
"Sayang?"
"Emm?"
"Boleh tidak setelah ini kamu jangan ke mana-mana tanpa aku?"
Pertanyaan itu membuatku mengernyitkan kening dan berhenti sejenak mengunyah soto Bandung yang dipesankannya untukku.
"Jangan mengembara lagi. Terus kalau mau ke mana-mana harus denganku. Diam di rumah kalau kamu sedang tidak bersamaku, atau paling tidak minta temani Ihsan kalau kamu ada keperluan di luar."
Aku berdeham. "Kamu... mau aku tidak melakukan perjalanan lagi atau kamu tidak mau aku bertemu dengan orang-orang yang memancing aku melakukan hal bodoh seperti yang kamu bilang?"
"Keduanya. Tolong, janji padaku?" pintanya dengan sorot mata penuh harap.
Aku terdiam sesaat, otakku memikirkan apa sebaiknya aku berjanji? Apakah aku siap konsisten jika aku berjanji -- mengingat tempo hari aku selalu ingkar pada janji-janjiku?
"Emm... aku takut berjanji, Mas. Aku takut tidak bisa menepatinya. Tapi aku usahakan, aku akan diam di rumah saat aku tidak bersama kamu," kataku, mencoba untuk menanggapi permintaan Reza dengan sebijaknya.
Reza tersenyum lebar. "Itu sudah cukup. Aku akan tenang kalau kamu diam di rumah saat aku tidak bisa menjagamu."
Aku mengangguk dan tersenyum. Aku tahu Reza tidak bermaksud mengekangku, dia hanya ingin semua hal yang terbaik untukku. Itu adalah bentuk perhatiannya padaku.
"Besok hari terakhir liburan kita. Kamu mau ke mana?"
Kucoba berpikir cepat. Tapi nihil. "Nanti aku pikirkan, ya Mas," kataku sembari mendorong mangkok sotoku yang sudah kosong.
Di belakang Reza, seorang ibu-ibu hamil tengah celingak-celinguk mencari meja kosong. Memang sudah waktunya jam makan malam sehingga tamu-tamu food court kian banyak berdatangan. Kami sudah selesai makan, kami pun tahu diri untuk segera beranjak agar pengunjung lain bisa mendapat tempat duduk untuk makan.
Beberapa saat kemudian, pikiranku tertuju pada si ibu hamil yang tadi kulihat di food court. Kupikir kalau nanti aku hamil pasti aku tidak akan selincah saat ini, bisa mengembara ke mana pun yang aku mau. Terlebih Reza sudaah memintaku untuk tidak pergi-pergi sendirian lagi. Permintaan Reza pun menjadi pertimbangan di otakku saat ini, tapi andaipun aku ingin bepergian, tentu saja tidak akan nyaman lagi bila tanpa Reza di sisiku.
__ADS_1
"Kamu lagi memikirkan apa?" tanya Reza memutus cabang-cabang pikiranku.
Aku tersenyum kecil, tidak, bukan, lebih tepatnya hanya menyunggingkan bibir yang nampak sedang tersenyum. "Lagi memikirkan kalau nanti aku hamil, terus punya bayi. Itu artinya aku akan lebih banyak diam di rumah, kan?"
Lagi-lagi Reza tersenyum. "Sudah mikir punya bayi saja kamu. Pikir dulu malam pertamanya. Siap tidak?" godanya.
"Mas...," pekikku. Kali ini aku menahan senyum karena malu. Terlebih malu karena teringat adegan di villa kemarin malam. "Aku serius, Mas. Aku mau tahu, apa kamu berencana mau langsung punya anak atau mau menunda dulu?"
Dia tersenyum. "Langsung," jawabnya santai. "Kalau perlu kita ikut program hamil."
Langsung hamil? Ikut program hamil?
Itu artinya aku pun harus menjaga fisikku, itu artinya aku tidak boleh terlalu capek, itu artinya aku harus mengorbankan pengembaraanku?
Kalau begitu, artinya aku hanya punya waktu saat ini, kan?
Uh... pikiranku sudah ke mana-mana. Siapkah aku dengan pase kehidupan baru setelah menikah?
"Jangan terlalu dipikirkan. Jalani dan nikmati kodrat kamu sebagai wanita. Nanti ada masanya untuk bisa jalan-jalan lagi, liburan lagi. Ya... meski tidak sebebas sekarang. Tidak bisa seharian semalaman seperti sekarang. Dan tidak bisa se-melanglang buana seperti sekarang," ujarnya seraya tetap fokus menyetir mobil dan sesekali melirik ke arahku.
"Mas, bisa tidak kita menghabiskan waktu dengan berpetualang bebas sebelum hari pernikahan?"
"Terus persiapan pernikahan kita?"
"Kan semuanya bisa diurus sepupu-sepupuku," tandasku.
Reza nampak sedang berpikir sebelum menjawab permintaanku. "Sayang, kita sudah pergi selama tiga minggu full. Aku tidak enak pada Bunda kalau mengajak kamu pergi lagi. Lagi pula aku ada pekerjaan yang harus kuurus."
Aku merunduk lemah mendengar jawabannya. Kusandarkan tubuhku sembari melihat ke luar jendela.
__ADS_1
"Begini saja. Nanti setelah kita menikah, kita luangkan waktu, ya. Terserah kamu mau berapa hari, tapi jangan lebih dari satu bulan. Dan... kita akan tetap meluangkan waktu setelah itu, tapi tidak belusukan, tidak membuat kamu terlalu capek, karena aku mau kita fokus punya anak. Deal?"
Aku mengangguk. "Iya. Terima kasih, Mas."
...♡♡♡...
Sabtu pagi, sebenarnya hari ini hari terakhir kami di Bandung. Rencana awalnya kami akan pulang pada minggu pagi. Tapi secara mendadak aku mengajak Reza melakukan perjalanan dari Bandung ke Cianjur dengan estimasi waktu dua hari dan berencana bermalam di sekitaran Puncak. Ide itu muncul begitu saja, hanya karena aku menginginkan sebuah perjalanan panjang sembari singgah di bererapa tempat dan menikmati pemandangan di sepanjang jalan yang kami lalui, sebelum aku harus berdiam diri di rumah sesuai keinginan Reza. Tentu saja, mumpung kebebasan itu masih ada.
Gayung pun bersambut, dan nenek pun langsung mandi. Eh? Maksudku, Reza mengiyakan permintaanku. Sungguh, betapa senangnya hatiku, rasanya aku ingin melompat-lompat mengguncang kota Bandung saking senang dan girangnya aku pagi itu. Meskipun kami tahu benar, weekend adalah jam macet parah untuk kawasan Puncak, tapi aku sangat ingin mampir ke Taman Batu Citatah, lalu mampir di Cianjur dan bermalam di Puncak. Untuk hal satu ini aku tidak keberatan dibilang gila, aneh bin nyeleneh. Di saat banyak orang ingin menghindari kemacetan, aku malah mengajak Reza masuk ke dalamnya. Kenapa tidak? Toh, bagi kami ini adalah perjalanan santai dalam mengukir cinta, menulis cerita, dan membingkai kenangan di usia muda.
"I love you, Mas Sayang." Kuucapkan kalimat itu sebagai ungkapan terima kasih.
Disentuh dan dielusnya kepalaku seperti biasa. "I love you more, Nara Sayang...," sahutnya lengkap dengan kecupan manis manja mendarat di pipi. "Mas sayang kamu."
"Nara juga sayang kamu, Mas."
Begitulah kira-kira, perasaan yang menggebu-gebu ini membuat kami seperti ABG yang mengalami masa puber.
"Ingat, ya Sayang, aku tidak tahu jalur, dan google map tidak selalu menunjukkan arah yang benar. Kamu siap kalau-kalau kita nyasar?" tanyanya sambil menyusun barang ke dalam mobil yang sekarang muatannya hampir penuh dengan barang-barang kami, termasuk oleh-oleh yang semalam kami beli.
"Asal ada kamu dan bersama kamu, di mana pun akan selalu menyenangkan kok, Mas."
"Gombal!"
"Aku serius, bukan menggombali kamu. Lagipula mumpung kebebasan itu masih ada, kan? Belum tentu lo setelah menikah kamu mau kuajak pergi-pergian begini. Bisa jadi -- nanti kamu maunya berduaan terus di kamar."
Sontak saja Reza berhenti sejenak menyusun barang-barang itu. Dia menoleh ke arahku dengan senyum dan tawa kecilnya yang ceria. Sepercik pemikiran manis pasti diam-diam menyusup ke hatinya. Eh, ke hati atau ke otaknya? Ke mana pun oke oke sajalah, ya.
Intinya senyum dan tawanya itu, dua hal kecil yang membuat suasana Bandung pagi ini terasa hangat. Dia nampak seperti anak laki-laki usia tujuh belas tahun kalau sedang rada malu, sangat imut dan menggemaskan.
__ADS_1