
"Sayang, bangun." Suara Reza terdengar samar-samar di telingaku. Aku membuka mata, kutolehkan kepalaku, dan dia ada di sana, sosoknya dibingkai siluet kaca jendela. Wajahnya tersenyum, dia sudah mandi dan rambutnya sudah terikat rapi.
Sial! Aku bahkan tidak mandi dan tidak berganti pakaian semalaman.
"Ya ampun. Kamu pasti capek setengah mati ya semalam?"
Dia melompat ke atas tempat tidur dengan penuh vitalitas, dan mengambil posisi persis di atasku, sambil nyengir lebar seperti orang edan. Sementara pikiranku masih mengawang-awang. Yang kuingat semalam kami dalam perjalanan pulang, dan aku tidak tahu lagi bagaimana setelahnya.
"Semalam aku ketiduran, ya? Kamu yang menggendongku ke kamar?"
"Menurutmu? Apa mungkin kamu berjalan sambil tidur?"
"Terima kasih. Maaf sudah merepotkan kamu."
"Tidak masalah, itu sudah menjadi tugasku," katanya. Kemudian dia mencoba mencium bibirku, tapi aku menghindar.
"Aku belum mandi, belum gosok gigi," kataku.
"Oke. Sekarang bangun, mandi, gosok gigi, kita sarapan." Reza berkata sambil menepuk-nepukkan jarinya ke bibirku. Matanya yang tajam menatap lekat ke mataku dengan seulas senyum kecil terbentuk di bibir manisnya.
"Mau berapa lama menatapku? Aku tidak akan bisa bangun kalau kamu tidak menyingkir dari atasku."
Dia tidak bergeming. Dicobanya mencium bibirku sekali lagi. Tidak berhasil. Kukuncikan bibirku rapat-rapat. Dan dia pun menyerah.
Saat aku selesai mandi dan keluar dari kamar, Reza sedang santai di meja makan. Dia sudah berganti pakaian, dengan setelan jas dan dasi panjangnya, duduk bersandar di kursi dengan kaki menyilang, sedangkan tangannya sibuk dengan ponsel.
Aku masuk lagi ke kamar, tadinya aku tidak memakai lipstik, tapi ide iseng tiba-tiba saja muncul di otakku. Aku langsung melukiskan lipstik ke bibir manisku, lalu buru-buru keluar sebelum lipstikku mengering. Dengan sengaja kusalungkan kedua tanganku di pundaknya dan mencium pipinya. Benar saja, dia tidak menyadari lispstikku menempel di pipinya.
"Kamu berangkat jam berapa?" Aku bertanya supaya suasana nampak biasa saja dan dia tidak menyadari kejahilanku.
"Sebentar lagi. Memangnya kamu tidak mau ikut?"
"Aku di sini saja, ya. Pingin istirahat seharian."
"Oke. Gih duduk, sarapan dulu."
Aku pun duduk di sampingnya, menikmati bubur yang sudah hampir dingin. Sambil mengunyah pelan bubur di mulutku, aku tidak bisa menahan senyumku.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa," kilahku. "Buburnya enak."
"Syukurlah kalau kamu suka. Omong-omong kamu tidak mau ke mana-mana, kan?"
"Tidak." Aku menggelengkan kepala. "Memangnya kenapa?"
"Aku lebih suka kamu diam di sini. Maksudku -- aku tidak mau kamu pergi keluar sendirian tanpa aku."
__ADS_1
"Siap Tuan. Hamba ikut perintah."
"Ini bukan perintah...," gerutunya. "Ini permintaan. Aku bukan tuan-mu, dan kamu bukan hamba-ku. Kamu, tulang rusukku. Tulang rusuk."
Aku tertegun mendengarnya. Pandangan mataku langsung menatap ke bola matanya yang menatapku dengan tajam. "Oke. Aku hanya bercanda," kataku. "Tapi kira-kira... nanti setelah kita menikah, apa kamu tetap seperti ini? Atau kamu akan berubah seperti kebanyakan suami, hanya manis di saat pacaran? Misalnya, seperti semalam, saat aku ketiduran di mobil, apa kamu akan terus menggendongku dan membawaku ke kamar atau kamu akan membangunkanku? Saat aku belum bangun pagi, apa kamu akan membangunkanku dengan manis seperti tadi atau kamu akan meneriaki aku? Dan seperti ini, saat kamu mau sarapan pagi, apa kamu akan menyiapkan sarapan sendiri atau kamu akan menggerutu dan marah-marah?"
Setelah aku nyerocos panjang, Reza tetap santai menikmati buburnya sambil senyum-senyum. "Halo... Mas. Kamu mendengarku?"
"Dengar. Tapi aku suka melihatmu dan mendengarmu berceloteh. Aku seperti melihat Inara yang baru di depanku."
Inara yang baru? Aku mengangkat bahu. Aku mengerti maksudnya. Yang dimaksud Reza bukan lagi Inara yang lebih suka menyendiri, yang hanya duduk diam memandangi luasnya lautan, duduk termenung di atas pasir dengan lantunan lagu sedih yang mengalun dari earphone di telinga. Yah, bukan Inara yang itu.
Aku diam, menundukkan pandangan ke mangkuk bubur di depanku. Reza benar tentang itu, meskipun sebenarnya bukan Inara yang baru, lebih tepatnya seperti Inara kecil dulu, yang kata ibuku -- mulutku hampir berceloteh setiap waktu, sampai ibuku dan nenekku sering menggeleng-gelengkan kepala katanya karena suaraku yang nyaring melengking sejak bangun tidur sampai aku tidur lagi.
"Aku tidak perlu berjanji. Cukup kamu nilai sendiri nanti setelah kita menikah." Suara Reza membuyarkan lamunanku.
Aku menghela napas dalam-dalam. "Aku mencintai kamu bukan tanpa alasan," kataku. "Aku mencintai kamu karena kamu mencintaiku, karena cara kamu mencintaiku. Aku harap kamu tidak akan pernah berubah seperti ayahku. Dulu dia seperti kamu, menjadi laki-laki yang selalu ada untuk Bunda. Tapi akhirnya siapa yang menyangka--"
"Ssst...," dia menaruh jarinya ke bibirku, memintaku diam. "Sayang, jangan samakan aku dengan ayahmu. Aku adalah aku. Oke?"
Aku mengangguk lemah tanpa kata, meneruskan makanku tanpa menatap ke arahnya.
"Aku harus pergi," katanya, setelah melirik jam di pergelangan tangannya. "Habiskan sarapanmu. Baik-baik di sini. Telepon aku kalau kamu butuh sesuatu."
Aku mengangguk dengan senyuman tipis. "Ya, Mas. Hati-hati di jalan."
Aku pun berdiri, membawa peralatan makan yang kotor itu ke wastafel untuk kucuci.
"Dorrr!" Suaranya membuatku kaget. Kukira dia sudah berangkat, ternyata tiba-tiba dia ada di belakangku.
Aku memutar badan menghadapnya dan memukuli bahunya. "Aku kaget, tahu!"
"Kamu yang duluan jahil," katanya. Dia mengangkatku dan mendudukkan aku di dekat wastafel. "Ini, kamu yang meninggalkan jejak. Kamu juga yang harus bersihkan." Dia menyodorkan wajahnya lebih dekat ke wajahku.
Aku nyengir. "Baiklah." Kuputar keran dan kubasahkan tanganku, lalu kubersihkan bekas lipstik di pipinya dengan sedikit memiringkan kepala.
"Sayang?"
"Emm? Apa?"
"Boleh aku menciummu?"
"Sejak kapan kamu minta izin menciumku?"
"Ya karena --" Ponselnya berdering, menyela ucapannya. Reza pun merogoh sakunya lalu memandang ke layar ponsel.
Salsya? Kenapa sih dia menelepon? Pagi-pagi begini dia sudah membuatku terusik.
__ADS_1
Hanya satu atau dua menit, Reza langsung menutup sambungan teleponnya.
"Salsya, dia bilang dia tidak bisa masuk kerja hari ini karena sedang tidak enak badan," papar Reza sebelum aku bertanya.
"Kenapa menelepon kamu? Memangnya karyawan kalau izin harus langsung ke Bos?"
"Tidak juga."
"Lantas? Dia merasa dia spesial sampai harus langsung meminta izin ke kamu?"
"Mana aku tahu, Sayang."
"Dia cuma cari perhatian kamu," kataku, aku cemberut.
"Terserah dia mau apa. Yang penting kan perhatianku hanya untuk kamu," Reza berkata sambil membelai rambutku. "Kamu jangan cemburu. Jangan biarkan hal sekecil ini merusak mood kamu. Hmm?"
Aku menarik napas dalam-dalam. Lalu menganggukkan kepala. "Sudah jam berapa ini? Nanti kamu kesiangan."
"Baiklah. Aku berangkat. Tidak ada ciuman pagi ini," gerutunya.
Aku mengantar Reza sampai ke pintu depan, tiba-tiba ia menjulurkan tangannya. Aku mengerti, dia ingin aku mencium tangannya. Baiklah, kuikuti saja maunya. Setelah itu dia mencium keningku. Lucu, dia ingin bermanis-manis seperti suami istri sungguhan.
"Kamu baik-baik di sini. Jangan ke mana-mana. Jangan lupa kunci pintu, dan jangan memasukkan orang asing selagi suami tidak di rumah."
Aku tergelak. "Iya, suami," sahutku.
"Bersenang-senanglah," katanya. Dia tersenyum padaku sebelum ia berbalik untuk pergi.
...♡♡♡...
Bunyi bel memaksaku beranjak dari kursi malas. Seorang lelaki dengan buket mawar merah di tangannya berdiri di depan pintu, aku melihatnya dari kaca jendela.
"Dengan Nona Inara?"
"Ya, saya sendiri."
"Ada kiriman bunga untuk Nona."
"Oh. Sebentar," kataku. Aku membukakan pintu, tapi teralinya kubiarkan tetap terkunci. Sebab bunga itu bisa diselipkan di antara besi-besi terali.
Orang itu pun langsung permisi setelah mawar-mawar merah itu beralih ke tanganku. Yap, ada empat belas tangkai bunga dari Reza. Ada selembar kertas surat yang terselip di setiap mawar itu. Tulisan tangan Reza. Berarti dia sengaja mampir ke toko bunga, dan menuliskan empat belas surat untukku dengan nomor urut di setiap lembarnya. Benar, Reza selalu punya cara untuk menerbangkan hatiku dan mengukir senyum di wajahku.
Aku baru saja hendak menutup pintu dan kembali ke halaman belakang untuk membaca surat dari Reza ketika kusadari seseorang menyapaku.
"Hi, Nara."
Aris? Sudah berapa lama ia berdiri di sana? Dari mana dia tahu keberadaanku?
__ADS_1