
Siang itu, setelah aku menelepon ibuku dan menceritakan tentang silsilah keluarga Reza, aku langsung pergi ke Dinata Resto. Sesampainya aku di sana, kepala pelayan mengambilkan daftar menu dan langsung mempersilakan aku duduk. Ia memerintahkan karyawan lain untuk mengambilkan barang-barangku dan membawakannya padaku. Selagi menunggu pesananku, aku pergi ke toilet sebentar. Sebenarnya aku tidak terbiasa ke toilet umum, tapi hari itu aku terlalu banyak minum sehingga menyebabkan aku butuh ke toilet.
Waktu aku hendak kembali ke meja, aku mendengar suara asing yang tidak pernah kukenal.
"Inara?" kata orang itu.
Waktu aku menoleh, nyaris saja aku terjerembab. Laki-laki itu duduk persis di sana, barangkali sudah sepanjang siang dia duduk di pojokan, sekitar enam meter jauhnya dariku. Laki-laki yang sudah lebih dari dua puluh dua tahun tidak pernah kulihat.
Ayahku.
Dia kelihatan lebih tua daripada yang pernah kubayangkan, terutama karena rambut hitamnya yang lebat itu sudah banyak ubannya, tetapi fisiknya masih lumayan bagus. Ayahku laki-laki yang tampan, dengan tinggi badan lebih dari seratus delapan puluh senti, berkulit putih dan berlesung pipi.
Dia bersama seorang perempuan usia empat puluhan, dan seorang lelaki muda sebaya denganku, yang menurut tebakanku perempuan itu antara pacarnya atau klien yang minta diuruskan perpisahan dengan suaminya. Itu bukan selingkuhan-selingkuhan ayahku yang dulu merusak rumah tangga kedua orang tuaku, wanita itu bukan Yanti, juga bukan Rhea, karena keduanya pasti sudah setua ayahku, sebab aku tahu umur mereka tidak terpaut jauh dengan ayahku. Tapi terserahlah siapa pun dia.
"Inara? Sayang, itu kamu?" tanyanya.
Tolong, tolong bilang dia tidak menyebutku Sayang, pikirku. Tolong bilang aku saja yang mengada-ada.
Kupikir kalau aku tidak bereaksi, kalau aku berjalan saja terus, dia akan mengira telah salah orang. Barangkali aku hanyalah orang yang mirip dengan cewek bernama Inara itu. Rupa-rupanya tidak berhasil.
Laki-laki itu mendekat saat aku kembali ke mejaku. Dia menatapku dengan lekat -- meski sebenarnya aku tidak melihat dia menatapku dan aku tidak menggerakkan kepalaku ke arahnya sedikit pun, tetapi aku merasakan kehadirannya dan merasakan tatapannya.
__ADS_1
"Permisi. Ini barang-barang Mbak dan Mas Reza yang tertinggal di kamar," kata si pelayan.
Hei! Kenapa kau selalu datang di saat yang tidak tepat? Ingin kuteriaki dia seperti itu.
Aku berdiri, mengambil paper bag yang sudah berada di atas meja itu, lalu pergi. Sempat aku melihat sekilas pelayan yang membawakan pesananku melongo karena aku pergi bahkan sebelum makanan itu terhidang di atas meja.
...♡♡♡...
"Mati kau! Mati!"
Aku menginjak-injak semut yang menggigitiku. Ada sepotong cokelat di atas rumput yang tak sengaja terpijak olehku.
Ponselku tidak berhenti berdering. Reza terus berusaha menghubungiku, tapi aku sedang tidak ingin bicara dengan siapa pun. Aku meninggalkan pesan bahwa aku akan menghubunginya nanti, lalu aku mematikan ponsel. Aku tetap berada di taman resto cukup lama. Aku tidak ingin pergi dalam keadaan amarah menguasai pikiranku.
Aku marah pada diriku sendiri karena aku masih mengenali wajah lelaki tua itu, yang semenjak dua belas tahun terakhir tidak pernah kulihat sama sekali. Aku ingat terakhir kali aku menatap fotonya itu sehari sebelum ulang tahunku yang kedua belas. Harusnya dalam kurun waktu dua belas tahun itu aku sudah lupa. Harusnya, harusnya seperti itu. Supaya ketika aku bertemu dengannya secara tidak sengaja, aku bisa mengatakan kalau aku tidak kenal dengannya.
Aku sering merasa kalau aku seperti orang gila. Misalnya saat aku membaca kalimat yang diucapkan salah seorang toko di dalam novel, seperti saat Trixie mengatakan; Seharusnya Thomas Doorley memikirkan konsekuensi-konsekuensi dari tindakan-tindakannya, dan bahwa segala akibat perbuatannya itu akan menyakiti anaknya. Kalaupun Thomas Doorley tidak bisa bersama Joanna Grace, bukankah setidaknya dia masih bisa bersama Jacob?
Kalimat itu juga yang ingin kukatakan pada ayahku yang payah itu. Seharusnya ayahku memikirkan konsekuensi-konsekuensi dari tindakan-tindakannya, dan bahwa segala akibat perbuatannya itu akan menyakiti aku, anaknya. Kalaupun dia tidak bisa bersama ibuku, bukankah setidaknya dia masih bisa bersamaku dan adikku?
Tetapi kalimat itu sudah sangat terlambat untuk diucapkan. Sangat terlambat.
__ADS_1
Setelah satu jam kemudian, aku pergi dari sana. Aku tidak tahu harus ke mana. Aku melihat ke luar kaca jendela taksi, melihat-lihat di sepanjang jalan, persis di depan sebuah masjid, aku menyuruh si supir berhenti, lalu memberikan sejumlah uang kepadanya. Aku turun dari taksi lalu masuk ke dalam masjid. Aku berharap hatiku bisa sedikit tenang setelah datang ke tempat itu.
Ketika aku keluar, aku melihat Jason, asisten pribadi Reza untuk cabang restonya di Surabaya, lelaki muda yang selalu berpenampilan necis dengan setelan jas. Dia sedang berdiri di depan mobilnya.
"Kamu mengikuti saya?" tanyaku.
"Maaf, saya hanya menjalankan perintah dari Pak Reza," jawabnya.
"Saya mau pulang."
"Mari, saya antar," ucapnya, lalu ia membukakan pintu mobil. Aku diam beberapa saat, tapi setelah kupikir-pikir, paling tidak aku membuat Reza tenang jika aku diantar pulang oleh asistennya.
Setibanya aku di tempat kost, Jason menyodorkan satu plastik berisi dua porsi Bebek Pak Janggut dan satu plastik berisi milkshake dan chocholate ice. "Saya disuruh Pak Reza," katanya. Aku mengucapkan terima kasih, lalu langsung masuk.
Reza sengaja menyuruh Jason membeli dua porsi, pasti dalam pikirannya supaya aku tidak perlu keluar lagi untuk makan nanti malam. Sementara satu porsi untuk makan siang, karena dia pasti mendapat informasi bahwa aku bahkan belum sempat makan siang saat kabur dari ayahku.
Bebek itu mengingatkan aku tentang malam yang tidak beres itu, aku menyebutnya "tragedi mayones yang brakhir indah." Benda yang membuatku memuntahkan seporsi bebek, tapi benda itu juga yang membuatku tidur dengan nyenyak dalam pelukan Reza.
Setelah menghabiskan seporsi bebek itu, aku sengaja mengirimkan foto tulang-tulangnya kepada Reza, aku ingin dia tahu kalau aku baik-baik saja, aku sudah pulang, dan aku sudah makan siang. Kukirimkan foto itu dengan menuliskan ucapan terima kasih, dan terima kasih juga karena tidak ada mayones.
Satu dari sekian banyak hal yang kusukai dari Reza ialah pengertiannya. Dia tidak akan pernah memaksa aku untuk langsung bercerita. Dia akan selalu memberikan aku waktu untuk menenangkan diri sejenak, dan menunggu sampai aku siap untuk menceritakan apa yang terjadi dan apa yang aku rasakan. Dan aku tahu, Reza Dinata adalah salah satu makhluk langkah yang masih tersisa di abad ini, di antara banyaknya lelaki berengsek yang terbalut jas mahal dan dasinya yang panjang.
__ADS_1