
Ketika cinta kembali merengkuh, Reza dan Aku kembali ke ruang rawat ibunya. Wanita yang paling berarti bagi Reza itu terbaring lemah dengan infus di tangan. Dia sudah bangun dan ditemani oleh Ihsan. Ihsan yang sedari tadi menungguinya langsung berpamitan, ia hendak berkunjung sebentar ke rumah Bibi Bungsu, mamanya R bersaudara.
"Nanti telepon saja, aku jemput lagi kalau mau pulang ke Jakarta," ujarnya sebelum melangkah pergi.
Aku mengangguk. "Hati-hati," pesanku.
Di saat yang bersamaan, ponsel Reza berdering. Ia pun keluar untuk menerima panggilan telepon. Sementara itu, aku duduk di kursi lipat di samping ibunya. Melihatnya terbaring sakit, perasaan kelu dan sendu bercampur menjadi satu. Meski ini baru kali ketiga aku bertemu dengannya, tapi aku menyayanginya seperti aku sayang pada anak lelakinya.
“Bu, Nara datang," bisikku. Kucium tangannya dan kuusap lembut, bermaksud memberinya kekuatan.
Ia berusaha untuk menyunggingkan senyum. "Maaf ya, Ibu membuat kamu repot, jauh-jauh dari Jakarta ke sini."
Aku menggeleng. "Tidak sama sekali, Nara tidak merasa direpotkan," kataku dengan benar-benar tulus. "Katanya Ibu mau ketemu Nara. Ada apa?"
"Ibu mau minta tolong pada kamu untuk mengurusi dan menemani Mas mu."
"Apa sih, Bu...," Reza yang tiba-tiba masuk langsung nimbrung. "Reza bisa urus diri Reza sendiri, tidak perlu merepotkan Nara."
"Apanya yang bisa mengurus diri sendiri? Lihat diri kamu, rambut kamu sudah begitu panjang kok belum dipotong?"
Potong rambut? Aduh...
Aku refleks melirik Reza dengan alis bertaut dan kening mengerut. Reza yang paham dengan reaksiku spontan nyengir lebar.
"Nanti Reza potong sedikit ya biar rapi. Nara juga suka rambutku agak gondrong begini. Ya kan, Sayang?"
Aku hanya tersenyum malu, tanpa berani bilang iya, takut ibunya tidak sependapat denganku. Dan sejujurnya itu benar, aku suka Reza yang agak gondrong, karena sosoknya yang seperti itu yang membuat aku tertarik padanya sejak pandangan pertama, sosok Reza Rahadian dalam topeng Timur.
"Kamu telepon Mbok Tin, minta Mbok menyiapkan pakaiannya Aruna. Takutnya nanti Nara cukup lama di Bogor. Juga minta rapikan kamar tamu untuk Nara. Ibu mau segera pulang," katanya dengan suara parau dan lemah.
Deg!
Berbagai rasa dan pemikiran berkecamuk di hati dan otakku. Ibunya tidak tahu kalau aku takut dengan hal-hal semacam itu. Bagaimana aku bisa nyaman memakai pakaian orang yang sudah meninggal? Apalagi orangnya meninggal karena bunuh diri. Bagaimana kalau...
__ADS_1
Ah, sudahlah, segera kutepis pikiran itu.
"Gampang, Bu," sahutku. "Nanti Nara bisa ke rumah Tante Sari, dekat kok dari sini. Nara bisa numpang cuci baju di sana." Sengaja aku tidak mengatakan bisa laundry atau beli baju baru, takut ibunya Reza menilaiku sombong, sok kaya atau boros.
"Tidak usah. Tidak enak sama tante kamu nanti. Biar Mbok Tin siapkan."
"Iya kan saja Sayang, biar Ibu tidak rewel," ujar sang anak.
"Iya, Nara ikut apa kata Ibu," kataku menurut.
...♡♡♡...
Siang itu, sementara Reza pulang ke rumahnya untuk mengambil pakaian ganti, jaket dan selimut, ada beberapa orang yang datang ke rumah sakit membesuk ibunya. Diantaranya adalah Bu Nurul, seorang wanita parubaya pengurus panti, dan seorang gadis bernama Zahra yang datang bersamanya. Menurutku Zahra itu seumuran denganku, paling tidak setahun lebih muda atau setahun lebih tua dariku. Parasnya cantik, dia nampak seperti peri yang diceritakan dalam dongeng. Hanya saja, ini dalam versi gadis berhijab. Entah kenapa, melihat ekspresinya, aku merasa dia nampak terkejut saat ibunya Reza memperkenalkan aku sebagai calon istri Reza. Wajah cantiknya yang anggun nampak berubah lesu setelah berkenalan denganku. Aku merasa dia menyimpan kecemburuan di hatinya, atau itu hanya perasaanku saja? Entahlah.
Selain memperkenalkan aku sebagai calon istri Reza, ibunya juga menyampaikan wejangannya agar kelak aku sesering mungkin datang ke panti dan katanya kalau bisa aku diminta dekat dengan anak-anak di sana. Aku tidak tahu bisa atau tidak aku memenuhi permintaan itu, aku hanya bisa mengiyakan dan tidak mampu mengatakan tidak. Saat itu yang terlintas dalam pikiranku adalah; ketika aku menjadi bagian keluarga Reza, aku harus bersedia meluangkan waktuku untuk bersosial seperti mereka. Sebuah kehidupan yang selama ini jauh dari jalan hidupku.
Sewaktu Bu Nurul dan Zahra berpamitan dan aku mengantarkannya ke luar, kebetulan waktu itu Reza sudah kembali ke rumah sakit. Mereka yang sempat bertemu di depan pintu langsung bertegur sapa dan bertanya kabar satu sama lain. Saat Bu Nurul menyinggung perihal pernikahanku dan Reza, raut cemburu mendominasi wajah Zahra. Mataku awas mengawasi setiap gestur serta ekspresi wajahnya. Wajahnya yang sudah lesu menjadi semakin meredup, diliputi keputusasaan. Aku tahu, dia berusaha menutupinya. Tapi aku bisa melihat dengan jelas bahwa dia menyimpan rasa untuk Reza.
Dia mengangguk. "Lumayan," katanya. "Sekitar dua tahun." Kemudian ia menghampiri ibunya, menanyakan apa ibunya ingin makan sesuatu. Katanya tidak, tanpa mengalihkan pandang dari layar televisi yang menyiarkan berita lokal.
"Sepertinya Zahra punya perasaan pada kamu." Aku berbisik pada Reza yang ikut duduk di sofa.
Dia yang baru duduk santai menyandarkan tubuhnya hanya menyahut pelan, "Aku tahu."
"Tahu dari mana?"
"Ibu dan Bu Nurul, pernah punya niat menjodohkan aku dengan Zahra."
What? Aku terbelalak.
"Biasa saja dong... bola mata kamu hampir keluar tuh," ledeknya.
Aku yang gemas langsung mencubit lengannya. "Cerita yang lengkap dong, Mas." Ah, ingin rasanya menyeret Reza ke luar, supaya kami bisa bicara leluasa. "Kamu menolak perjodohan itu, ya? Kenapa? Dia cantik, nampak pintar, lagipula dia salehah. What a perfect wife!" kataku berdecak kagum.
__ADS_1
Reza hanya tersenyum tipis. Seketika aku teringat dengan film 3 Hati Dua Dunia, Satu Cinta. Sosok Reza Dinata seperti tokoh Rosid yang diperankan oleh Reza Rahadian, ia menolak dijodohkan dengan Nabila yang diperankan oleh Arumi Bachsin yang begitu cantik dan salehah karena dia mencintai Delia, Laura Basuki. Sama seperti Reza Dinata yang menolak Zahra karena... Eh? "Bukan karena aku, kan?" tanyaku.
"Bukan... aku belum mengenal kamu saat itu. Yeah, Zahra memang sempurna, sebab itu aku menolaknya, aku tidak cukup saleh untuk perempuan sesalehah dia."
Keningku berkerut. Terdengar klise. "Bukannya bagus? Kamu tidak perlu susah payah mendidik dan membimbingnya, kan dia sudah salehah dari sananya?"
"Dia lulusan Kairo, seorang Hafidzah, dia hafal Al-Qur'an di luar kepala," ungkap Reza menunjuk kepalanya. "Aku rasa aku akan malu menyebut diriku sebagai imam di depan perempuan sesalehah dia. Sebab, aku hanya lelaki biasa yang hanya hafal surah-surah pendek, tapi cukup lah untuk berganti-ganti bacaan untuk mengimami kamu salat."
Aku tersenyum kecut, rasa malu menelusup ke sanubari. Jika Zahra adalah sepuluh, maka aku hanya angka satu, bahkan mungkin minus.
"Jangan minder," cetus Reza yang seakan tahu apa yang kupikirkan. Dia bangkit dari posisi rebah bersandar ke posisi duduk, kemudian melirik ke arah ibunya yang ternyata sudah tertidur, lalu memandangku dan menggenggam tanganku dengan kedua tangannya. "Kamu sendiri yang pernah bilang kita itu sama, atau aku sedikit lebih baik dari kamu, ya kan? Jadi, karena kita sama, kita akan berubah sama-sama, sama-sama berubah menjadi orang yang lebih baik."
Kupaksakan diriku untuk tersenyum. Aku jadi menyesal mengetahui semua ini. Jangankan secara iman, secara fisik pun aku kalah jauh.
"Mas..."
"Emm?"
"Salehah itu... bukan berarti aku harus ikhlas berbagi suami, kan?" tanyaku, membuat kening Reza mengerut. "Emm... sebenarnya aku takut dengan ajakan kamu untuk berubah, aku takut kalau kamu terlalu saleh."
Kening Reza semakin bergelombang tanda ia semakin bingung dengan kata-kataku. "Kenapa takut?" Dia balik bertanya.
Aku berdeham. "Begini, to the point, terserah kamu mau sesaleh apa dan menginginkan aku sesalehah apa. Tapi, aku tidak akan pernah mau menerima dan membenarkan konsep poligami, apa pun alasannya. Meski menerapkan konsep-konsep atas nama agama, yang katanya demi menyelamatkan diri dari fitnah, untuk melindungi wanita yang notabenenya janda atau demi mengasihi anaknya yang yatim, membebaskan hamba sahaya atau budak, bahkan meski demi menuntut keturunan semisalnya aku tidak bisa memberi kamu keturunan, karena katanya menikah dan melahirkan keturunan adalah salah satu cara menolong agama. Dan atau alasan-alasan lain. Aku tidak akan pernah bisa membenarkan hal-hal yang demikian. Aku akan senang kalau kamu menjadi lelaki yang lebih baik, tapi jangan sampai merubah pola pikir kamu dalam konsep kesetiaan. Kamu hanya manusia biasa yang akan memperistriku, seorang wanita biasa. Aku--"
"Ssst...," Reza menaruh telunjuknya di bibirku. "Iya, Sayang. Cinta dan kesetiaanku hanya untuk kamu," katanya meyakinkanku. "Ketakutan kamu luar biasa, bahkan membuat kamu takut pada lelaki yang terlalu saleh."
Aku mencebik. "Ayahku tidak saleh, tapi dia menggunakan alibi melindungi para janda dan anak-anak mereka untuk membenarkan poligaminya. Aku hanya tidak habis pikir, kalau memang untuk melindungi para janda, tidak harus dengan menikahi mereka, kan?"
"Sayang, Sayang, dengar. Dengar aku," kata Reza yang nampak cemas, tentu ia takut aku mencapai puncak kepanikan. "Oke, ada banyak hal yang tidak bisa kita pahami dengan logika kita sebagai manusia biasa. Kita lupakan semua itu. Kita tidak usah lagi membahas tentang saleh, salehah, dan segala macam yang menjurus ke sana. Kamu jangan takut, ya? Aku hanya akan setia padamu. Oke?"
Kuanggukkan kepala kuat-kuat, sembari meyakinkan diriku sendiri, itu hanya sebatas ketakutanku saja. Kisah poligami dan perselingkuhan ayahku, telah meninggalkan bekas mendalam di dalam jiwaku. Karena aku BUKAN dan tidak akan pernah sama dengan mereka yang punya tingkat keikhlasan di atas rata-rata.
"Tenang saja, aku tidak akan berani menduakanmu. Sama saja aku cari mati, kan? Kamu pasti akan membunuhku kalau aku menduakanmu."
__ADS_1