
Reza menekan pedal gas dan kami melaju dalam keheningan, kemudian berhenti tepat di depan rumah Ihsan. Tetapi, tidak satu pun dari kami turun, bahkan tidak ada yang membuka pintu.
"Selama di perjalanan tadi aku berharap kamu memintaku untuk berhenti. Aku berharap kamu memintaku untuk membawamu pulang."
Bagus. Bisa-bisanya kamu berharap seperti itu. "Aku wanita. Apa aku yang harus meminta? Apa aku harus menyembah dan menjadi murahan seperti Salsya? Aku wanita, Mas. Aku ingin lelakiku -- lelaki yang kucintai menginginkan aku. Hanya aku untuk selamanya. Apa aku harus memohon supaya kamu mau menjadikan aku milikmu satu-satunya? Hmm? Aku harus memohon, begitu?"
Agak tidak nyambung sih. Aku tahu itu. Tapi aku tidak tahu dan tidak terpikir mesti mengatakan apa. Seperti aku yang juga tidak tahu keinginan hatiku yang sebenarnya, separuh hatiku ingin tetap bersama Reza, membangun keluarga kecil kami dengan bahagia. Tetapi, sebagian hatiku seperti meronta-ronta, takut jika terus tersakiti olehnya.
Sesaat kemudian, Reza menoleh lalu menatapku beberapa detik. Setelah itu ia pindah ke belakang, duduk di sampingku. "Peluk dulu, yuk?"
Aku yang menatap ke luar jendela sejak ia pindah ke sisiku -- langsung menoleh untuk menghadapnya, dan jantungku berdebar kencang seperti anjing pemburu yang sedang mengejar kelinci, persis ketika aku tak sengaja menangkap tatapan matanya. Dan dengan cepat aku teringat perasaanku setahun yang lalu -- bagaimana dia dapat membuat napasku tercekat di saat-saat tak terduga, hanya dengan melirik. Kusadari perasaan itu benar-benar masih sama.
Aku yang saat itu tengah duduk sambil menekuk kedua kaki dalam dekapan lengan -- merasa seluruh bagian tubuhku terkunci hingga aku tidak bisa beringsut untuk mendekat padanya.
"Sini, Mas peluk," katanya.
Aku tersenyum sementara getaran sukacita melepaskan diri dan merayap ke jemari kakiku. Dengan lembut, ia menarikku dan menyandarkan aku ke dalam pelukannya. Kendati saat itu kami masih terperangkap dalam keheningan yang cukup lama, tetapi aku merasakan kehangatan dari bibirnya yang menciumi sisi keningku.
"Kamu mendengarkan pembicaraanku dan Kayla semalam, kan?"
"Emm, ya," sahutku.
"Aku sungguh tidak ingin mengorbankan siapa pun. Apalagi anak dan istriku. Kalian yang paling berharga. Tapi aku juga tidak ingin mengorban Aulian. Sori, maksudku -- aku tidak ingin Aulian menjadi korban. Ini bukan tentang Salsya, ya Sayang. Hanya Aulian. Dia bayi yang malang, setelah terlahir ke dunia -- dia malah menjadi korban cinta ibunya yang tidak berakhir sesuai harapan. Aku... aku merasa berdosa membiarkan dia menanggung nasibnya sendiri. Tapi bukan berarti aku ingin berbuat atau melakukan hal yang lebih dari sekadar menolong. Bukan. Bukan seperti itu. Bukan berarti aku ingin menikahi ibunya, tidak sama sekali. Perasaanku ke Salsya sudah sirna, bahkan sebelum aku bertemu dengan kamu. Yang tersisa sekarang hanya rasa kasihan, itu pun karena aku merasa bersalah, karena dia masih mencintaiku." Reza berhenti bicara dalam jeda yang terputus, yang tidak enak di dengar. Dia seperti masih hendak bicara, tapi seperti tidak tahu bagaimana mesti merangkai kata dengan tepat.
Aku mengerti Reza kesulitan menjelaskan itu kepadaku. Tapi setidaknya aku sudah mengerti dan merasakan kejujurannya. Aku berdeham. "Mas, kamu kesulitan menjelaskan ini kepadaku?" Kuangkat kepalaku dan menatap matanya.
Dia mengangguk dan menundukkan pandangan. "Iya. Aku takut salah bicara. Aku takut... nanti kita malah ribut lagi."
__ADS_1
"Intinya kamu tidak mencintai dia lagi, kan? Tatap mataku."
Dia tidak hanya menatapku, tapi juga menaruh tanganku ke dadanya. "Di dalam sini... hanya ada kamu. Tidak ada tempat lagi untuk perempuan lain."
Ah, indahnya. Bisa kurasakan detakan jantungnya yang seolah berpacu hanya untukku. "Ciyus? Miapah?"
Reza tidak menyahut. Sebagai gantinya dia malah mengulum bibirku dengan perasaannya yang membara. Ini menyebabkan jutaan kupu-kupu menghinggapi perutku. Dan kurasakan pipiku bersemu merah, dengan senyuman mengembang sempurna meski aku berusaha menahannya. Ini keadaan yang sama seperti pertama kali dia menciumku di Kuta waktu itu. Kenikmatan dan kehangatan yang sama.
"Hari ini satu Februari," ujarnya. "Itu berarti sudah satu tahun kita bersama. Satu tahun penuh sejak pertama kali aku melihat kamu dengan senyuman seperti ini. Kamu, Inara-ku yang sama. Si Cantik yang seringkali menghindari tatapan mataku karena tersipu malu. Inara yang menggetarkan hatiku, dan hatinya bergetar karena aku."
Aku melotot dengan alis terangkat. "Sudah.... Aku malu..."
Reza tersenyum. Dia tak berhenti menatapku sambil membelai rambut di sekitar telingaku. "Sayang, boleh aku mengatakan sesuatu lagi?"
Aku mengangguk.
"Aku tahu, semua emosi kamu -- selain karena itu memang karena karakter kamu yang sudah kukenal sejak dulu, itu juga karena bawaan kamu yang sedang hamil. Aku mengerti semua kesensitifan dan kelabilan kamu. Kamu sama sekali tidak bersalah. Semuanya salahku. Jadi, tolong, maafkan aku?"
"Mas tahu Nara tidak pernah berubah," katanya.
"Mmm-hmm.... Jangan main-main di belakangku lagi. Harus jujur dan terbuka. Oke?
"Iya," katanya sambil mengangguk. "Tapi kamu harus jaga emosi kalau aku membahas-bahas tentang itu."
"Emm... mudah-mudahan," aku terkikik. "Aku akan berusaha, Mas."
"Sekali lagi, Mas minta maaf atas semua yang terjadi sejak semalam. Ya? Maafkan?" Kali iniĀ tatapan matanya lebih intens.
__ADS_1
Aku pun mengangguk lagi, masih dengan senyuman malu-malu. "Yah," kataku tanpa suara. Kusadari mulutku terbuka lebar meski suaraku tak terdengar.
Kami berpelukan -- keduanya lega. Dan rasanya menyenangkan, sekaligus membahagiakan.
"Sayang?"
"Emm?"
"I want you."
"Me too..."
"Ehm, aku butuh vitamin cinta darimu."
"Mmm-hmm..."
"Masuk, yuk? Ngamar sebentar."
Aku langsung nyengir melihat ekspresinya yang mengajakku bercinta sesaat setelah mendapatkan maafku. "Di dalam tidak ada orang. Ihsan kerja, Bunda sekarang ada di Bogor."
"Oh," bibirnya membulat dengan sempurna, lalu monyong sesaat. "Langsung pulang, ya?"
Pada saat itu, aku tersambar suatu desakan membeludak untuk mengatakan kepadanya aku menginginkannya saat itu juga -- aku begitu ingin berada dalam pelukannya, dan dihujani cinta yang tumpah ruah darinya. Tapi lidahku terasa keluh untuk mengatakan hal itu. Akhirnya dengan benak berpacu kutatap wajahnya yang rupawan. "Say, you want me now! Di sini."
Dia menaikkan alis, meminta untuk diyakinkan bahwa ia tidak salah dengar. "Yes. I want you," katanya. "Aku menginginkanmu, sekarang. Boleh?"
"Yah, Nara milikmu."
__ADS_1
Dia menatapku dengan tatapan hipnotisnya yang indah, dan memberiku kehangatan yang langsung membanjir deras di sekujur tubuhku.
Ini, tahun kedua dalam cerita cinta kami. The car love story. Bagian termanis dalam kisah cintaku -- yang akan selalu kuingat.