CCI

CCI
58


__ADS_3

Hampir satu setengah jam kemudian -- Reza baru keluar dari Masjid. Dia keluar sekitar lima belas menit setelah azan Isya berkumandang. Kurasa dia menenangkan diri di dalam sana, sebab dia kembali dalam keadaan sudah tenang dan lebih tampan, dia sudah mandi dan berganti pakaian.


"Maaf, ya. Aku lama," katanya setelah duduk dan siap mengemudi.


"Tidak apa-apa, Mas. Cacing di perutku juga tidak terlalu anarkis unjuk rasanya," kataku, memberikan kode bahwa aku sedikit lapar.


"Kamu cacingan?"


"Kampret." Ah akhirnya aku keceplosan mengucapkan kata itu.


"Ouwww... nampak juga aslinya." Lagi-lagi dia meledekku, lengkap dengan tawa lebar nan renyah.


"Sori, Mas. Keceplosan."


"Oke. Kalau begitu kita cari makan dulu, supaya mereka tidak anarkis."


Malam itu ceritanya Reza lagi kepingin makan pecel lele kaki lima. Dia bertanya apakah aku keberatan diajak makan di pinggir jalan. Tentu saja aku sama sekali tidak keberatan, kan aku bukan seorang tuan putri dari kalangan atas yang kalau makan harus di restoran dengan menu seuprit tapi harganya selangit.


"Tidak masalah," kataku, persis menirukan gayanya ketika mengucapkan dua kata itu.  Reza menyadari kalau aku menirukan gaya pelafalannya dan dia tersenyum. "Sudah lama aku tidak mendengar kamu mengucapkannya," kataku.


Reza tersenyum lagi. Dia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan kecilnya setelah dia tahu ada kebiasaannya yang aku paham dan bahkan bisa menirukannya.


Sesampainya di tenda pecel lele, Reza langsung memesan menu makan malam untuk kami berdua. Dan persis di saat itu aku mencuci tangan lalu mendesis menahan perih luka di telapak tanganku. Reza pun langsung menyadari tanganku terluka karena jatuh hampir tertabrak motor tadi. Dengan sigap -- dia menarik tanganku dan mengecek lukaku.


"Kenapa tidak bilang kalau kamu luka?"


"Jangan berlebihan, Mas. Hanya luka kecil dan hanya sedikit perih."


"Ayo, biar kuobati, di mobil ada kotak P3K."

__ADS_1


"Nanti saja."


"Jangan ngeyel."


Kau tahu kan aku tidak bisa berkutik kalau Reza sudah berkata seperti itu. Maka kuikuti saja ketika dia menarikku ke mobil.


"Biar aku saja, Mas," kataku saat Reza hendak membersihkan lukaku. Tapi dia tidak mau mendengar. "Kamu tidak perlu selalu melakukan hal-hal seperti ini. Kamu membuatku manja dan ketergantungan, tahu?" Aku berkata lagi saat lukaku sudah terbalut plaster.


Dia tersenyum dan menatapku dengan hangat. "Aku suka kalau kamu manja dan bergantung padaku," katanya. Lalu bibirnya menyunggingkan senyuman yang menyiratkan ketulusan. Kalau tidak pandai-pandai jaga image, pastilah sudah kusosor dan kunikmati bibirnya saat itu juga. Dan, yeah, aku memang mengatakan dia tidak perlu melakukan semua itu untukku, tapi sebenarnya aku sangat senang dia perhatian padaku.


Cerita pun berlanjut, kami segera kembali ke tenda beberapa saat kemudian. Nasi goreng pete, lengkap dengan lauk, sambal, tempe, tahu, lalapan, dan teh tawar hangat tersaji di meja tidak lama setelah kami kembali ke tenda pecel lele kaki lima itu. Kau tahu, Reza tidak seperti kebanyakan pemuda yang sok gengsian dan jaga image, dia biasa saja makan si biji hijau yang dinamakan pete atau petai itu di depanku. Bahkan sebelum makan dia mengatakan kepadaku, "jangan jaim, jangan sok gengsi, makan saja kalau kamu suka."


"Emm... aku belum pernah memakannya. Aku tidak tahu suka atau tidak."


Mendengar itu, Reza tanpa ragu menyodorkan sesendok nasi goreng dengan seiris pete ke depan mulutku. "Hanya sedikit pahit. Juga sama sekali tidak seperti mayones," ujar Reza mengingat tragedi mayones waktu itu, dia mebuatku malu dan menahan tawa. "Ayo, coba."


Kubuka mulutku dengan sedikit ragu. Tapi keraguan itu langsung memudar setelah kurasa pete tidak seburuk dan tidak sepahit seperti yang kupikir selama ini.


Aku mengangguk. "Kamu omnivora, ya. Pemakan segala."


Dia langsung terkekeh mendengar kalimat yang kulontarkan itu. "Yeah, sama seperti kamu. Kita sama-sama omnivora. Bahkan nanti bila tiba waktunya -- kamu juga akan kumakan."


Uhuk! Aku tersedak, tulang lele serasa nyangkut di tenggorokan. Lagi-lagi Reza tertawa, kali ini lebih terkekeh dari yang tadi.


"Imajinasi kamu sampai mana?" tanyanya.


"Siapa yang berimajinasi?" kataku dengan senyum menahan malu.


"Kamu mana bisa berbohong padaku. Itu pipi kamu merah."

__ADS_1


Dengan spontan aku menutup wajah dengan telapak tangan.


"Sayang, dilanjut makannya. Nanti cacing kamu keburu anarkis."


"Makanya kamu jangan membuatku malu," kataku, sesaat setelah menyingkirkan tangan dari wajahku.


Dia membuatku berpikir; bagaimana dia akan "memakanku"?


...♡♡♡...


Macet!


Semua orang tahu arti dari macet. Dalam keadaan jalanan lancar pun kami butuh waktu dua jam untuk sampai ke Jakarta Utara, apalagi kalau macet. Tapi kami tidak ambil pusing tentang kemacetan ini, karena ini adalah minggu sore, di mana volume kendaraan lebih banyak dari hari biasanya. Antrean panjang di jalanan -- didominasi oleh orang-orang yang pulang dari liburan. Alhasil padat, merayap, mengular berkilo-kilometer panjangya -- sama sekali tak bisa terelak. Tapi namanya juga jalan-jalan, jadi dinikmati saja sambil mendengarkan sayup-sayup lagu favorit di playlist dan bermesraan sebagai selingan pengusir rasa penat saat kendaraan berhenti.


Aku menyukai perjalanan panjang ini dan semua sensasi yang timbul di antara kami. Misalnya tatapan sarat cinta Reza yang selalu terpancar dari sorot matanya. Kelakar-kelakar kicik yang mampu menimbulkan percik, usapan remeh namun berjuta rasa, serta kebersamaan dan kehangatan yang kurasakan saat kami bersama. Pun seperti tadi, saat ada adegan ngambek-ngambekan, bisa terselesaikan tanpa berlama-lama. Aktivitas favorit di dalam mobil pun masih sama, mendengarkan lagu, bercengkrama, cemal-cemil, dan sesekali berpegangan tangan, sampai akhirnya rasa kantuklah yang jadi juaranya.


"Kamu ngantuk, Mas? Tidak apa-apa kok kalau kita menginap dulu malam ini."


"Aku sudah janji pada Bunda akan mengantar kamu pulang hari ini. Kemarin aku sudah minta izin kita molor pulang dari Bali. Setelah itu aku minta izin lagi mengajak kamu ke Bandung. Masa iya aku minta izin molor lagi?"


"Tapi kan bisa bahaya Mas kalau kamu nyetir sambil menahan kantuk."


"Iya, Sayang. Nanti kalau ketemu minimarket, aku berhenti sebentar, ngopi."


"Jangan ngeyel," kataku menirunya lagi, yang membuat dia menahan senyuman. "Kita cari tempat berhenti. Kamu tidur sebentar, setelah itu baru ngopi, baru melanjutkan perjalanan lagi. Apa pun bisa terjadi kalau kamu masih ngeyel."


"Kenapa? Kamu takut jadi arwah penasaran?" tanyanya cekikikan, dia mengingat candaanku sewaktu di Bali kemarin.


Dia mau bercanda. Oke.

__ADS_1


"Barbar...," Hah! Dia berteriak saat aku mencubit bahunya.


Akhirnya kami sepakat untuk istirahat sebentar. Reza melambatkan laju kendaraan dan parkir di halaman sebuah minimarket. Ada beberapa mobil juga yang sedang istirahat di sana. Reza pun masuk ke minimarket untuk meminta izin parkir dan istirahat. Sewaktu kembali, ia membawa plastik berisi kaus kaki, supaya aku tidak kedinginan dan bisa tidur dengan nyaman katanya. Kami pun istirahat, memejamkan mata sambil menyesap lirih bayu di malam sendu.


__ADS_2