CCI

CCI
119


__ADS_3

Oktober berembus ke dalam kota dengan suatu kecerahan yang disambut semua orang. Langit biru cerah berawan di atas hari-hari yang hangat dan dikecup sinar matahari yang menyilaukan. Kabar baik pun datang dari Zaza yang mengabarkan berita kehamilannya melalui instagram pribadinya. Selang seminggu kemudian disusul kabar yang tak kalah menggembirakan -- kabar yang sama -- datang dari Zizi yang juga hamil anak keduanya. Tapi di satu sisi, ada sebagian kecil dalam hatiku yang meringis. Aku yang sudah berjanji pada Tuhan bahwa aku akan  menjadi hambanya yang lebih baik, tiba-tiba saja merasa Tuhan tidak adil padaku. Tapi perasaan yang sempat hinggap itu segera kutepis. Aku menyadari kesalahanku, tidak seharusnya aku mengeluh kepada-Nya.


Dua hari berikutnya, sore menjelang malam, kabar buruk malah datang dari kampung. Ibuku sakit, sudah dua hari dan dia baru mengabariku. Dipikirnya ia hanya demam biasa, tapi panasnya malah semakin tinggi sampai harus dilarikan ke rumah sakit dan aku harus pulang. Di sisi lain, kabar buruk juga datang dari keluarga Bagus. Ibunya meninggal. Reza tidak enak hati kalau ia tidak datang melayat. Dulu Bagus datang melayat sewaktu ibunya Reza meninggal, dan membantu mengurus banyak hal sampai selesai takziah, meski pun waktu itu aku belum kenal dengannya.


Akhirnya, aku dan Reza sepakat. Aku pulang ke kampung duluan, sedangkan Reza pulang ke Bogor. Reza akan menyusulku sepulang dia dari kediaman Bagus. Keadaan memaksa kami untuk berpisah sejenak.


Sebenarnya terdengar berlebihan, aku sangat merasa sedih ketika aku dan Reza berpisah di bandara.


"Hati-hati, Sayang. Nanti di bandara aku suruh orang untuk jemput kamu. Kabari aku terus."


Hoaaa... aku mewek. "Aku takut kalau kamu jauh dariku."


"Cuma sebentar. Lusa aku juga akan pulang kampung, menyusul kamu."


Kuraih dan kuciumi tangan Reza sebelum aku meninggalkannya. "Jaga diri dan hati kamu baik-baik. Segera susul aku."


Reza nyengir. "Pasti. Jangan khawatir." Dia memelukku plus mencium keningku dan kami berpisah.


Tetapi, dua hari kemudian, sore harinya Reza mengabarkan kalau dia belum bisa menyusulku.


》Sayang, aku meriang. Tunggu keadaanku membaik ya. Nanti aku langsung menyusul kamu.


Aku langsung meneleponnya, tapi tidak ada jawaban.


《Kamu di mana? Minum obat, ya. Kalau kamu di rumah, obat-obatan ada di laci dapur. Kalau kamu di jalan, di mobil juga ada obat.


Whatsapp balasan dari Reza baru masuk setengah jam kemudian.


》Sudah. Aku istirahat, ya.


《Oke. Cepat sembuh, Mas.


"Kenapa?" tanya ibuku.


"Mas Reza, demam. Meriang katanya."


"Maaf, ya. Gara-gara Bunda--"


"Bund...," kugenggam tangannya. "Nara anak Bunda, Nara harus ada di sini. Lagipula mau bagaimana. Nara sudah terlanjur ada di sini. Mas Reza-nya di sana. Semoga dia cepat sembuh dan menyusulku ke sini. Jangan jadikan masalah ini sebagai beban pikiran Bunda. Oke?"


"Iya, Nak. Maaf ya."


"Sudah, jangan maaf-maafan terus."


Ibuku nyengir. "Iya," katanya.


"Oh ya, Bunda kalau nanti sembuh dan keluar dari rumah sakit, Bunda ikut Nara pulang ke Jakarta, ya?"

__ADS_1


"Tunggu kamu hamil saja, baru Bunda pulang ke Jakarta. Bunda bisa bantu-bantu kamu mengurus semuanya nanti."


Aku merengut. Ibuku itu memang susah dibujuk.


Sebentar, tanggal berapa hari ini?


Ya ampun. Aku sampai tidak sadar kalau aku terlambat datang bulan. Memang baru tiga hari, tapi perasaan senang sekaligus was-was langsung menyelinap ke sanubari.


"Bund, Nara keluar sebentar, ya."


"Mau ke mana?"


"Ke apotik. Sebentar saja."


Aku pun langsung bergegas ke apotik membeli test pack, alat uji kehamilan, dua pcs. Satu untuk langsung kupakai saat itu juga, dan satunya untuk besok pagi. Oh Tuhan... hatiku deg-degan.


Dalam beberapa menit berikutnya aku sudah kembali ke ruang rawat ibuku dan langsung melesat ke kamar mandi.


Sujud syukur, dua garis merah meledakkan kebahagiaan yang tak terkira dalam hatiku. Aku sampai menangis saking harunya. Tapi aku merahasiakan itu dulu dari siapa pun. Aku ingin Reza jadi orang pertama yang tahu tentang kehamilanku. Toh, besok pagi aku harus cek ulang untuk hasil yang lebih pasti. Dan...


Hasilnya sama. POSITIF.


Aku langsung mendaftarkan diri untuk USG ke dokter spesialis kandungan untuk mendapatkan kepastian -- yang benar-benar pasti.


...♡♡♡...


"Surprise..."


"Kenapa tidak bilang kalau kamu sudah di jalan menuju ke sini?" celotehku dengan manja.


"Kan surprise untuk kamu." Reza berkata sambil menghampiri ibuku dan menciumi tangannya.


"Yeah, surprise sekali. Aku juga punya sesuatu untuk kamu."


"O ya? Apa?"


"Pejamkan mata kamu."


"Oke. Sebentar, Bund," katanya permisi pada ibuku, karena dia harus meladeniku dulu.


Reza pun menuruti permintaanku, dia langsung memejamkan mata. Dan kuberi dia sebuah ciuman di pipi.


"Sebuah ciuman? Just it?" tanyanya keheranan.


"Yeah. Surprise, kan?"


"Ya, ya, ya. Surprise sekali. Terima kasih, Sayang." Ekspresinya kecut dan aku tergelak.

__ADS_1


Kuambil kotak makanan yang sebenarnya kosong dan kumasukkan test pack-ku ke dalam kotak itu. "Ini, kamu pasti lapar."


"Trims." Reza langsung menyambut dan membukanya.


Dan...


Aku tidak bisa menceritakan bagaimana ekspresi bahagianya saat itu. Dia tersenyum bahagia, tapi matanya berkaca. Ekpresinya menyiratkan ketidakpercayaan juga rasa syukur yang membuncah. Dia bingung dalam kebahagiaan. "Kamu..."


"Iya. Aku hamil. Kamu akan menjadi seorang ayah."


Wow! Pelukan erat dan hujan ciuman langsung kuterima dari suamiku. "Terima kasih. Aku bahagia," katanya. "Aku tidak menyangka, hal ini... pokonya ini sungguh-sungguh luar biasa." Dia langsung memanjatkan doa.


"Kalau ini, kamu sebut apa?" Kusodorkan hasil cetak foto USG-ku padanya."


Reza mengamati-amatinya, membaca data-datanya, tapi dia tidak mengerti. Dia hanya tersenyum bahagia memandangi secarik kertas foto di tangannya itu. "Terima kasih, Sayang."


"Kamu tidak mengerti, ya?" tanyaku.


"Apa?"


Kuraih tangannya dan kutaruh di perutku. "Janin di rahimku kembar."


Matanya terbelalak, efek senang bercampur rasa tidak percaya edisi kedua. "Kamu serius? Kembar?"


"Mmm-hmm."


"Serius?"


"Iya, Mas. Serius. Calon anak kamu kembar."


Reza tidak bisa mengatakan apa-apa. Kebahagiaan menguasai hati dan pikirannya. Dia langsung memanjatkan doa kedua sebagai bentuk rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan. Setelah itu, dia kembali menghujaniku ciuman sambil memelukku dengan sangat erat.


Kami semua menangis bahagia, termasuk ibuku yang tengah terbaring di bed rumah sakit. Dan sejak hari itu, hari-hariku diliputi kebahagiaan. Ucapan-ucapan selamat tak hentinya datang dari keluarga besarku, juga dari ayahku. Katanya dia ikut bahagia untukku.


Setelah keluar dari rumah sakit, ibuku ikut pulang ke Jakarta, ikut tinggal bersama kami. Sesuai keinginannya, ia ingin membantu meringankan pekerjaan-pekerjaanku. Pun Reza, dia mulai posesif dan melarangku mengerjakan pekerjaan-pekerjaan berat. Dia tidak mau aku sampai kelelahan. Dia juga selalu menanyaiku aku kepingin apa. Hah! Dia menunggu-nunggu aku ngidam.


"Aku tidak kepingin apa-apa, Mas. Tidak kepingin makan apa pun. Pokoknya apa pun yang ada pasti kumakan," cerocosku. Kupeluk ia dari belakang dan aku bersandar di punggungnya. "Yang penting perhatian kamu, dan kamu selalu menemani aku melewati masa-masa tidak nyaman. Aku senang saat kamu sigap mengoles minyak kayu putih saat aku mual. Meski hanya perhatian kecil, tapi itu membuat segalanya terasa lebih baik. Terima kasih." Aku diam sejenak. "Emm, tapi... ada tapinya."


Reza mengangkat alis. "Apa?"


"Aku mau lihat tubuh sixpack kamu," bisikku. "Mau kufoto, terus mau kucetak dan kubingkai besar-besar." Aku nyengir.


Dahi Reza langsung mengernyit. Seolah berkata, "Sejak hamil, kok istriku ganjen sekali?"


Kuakui itu benar. Aku tidak kepingin makanan yang aneh-aneh. Tapi tingkahku yang aneh. Atau sebenarnya hanya memanfaatkan kesempatan?


"Satu lagi," kataku. "Aku mau dibelai-belai plus dielus-elus setiap hari."

__ADS_1


Reza tergelak. "Itu mah memang maunya kamu yang minta di manja terus."


__ADS_2