
Aku pergi sebentar.
Tolong jangan ke mana-mana.
Telepon aku kalau kamu butuh sesuatu.
Aku menemukan secarik kertas bertuliskan pesan itu di atas meja kecil di samping bed ketika aku selesai mandi. Aku tidak tahu Reza pergi ke mana, juga tidak berniat untuk bertanya.
Sepeninggal Reza, aku memilih untuk menelepon ibuku dan menceritakan apa yang sudah terjadi. "Nara bingung, Bund. Nara sudah berusaha mempertahankan keutuhan rumah tangga ini. Sudah berusaha semaksimal mungkin menjadi istri yang baik untuk Mas Reza. Nara sudah berkali-kali memaafkan dia. Tapi, tetap saja -- ini yang Nara dapat. Nara harus bagaimana?"
Aku tahu ibuku menghela napas dalam-dalam di seberang sana, desahannya sampai terdengar olehku. "Kata orang, kita harus mempertahankan rumah tangga kita apa pun yang terjadi. Itu benar. Tapi tidak ada salahnya kalau pada akhirnya kita menyerah. Kalau segala daya dan upaya sudah kita lakukan, bahkan berulang-ulang, tapi pasangan kita tidak bisa menghargai itu, Bunda tidak akan mencegah keputusan kamu, Nak. Kamu boleh berpisah. Karena sekuat apa pun kamu mempertahankan sesuatu yang bukan ditakdirkan untukmu, pada akhirnya akan tetap terlepas. Begitu pun sebaliknya, meski kamu berusaha melepas dan menghindari apa yang memang ditakdirkan untuk kamu, dia akan tetap kembali padamu. Jadi, Bunda minta kamu jangan membebankan pikiran kamu dengan hal-hal tentang Salsya lagi. Anggap saja begini, terserah Reza mau melakukan apa pun dengan perempuan itu. Kalau pada akhirnya dia terbukti menjalin hubungan serius dengannya, ya mau bagaimana, kamu lepaskan dengan ikhlas. Dan, Bunda harap mulai sekarang kamu fokus saja pada kandunganmu. Oke Sayang? Dunia kita tidak akan hancur hanya karena kehilangan seorang lelaki. Tapi ketika hal buruk terjadi pada buah hati kita, dunia langsung terasa kiamat. Bunda tidak mau kamu mengalami hal itu. Kamu paham? Bisa janji untuk menuruti pesan Bunda?"
"Mmm, ya. Nara janji, Bund. Pasti. Nara akan jaga diri dan jaga kandungan Nara baik-baik."
Berkat nasihat itu, aku memutuskan untuk berlaku sama seperti Reza; seperti koin yang memiliki dua sisi. Bukan pada karakterku, tapi pada sikapku. Di satu sisi aku akan tetap bersikap sebagaimana mestinya seorang istri terhadap suami. Tapi di sisi lain, aku juga akan mempersiapkan diri dan mentalku jika pada akhirnya aku harus menempuh jalan menuju perpisahan. Sebab itu aku memutuskan untuk menelepon Rizki setelah mengakhiri telepon dengan ibuku. Setelah berbasa-basi seadanya, aku langsung menanyakan persyaratan untuk mengajukan cerai di pengadilan. Sayangnya, waktu itu Reza sudah kembali sebelum Rizki menjawab pertanyaanku. Bahkan Reza sempat mendengar pertanyaan itu.
"Maaf, Kak. Tolong whatsapp saja, ya. Aku harus menutup teleponnya sekarang. Aku mau ke toilet. Mual. Maaf, ya."
Tut! Aku langsung menutup sambungan telepon, dan untuk menghindari Reza aku pun pergi ke toilet -- cukup lama.
"Sayang, kamu lagi apa? Jangan lama-lama di dalam. Kamu belum sarapan."
What? Aku terkejut karena sikap Reza yang kembali biasa saja, bahkan setelah tertegun karena mendengar pertanyaanku pada Rizki. Begitu pun saat aku membuka pintu, Reza masih berdiri di depan sana, lalu meraih dan memapahku kembali ke bed.
"Aku mau duduk di sofa," kataku. Aku baru hendak mengambil nampan sarapanku, tetapi Reza dengan sigap melarangku. Dia memintaku untuk duduk, sementara dia mengambil nampan itu dan sebotol air mineral untukku.
Aku menggeleng. "Kamu tidak usah repot-repot. Aku bisa sendiri, kan aku tidak sakit."
Dia tersenyum, duduk di sampingku lalu menyuapiku. "Aku tahu, Sayang. Tapi aku mau melakukan ini. Tolong, biarkan aku mencintai kamu dengan segala cara yang aku bisa. Aku ingin kita memberikan kesempatan satu sama lain untuk memperbaiki rumah tangga kita. Aku dengar kok, pertanyaan kamu tadi ke Rizki. Tapi tidak apa-apa. Kamu juga belum bisa mengajukan perceraian sekarang. Dan, soal aku melanggar sumpah, aku sadar aku salah. Bahkan seharusnya aku bersumpah untuk tidak menemuinya, bukannya tidak memedulikannya. Aku harusnya tahu mana yang bisa kulakukan dan mana yang tidak. Tapi... kalau akhirnya aku mati, aku harap -- aku mati saat aku bersama kamu, dan... kalau bisa, setelah aku melihat anak-anakku lahir."
Ya Tuhan... air matanya menetes lagi. Sementara hatiku terasa nano-nano, perasaanku tidak jelas. Aku tidak mengerti, aku merasakan ada getaran saat mendengarkan ucapan suamiku, tapi juga terasa sakit seperti dicubit-cubit, berbarengan dengan rasa sesak yang memenuhi rongga dada. Dan pada akhirnya menghasilkan tetesan air mata di mataku sendiri.
Apa ini kamu yang sebenarnya, Mas? Kamu yang tulus, atau... kamu sedang berpura-pura agar hatiku tersentuh? Rasanya sulit sekali untuk mengenali kamu saat ini. Kenapa cerita cinta kita menjadi serumit ini?
Kuusap air mataku dengan segera. "Kamu sudah menelepon Erik?"
__ADS_1
Dia menggeleng pelan. "Belum. Mungkin tidak jadi."
"Tidak apa-apa kok. Atau kamu mau langsung menemui Salsya? Ajak dia belanja. Kalian bisa membeli semua yang dia butuhkan." Ya Tuhan... sakit sekali rasanya. Aku tahu aku tidak bisa ikhlas, aku malah menjadi orang yang munafik.
Reza tertegun, sejenak kemudian dia mengulum bibirnya -- menahan perasaannya yang juga sakit. "Aku tidak akan pergi."
"Oke. Terserah kamu. Kamu bisa suruh Erik saja. Tidak baik kalau perasaan bersalah dan rasa kasihanmu tidak diungkapkan. Takutnya nanti jadi penyakit hati. Itu juga akan menjadi beban pikiranku kalau aku melihat kamu murung terus. Anak-anakmu juga tidak akan suka melihatmu seperti itu. Mereka membutuhkan perhatianmu juga. Butuh dipikirkan juga oleh kamu."
Dia menaruh mangkuk buburku, lalu menyentuh dan mencium perutku. Saat itu aku tidak mendengar pasti, tapi sepertinya dia menggumamkan permintaan maaf pada anak-anaknya.
"Aku ingin tahu jenis kelamin mereka."
"Lain kali saja. Aku mau pulang."
"Tapi--"
"Aku tidak mau. Tolong jangan memaksa.".
Reza mengangguk lalu mengelus perutku sekali lagi. "Aku akan mengurus administrasinya nanti. Kita akan pulang setelah hasil lab-nya keluar."
"Aku memeriksakan kandungan di dalam darahmu. Hanya untuk memastikan semuanya baik-baik saja."
Reaksi awalku adalah melotot, lalu menggeleng dan mendengus kesal. "Kamu tidak percaya padaku? Aku bukan kamu yang suka berbohong dan tidak bisa dipercaya."
"Bukan begitu. Aku hanya ingin memastikan kalian semua dalam keadaan baik."
Tenang, Nara. Tenang. Anggap dan percaya saja dia jujur, dia ingin memastikan kamu baik-baik saja. Tapi jangan terlalu besar kepala, mungkin itu seratus persen karena dia mengkhawatirkan anak-anaknya. Kuhela napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan, lalu tersenyum. "Terserah."
...♡♡♡...
Setelah menunggu cukup lama, Reza mendongak saat seorang petugas medis mengetuk lalu masuk ke ruang rawatku. Dia membawa map berisi laporan medis atas namaku, lalu menyerahkannya pada Reza. Aku tidak tahu plus tidak mau tahu apa yang mereka bicarakan. Aku memilih untuk ke toilet dan merapikan diri, bersiap untuk pulang. Yang pasti, dia tersenyum lega ke arahku saat aku ke luar dari toilet.
Itu sangat menyebalkan. "Bertolak belakang dengan segala hal buruk yang ada di dalam diriku. Aku masih waras."
"Aku hanya ingin memastikannya sendiri. Ayo, pulang." Dia menghampiriku, menautkan jemari kami dan menggandengku hingga ke mobil. Karena tidak ingin membuatnya malu, kulangkahkan kaki dan mengikutinya dengan santai.
__ADS_1
Setibanya di parkiran, Reza membukakan pintu depan untukku. Aku pun masuk dan duduk, dan kulihat kursi belakang beralaskan kasur mobil. Kusadari itu pastilah bekas ia membaringkan aku semalam, sewaktu ia membawaku ke rumah sakit.
"Aku ingin duduk di belakang." Aku berkata sewaktu Reza sudah duduk di kursi kemudi. Tanpa bisa mengatakan apa-apa, ia membiarkan saja aku pindah ke belakang.
Dengan duduk bersila, kutaruh bantal di pangkuanku.
"Tunggu," seruku, persis di saat Reza sudah menstarter mobil. "Aku mau ke apotik dulu. Obat tidurku habis. Maksudku tinggal sedikit."
Reza yang refleks mematikan mesin langsung menoleh ke belakang. "Kamu tidak membutuhkannya lagi."
"Siapa yang tahu. Selagi aku masih mencintai kamu, aku masih bisa merasakan sakit. Itu yang membuatku tidak bisa tidur."
"Iya, tapi aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menyakitimu lagi."
"B. A. S. I. Basi. Kamu itu benar-benar tega, ya. Kalau aku tidak bisa tidur, bukan cuma hatiku yang sakit. Fisikku juga akan ikut sakit. Itu akan semakin membahayakan kandunganku. Kamu paham?"
"Iya, iya. Nanti kita mampir ke apotik di jalan, ya. Oke? Rileks."
Oh, betapa lucunya dirimu.... Kenapa tidak menurut saja dari awal?
"Kamu tiduran gih, atau mau sambil dengar musik?"
"Tidak usah. Nanti malah kamu yang menyanyi. Aku tidak mau dengar. Mau tahu alasannya? Karena kamu tidak bernyanyi dari hati."
"Kenapa kamu bilang begitu?"
"Karena kenyataannya memang seperti itu. Kalau kamu menyanyinya dari hati, kamu akan paham pada setiap lirik yang kamu sampaikan."
Dia bengong. Wajahnya menunjukkan ekspresi bingung dan menunggu penjelasan.
"Kamu menyanyikan lagu Sampai Tutup Usia, aku merasa itu sebuah janji kalau kamu akan menjaga hatiku hingga kamu tua. Tapi, kenyataannya, kita belum setahun menikah, kamu sudah mematahkan hatiku berkali-kali. Lalu, kamu menyanyikan lagu Wanita Paling Bahagia; kupikir... begitulah! Tapi... nyatanya... kamu malah menjadikan aku salah satu wanita yang paling menderita di dunia ini."
Reza diam seribu bahasa. Tentu saja dia merasa serba salah, dia tahu benar -- semakin ia membela diri di hadapanku, akan semakin menculut api dan membuatku semakin kesal dan marah. Selebihnya, mungkin dia memang tidak tahu apa yang mesti ia katakan.
"Kamu lihat kan bagaimana kehidupan kita sekarang? Perpisahan kita di akhir tahun kemarin harusnya jadi pelajaran. Harusnya kita bisa baik-baik saja kalau kamu tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sekarang lihat, hampir setiap hal bisa membuat kita bertengkar. Ini tidak baik untuk kandunganku. Ibu hamil harusnya menjalani hari demi hari dengan bahagia, itu yang ia butuhkan, itu juga yang dibutuhkan si janin. Aku butuh bahagia, Mas. Anakmu juga butuh. Tapi apa? Kepedulianmu terhadap perempuan itu membuatku menderita. Dan kamu tahu apa yang kupikirkan sekarang? Aku berpikir sebaiknya aku pulang ke rumah Ihsan."
__ADS_1
Dia kembali menatap ke depan. "Kamu mau meninggalkan aku lagi?"