CCI

CCI
125


__ADS_3

Pada hari berikutnya, selama enam hari berturut-turut -- Reza benar-benar tidak datang. Harus kuakui, aku kembali merasa gersang saat mataku tidak lagi melihat sosok Reza Dinata. Taman surgaku kembali tandus. Sinar matahari telah membakar tanahnya dan menyerap habis  semua air di dalamnya. Yang tersisa hanyalah aku, bunga kecil yang haus dan mati-matian berusaha bertahan hidup. Jujur saja aku mulai cemas. Dalam kecemasan itu pula, tiba-tiba Salsya malah datang menemuiku untuk menanyakan keberadaan Reza.


"Aku tidak tahu," kataku. "Sudah seminggu lebih dia tidak ke sini dan tidak ada kabar. Harusnya kamu yang tahu. Kalian kan sudah menikah."


Salsya menggeleng. "Belum," ujarnya.


Sepercik perasaan senang menyetrum hatiku. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku benar-benar senang dengan kenyataan bahwa suamiku belum menikahi wanita itu.


"Reza berjanji akan menikahiku setelah masa nifasku berakhir. Tapi karena kamu dan dia... maksudku karena kalian ada masalah, Reza mengundur rencana pernikahan kami. Katanya dia mau memperbaiki rumah tangga kalian dulu, baru setelah itu kami akan berembuk lagi. Itu juga alasanku mencarinya, aku kepingin kami menikah tanggal sebelas Januari. Tapi... sekarang Reza malah tidak bisa dihubungi. Aku tidak tahu dia ada di mana."


Argh! Dasar jalang! Mungkin itulah alasan kenapa dia pergi -- untuk menghindarimu. Aku pura-pura tersenyum. "Aku juga tidak tahu dia ada di mana."


"Emm... Ra. Bisakah kita mengobrol sebentar, sambil duduk?"


"Oh, silakan." Langsung kuajak dia duduk di teras. "Mau membahas apa?"


"Emm... berhubung kita sudah membahas ini, sekalian saja ya, aku... aku minta tolong, maafkanlah Reza. Tolong, restui kami."


Dajjal!


"Aku janji, aku akan menjadi madu yang baik untuk kamu."


Berengsek! Aku sudah mengepalkan tangan.


"Tidak masalah kalau nanti Reza lebih sering bersama kamu. Senin sampai sabtu pun tidak masalah. Tidak apa-apa jatahku hanya hari minggu. Atau hari apa terserah. Sekali seminggu saja dia bersamaku. Aku tidak masalah."


Sabar, Nara. Sabar. "Tanggal sebelas Januari, kurang lebih dua minggu lagi. Kalau aku boleh tahu, ada hal istimewa apa di tanggal itu?"


Pipinya yang pucat langsung bersemu merah jambu seperti pucuk mawar. "Itu hari pertama kali kami bertemu. Itu bermula dari keisengan Alfi. Waktu itu tanggal sebelas Januari, mereka berdua sedang makan di tenda pinggir jalan, dan kebetulan ada pengamen yang menyanyikan lagu 11 Januari di sana. Karena itulah Alfi jadi iseng, dia menantang Reza untuk berkenalan dengan salah satu gadis yang ada di tenda itu."


"Dan dia memilihmu?"


Salsya mengangguk. "Itu tenda kaki lima milik temanku, dan aku bekerja di sana."

__ADS_1


"Oh, kukira kalian berkenalan setelah kamu bekerja di resto."


"Bukan, justru aku bekerja di restonya setelah kami berkenalan. Dia yang menawariku bekerja di sana. Setelah itu kami bertemu setiap hari, dan... kami mulai menyadari, ada cinta di antara kami. Cinta pertama yang tidak akan pernah mati."


Euwww, menyebalkan! "Tapi menurutku cintanya padamu sudah tidak ada lagi."


"Tidak mungkin. Kamu salah. Dia hanya perlu menyadari, jauh di dasar hatinya masih ada aku." Senyumnya merekah dan ada binar bahagia yang terpancar dari matanya. "Kalau dia sudah tidak mencintaiku, mana mungkin dia peduli padaku, iya kan? Lagipula, ada anakku yang menjadi pengikat cinta kami."


Huh! Sunguh dongeng yang luar biasa. Mataku langsung tertuju pada bayi mungil yang ada di gendongannya. Bayi yang tampan. Tapi sayang, dia terlahir dari wanita jalang yang tidak tahu malu.


Sesaat kemudian, ibuku keluar dari dalam rumah dan sengaja berdeham. "Sudah senja. Tidak baik bagi bayi berada di luar rumah."


Butuh beberapa saat sebelum Salsya menjawab. Dia mengerti dan langsung berpamitan.


"Bund, apa Bunda tahu di mana Mas Reza?"


Ibuku menggeleng. "Tidak. Tapi Bunda tahu harus menghubunginya ke mana."


"Reza memberitahukan nomor ponsel barunya. Katanya jangan diberitahukan kepada siapa pun." Lalu ia bersedekap. "Kamu mau meneleponnya?"


Aku menggeleng. "Tolong tanyakan saja, di mana dia  sekarang."


"Bunda sudah menanyakan itu kemarin. Tapi dia tidak mau menjawab."


Tapi hatiku mengatakan dia sebenarnya ada di rumah kami. "Nara mau mencarinya," kataku.


"Ke mana?"


"Nara rasa sebenarnya dia ada di rumah." Aku langsung melesat ke kamar, meraih tas dan ponselku, plus kunci motor di atas meja.


"Mau ke mana kamu? Ini sudah senja, Nak."


"Nara mau pulang."

__ADS_1


"Tunggu Ihsan pulang atau minta Reza menjemputmu, ya?"


"Hanya butuh beberapa belas menit untuk sampai ke sana, Bund. Tenang saja." Kuciumi tangan ibuku dan memohon agar dia tidak memberitahukan siapa pun ke mana aku pergi.


Ibuku mengangguk dan aku pun langsung melesat pergi -- melintasi langit jakarta berwarna jingga.


Sesampainya aku di rumah, lantai teras depan dan pekarangan yang kotor seolah menggambarkan bahwa tidak ada kehidupan di dalam rumah itu. Ditambah lagi kolam ikan di halaman depan sudah kosong, tidak ada seekor ikan pun di dalamnya. Yang kupikirkan hanya dua hal. Pertama, kemungkinan ikan-ikan itu sengaja dipindahkan ke kolam belakang, atau kemungkinan keduanya adalah; ikan-ikan itu sudah dimasak dan dijadikan lauk oleh suamiku yang ahli dalam goreng-menggoreng dan panggang-memanggang atau bakar-membakar.


Berlebihan, ya? Semua orang bisa melakukan itu.


Yang membuatku sedih adalah bunga-bungaku yang mesti bersaing dengan rerumputan yang ikut tumbuh dengan subur di lahannya. Untung saja waktu itu musim penghujan, bunga-bungaku tidak ikut mati tersengat matahari.


Kusingkirkan dulu perihal pekarangan depan yang tidak terurus itu. Aku segera merogoh kunciku dari dalam tas dan membuka pintu garasi. Dan sesuai dugaanku, pintu garasi yang mengarah ke kolam tidak terkunci, bahkan mobil Reza ada di dalam. Itu artinya Reza tidak ke mana-mana, dia ada di rumah dan sengaja menghindar dari Salsya.


Segera setelah aku menutup kembali pintu itu, aku langsung masuk lewat pintu samping, pintu kaca di dekat dapur yang juga tidak terkunci. Tidak seperti pekarangan depan, keadaan di dalam rumah justru terawat dengan baik. Seperti peraturanku dulu sewaktu kami memutuskan untuk tinggal berdua, tidak boleh membiarkan perabotan dapur kotor apalagi sampai berserakan. Yap, dapurku aman. Hanya saja, stok makanan instan dan segala saos, cabe bubuk, kecap, dan sambal-sambal saset hampir ludes. Semua sudah menipis. Apalagi telor di kulkas, sebutir pun sudah tidak ada. Sedangkan sayur-sayuran dan segala jenis termasuk cabe dan tomat, dan lain-lainnya, aku yakin semua itu dimakan sebagai lalapan, atau dibuang karena membusuk. Reza tidak mungkin menumis atau memasak sayur bening. Itu mustahil. Pun dengan pakaian kotor, harus segera di masukkan ke mesin cuci, jangan dibiarkan menumpuk dan bergelantungan di mana-mana. Itu yang kupesankan dulu padanya jika aku sedang tidak berada di rumah. Semua kenangan itu terngiang-ngiang dalam ingatanku, seolah itu baru kemarin terjadi. Pun pekarangan belakang rumah, tidak ada rerumputan yang sempat meninggi. Pot-pot mawarku di pindahkannya ke belakang sehingga semuanya terawat dengan baik.


Tapi di sisi lain, rasa bersalah menonjok-nonjok hatiku dengan keras. Aku tidak bisa mengatakan -- apa yang Reza dan aku lakukan adalah perbuatan yang impas. Tidak bisa. Aku merasa diriku keterlaluan hingga suamiku terlantar dan makannya tidak terurus, padahal orang-orang di luar sana bisa makan dengan nikmat di resto miliknya. Masih untung dia punya ikan yang ia ternak sendiri dan ia andalkan untuk lauknya sehari-hari, meski hanya di masak itu-itu saja.


Dan...


Huh! Dia seolah tidak mengurus diri, rahangnya dipenuhi brewok dan kumisnya sudah memanjang. Melihatnya seperti itu membuatku merasa geli.


Eh? Aku terpaku ketika kedapatan memandanginya dari kejauhan. Begitu pun dia yang sama terpakunya denganku. Setelah sekian lama aku tidak pernah menatapnya -- maksudku sungguh-sungguh menatap lekat padanya, rasanya jadi aneh. Kami saling menatap jauh lebih lama dari yang sewajarnya. Tanpa sadar, hal itu sampai membuatku menahan napas dan merasakan pusing hingga aku nyaris terjatuh.


Setelah berhasil menguasai diri dan mendapatkan kembali kesadaranku, aku yang berpaut ke pintu segera membalikkan badan dan melesat ke dapur. Sesampai di wastafel, lekas-lekas kubasuh wajahku dan berusaha mengatur napas. Lagi-lagi tanpa kusadari, Reza sudah berada di belakangku. Membuat detak jantungku sedikit melompat. Dia memelukku dengan erat sambil membenamkan wajahnya di tengkuk leherku. Tanpa sepatah kata pun dia melebur semua perih atas perpisahan kami -- empat puluh empat hari terberat dalam hidupnya. Tersiksa rasa bersalah terhadap anak dan istri yang sudah ia sakiti. "Aku merindukanmu," katanya. Hanya itu yang terucap di antara hangatnya air mata yang membasahi pundakku.


Kubuka mulutku untuk berbicara, tapi kata-kata lenyap dariku. Aku tidak tahu mesti bagaimana. Akhirnya aku hanya memintanya untuk mandi. "Bersihkan wajahmu," kataku. "Aku tidak suka melihat kamu brewokan, kumismu juga membuatku geli."


Dia tersenyum dengan mata berkaca. "Reza Rahadian juga pernah brewokan, tahu!"


"Jangan protes." Mataku ikut berkaca. "Pergilah mandi. Akan kumasakkan makanan untukmu."


Reza mengangguk dengan senyuman dan langsung berlalu.

__ADS_1


__ADS_2