha seceria mungkin.


"Kenapa kamu sampai sakit? Kamu kurang istirahat? Kelelahan? Kamu disuruh kerja berat oleh dia? Hmm?" cerocos Ihsan tanpa peduli pada sanggahanku.


Dia balas menatapku. "Dia sudah berjanji akan menjagamu dengan baik. Ini bahkan baru seminggu..."


"Nak, tidak perlu ribut," ibuku menegur dan itu membuat Ihsan memilih keluar dari ruang rawatku.


Kepalaku jadi pusing melihat sikap saudaraku yang seperti itu. Rasa tidak terimanya pada perlakuan kasar Reza terhadapku menanamkan kebencian yang seolah tak bisa terhapus. "Aku mau keluar. Aku harus bicara dengannya."


Ibuku melarang, tapi aku memohon. Aku tidak bisa membiarkan saudara kandungku bermusuhan dengan suamiku sendiri, karena mereka adalah dua lelaki terpenting dalam hidupku. Dan untung saja Ihsan tidak ke mana-mana. Dia hanya duduk di kursi tunggu di luar ruangan.


"Ihsan," kataku mulai bicara tanpa basa-basi. Aku duduk di sampingnya dan menggenggam erat tangannya. "Aku sedang berusaha memperbaiki rumah tanggaku. Aku tidak ingin anak-anakku kelak tumbuh besar sepertiku, gadis korban broken home yang rusak mental gara-gara masa lalu yang buruk. Aku tidak ingin mereka hidup tanpa sosok ayah. Dan aku juga tidak ingin mereka melewati masa kecil yang serba kekurangan seperti kita dulu. Tolong kamu mengerti itu."

__ADS_1


Ihsan meringis. "Ada aku. Aku bisa menghidupi kalian semua."


"Tapi kamu tidak bisa menjadi sosok ayah untuk anak-anakku."


"Omong kosong. Aku bisa berperan sebagai paman sekaligus ayah untuk mereka."


"Itu--"


"Atau kamu menikah lagi. Bang Aris jelas masih mengharapkanmu. Bahkan, Rizki sepertinya lebih baik daripada lelaki berengsek itu."


Aku menatapnya dengan nanar. Aku tidak pernah menyangka kebenciannya pada Reza sudah mengakar kuat sampai-sampai dia bisa berbicara seperti itu terhadapku.


Kuhela napas panjang. Tidak ada gunanya memperdebatkan perkataan Ihsan yang sudah terlanjur emosi. Aku melorot ke lantai, bersimpuh di kakinya. Aku yakin, dia tidak akan sanggup apalagi membiarkan aku sampai menyembah kepadanya.


"Apa yang kamu lakukan? Berdiri sekarang," katanya sambil meraih lenganku.


Aku yang tahu caraku pasti berhasil -- berusaha sekuat tenaga memeluk kakinya. "Maafkan suamiku. Tolong? Demi aku."


Ihsan mendengus sebal. "Iya. Oke," sahutnya dengan nada kesal dan terpaksa. "Bangun, kembali ke kamar sekarang."


Aku menelan ludah dengan susah payah. Kali ini Ihsan-lah yang membuatku menangis, meski aku sadar betul hatiku sama sekali tidak sakit dan air mata itu tidak akan berlangsung lama. "Kakiku keram," kataku.


Ihsan mendesah. "Gendong istrimu," katanya pada Reza yang berdiri di pintu.


Reza mengangguk dan langsung menghampiriku. "Tunggu," kataku. Aku kembali duduk ke kursi dan meminta mereka untuk duduk di samping kanan dan kiriku, lalu kugenggam tangan -- kedua lelaki yang kucintai itu. "Mas, aku mau kamu meminta maaf pada Ihsan. Aku mau tangan kalian berjabat, bukan saling memukul."


Bertolak belakang dengan sikap kasarnya padaku satu setengah bulan yang lalu, kali ini Reza menunjukkan sikap lelakinya yang gentle. Dia tidak keberatan untuk meminta maaf pada Ihsan, sekaligus pada ibuku, jelas itu juga karena dia menyadari sepenuhnya -- memang dirinyalah yang bersalah. Pun Ihsan, meski agak terpaksa dia mau memaafkan Reza. Atau mungkin hanya berpura-pura saja untuk membuatku senang? Hanya dia dan Tuhan yang tahu.

__ADS_1


"Aku mencintai kalian. Sini, peluk aku."


Uh, senangnya. Mereka mau menuruti mauku tanpa protes sedikit pun. Tapi itu tidak lantas merubah sikap Ihsan menjadi manis. "Balik ke kamar sekarang," cetusnya, tetap dengan nadanya yang sebal. Euwww!


__ADS_2