CCI

CCI
62


__ADS_3

Rindu -- itu yang kurasakan saat ini. I miss everything about him. Kendati demikian, rindu itu tidak menyakitkan, sebab dalam sehari, Reza meneleponku berkali-kali, dari aku bangun tidur sampai akan tidur lagi. Tak ada rasa bosan sama sekali.


Tiga hari tanpa Reza, aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan tulisanku-tulisanku, siangnya mengisi waktu dengan membantu ibuku memasak walaupun hanya di sesi potong-memotong, iris-mengiris, atau cuci-mencuci, dan sorenya menghabiskan waktu di halaman belakang, entah itu hanya bersantai, bermain gitar sambil menyanyikan lagu-lagu rindu, dan banyak hal lainnya, termasuk menyirami tanaman. Aku terjatuh dalam kesibukan-kesibukan kecil yang sebagian besar tidak pernah kulakukan sebelumnya.


Hari ini kami akan menghadiri undangan kursus pranikah. Matahari bahkan belum menampakkan senyumnya saat Reza melesat jauh menaklukkan jarak yang telah menciptakan rindu di antara kami. Dia sengaja mengejar waktu untuk bertemu Ihsan, sebelum Ihsan berangkat bekerja. Tentu saja, aku lah orang yang paling ingin ia temui pagi ini. Sebab itu pagi ini aku bahagia. Matahari bersinar cerah, secerah dress bunga-bunga yang membalut tubuhku di pagi yang indah ini.


Akhirnya, setelah tiga hari, hari ini kami kembali bertemu. Lelaki yang kucintai itu sekarang ada di depanku, memutus benang-benang rindu yang mengujut kalbu.


"Aku kangen," katanya. Dia sama rindunya sepertiku, dan seakan enggan melepaskan lingkaran tangannya dari tubuhku.


"Aku juga kangen kamu," kataku dengan manja. "Tapi aku mau bikin minuman dulu untuk kamu. Kamu mau minum apa? Teh, kopi, atau apa?"


"Memangnya kamu bisa bikin kopi?"


"Cuma kopi masa tidak bisa?"


"Oke. Boleh."


"Takarannya?"


Reza terbahak, dia berusaha menahan tawanya tapi tak bisa. "Katanya bisa?"


"Apa sih, Mas? Setiap orang kan punya selera kopi masing-masing. Ada yang mau manisnya terasa, ada yang mau pahit. Takaran selera kamu, bagaimana?" Kucubit kedua pipinya dengan gemas.


"Kopi satu sendok, gula dua sendok," ujarnya mendikte sesuai seleranya.


"Oke. Tunggu."


Aku pun meninggalkan Reza yang tengah bersandar di sofa teras belakang dan melenggang masuk ke dapur lalu memanaskan air. Setelah air cukup panas, aku memasukkan satu sendok kopi dan mengaduknya hingga mendidih, lalu menambahkan setengah sendok teh bubuk cokelat sebagai penambah nikmat rasa, barulah kusaring beberapa kali hingga kopi berbusa dan siap dituangkan ke mug porselen putih nan cantik ukuran sedang yang sudah kububuhkan dua sendok gula.


"Wow, smells good," ujarnya seraya menikmati aroma kopi yang menguar memenuhi ruangan. Entah sejak kapan dia berdiri di belakangku, hingga suaranya yang menempel di telinga membuatku kaget. "Trims, Sayang." Dia mengambil alih cangkir porselen dari tanganku. Jantungku yang nyaris melompat keluar kembali ke posisinya. Lalu kuperhatikan gerakannya saat mengangkat mug kopi dan menyesapnya. Mataku pun tertumbuk pada bibirnya yang begitu seksi saat bersentuhan dengan bibir mug.


"Sedikit pahit, tapi enak."


"Namanya juga kopi. Kalau tidak mau yang pahit, ya jangan minta kopi," cetusku.


"Terus apa?"


"Apa saja, Mas. Teh, susu, smooth--"


"Minta cium boleh?"


Kontan saja pertanyaan itu membuat hatiku jumpalitan. Tak bisa kupungkiri, faktanya aku memang sedang mendoan, mendem kangen ora keturutan -- dua minggu tak pernah ia cumbu. Perasaanku jadi nano-nano, malu, mau, juga takut kepergok ibuku.

__ADS_1


"Tidak mau ya sudah." Dia berbalik dan hendak kembali ke teras belakang.


"Mas...," panggilku setengah berteriak sambil mengekor di belakangnya.


"Ap--" ucapan Reza terputus saat ciumanku mendarat secepat kilat di bibirnya yang manis. "Cuma sekilas?" tanyanya setelah menaruh mug ke atas meja. "Jangan begitu dong, Sayang. Kan--"


Kuraih tengkuk lehernya dengan cepat dan ciumanku kembali mendarat, lagi-lagi memutus celotehannya. Tanpa ragu ia membalas ciumanku dan kedua tangannya pun berpaut di leherku. Lama tidak beradu bibir, membuat ciuman ini terasa hangat dan senikmat ciuman kami yang pertama.


"Nara... Bunda lihat lo, Sayang," teriak ibuku dari dapur. Aku terkesiap dan spontan melepaskan ciumanku.


"Nara yang nyosor Reza duluan, Bund...," dia balas berteriak dengan cengengesan. Tanpa suara aku mengucapkan mo...nyeet padanya, karena menyudutkan aku dalam urusan ini. Meskipun sebenarnya dia bercanda, aku tahu itu.


...♡♡♡...


Jam delapan pagi, kami menghadiri undangan kursus pranikah untuk mendapat bimbingan seputar pernikahan dan kehidupan berumah tangga, seperti keutaman pernikahan, rukun nikah, dan persiapan berumah tangga dari sudut pandang agama.


"Sebenarnya, rukun pernikahan itu cuma ada lima.” Sambil menggosok batu akiknya, si bapak memelankan suaranya, “Yaitu SISWA.”


Hah? Siswa? Aku dan Reza melongo.


“Iya, S.I.S.W.A," katanya lagi. “Suami, Istri, Saksi, Wali, dan Akad atau yang biasa disebut sebagai Ijab Kabul.”


Oh... ternyata sebuah singkatan.


Ternyata acara kursus pra nikah itu berlangsung sebentar, tidak selama yang kami kira, bahkan kurang dari satu jam. Dengan semangat yang membumbung tinggi, Reza langsung mengotak-ngatik ponsel. Karena penasaran, aku pun bertanya apa yang sedang ia lakukan.


"Cari tiket pesawat," sahutnya tanpa menolehku.


"Kamu mau ke mana?"


"Kita," katanya seraya menatapku. "Aku dan kamu. Kita akan ke Palembang."


"Mau apa?" Aku bertanya dengan kening mengerut, sementara hatiku mulai merasa cemas.


Dia tersenyum. "Mau beli mahar untuk menghalalkanmu." Jawaban itu membuatku sedikit terperangah dan sekaligus senang. "Ibu-ibu kita itu cukup kolot. Aku diwajibkan beli emas Palembang. Kalau tidak dituruti, nanti mereka pada bawel."


"Oke, aku mengerti."


"Kamu mau kan ikut menemani aku?"


Aku menganggukkan kepala. "Tapi janji, kamu tidak akan membawaku ke rumah ayahku? Janji?"


Dia pun berjanji dengan takzim, "Aku tidak akan membawamu ke rumah ayahmu."

__ADS_1


"Oke. Aku ikut, aku mau menemani kamu." Aku mengulum senyum. Setengah senang mendengar janjinya, setengah cemas akan menginjakkan kaki di kota di mana banyak keluarga ayahku, yang sejujurnya aku tidak ingin bertemu mereka.


Pagi itu, Reza mendapatkan tiket penerbangan keberangkatan jam 10.05 WIB, dan penerbangan pulang jam 18.50 WIB. Ada jam penerbangan 10.30, tapi jam penerbangan pulangnya kami harus terbang dengan pesawat terpisah. Jadi terpaksa kami memilih jam terbang yang hanya satu jam lagi, benar-benar harus mengejar waktu ke bandara.


Jam dua belas siang, kami sudah berada di Masjid Agung Palembang. Reza hendak salat jumat dulu di sana. Jam satu siangnya, barulah kami menyinggahi salah satu toko emas di sekitar jalan Rustam Effendy, lokasi penjualan emas paling hits di Palembang.


Dalam mahar dan seserahan, keluarga kami sepakat menerapkan adat dan tradisi Sumatera Selatan, berupa uang, perhiasan emas, seperangkat alat salat, dan sejumlah seserahan lainnya mulai dari bahan makanan, kue, pakaian, hingga peralatan rumah tangga. Sebuah adat dan tradisi yang mengingatkan dari mana kami berasal. Tapi kami tidak menentukan berapa jumlah dan nominalnya, terserah pada Reza dan ibunya.


Saat di toko emas itu, Reza mempersilakan aku untuk memilih seperangkat perhiasan sesuai seleraku, tetapi aku tidak mau, aku takut salah dalam memilih. Memilih yang gramnya kecil nanti di bilang naif, memilih yang gramnya besar nanti dibilang matre. Akhirnya kuserahkan urusan itu padanya.


Kuperhatikan, pandangan mata Reza selalu tertuju ke perhiasan-perhiasan yang berukuran besar, sudah barang tentu gram dan sukunya pun besar. Tiba-tiba perasaan tidak enak menyelinap ke hatiku. Bukan, bukan tidak enak terhadap Reza. Aku bukan tipe perempuan munafik yang akan menolak jika diberikan barang-barang mewah oleh lelakiku. Kukatakan padanya untuk membeli kalung, cincin, gelang, dan anting, masing-masing satu suku saja. Sebab aku punya saudara laki-laki, yang kelak saat dia menikah, aku tidak ingin orang-orang membandingkannya dengan Reza. Aku tidak ingin menciptakan suatu momen yang kelak menjadi beban bagi Ihsan, karena belum tentu Ihsan akan mampu menyeimbangi apa yang Reza berikan untukku. Aku tidak ingin anak gadis orang menuntut adikku itu memberikannya perhiasan semewah yang kudapatkan. Dan aku bersyukur, Reza mau memahami itu. Yap, pilihan kami jatuh pada set perhiasan model rantai, dilengkapi dengan anting bunga dan liontin bunga.


"Coba lihat yang model merak itu, Koh," kataku pada si Kokoh yang sedang menyiapkan surat untuk satu set perhiasan emas model rantai itu.


"Merak, dua suku," katanya sembari menyodorkan cincin cantik itu, yang dalam sekilas langsung melingkar cantik di jariku.


"Bagus, cantik." Reza berkomentar -- membuatku tersipu. "Ada set komplitnya, Koh?"


"Cuma ada gelang dan liontin," sahutnya yang kemudian mengeluarkan dua benda bermotif merak itu dari etalase dan menunjukkannya padaku, ditambah seuntai kalung model bambu.


Wow... melihat lebar gelang itu saja, aku sudah bisa menebak ukurannya. "Berapa suku ini, Koh?" tanyaku ingin memastikan, sambil memasangkan gelang itu ke pergelangan tanganku.


"Gelang lima suku, kalung lima suku, liontin satu suku," tuturnya.


Sekali lagi aku menoleh Reza. Dia sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dariku, tetap dengan senyuman manis yang tak kunjung padam sejak aku menyentuh perhiasan dengan motif merak itu. Dia berdiri santai dengan kaki menyilang. Siku kirinya bertumpu di atas etalase, sementara tangan kanannya menyuruk santai ke dalam saku celana.


"Cantik, ya," kataku. Aku menaruh telapak tanganku yang terhias emas itu di depan wajahku. Reza menjawabku dengan anggukan, senyumnya pun masih terukir dengan manisnya. "Aku tidak keberatan kalau kamu mau membelikan ini diluar mahar." Aku mengerling dan nyengir selebar-lebarnya.


Masih dengan senyuman manis. "Kamu mau yang ini?"


"He'em. Boleh, ya?"


"Boleh."


"Terima kasih, Mas. Aku sayang kamu," kataku dengan ekspresi kombinasi senyuman, cengiran, dan tawa kecil -- bayangkan saja sebisamu. "Tapi kamu dulu yang simpan. Berikan kepadaku kalau nanti aku sudah sah menjadi istri kamu, baru aku akan menerimanya."


"Baiklah, terserah kamu saja."


Aku pun nyengir sekali lagi, lengkap dengan mata yang agak menyipit. "Omong-omong itu yang motif mawar bagus lo. Satu set untuk Ibu. Sebentar lagi kan Ibu ulang tahun."


Reza mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju. "Oke. Aku belikan satu set untuk Ibu juga."


"Anak saleh, calon suami idaman," pujiku.

__ADS_1


Pujian itu membuat bibirnya menyunggingkan senyum. Dia merasa malu, lantas dengan gemasnya ia mencubit pipiku. Sakit sih, tapi aku rela. Gemas kan tanda sayang, ya kan?


__ADS_2