
Malam itu, ternyata Reza tidak memberitahu ibuku kalau aku masuk rumah sakit. Tetapi, sungguh malang, peristiwa KDRT yang dilakukan Reza padaku menjadi sorotan warganet. Banyak orang yang merekam dan mengunggahnya ke berbagai media sosial. Sehingga berita itu sampai juga ke Ihsan. Tak ayal, Ihsan mengamuk dan mencari keberadaanku hingga Reza tidak bisa mengelak.
Begitu sampai di rumah sakit, Ihsan langsung menghajar Reza dan seperti biasa, Reza tidak mau melawan. Sebenarnya aku tidak melihat kejadian itu, aku hanya mendengar keributan itu dari dalam kamar. Aku tidak tahu bagaimana, tapi keributan itu berhasil dilerai.
Begitu ibuku dan Ihsan masuk ke kamar rawatku, tangisku langsung pecah. Ibuku yang sudah menangis sedari rumah langsung memeluk dan menciumku, juga menanyai keadaanku. Pun Ihsan, yang berusaha menyembunyikan air matanya, tubuhnya gemetar saat dia memelukku.
"Maaf, aku tidak ada di sana untuk melindungimu." Suaranya serak dan ia terisak.
"Kalian jangan menangis," kataku. "Aku sudah baik-baik saja. Dokter bilang besok atau lusa aku sudah boleh pulang."
"Pulang ke rumah kita," ujar Ihsan.
Itu bukan pertanyaan, juga bukan permintaan. Tidak tahu juga apa, dikatakan perintah pun tidak tepat. Yang jelas dia ingin aku menurut dan pulang ke rumahnya.
"Aku tidak tahu," kataku. "Lihat nanti saja."
Dalam hati kecilku, aku tahu, kata-kata kasarku-lah yang memancing Reza berlaku kasar padaku. Memang aku sakit hati atas tamparannya itu, tapi tidak lebih sakit dibanding kebohongannya -- dia membohongiku demi Salsya. Tapi anehnya, aku tidak bisa tidak khawatir padanya. Dia baru makan sedikit sewaktu kami di resto. Bagaimana kalau dia kelaparan atau menahan lapar karena kekacauan dan penyesalannya atas kejadian ini?
"Bund, bisa tolong belikan Nara makanan? Nara lapar."
"Kamu mau makan apa? Biar aku yang beli," kata Ihsan.
"Bunda saja. Tolong ya, Bund?"
Ibuku mengangguk, lalu berdiri menghampiriku. "Mau makan apa, Sayang?"
"Apa saja," jawabku. "Tolong belikan untuk Mas Reza juga, ya?" Aku memohon.
Mata ibuku berkaca, sedangkan Ihsan memanas. "Untuk apa kamu masih memedulikan lelaki berengsek itu?"
Aku terdiam, sementara itu ibuku melerai Ihsan, mencoba menenangkannya.
"Tolong, Bund. Bujuk dia untuk makan. Aku tidak mau dia kelaparan nanti."
"Memangnya dia tidak bisa mengurusi dirinya sendiri? Heh?" Ihsan kembali panas.
"Dia... mungkin dia masih kalut. Dan... mungkin dia tidak mau makan."
"Terus? Kenapa? Biarkan saja. Lelaki berengsek seperti itu tidak pantas kamu kasihani."
__ADS_1
"Ihsan. Jaga bicaramu, Nak."
"Dia masih suamiku," kataku -- lemah.
"Sudah, ya. Bunda akan beli makanan dan menyuruhnya untuk makan."
Setelah ibuku keluar, ia kembali dalam waktu yang cukup lama. Aku yakin dia mengajak Reza mengobrol atau sekadar mengajak dan memastikan Reza makan. Karena sewaktu dia kembali, dia bilang kalau Reza sudah makan, dia mengatakannya dengan yakin.
"Terima kasih, Bund."
...♡♡♡...
Ponsel Ihsan tidak berhenti berbunyi sejak semalam. Sementara ponselku langsung kunonaktifkan setelah melihat beberapa komentar netizen. Sebagian besar adalah orang-orang yang merasa iba padaku dan menghujat Reza habis-habisan, dan hanya sebagian kecil yang berkomentar buruk tentang aku. Katanya mulutku terlalu bablas, jadi wajar kalau suamiku memberikan pelajaran seperti itu.
Aku tidak akan ambil pusing tentang komentar-komentar dan hujatan-hujatan itu. Tapi aku takut kalau hal itu justru berimbas ke omset dan kelangsungan resto. Aku tidak mau gara-gara aku -- kerja keras Reza dan keluarganya yang sudah membangun resto itu bertahun-tahun -- sampai down apalagi gulung tikar. Meski aku tidak berniat seperti itu. Terlebih mana aku tahu kalau pengunjung resto malah merekam dan mengunggah kejadian itu ke media sosial.
Tidak ingin hal itu berlarut-larut, aku langsung memosting permintaan maaf di akun facebook-ku.
Pertengkaran antara suami dan istri adalah hal wajar yang bisa terjadi pada siapa saja dan di mana saja.
Karena kami hanyalah manusia biasa, yang tak lepas dari salah dan khilaf.
Mohon maaf yang besar-besarnya.
Terima kasih.
@Inara_Dinata
Komentar pertama masuk secepat kilat, aku tidak memerhatikan itu komentar dari siapa, tapi aku ingat kata-kata yang ia tulis. "Menurutku tidak ada yang dirugikan. Toh, kalian ribut di resto sendiri. Bukan ribut di tempat orang."
Kurasa dia benar. Tapi ya sudahlah. Yang terpenting aku sudah klarifikasi sedikit dan sudah menuturkan permintaan maaf. Aku tinggal memikirkan apa keputusanku selanjutnya, tentang rumah tanggaku. Bubar atau lanjut?
Bingung dengan beban pikiranku, kulirik menu sarapan yang belum kusentuh. Bagaimana aku bisa makan kalau aku tidak tahu suamiku sudah makan atau belum?
"Kenapa?" tanya ibuku. "Kamu memikirkan Mas-mu sudah sarapan apa belum?"
Aku mengangguk.
"Sudah kok," katanya. "Tadi bareng Bunda di kantin." Ibuku tersenyum.
__ADS_1
Pilu. Aku tahu ibuku melakukan itu demi aku. Aku tahu dia pasti sangat marah pada Reza karena berani berlaku kasar padaku --anak perempuan satu-satunya. Tapi dia bersedia menelan bongkah kecewa itu di depanku.
Waktu itu Ihsan sudah berangkat kerja, jadi aku bisa mengajak ibuku untuk mengobrol. "Ada nasihat untuk Nara, Bund? Nara harus bagaimana?"
Ibuku menggeleng. "Bunda akan setuju dan menghargai apa pun keputusan kamu. Hanya kamu yang tahu, apa yang terbaik untuk dirimu sendiri."
"Bunda tidak akan kecewa kalau Nara ingin berpisah?"
Ia menggeleng lagi. Dia berkata dengan tenang sambil mengelus lenganku. "Kalau kamu menginginkan itu, tidak apa-apa. Itu hak kamu. Tapi kamu belum bisa bercerai sekarang, karena kamu dalam keadaan hamil."
"Nara tahu, Bund. Tapi... Nara harus pulang ke mana?"
Matanya mulai berkaca. "Tergantung keputusanmu, Nak. Kalau kamu benar-benar ingin mengakhiri semuanya, kamu bisa minta pisah ranjang sebelum akhirnya bercerai, sampai kamu melahirkan. Tapi, kalau kamu masih ingin mempertahankan rumah tangga kalian, kamu ikut suamimu pulang. Dia berhak atas dirimu. Kecuali kalau dia mengizinkanmu tinggal di rumah Ihsan untuk sementara. Jujur saja, Bunda sangat takut..."
Aku mengangkat alis. "Apa?"
"Bunda takut kalau dia memukulimu lagi."
Kuraih dan kugenggam tangannya. "Nara tidak takut. Justru Nara takut pada diri Nara sendiri. Nara tahu, kalau Nara tidak sembarangan bicara, Mas Reza juga tidak akan seperti itu. Tapi Nara sampai begitu juga karena ulahnya sendiri. Rasa kasihannya pada Salsya membuat dia sanggup membohongi Nara. Seharusnya dia tahu, sepahit apa pun kejujuran, tidak akan lebih pahit dibandingkan saat kita tahu kalau kita dibohongi."
Ibuku belum sempat merespons, suara ketukan di pintu menyela obrolan kami. Banyak orang yang datang menjengukku hari itu. Orang yang pertama datang adalah ayahku, dia datang bersama Rizki. Katanya, begitu dia melihat video viral malam itu, dia langsung berangkat dan mencari tiket penerbangan tercepat.
"Apa yang bisa Ayah lakukan untukmu? Kamu ingin menuntutnya atas kasus KDRT?"
Aku menggeleng. Terlintas di benakku, seolah dia lelaki dan ayah yang baik hingga bisa berdiri di depanku untuk menjadi garda terdepan. Tapi memang, ayahku tidak pernah KDRT pada ibuku -- dulu -- sekali pun -- tidak pernah sama sekali. "Tidak usah. Aku tidak mau sampai seperti itu. Aku tidak mau ayah anakku kelak dicap sebagai mantan napi. Apalagi kalau anakku yang dicap sebagai anak napi. Jangan sampai. Lagipula, itu bisa merusak nama baiknya, merusak nama baik resto, bagaimana nasib anakku nanti? Bisa-bisa dia sepertiku, hidup serba kesulitan tanpa nafkah seorang ayah."
Ayahku tertunduk. Aku tahu kata-kataku menohoknya dengan telak.
"Apa ini alasan kamu menemuiku waktu itu, Dik?" tanya Rizki -- mencairkan ketegangan yang ada.
Aku mengangguk. "Yeah. Seandainya setelah melahirkan aku memutuskan untuk berpisah, bisakah kamu membantuku? Dan ketika itu benar-benar terjadi, bisakah kamu membuatnya bertanggung jawab untuk menjamin hak dan nafkah anak-anaknya? Aku ingin kehidupan anak-anakku terjamin meski aku harus berpisah dengan ayahnya."
"Akan kuusahakan," katanya. "Dengan kekerasan yang sudah ia lakukan padamu, itu akan memudahkanmu untuk menuntut cerai."
Aku mengangguk. "Ya. Tapi aku ingin fokus pada kandunganku dulu."
Mereka cukup mengerti hingga kami tidak membahas soal itu lagi, dan hampir setengah jam berikutnya kami hanya sekadar membicarakan hal-hal sepeleh yang sebenarnya tidak terlalu kudengarkan. Yang jelas kali ini aku tidak kepingin bersikap kurang ajar pada ayahku.
Beruntung, kedatangan bibiku dan kedua putrinya -- membuat ayahku sedikit pengertian dan segera berpamitan, setelah sedikit berbasa-basi pada mereka.
__ADS_1
Hal yang baik berikutnya adalah cara Raheel yang merekam video baru -- yang dia dan kami semua -- harap bisa sedikit meredam kehebohan di luar sana. Dalam videonya, Raheel menginformasikan bahwa keadaanku sudah baik-baik saja. Dan semua permasalahan dalam keluarga kami akan dibicarakan baik-baik. Raheel mengajak subscriber-nya untuk tidak menanggapi video viral itu secara berlebihan. Namanya juga rumah tangga. Begitulah intinya.