CCI

CCI
91


__ADS_3

Mayra memberikan gitar tua milik Alfi kepadaku. Katanya dia tahu aku butuh waktu untuk mencerna semua hal -- hati dan pikiranku butuh waktu untuk memahami tentang semuanya. Dia tahu aku pasti akan sulit tidur malam ini. Betapa dia mengerti seharian ini aku mengalami dan mengetahui hal-hal yang berat, mulai dari dendam Alvaro, tentang rahasia kematian Aruna yang menyebabkan trauma untui Reza, lalu tentang cinta Alfi, Mayra, dan Dinda -- tentang banyak rahasia kehidupan mereka. Sekarang tergantung diriku sendiri, bagaimana aku harus menyikapi semuanya.


Kupilih untuk menyendiri di halaman belakang, duduk di kursi taman dengan menekuk kedua kaki. Tapi aku tidak langsung bermain gitar. Aku merenungkan kata-kata Mayra dan ketulusan hatinya. Sejujurnya aku takjub karena dia menganggap tidak ada yang bersalah dalam kisah cintanya yang pelik itu. Dia tidak menyalahkan mertuanya, tidak menyalahkan suaminya, juga tidak menyalahkan madunya. Bahkan, dia tidak menyalahkan Tuhan. "Aku harus bersyukur kan karena Tuhan masih memberikan aku kesempatan hidup?" katanya. "Meski awalnya aku marah karena kurasa Dia begitu tega memberikan takdir buruk ini kepadaku. Tapi lama kelamaan, aku bisa menerima apa yang sudah digariskan-Nya untukku."


Mayra pun menyampaikan pendapatnya -- memberikan saran kepadaku -- atas masalah-masalahku. Menurutnya kalau dia jadi aku, dia akan mempertahankan Reza dan memaafkan Reza atas kesalahan-kesalahan yang sama sekali tidak pernah dilakukan Reza dengan sengaja. Malah menurutnya aku harus membantu Reza menghadapi Salsya, supaya Salsya tidak bertindak gila yang membahayakan dirinya sendiri juga kandungannya -- sekaligus -- menjadi tameng supaya Salsya tidak bisa bertindak agresif pada Reza. Mayra mengatakan kepadaku bahwa dia bukan bermaksud membela Salsya, sedikit pun tidak, melainkan demi anak di dalam kandungannya. "Sebagai perempuan yang mendambakan kehadiran seorang janin yang tumbuh di dalam dirinya, aku berharap bayi itu akan terlahir ke dunia," katanya.


Aku menyimpulkan yang Mayra maksud dengan kata "di dalam dirinya" itu bermakna rahim -- sesuatu yang tidak ia miliki pasca cidera kecelakaan yang ia alami.


"Jika kelak kalian benar-benar berjodoh, dan kamu tidak memiliki kekurangan sepertiku, maksudku; kamu bisa memberikan keturunan untuk Reza, kamu berhak kok menentang poligami di dalam rumah tanggamu. Kamu berhak melarang suamimu menikah lagi. Ini dalam artian bukan mengharamkan poligami, ya. Hanya menentang praktiknya di dalam rumah tanggamu. Kamu paham kan maksudku?"


Aku mengangguk saat Mayra menuturkan nasihat itu kepadaku.


"Aku tahu kamu pernah membahas tentang poligami dengan Reza, dan cara pandang Reza terhadap poligami itu netral, tidak sesuai harapan kamu. Lantas kamu kecewa. Sekarang kamu paham kan kenapa Reza menuturkan pandangannya seperti itu?"


Pada akhirnya aku pun mengerti. Aku paham. Yeah, mungkin aku juga harus lebih mengerti tentang Reza dan traumanya, kendati traumaku sendiri jelas akan semakin mengambang jika aku bertahan dalam situasi cinta yang sama peliknya, antara aku, Reza dan Salsya. Kuputuskan untuk berhenti berpikir dan mulai bernyanyi. Lagu yang ngena dalam situasiku saat itu. Rama - Bertahan.


Lihat aku di sini


Kau lukai, hati dan perasaan ini


Tapi entah mengapa


Aku bisa memberikan maaf padamu


Mungkin karena... cinta


Kepadamu tulus dari dasar hatiku


Mungkin karena... aku


Berharap kau dapat mengerti cintaku


Lihat aku di sini, bertahan


Walau kau sering menyakiti

__ADS_1


Hingga air mataku


Tak dapat menetes dan habis terurai


Mungkin karena... cinta


Kepadamu tulus dari dasar hatiku


Mungkin karena... aku


Berharap kau dapat mengerti cintaku


Meski kau terus sakiti aku


Cinta ini akan selalu memaafkan


Dan aku percaya nanti engkau


Mengerti bila cintaku takkan mati


Meski kau terus sakiti aku


Cinta ini... akan selalu memaafkan


Dan aku percaya nanti engkau


Mengerti bila cintaku takkan mati


Meski kau terus sakiti aku


Cinta ini... akan selalu memaafkan


Dan aku percaya nanti engkau


Mengerti bila cintaku takkan mati

__ADS_1


Tangisku pecah. Semua yang terjadi seharian ini membuat mentalku drop. Sakit kepalaku juga tak kunjung hilang.


"Perform yang bagus. Tapi lagu itu terlalu sedih untuk orang secantik kamu." Suara Reza membuatku tersentak. Itu kalimat yang pernah ia ucapkan dulu sewaktu pertama kali dia melihatku menyanyi.


"Thanks. Tapi cuma lagu itu yang aku hafal." Kuberikan ia jawaban yang sama, persis seperti jawabanku waktu itu. Tapi kali ini aku tidak bermaksud berbohong. Hanya bernostalgia -- mengulang kenangan.


Aku menoleh dan mendapati Reza berdiri di belakang sana. "Kenapa kamu ada di sini?" tanyaku.


Reza tersenyum dan langsung mengahampiriku. "Kamu tidak akan bisa tidur malam ini kalau aku tidak ke sini. Dan aku tidak mau kalau kamu sampai sakit." Dia menghapus air mataku lalu merapikan rambutku yang sedikit berantakan karena tertiup angin, kendati percuma sebab malam itu angin sedang bertiup dengan sedikit kencang.


"Sayang, tolong... berhentilah menangis, aku tidak bisa melihat kamu menangis seperti ini."


Kuberikan ia senyuman masam. "Yeah, aku tahu. Tapi akhir-akhir ini -- kamu kan yang selalu membuat aku menangis?"


Reza mengangguk mengakui kesalahan. "Aku minta maaf. Benar-benar minta maaf. Kamu mau kan memaafkan aku?" Reza memohon dan menatapku dengan sorot mata penuh penyesalan.


"Ya. Lagipula cinta adalah tindakan maaf tanpa batas. Aku memaafkan kamu. Walaupun aku tahu, setelah ini pasti kamu akan mengulanginya lagi. Kamu akan menyakitiku lagi."


Reza mendesah keras. Raut wajahnya berat. Dia tampak seperti kain lap yang sudah direndam di air dan diperas habis sampai tidak tersisa setetes air pun di dalamnya. "Tapi kamu tahu kan kalau aku tidak pernah bermaksud sengaja menyakiti kamu? Itu hanya ketidak berdayaanku."


Aku mengangguk dan menatap matanya. "Aku tahu. Aku akan berusaha untuk lebih pengertian."


Reza tersenyum dan langsung memelukku -- dengan penuh perasaan. "I love you. I love you so much. Aku berusaha untuk tidak lagi menyakiti kamu. Tapi kalau aku tidak bisa--"


"Mas... kuncinya jujur. Bicaralah padaku sebelum kamu melakukan kesalahan, sebelum aku tahu sendiri atau tahu dari orang lain. Kamu paham?"


"Paham, Sayang."


"Kamu harusnya besok baru boleh pulang. Kamu kabur, ya?" Kulepaskan diriku dari pelukannya.


Reza tersenyum, matanya memicing. "Mau bagaimana? Aku mencemaskan kamu. Tapi kamu tidak perlu khawatir. Aku sudah minta Erik untuk mengurusi semuanya."


"Lalu, Salsya? Di mana?"


"Ssst. Kita tidak usah membahas dia, oke? Aku mau kamu istirahat sekarang. Mata kamu sudah bengkak begini. Ayo, biar kutemani dan kupeluk sampai kamu tidur nyenyak." Tapi bukannya bergegas masuk, Reza malah menciumi keseluruhan wajah dan lekuk leherku -- ciuman gemas penuh kasih sayang.

__ADS_1


Andai selalu seperti ini, Mas. Aku suka perhatian kamu. Aku suka kehangatan kamu.


__ADS_2