CCI

CCI
142


__ADS_3

Setelah November plus Desember yang membekukan, dan membawa kesedihan hingga akhir Januari, Februari yang sesuai harapan akhirnya datang dengan kehangatan -- meski dalam cuaca dingin menyelimuti Jakarta, menyembuhkan stres dan bisa membuatku tertidur tanpa bantuan obat. Kendati sebenarnya aku yang kembali paranoid seringkali terbangun di tengah malam untuk mengecek keberadaan Reza di sisiku. Dan kusadari, selama kau masih cinta dan memiliki harapan, omong kosong kalau kau bisa bersikap masa bodoh alias tidak peduli terhadap pasanganmu. Kecuali jika harapan itu sudah pupus dan tak bersemayam lagi di hatimu, kau bahkan -- mungkin -- sudah tidak ingin lagi berada di sisinya.


Awal-awalnya, ketika aku terbangun di tengah malam, aku tidak bisa langsung melanjutkan tidurku. Aku seringkali menghabiskan waktu bermenit-menit dengan menatap wajahnya dan merasakan detak jantungnya yang terbungkus kulit telanjang tanpa sehelai kain -- sambil mengutuk diri sendiri yang tak mampu mengenyahkan rasa takut, padahal aku sudah memiliki -- lagi -- pelukan dan bahu ternyaman-ku sendiri. Tetapi, setelah rentang waktu yang bermenit-menit, aku bisa kembali tidur. Begitu juga pada malam-malam berikutnya yang kulalui dengan hangat di dalam pelukannya.


Tapi sayangnya, kehangatan itu agak terganggu karena rasa paranoidku yang tak kunjung sirna. Hingga pada jumat kedua bulan itu, sewaktu Reza hendak pergi ke resto, dia mengatakan kepadaku akan pulang setelah salat jumat dan makan siang di rumah -- paranoidku mulai merongrong otakku dan membuatku kembali menaruh rasa curiga.


"Kamu mau ikut?"


Aku menggeleng. "Tidak," kataku. "Tapi tolong bawakan makanan untuk makan siang. Kalau kamu tidak keberatan -- aku tidak akan memasak siang ini."


"Oke," sahutnya. "Tidak masalah. Tunggu aku pulang dan jangan bekerja terlalu berat."


Aku tersenyum. "Iya Mas." Tapi maaf kalau aku harus sedikit tidak jujur. Kuharap kali ini kamu tidak mematahkan kepercayaanku lagi.


Yap. Rasa paranoid itu mendorongku untuk mengikutinya. Sori, maksudku, aku akan pergi ke resto, memastikan sendiri dia ada di sana, bersama siapa, dan berbuat apa.


...♡♡♡...


Resto baru buka dan masih sepi pengunjung saat aku masuk selayaknya customer dengan masker dan kaca mata yang membuatku nampak berbeda, terlebih aku harus mengurai rambutku dan menyempatkan diri untuk membeli pakaian baru. Tentu saja supaya Reza tidak mengenaliku dengan pakaian yang dia tahu betul itu milikku. Di saat itu pula terpikir olehku bahwasanya semua pakaianku yang disediakan Reza memiliki kesamaan; semuanya menggunakan ritsleting, kancing, atau kerah berkaret. Geli rasanya ketika aku baru menyadari semua itu, sebab otak mesum mengarahkan pikiranku ke memori-memori saat Reza...


Halo... ingat tujuanmu ke sini, Inara... Kuenyahkan pikiran tentang semua kenangan-kenangan manisku itu. Fokus, ya Nara.... Fokus!


Gara-gara pikiran itu, aku sampai tidak menyadari Reza sudah duduk di meja -- persis di belakangku, aku mengenali suaranya. Dia bersama seorang lelaki yang aku tidak tahu itu siapa, tapi dari obrolan mereka jelas sekali kalau lelaki berjas itu adalah seorang pengacara. Dan karena obrolan itu pula -- aku bergerak-gerak gelisah di kursiku. Aku tidak menyangka kalau kata-kataku sangat berpengaruh, sehingga Reza benar-benar membuat surat wasiat dan mencantumkan namaku di dalamnya.


Tengkukku meremang. Aku jadi ketakutan, bagaimana kalau...


Ya Tuhan... aku tidak ingin kehilangan suamiku. Aku menyesali ucapanku hari itu. Dengan gemetar, aku meninggalkan tempat. Aku tidak ingin reaksiku menimbulkan kecurigaan dan membuat Reza menyadari keberadaanku. Kalau dia sampai melihat aku ada di sana, dia akan tahu kalau aku diam-diam menyimpan rasa tidak percaya terhadapnya.


Namun malang bagiku, ketika aku hendak pergi motorku malah mogok. Tapi aku harus lekas pergi, terpaksa kudorong motor itu dengan sekuat tenaga, hal yang paling bodoh yang pernah kulakukan dalam hidup. Seorang perempuan, hamil, mendorong motor di saat matahari mulai terik, lengkap dengan alas kaki berhak lumayan tinggi. Kalau dalam keadaan tidak terjepit dan kalut, pasti aku berpikir seribu kali untuk melakukan itu.


Yah, aku melakukannya. Aku mendorong motorku hingga cukup jauh sampai-sampai kakiku luar biasa pegal dan perutku agak keram. Aku menyerah dan berhenti, lalu kuputuskan untuk menelepon Ihsan dan memintanya untuk segera menjemputku. Dan seperti biasa, Ihsan memarahiku karena sudah bertingkah begitu ceroboh plus bodoh. Kendati demikian dia tetap peduli, dia menelepon tukang bengkel dan menyerahkan motorku untuk diservis. Lalu, alih-alih mengantarku pulang, dia malah membawaku ke rumah sakit. Dia terus menggerutu kendati pacarnya, Aarin -- sudah menegurnya berkali-kali. Itulah Ihsan dan perhatiannya yang unik. Hasil pemeriksaan kandunganku yang baik-baik saja pun tidak akan meluluhkan sikap cerewetnya. Dia akan terus bercuap sampai dia puas menceramahiku.


"Sudah, Yank. Mbak Nara kan baik-baik saja."


"He'em, sedang hamil begini kok malah dimarahi."


"Justru karena kamu sedang hamil, Markona.... Makanya jangan suka pergi sendirian."


"Iya, Bambang.... Dasar cerewet."


"Begitu tu kalau dinasihati."


"Kamu itu marah-marah, bukannya menasihati aku."


"Menyahut terus."


"Aku kan punya mulut."

__ADS_1


"Keras kepala."


"Memang."


"Bisa diam, tidak? Orang kalau salah tu diam, jangan menyahut terus."


"Oke. Aku diam."


Hening. Aku dan Ihsan tidak saling menyahut lagi. Sementara Aarin menggeleng-gelengkan kepala sebab keheranan.


"Jangan heran, Rin. Dia secerewet itu karena dia sangat sayang padaku. Nanti kamu juga bakal merasakan kecerewetannya."


Ihsan melirik ke spion. "Itu pujian atau cemooh?" katanya. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang berusaha ia tahan.


"Bagaimana kamu mengartikannya saja." Aku balas tersenyum. "Terima kasih, ya. Kamu sudah menyayangiku dan peduli padaku sampai sebegitunya."


Dia tidak menyahut. Senyumnya mengembang lagi kendati ia berusaha menutupi senyum itu dengan jemarinya. Pun ketika sampai, dia menyempatkan turun dari mobil untuk memelukku. Pelukan yang lebih lama dari biasanya. "Jaga diri dan kandunganmu baik-baik," pesannya. "Kalau ada apa-apa, segera telepon aku. Jangan ceroboh lagi."


"Iya, pasti," sahutku.


"Kami balik ke kantor, ya Mbak," ujar Aarin yang memelukku setelah Ihsan."


"Jangan bilang ke siapa-siapa soal pemeriksaanku tadi, ya? Janji?"


"Iya, Mbak. Tenang. Aku bisa menjadi teman dan saudari yang baik, ya kan?"


...♡♡♡...


Sepeninggal Aarin dan Ihsan, aku buru-buru masuk ke dalam rumah dan mengerjakan pekerjaanku yang belum beres. Dengan segera aku membilas dan menjemur cucianku, plus mencuci piring yang tadi terpaksa kutinggalkan karena buru-buru pergi menyusul Reza. Untung saja aku sudah menyapu lantai dan beberes kamar sebelum Reza berpamitan, sehingga aku tinggal memasak nasi dan segera bersih-bersih diri. Dengan terseok-seok aku naik ke lantai atas, aku harus mandi karena tubuhku bau keringat, belum lagi debu jalanan Jakarta yang menyerbu kulitku. Itu bisa membuat Reza curiga kalau aku tidak segera mandi.


Tapi tetap saja, aku tidak punya cukup waktu. Suara Reza sudah menggema dari lantai bawah sewaktu aku selesai mandi.


"Sayang...," panggilnya. "Kamu di mana?"


"Di kamar...," seruku.


Hanya berselang beberapa detik dia sudah muncul di pintu kamar dengan wajahnya yang girang, sebabnya dia yang beberapa jam lalu berpisah denganku -- begitu melihatku lagi-- aku dalam keadaan hanya terbungkus handuk.


"Waw! Penyambutan yang menyenangkan," ujarnya.


Aku menggelengkan kepala melihat cengirannya yang edan. "Jangan macam-macam, aku baru selesai wudu."


Dia merengut. "Ya sudah. Aku tunggu di bawah, ya."


Fiuh... selamat. Kakiku pegal, tahu!


"Eh, sebentar. Motor kamu ke mana, ya? Kok tidak ada di garasi?"

__ADS_1


Aku harus jawab apa? Aku mana boleh berbohong. "Ada di bengkel, Mas. Ihsan yang bawa."


"Oh, Ihsan tadi ke sini?"


Aku mengangguk. Aku tidak bohong. Jawabanku jujur. Motor memang ada di bengkel. Ihsan yang menelepon tukang bengkel. Ihsan memang ke sini untuk mengantarku. Aku hanya tidak bisa menceritakan yang selengkapnya. Maaf...


"Ya sudah, salatlah. Aku tunggu di bawah, ya."


Aku mengangguk, lalu cepat-cepat berpakaian, salat, dan menyusulnya ke bawah untuk makan siang.


"So sweat... manisnya suami Nara. Terima kasih, Mas."


Dia tersenyum senang. "Cuma menyiapkan makan begini saja dapat pujian. Ini tidak sebanding tahu dengan yang kamu lakukan setiap hari. Terima kasih, ya. Kamu bersedia mengurusku selama ini."


"Sama-sama, Mas. Itu kan sudah kewajibanku."


Reza mengangguk, dan matanya berkaca. Aku tidak tahu apa yang ada di hati dan pikirannya saat ini. "Terima kasih. Kamu sudah bersedia menemani lelaki sebatang kara ini."


Kenapa sih dia pulang-pulang jadi melankolis begini? Aku heran. "Kamu kenapa? Hmm? Tolong, jangan sebut diri kamu sebatang kara lagi. Kamu punya aku, istri kamu."


"Iya, iya. Tidak usah dibahas. Ayo, mari kita makan. Dede-nya Papa sudah lapar."


♡♡♡


Setelah kenyang, kupaksakan kakiku berdiri dan mencuci piring di wastafel. Setelah itu, aku terseok-seok ke sofabed, mengistirahatkan kakiku dan melemaskan otot-ototku. Kendati demikian, aku berusaha terlihat baik-baik saja di depan Reza.


"Sudah santai, kan?" tanyanya seraya duduk di depanku. Dia mengangkat dan menaruh kakiku di atas pangkuannya.


Aku mengangguk. "Iya. Makanya sekarang aku selonjoran."


Dia tersenyum. Kusadari -- meski matanya menatapku, tapi tangannya menyusuri kakiku, menyelinap masuk ke dress dan menggosok-gosok pahaku. Aku tahu persis maksud dan tujuannya, aku tahu dia menginginkanku sedari tadi. Tapi aku harus menghentikannya sebelum dia keterusan.


"Mas, aku kepingin es krim rasa mangga."


Seperti dugaanku, dia akan sangat senang setiap kali aku meminta sesuatu, baginya itu ngidam. Dia pun langsung mengelus-elus perutku. "Anak Papa mau es krim? Iya? Oke, langsung Papa belikan sekarang," katanya bicara dengan anak-anaknya di dalam perutku. Kemudian dia langsung berdiri dengan semangat empat lima. "Tunggu, ya Sayang."


"Lo? Aku mau ikut, Mas."


Dia menggeleng. "Di luar itu bahaya, Sayang."


"Tapi aku mau ikut..."


"Oke. Tapi kamu nanti diam di mobil, jangan ikut keluar. Deal?"


"Iya. Janji."


"Ayo."

__ADS_1


"Gendong...," aku merengek. Tapi toh berhasil, dia bersedia menggendongku yang sedikit lebih gemuk.


__ADS_2