CCI

CCI
43


__ADS_3

Aris. Lelaki 28 tahun asal Kuala Lumpur, Malaysia. Seorang psikolog dan hipnoterapis. Mapan, tampan, dan rupawan. Tidak hanya itu, dia juga sosok lelaki yang berkarisma, yang bisa membuat hampir setiap gadis menoleh saat berpapasan dengannya. Tipe lelaki idaman kaum hawa.


Beberapa tahun lalu bibiku memperkenalkan aku pada Aris. Bibiku mengenal ayahnya Aris yang notabenenya sama-sama seorang tenaga medis. Entah karena menurutnya aku memerlukan seorang profesional untuk kejiwaanku atau karena alasan apa, aku tidak pernah mengambil pusing tentang hal itu. Aku menerima Aris sebagai teman, meski seringkali dia berusaha menyelami kehidupan pribadiku, memperlakukanku seperti seorang pasien -- hanya untuk memastikan bahwa aku baik-baik saja. Sebab itu dia mengenaliku dengan segala hal yang ada pada diriku, bahkan dia mengenaliku dan memahamiku sebagaimana Ihsan terhadapku. Tapi perlu digaris bawahi, aku tidak pernah terdaftar sebagai pasien dari seorang Psikolog mana pun, termasuk Aris.


Aku baik-baik saja. Aku hanya sulit percaya terhadap seseorang, dan itu menurutku wajar sebagai dampak dari rasa traumaku. Selain itu, aku hanya menyimpan benci dan dendam. Aku tidak akan pernah menyakiti siapa pun kecuali jika mereka mengusikku lebih dulu. Sekali lagi, menurutku itu wajar, sebab aku bukanlah pemeran protagonis dalam sebuah sinetron, yang rasanya sungguh bodoh, saat kau disakiti tapi kau hanya diam saja. Terlalu bodoh dan terlalu baik itu beda tipis, tipis sekali. Dan aku tidak tergolong dalam golongan orang-orang seperti itu. Aku adalah aku.


Seperti halnya Empat R bersaudara, aku juga dekat dengan Aris. Tapi aku hanya menganggapnya sebagai teman, selebihnya seperti saudara, seperti seorang kakak laki-laki. Tidak ada secuil pun perasaan khusus di hatiku untuknya. Tapi tidak dengan Aris, dia menyimpan perasaan lebih padaku. Meski tidak pernah memaksa, meski tidak pernah terbalas, tapi dia tetap saja berkali-kali menyatakan perasaannya. Hingga membuatku merasa jengah. Sebab itu aku selalu menghindarinya. Dan itu pilihanku.


Aku tidak menyangka dia datang menemuiku di Bali, lebih tidak menyangka lagi bahwa si bungsu Raheel memberikan alamat villa ini kepadanya. Tentu saja karena Raheel tahu bahwa untuk hal semacam ini aku tidak akan marah, maksudku -- tidak akan melampiaskan kemarahanku. Aku terikat janji persaudaraan dengan mereka semua, terlebih pada ibuku. Alasan lainnya pasti karena rasa tidak enaknya terhadap Aris dan pasti karena Raheel tidak memberikan alamat ini secara cuma-cuma. Dia si bungsu yang pandai memanfaatkan kesempatan.


Tapi kali ini Aris datang dengan sikap yang berbeda. Katanya dia hanya ingin bertemu denganku, mengucapkan selamat atas rencana pernikahanku, dan turut berbahagia atas kebahagiaanku. Sikapnya itu membuatku merasa bersalah. Tapi aku sendiri tidak paham kenapa aku merasa bersalah. Dan aku tahu bahwa itu tidak seharusnya.


Sambil bersantai dengan hammock baruku, aku mengingat masa-masa saat aku bercerita pada ibuku tentang Aris yang menyatakan perasaannya terhadapku. Waktu itu jauh sebelum aku mengenal Reza. Tapi bercerita pada ibuku tentang Aris malah justru membuatku lebih bingung, sebab ibuku punya penyesalan sendiri tentang kisah yang sama.


Dulu semasa SMA, ibuku pernah berteman dekat dengan seniornya, namanya Deni. Mereka bukan hanya sebatas kakak dan adik kelas, tapi juga dalam satu ekskul teater. Di antara pertemanan mereka, ada seorang junior, adik kelas mereka yang juga anggota baru dalam ekskul teater itu. Dia bernama Meta. Meta menyukai Deni, dan meminta ibuku untuk mendekatkan dia dengan Deni. Dengan polosnya ibuku mengiyakan, dan mengatakan pada Deni bahwa Meta menyukainya. Tapi ternyata Deni malah mengatakan pada ibuku bahwa dia menyukai ibuku. Ibuku bingung dan merasa serba salah. Setelah berpikir matang-matang, ibuku meminta Deni dan meyakinkan Deni bahwa sebaiknya Deni mencoba menjalin hubungan dengan Meta. Deni yang kecewa pada ibuku, mencoba mengobati hatinya dengan menjalin hubungan dengan Meta. Tapi hubungan mereka tidak lama. Meta dan Deni putus, begitu pun pertemanan ibuku dan Deni juga ikut putus.


Beberapa bulan setelah itu, Deni menjalin hubungan dengan Novita, yang juga senior ibuku, juga senior dalam ekskul teater itu. Hubungan yang terjalin di antara mereka biasa saja, paling hanya belajar bersama dan bertemu plus mengobrol sebelum pulang. Tapi pada akhirnya mereka berjodoh. Bertahun-tahun pacaran, bahkan sempat terpisah kota karena alasan pekerjaan, justru membuat cinta mereka semakin besar dan pada akhirnya sampai ke pelaminan.


Dan cerita keduanya adalah saat ibuku kuliah dulu. Dia berteman dengan seorang pemuda bernama Hendra, mereka berkenalan pada hari pertama OSPEK sebagai mahasiswa dan mahasiswi baru, sampai ketingkat selanjutnya mereka tetap berteman baik. Mereka sering mengambil mata kuliah dan kelas yang sama. Bahkan duduk di bangku yang sama. Suatu hari, Hendra menggenggam tangan ibuku dan menyatakan perasaannya pada ibuku. Saat itu, bukannya ibuku tidak punya perasaan terhadap pemuda itu, tapi karena hubungan pertemanan mereka yang gokil, yang selalu bercanda, dan pembawaan Hendra yang selalu  menjadi sosok penghibur bagi ibuku, membuat ibuku merasa sulit membedakan apakah Hendra hanya bercanda atau serius saat menyatakan perasaannya. Ibuku memilih untuk tidak menanggapinya dengan serius. Juga karena ibuku takut jika mereka menjalin hubungan, lalu suatu saat ada masalah -- ibuku takut kehilangan sosok Hendra sebagai sahabatnya. Padahal Hendra adalah sosok lelaki yang baik, humoris, dan pintar. Tapi ibuku terlalu pengecut untuk mengakui perasaannya.


Itulah, dua kisah persahabatan ibuku dengan sosok lelaki yang baik, yang menyukainya, tapi ibuku tidak menanggapinya. Bukan penyesalan yang bagaimana, atau yang menggerogot jauh ke dalam jiwa, tapi hanya penyesalan -- kenapa dulu ia mengabaikan lelaki baik seperti Deni dan Hendra, dan malah menikah dengan lelaki seperti ayahku -- si kucing garong yang berpenampilan necis dengan setelan jas dan dasi panjangnya.


Aku juga bertanya pada ibuku, seandainya waktu bisa terulang kembali -- dia ingin bersama siapa seandainya ia punya kesempatan memilih seperti dulu. Hendra -- katanya. Alasannya? Karena Hendra sosok yang bisa membuatnya selalu tertawa setiap pemuda itu bersamanya. Lelaki yang bisa menjadi teman baik selama bertahun-tahun. Humoris, sederhana, Selalu ada, dan memanggilnya Dik dengan hangat.

__ADS_1


Tapi masa lalu tidak mungkin terulang, ia hanya meninggalkan penyesalan.


Dan sialnya, aku harus berada dalam kisah yang sama. Aku memang tidak mencintai Aris, tapi bagaimana jika Aris adalah sosok yang kemudian akan kusesali karena aku tidak memilihnya? Padahal jelas-jelas aku berteman dan mengenalnya selama bertahun-tahun. Bagaimana jika Reza yang baru kukenal, yang kuanggap baik, ternyata bukanlah cinta sejatiku?


"Arrrggg... Aris. Kenapa kau harus datang?" gumamku.


Kulirik buket mawar di atas meja di sebelahku. Ya ampun, aku lupa, aku belum membaca surat-surat dari Reza. Kuambil satu tangkai dan kuciumi mawar itu, aroma harumnya menelusup hingga ke dalam sukma, menguapkan semua rasa sesak yang melanda. Lalu kukeluarkan semua lembar surat dari Reza. Kutata dan kuurutkan di atas meja.


Untukmu yang terjebak di masa lalu.


Untukmu yang sedang melangkah ragu.


Di sini, ada aku yang akan membantumu beranjak dari kata yang lalu, ke kata yang baru.


Jika aku bukan yang terbaik untukmu, maka izinkan aku untuk berusaha menjadi seperti yang kau mau.


Meskipun kau dan aku belum lama bersama, tapi kupastikan kita akan bersama selamanya.


Aku hadir untuk memberimu cinta, membawa bahagia, dan memberikan rasa rindu yang tak akan pernah ada habisnya.


Mungkin aku tak sanggup menyeberangi lautan, menghantam karang atau menerjang badai. Tapi aku sanggup membuatmu bahagia seumur hidupku.


Aku ingin menjadi orang yang bisa membuatmu tertawa dan tersenyum setiap waktu.

__ADS_1


Engkau adalah detak jantungku, helaan napasku, cahayaku, dan belahan jiwaku.


Hidupku tidak akan berarti tanpamu.


Karena bagiku kau adalah pasangan paling sempurna yang akan selalu melengkapiku.


Selamat pagi sang pemilik hati, bergembiralah engkau hari ini.


Hanya satu yang perlu engkau tahu, aku akan selalu iringi bahagiamu.


Aku mencintaimu Inara.


Aku mencintaimu hari ini, esok dan selamanya.


Aku mencintaimu.


Aku mencintaimu.


Aku mencintaimu.


Dengan sepenuh cinta, Reza Dinata.


Aku tertegun. Aku duduk di sana untuk waktu yang lama, membaca ulang surat itu dan merenungkan apa yang ia sampaikan lewat tulisan. Meskipun aku selalu ragu padanya, tapi dia selalu berusaha meyakinkan aku. Meskipun aku seringkali ragu, tapi aku tahu, hatiku menginginkan Reza. Hanya Reza.

__ADS_1


__ADS_2