CCI

CCI
39


__ADS_3

Saat aku keluar dari kamar, Reza sudah stand by di atas motor dengan rambutnya yang tergerai. Begitu pun aku, rambutku yang selalu terikat, kali ini harus kugerai. Dan itu mengundang kecurigaan Mayra. Aku pun langsung naik ke motor dan memeluk Reza dari belakang. Dia tersenyum, langsung mengelus tanganku yang melingkar di pinggangnya. Hatinya sama berbunganya sepertiku.


"Senang deh melihat kalian mesra lagi. Daripada kemarin, sepat, asam. Sama sekali tidak enak dipandang," cerocos Mayra.


Aku dan Reza tersenyum. "Kami sudah berbaikan, May," kataku. Kutopangkan kepalaku di bahu Reza.


"Bagus. Jangan marahan lagi. Tapi... ada yang aneh. Tumben kalian menggerai rambut? Kompak lagi?"


Aku cemas karena Mayra menyadarinya. Kutoleh kanan kiri, aman, tak ada Ihsan di sekitar kami.


"May, ssst...," tegur Reza.


"Memangnya kenapa?" tanyanya. Dia mendekat dan hendak menyibakkan rambutku.


"Jangan, May." Kulingkarkan tanganku melindungi leher.


"Kalian?" Sorot mata Mayra melanjutkan pertanyaan itu kendati suaranya terhenti.


"Tidak...," Reza membantah. Sorot matanya ingin meyakinkan sahabatnya itu, tapi tidak berhasil.


"Aku tidak percaya."


"Hanya luapan emosi yang salah, May," kataku berusaha mengklarifikasi. "Tapi tidak sampai kebablasan kok. Jangan ceritakan pada yang lain, ya?"


"Salahku," Reza menyahut cepat. "Aku yang lose control."


Melihatku yang lengah -- Mayra punya kesempatan menyibak rambutku dan melihat beberapa bekas merah di leherku. Dia tercengang.


"May! Jangan begini." Cepat-cepat kurapikan rambutku sebelum ada yang melihat lagi.


"Kalian melakukannya?" tanya Mayra dengan raut curiga.


"Tidak!" kami menjawab kompak.


"Swear," kataku. "Hanya sebatas ini dan itu pun karena khilaf."


"Ngobrol apa sih? Khilaf apa?" tanya Alfi yang tiba-tiba datang dari arah belakang.


"Bukan apa-apa, Yank," sahut Mayra. "Mereka bertengkar kemarin karena khilaf, dan sekarang sudah berbaikan."


Alfi hanya mengatakan oh, sementara Reza hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Hanya aku yang cemas, sebab takut ada sepupu-sepupuku yang mendengar, apalagi kalau sampai terdengar oleh Ihsan. Mampus aku.


...♡♡♡...


Pagi-pagi kami sudah menyeberang ke Pulau Nusa Lambongan, sekalian ke Pulau Nusa Ceningan. Kami menyeberang dari Toya Pakeh menuju Jungut Batu, lalu menyewa motor untuk mulai berkeliling ala backpacker. Nusa Lambongan hanyalah sebuah pulau kecil. Namun, meskipun demikian, pulau ini sungguh memikat untuk dieksplor bagi pecinta alam, khususnya oleh anak negeri ini.


Dari Jungut Batu kami langsung menuju Yellow Bridge, sebuah jembatan penghubung antara Pulau Nusa Lembongan dengan Nusa Ceningan. Jembatan ini disebut dengan Yellow Bridge karena warna besi jembatannya kuning terang, sangat mencolok, apalagi di sekitarnya berlatar belakang warna biru lautan dan hijau pepohonan. Jika dilihat dari jauh, jembatan ini hampir mirip dengan Golden Gate Bridge di San Fransisco, di mana Golden Gate Bridge memiliki warna merah yang mencolok dengan latar belakang lautan luas.


Kami sempat berhenti di jembatan hanya untuk berfoto. Ada yang berfoto di ujung jembatan dengan latar belakang jembatannya yang panjang, dengan dua patung yang seolah menjadi penjaga jembatan. Sedangkan aku dan Reza lebih suka berfoto di tengah jembatan, berfoto dengan latar belakang lautan biru dan kapal-kapal yang sedang berlayar. Omong-omong, karena kami sudah kembali mesra, jadi kami berpose mesra ala Shraddha Kapoor dan Aditya Kapur lagi dalam salah satu potretnya di film Ok Jaanu. Foto dengan pakaian serba hitam, berpelukan, tangan Aditya di pinggang Shradhha, dan tangan Shraddha di leher Aditya, dengan tersenyum bahagia, memejamkan mata, dan hidung saling bersentuhan. Aarin sang Art Director pun tak ingin ketinggalan berpose seperti itu dengan Ihsan. Aarin tidak canggung sama sekali terhadapku, mungkin karena dia biasa melihatku dan Reza bermesraan. Mungkin.


Dari jembatan kuning ini, kami mampir sebentar ke Secret Beach, sebuah pantai yang dikelilingi tebing dan didominasi dengan batu-batu besar. Agak kurang kerjaan sebenarnya, mampir ke pantai hanya untuk berfoto. Terlebih untuk memenuhi kegilaan setiap orang yang ingin mencari keuntungan dari pose-pose mesra kami. Tapi karena Reza senang-senang saja melakukan itu, aku lebih senang lagi. Begitu pun sebaliknya, jika dia keberatan, aku juga tidak akan mau memaksanya. Atau mungkin, karena menurutnya aku senang-senang saja melakukan semua itu, jadi dia ikut senang. Yeah, intinya kami berdua senang melakukan foto prewedding itu, demi kami berdua, juga demi semua orang.

__ADS_1


Aarin meminta kami berpose ala Shraddha Kapoor dan Aditya Roy Kapur lagi. Nampaknya Aarin benar-benar nge-fans pada selebriti Bollywood itu. Oke deh, kami pun menuruti pose-nya. Reza merebahkan dirinya di atas pasir, dan aku di atasnya, maksudku tidak benar-benar di atasnya, wajah kami berjarak sekitar sekilan lebih, dengan rambutku yang terurai dan teruntai menyentuh pasir.


Setelah itu kami mampir ke Le Pirates Beach Club. Berdasarkan hasil searching di internet, tempatnya keren, sebuah penginapan yang menawarkan pemandangan pantai indah, dengan perairan bening bercorak biru tosca, ditambah hamparan pasir putih memesona. Daya tarik lainnya adalah tempatnya yang sangat Instagenic, hampir seluruh sudutnya didominasi corak biru dan putih, juga adanya deretan kabin kecil cantik sebagai tempat untuk menginap. Kerennya lagi, Beach Club ini juga menyediakan semacam infinity pool yang menghadap langsung ke arah lautan. Aku suka sekali tempat ini, kucatat dalam hati suatu saat aku ingin bermalam di sini bersama Reza.


Dengan tanpa malu, meskipun tidak menginap di sana, kami menyempatkan berfoto satu kali dengan latar belakang air bening bercorak biru tosca itu. Dengan foto seperti di poster film Saaho, pose ala Prabhas dan Shraddha Kapoor. Tapi catat, bagian pahaku tak sevulgar foto di poster itu.


Kami melanjutkan perjalanan ke Blue Lagoon, sebuah tebing yang di dominasi bebatuan yang terletak di pinggir laut, di mana kita bisa memandangi lautan lepas. Air lautnya hijau turquoise, sangat jernih. Tiupan angin yang kencang dan deburan suara ombak melengkapi indahnya tempat ini, sebuah tempat dengan spot bagus untuk koleksi foto prewedding, tempat yang memungkinkan untuk kami menirukan pose ala Andrew White dan Nana Mirdad. Zia dari hari sebelumnya ingin sekali menerapkan pose itu, sekarang kesampaian juga di Blue Lagoon. Dalam foto itu Andrew dan Nana duduk berdua, Nana bersender di belakang bahu Andrew dan menyalungkan tangannya di leher Andrew. Sweet sekali. Sebuah pose yang membuatku menaruh harapan bahwa hubunganku dengan Reza akan semanis dan sehangat mereka meski bertahun-tahun bersama.


"Semua perempuan menginginkan sosok suami seperti Andrew," kataku.


"Kenapa?" tanya Reza, menanggapiku.


"Romantis. Meski bertahun-tahun menikah, setiap hari bersama, sudah punya anak, dan yang namanya rumah tangga pasti ada masalah. Tapi dia tetap bisa membuat istrinya selalu bahagia. Setidaknya membuat publik melihat bahwa Nana Mirdad adalah seorang istri yang bahagia. Melalui foto-foto mesra mereka, yang seolah setiap hari seperti orang pacaran. Setiap perempuan pasti bahagia diperlakukan seperti itu."


"Kamu akan lebih beruntung daripada Nana Mirdad, meski kamu hanya menikah dengan seorang Reza Dinata."


Sumpah! Aku mesem-mesem mendengarnya. Sama sekali tidak tercengang seperti adegan dalam film. Ada rasa yang bercampur jadi satu, bahagia iya, senang iya, juga merasa ucapan Reza itu lucu, entah lucu dari segi mananya. Tapi mendengar kalimatnya itu membuatku tertawa bahagia.


"Boleh tidak diulangi sekali lagi ucapan kamu barusan? Tapi direkam. Biar nanti kalau kita sudah bertahun-tahun bersama, kita bisa selalu ingat momen ini."


Reza menyetujui, dan meminta Zizi untuk merekam momen itu. Eh, kok semua pada mau merekam sih? Reza jadi salah tingkah, nervous, gugup, gerogi, dan apa pun istilah yang sejenis. Proses rekaman itu jadi harus dilakukan berulang-ulang.


Dia berdeham ketika dia mulai bisa serius. Kemudian berlutut dan mendongakkan wajah menatapku. "Aku akan membuat kamu -- Inara Dinata -- menjadi wanita yang akan selalu bahagia. Dan aku bersumpah, kamu akan selalu bahagia selamanya, meski bertahun-tahun kita bersama. I will always love you, forever."


Ayey! Suara tepuk tangan membuatku seolah menjadi ratu sejagad, yeah, walau sesaat. Pelukan hangat dari Reza setelah ia berdiri, membuat video singkat itu terasa lengkap dan sempurna. "Thank you, Mas. I will always love you too," ucapku dengan sumringah. Mungkin kau menilaiku kekanak-kanakan karena meminta Reza melakukan hal itu. Tapi aku punya keinginanku sendiri agar hidupku bahagia.


Dari Blue Lagoon, kami langsung ke Mahana Point, sebuah bar kecil yang berlokasi di puncak tebing di Nusa Ceningan. Tempat ini menawarkan kesempatan bagi pengunjung yang datang untuk melompat -- terjun ke lautan lepas dari atas tebing dengan ketinggian mencapai sepuluh meter di atas permukaan laut. Tentu sangat aman. Karena setiap wisatawan yang ingin mencoba aktivitas terjun dari pinggir tebing, akan dibekali dengan pelampung yang dilemparkan oleh pihak pengelola, setelah kita terjun ke permukaan air. Setelah itu, pengelola wisata ekstrem ini akan menarik para wisatawan dengan tali. Kalau tidak berani dengan ketinggian sepuluh meter, wisatawan juga bisa memilih lokasi titik lompatan dengan ketinggian lima meter.


"Ayo kemana?" tanyaku.


"Lompat. Berani, kan?"


"Beranilah," sahutku.


Dan, kami pun melompat, persis setelah Zizi standbye dengan kamera canggihnya untuk merekam aksi kami.


"Omong-omong, biasanya kebanyakan cewek takut untuk hal-hal ekstrem seperti ini. Kamu hebat karena kamu berani," ungkap Reza setelah kami berada di atas lagi.


"Aku ini gadis yang tumbuh besar di kampung. Melompat atau terjun dari ketinggian ke dalam air itu hal biasa. Kalau air sedang meluap sampai ke daratan atau saat banjir, melompat dari atas pohon atau dari balkon rumah, itu aktifitas gratis yang menyenangkan dan bisa dilakukan berulang-ulang. Aku sudah biasa, maksudku dulu sewaktu aku masih kecil."


Reza menangkup wajahku. "Dan alasan kedua, karena Reza Rahadian pernah melakukan adegan melompat ke air bersama lawan mainnya dalam sebuah film."


"Kamu kok tahu?" tanyaku heran. Dia benar, itu adegan dalam film Broken Heart.


Reza mengangkat bahu. "Aku tahu kamu menyukai banyak hal yang berhubungan dengan Reza Rahadian," paparnya.


...♡♡♡...


Selanjutnya perjalanan kami menuju Devil Tears, pantai indah dengan tebing-tebing karang yang tajam, berbatasan langsung dengan samudera Hindia. Terjangan ombak yang begitu besar menghantam dinding karang lalu menyembur ke udara, kemudian buih air laut tersebut jatuh ke bebatuan karang, dan airnya mengalir perlahan kembali ke laut. Saat-saat itulah kami berpose ala cover Aashiqui 2. Pose seakan ingin berciuman, saat Aditya Roy Kapur melindungi dirinya dan Shraddha dari siraman hujan dengan menggunakan jaket.


Selanjutnya kami menuju Dream Brach, pantai pasir putih seperti pantai-pantai Bali lainnya. Tapi kami tidak foto prewedding di sana, sebab pantai ini cukup ramai oleh para bule, belum lagi harus antre untuk berfoto di spot fotonya. Tempat ini tempat yang bagus untuk bersantai dan menikmati pantai, tapi sayangnya, kami harus berkejaran dengan waktu. Kami tidak akan berlama-lama di satu tempat.

__ADS_1


Mushroom Bay, yang juga sering disebut dengan nama Teluk Jamur adalah destinasi tujuan terakhir kami, sekaligus lokasi penyeberangan untuk kembali ke Sanur. Pantai ini menyuguhkan pemandangan pantai berpasir putih, air lautnya tenang dan jernih. Pada ujung kanan dan kiri pantai dibatasi oleh tebing-tebing bukit, pada ujung sebelah kiri terlihat beberapa villa yang menghiasi tebing bukit seperti perumahan penduduk. Banyak perahu sampan berjejer menghiasi garis pantai, dan sejumlah restoran juga hotel terdapat di tepi pantai.


Sekitar jam dua belas siang, kami sudah berada di kapal. Kami tiba di Sanur sebelum jam satu siang, dan langsung mencari masjid, setelah itu kami mencari tempat makan siang sebelum kembali lagi ke Pantai Sanur. Di sini, aku dan Reza hanya menghabiskan waktu untuk mengobrol santai, sambil mengurus tiga orang anak yang dititipkan pada kami. Sedangkan rombongan lainnya, termasuk emak bapaknya si anak, mereka asyik bermain jetski. Hanya karena mereka tahu kami sudah merasakan serunya main jetski di hari senin tempo hari.


"Sekalian kalian berdua belajar jadi mama papa. Oke Mama? Emmmuach." Ciuman dari Zizi mendarat mulus di pipiku.


...♡♡♡...


Malam ini suasana kembali seperti malam sebelumnya, kami semua sudah kembali ke villa. Makanan dengan porsi banyak seperti sebelumnya pun sudah terhidang dan tertata rapi. Sebut saja malam ini adalah waktunya men-charge ulang energi, terutama bagi sepuluh orang lelaki itu, yang kemampuan makannya melebihi ukuran badan mereka. Jadi tidak akan ada yang namanya membuang-buang sisa makanan.


Reza sedang menerima panggilan telepon saat aku menghampirinya. Awalnya aku tidak tahu dia sedang menelepon atau ditelepon oleh siapa, dan aku juga tidak ingin terlihat kepo, sebab itu aku tidak akan bertanya, selagi sikapnya biasa saja, tidak mengundang rasa curiga dalam benakku.


"Ibu mau bicara denganmu," katanya sambil menyodorkan ponselnya kepadaku.


Oh, ibunya...


Dalam sambungan telepon itu aku dan ibunya saling bertanya kabar satu sama lain. Dan aku senang mendengar kabar calon mertuaku itu baik-baik saja.


"Nak, kemarin Ibu dengar kamu marah pada Reza. Ibu jadi merasa bersalah pada kalian. Ibu merasa ibu membuat kamu kecewa. Dan karena Ibu juga, Reza jadi kena imbasnya, kamu jadi marah padanya."


Aku terdiam. Aku takut salah bicara. Meskipun aku biasa merangkai kalimat dalam tulisan-tulisanku, rasanya jauh berbeda ketika aku harus merangkai kalimat untuk situasi nyata.


"Nak?" panggilnya, memutus cabang-cabang pemikiran di otakku.


"Oh, eh. Tidak apa-apa, Bu. Lupakan saja. Kan Nara dan Mas Reza sekarang sudah baik-baik saja," kataku.


Setidaknya itulah kalimat terbaik yang bisa kurangkai. Sebab, aku tidak ingin berpura-pura mengatakan bahwa aku tidak kecewa atas keputusannya. Meski aku tidak bisa menyalahkannya dan tidak boleh marah padanya.


"Sebenarnya Ibu sempat takut kalau kamu akan mengabaikan janji kamu pada Ibu."


Janji? Janji aku akan menikah dengan Reza? Ya, janji itu. "Nara... emm... semoga kedepannya semuanya berjalan baik-baik saja, Bu. Jadi Nara tidak akan mengingkari janji yang sudah Nara ucapkan pada Ibu," kataku.


Bodoh! Kenapa aku tidak bisa berbohong hanya sekadar untuk menyenangkan hati calon ibu mertuaku? Harusnya kukatakan saja bahwa aku akan menepati janji itu apa pun yang akan terjadi.


Di atas panggung kecil itu, si kembar Zaim dan Zain, juga Rafasya dan Randika sedang menata panggung dan mempersiapkan alat musiknya. Juga Raline, yang mengucapkan "tes, satu dua tiga" dengan mikrofon persis di depan bibir manisnya yang berlipstik pink.


Eh? Di seberang sana samar-samar kudengar suara isak tangis. Ibu menangis? Apa karena kata-kataku barusan?


Ah, rasa bersalah menyelinap masuk ke hatiku. Aku berdiri, melangkah masuk ke villa, mencari tempat di mana aku bisa bicara dengan calon ibu mertuaku itu tanpa bisa didengar oleh Reza.


"Bu, Ibu tenang, ya. Maaf kalau Nara tidak bisa bicara lebih manis seperti seharusnya. Nara tidak bisa membual hanya untuk menyenangkan hati seseorang."


Sialan, air mataku mulai menetes. Tapi aku harus menenangkan hati seorang ibu di seberang sana. "Ibu dengar Nara, ya. Nara pastikan, selama Nara melihat kesetiaan Mas Reza, Nara akan selalu di sisinya. Nara janji, Nara akan selalu bersama Mas Reza dan selalu menemaninya."


"Baiklah. Terima kasih, ucapan kamu menenangkan Ibu. Ibu yakin, anak Ibu itu lelaki yang baik. Dia akan setia pada satu perempuan. Hanya satu perempuan."


"Aamiin," sahutku.


"Ya sudah, Nak. Ibu tutup ya teleponnya. Kalian baik-baik di sana."


Aku mengiyakan, dan telepon pun tertutup setelah ucapan salam.

__ADS_1


__ADS_2