
Reza mengajakku ke musala untuk salat magrib. Tentu saja aku tidak mungkin menolak karena malu. Jujur kuakui, karena malu -- aku malu jika aku menolaknya. Aku mendadak jaga image di depan lelaki yang sudah menjadi teman baikku itu.
Setelah kami selesai salat, aku duduk di sampingnya saat dia mengikat tali sepatu, kurang lebih satu setengah meter darinya. Aku mengamat-amatinya, kepalaku bertumpu pada satu tangan yang kukepal.
"Kenapa? Aku tahu aku setampan Reza Rahadian. Kamu kan pernah bilang," katanya dengan penuh percaya diri.
"Bukan."
"Terus? Kenapa?"
"Aku tidak menyangka kamu rajin salat," kataku.
Senyuman hangat pun langsung mengembang. "Salat kan wajib. Aku bukannya sok religius lo, ya. Hanya menjalankan kewajibanku sebagai muslim. Selebihnya ya seperti ini, aku hanya seorang lelaki biasa yang mencoba mengenali kamu. Perlu kamu garis bawahi, aku hanya lelaki biasa."
Melihatnya saat itu aku merasa seperti melihat sosok imam yang kurindukan selama belasan tahun. Aku tidak pernah diimami salat, kecuali salat idulfitri dan iduladha di masjid pada hari lebaran, atau oleh adikku -- itu pun dulu dan hanya beberapa kali saat aku pulang. Reza seperti cahaya matahari yang mulai menerangi kehidupanku yang selalu terasa mendung.
Aku yang termenung setelah mendengar perkataannya kembali tersadar saat ia memanggil dan mengajakku untuk lanjut menikmati wahana-wahana permainan di Surabaya Carnival Park, padahal niatku hanya untuk melihat-lihat saja keindahan yang disuguhkan di tempat rekreasi itu. Waktu itu dia mengajakku naik bianglala, hanya untuk mengetahui aku takut ketinggian atau tidak. Jelas aku berani kalau hanya sekadar bianglala dan ketinggiannya. Di atas sana, dia meraih tanganku dan memintaku menceritakan apa saja yang berkecamuk di dalam benakku.
"Kamu tahu istilah Product Broken Home? Dengan istilah itulah orang-orang menyebut anak-anak sepertiku. Sebuah istilah yang hanya terdiri dari tiga kata. Yap, tiga kata, tapi efeknya sangat menyakitkan, mengiris, menyayat-nyayat hati dan perasaanku. Terdengar lebay dan berlebihan. Tapi memang begitu kenyataannya, sakit. Mungkin itu tidak berpengaruh untuk kamu, tapi untukku itu keterlaluan. Mereka tidak tahu kalau ketiga kata itu menggores hati dan perasaanku."
Mengingat masa lalu membuatku merasa getir, rasanya sakit sekali. Goresan luka pada tubuh bisa dengan mudah disembuhkan, apalagi dengan kecanggihan di era modern seperti sekarang. Tapi bagaimana dengan goresan luka pada hati dan perasaan? Teknologi apa yang bisa menyembuhkan lukaku? Obat apa yang bisa menawar rasa sakitku? Ahli medis mana atau ilmuwan mana yang bisa mengatasi permasalahan dalam jiwaku? Tidak ada.
__ADS_1
"Andai -- andai ayahku mencintaiku dan menyayangiku, andai dia hadir dalam setiap tumbuh kembangku, mungkin aku akan mencintai dan menyayanginya. Kenyataannya pahit. Jadi, siapa pun tidak boleh menyalahkan aku atas rasa benciku ini. Tapi aku sudah cukup bahagia kok, karena di dunia nyata ini aku masih punya seorang ibu yang mencintaiku. Dan aku punya sosok Reza Rahadian, meski hanya dalam dunia khayalanku." Aku tersenyum getir.
Reza menatapku -- sangat dalam. Aku tahu itu berarti ia hendak menasihatiku. "Nara, apa pun yang kamu alami, apa pun yang kamu rasakan, jangan biarkan hal itu menggerogotimu."
Aku tahu dia mengatakan hal yang benar, tapi itu sudah terlambat. Dan kurasa kalaupun nasihat itu disampaikan pada Inara remaja dua belas tahun silam, itu juga tidak akan berarti apa-apa, sia-sia. Aku pun mendesah lelah. "Masalahnya semua itu sudah terlanjur menggerogotiku. Rasanya seolah-olah aku telah kehilangan sesuatu sepanjang hidupku, tapi aku tidak tahu tentang kehilangan itu. Maksudku, sejak dulu aku tahu aku kehilangan figur seorang ayah, tetapi seperti apa sesungguhnya rasa kehilangan itu, aku tidak tahu. Karena rasa yang lebih kuat itu adalah rasa benci." Aku diam sejenak. "Seorang ayah adalah bagian dari sejarah kita. Bagian dari diri kita. Melalui ayahlah kita menemukan tempat kita di dunia ini, mulai dari yang ada sebelum kita, dan pada akhirnya, apa yang kita tinggalkan setelah mati. Tanpa itu, bagaimana kita tahu? Kita kosong," kataku. "Aku kosong."
"Kekosongan itulah yang harus kamu isi, isi itu dengan cinta, cinta terhadap Tuhan, cinta terhadap diri kamu sendiri, dan cinta terhadap orang-orang di sekitarmu, termasuk cinta pada orang yang akan menjadi cinta sejatimu."
Dia benar. Kekosongan itu, kekosongan yang senantiasa hadir dalam jiwa, tempat Tuhan seharusnya berada. Tapi imanku tidak cukup kuat untuk selalu mengingat Tuhan. "Aku tahu, tapi itu tidak semudah seperti cara kamu mengucapkannya."
Reza menguatkan genggaman tangannya. "Ada aku, aku yang akan membantu kamu mengisi kekosongan itu."
"Kamu sendiri tidak ingat persis masa kecilmu. Bagaimana kamu tahu tentang ayahmu?" tanyanya kemudian.
Aku menatap lurus ke langit di atas sana, bercerita sambil memandangi bintang-bintang. "Dulu, waktu ulang tahunku yang kedua belas, aku memaksa Bunda menceritakan kebenaran itu kepadaku. Kata Bunda, ayahku pergi tanpa alasan yang jelas, hanya karena pertengkaran kecil, dan itu ayahku sendiri yang memulainya. Sejak itu dia pergi dan tidak pernah kembali. Kemudian setelah tiga bulan lebih, dia malah membawa pulang seorang perempuan ke rumah orang tuanya. Dan, dia mengatakan pada tetangga-tetanga, bahwa dia dan Bunda sudah bercerai, sudah jatuh talak katanya, karena tidak ada nafkah lahir batin selama tiga bulan lebih. Ayahku sadis. Padahal mereka tidak pernah bercerai secara resmi."
Aku diam sejenak, mengatur napas yang sesak. Ini kisah yang pahit...
"Tidak hanya itu, sebelumnya -- saat Bunda dirawat di rumah sakit setelah operasi sesar sewaktu melahirkan adikku, ayahku selalu pergi, malamnya dia baru kembali ke rumah sakit. Saat itu hanya ada tanteku yang mengurus Bunda. Ayahku bilang dia bekerja. Tapi setelah perpisahan itu, Bunda baru tahu kalau ternyata ayahku saat itu sibuk dengan selingkuhannya, mengurusi keluarga mereka yang sakit di rumah sakit lain. Bunda merasa bodoh karena berhasil mereka bodohi. Sejak saat itu Bunda tidak pernah lagi memikirkan rumah tangganya dengan ayahku. Bunda menerima kekalahan, Bunda menerima nasibnya yang harus menjadi janda karena suaminya direbut janda lain. Status Bunda akhirnya menjadi janda dua anak. Selalu dipandang sinis oleh tetangga, merasa malu di depan semua keluarga, dan jadi bahan gunjingan. Tapi Bunda bisa apa, cuma pasrah katanya. Dan itu bukan perselingkuhan ayahku yang pertama. Sebelumnya sudah pernah, waktu umurku belum genap satu tahun. Bahkan si perempuan itu mengaku kalau dia istri siri ayahku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya jadi Bunda. Dan aku heran, padahal perempuan-perempuan itu statusnya juga janda. Harusnya mereka punya rasa iba terhadap sesama perempuan. Heran, sudah tahu tidak enak rasanya jadi janda, kok malah membuat orang lain merasakan hal yang sama? Kok bisa suka pada suami orang? Itu yang membuat image janda jelek di mata masyarakat. Padahal tidak semua janda seperti itu. Contohnya Bunda, dia tidak seperti itu. Ibu kamu juga tidak begitu, kan? Kalau aku nanti jadi janda, aku juga pasti tidak akan seperti itu."
"Hush!" dengusnya, ia tiba-tiba menyela omonganku. "Jangan bicara seperti itu. Amit-amit jabang bayi," katanya sambil mengetuk tiga kali ke kursi bianglala yang kami duduki.
__ADS_1
Aku tertawa. "Apa itu ketuk-ketuk tiga kali? Hmm? Semacam ilmu penangkal? Memangnya ampuh?" Aku menjulurkan lidah.
"Entahlah. Mungkin. Mungkin juga tidak. Kebiasaan sih," kilahnya. "Tapi kamu jangan bicara seperti itu, kata-kata adalah doa."
"Iya, maaf, aku salah bicara. Maaf, ya?" kataku. "Tapi yang membuatku heran, kenapa ayahku doyan sekali main janda? Semenarik itukah sosok janda di mata lelaki?" Aku menatap tajam pada Reza. "Jangan-jangan... kamu juga seperti itu?"
"Baseng bae kau," sahutnya, bicara dengan bahasa Palembang dengan fasih sambil mengacak-acak rambutku.
"Cieee... bahasa Palembangnya keluar," godaku.
Reza tersenyum manis, maksudku senyumnya memang selalu manis, tapi kali ini senyum yang lebih manis dari biasanya. Swear, manis sekali. Membuat gempa lokal di sekujur tubuhku.
"Sejak kecil aku kehilangan sosok lelaki yang seharusnya menjadi pedoman dalam hidupku, yang seharusnya menggenggam erat tanganku setiap kali aku terjatuh, tapi justru dialah yang menjadi penyebab utama kekacauan dalam hidupku. Semenjak aku tahu kebenaran itu, aku mulai sulit percaya pada lelaki, itu yang membuatku belum pernah pacaran. Aku sulit percaya pada lelaki." Aku menoleh pada Reza, mengisyaratkan bahwa itulah jawaban dari pertanyaannya kemarin malam. "Boro-boro, jatuh cinta pun belum pernah. Tapi meskipun aku tidak pernah jatuh cinta, meskipun aku sulit memercayai seorang lelaki, dan meskipun aku punya rasa takut dan trauma atas perbuatan ayahku, aku tetap berharap suatu saat sosok Reza khayalanku akan kutemukan dalam duniaku yang nyata, yang menggenggam erat tanganku dalam suka dan duka, yang menjanjikan aku kesetiaan, dan mampu mengikis habis rasa takut juga traumaku akan kenangan pahit di masa lalu. Jauh di dalam hatiku, aku berharap aku sembuh dari rasa traumaku. Aku menginginkan kehidupan yang normal, bisa mencintai lawan jenis, mengikat hubungan dalam pernikahan yang suci, menjadi seorang pengantin dan istri untuk lelaki yang baik, yang bisa menjaga kesetiaannya hanya untukku. Aku ingin menikah di tepi pantai, bercinta seperti kelinci, melahirkan anak-anak yang lucu, menjadi wanita seutuhnya. Aku ingin memiliki keluarga yang utuh, punya suami dan anak. Aku yakin, akan ada seseorang yang menyingkirkan awan hitam dari hidupku, akan ada seseorang yang membawakan pelangi indah yang mewarnai kegelapan itu."
Aku pun memejamkan mata dan menangkupkan telapak tanganku, berharap semua harapanku menjadi nyata.
"Aamiin," sahutnya, yang tiba-tiba mengamini harapanku.
"Sudah, aku tidak mau cerita lagi. Terakhir kali aku menangis itu waktu umurku dua belas tahun. Sekarang aku harus begini lagi, dan itu gara-gara kamu," kataku sambil menyentuhkan dan agak menekankan jari telunjuk ke bahunya.
Reza menyentuh pundakku, memutarku hingga posisi kami berhadapan. "Kamu jangan sedih lagi. Sekarang kamu juga punya aku. Aku, Reza Dinata, aku ada di dunia kamu yang nyata." Dia merangkulku, menyandarkan aku ke dalam pelukannya. Dan aku mulai menemukan kenyamanan di sana.
__ADS_1