CCI

CCI
135


__ADS_3

Dua jam kemudian Reza mengirimkan whatsapp, dia sudah menungguku katanya. Aku merasa dia akan memberikan kejutan untukku. Kalau tidak, kami pasti makan di dalam kamar saja atau dia akan datang sendiri untuk mengajakku keluar bersamanya. Hanya saja, aku tidak tahu kejutan seperti apa yang akan ia berikan padaku.


Setelah mengamati diri di cermin dan membetulkan kerah sabrinaku yang naik ke atas pundak, aku meninggalkan ruangan dan pelan-pelan membuka pintu. Benar saja, sejejak kelopak mawar merah menyambutku, membuka jalan melintasi jalan setapak dan mengarah ke resto, ke meja yang ada di pojokan dengan taplak dan pelapis kursi warna putih menjuntai ke lantai. Itu sebenarnya meja yang sama di tempat Reza pernah menamparku. Hanya saja, sekarang ini meja itu dihias sedemikian rupa, lengkap dengan mawar-mawar merah dan ratusan foto yang dicetak kecil-kecil, kurasa itu mencakup semua foto yang pernah kami ambil -- dari awal kami bertemu, berteman, lalu pacaran, sampai kami menikah, dan sekarang menjadi calon orang tua. Di situ bahkan ada salinan foto USG-ku yang kuberikan pada Reza sewaktu pertama kali kami tahu tentang kehamilanku. Dan tak lupa secarik kertas yang ia tulis untukku.


Tak ada yang lebih kuinginkan di dunia ini selain hidup dan menua bersamamu. Dan mencintaimu hingga aku mati.


"Lagu ini kupersembahkan untukmu. Maafkan aku."


Suara itu menggema memenuhi ruangan, membuatku seketika menoleh sumbernya yang berasal dari arah panggung. Reza, dia sudah stay di sana dengan mikrofon di depan wajah tampannya.


Kasih sudah kuakui


Semua salahku padamu


Beri aku kesempatan


Untuk buktikan cinta setia padamu lagi


Oh... Maaf... Maafkan diriku


Yang telah membuat hatimu terluka


Hanya kau cintaku


Ku tak pernah pikir tuk pergi darimu


Walau hanya sekejap saja


Jangan pernah kau berpikir


Untuk tinggalkan diriku

__ADS_1


Beri aku kesempatan


Untuk buktikan cinta setia padamu lagi


Oh... Maaf... Maafkan diriku


Yang telah membuat hatimu terluka


Hanya kau cintaku


Ku tak pernah pikir tuk pergi darimu


Walau hanya sekejap saja


Kan ku peluk dirimu


Takkan kulepas lagi


Untuk buktikan cintaku


Akhiri semua ini


Hanya untukmu oh...


Maaf... Maafkan diriku


Yang telah membuat hatimu terluka


Hanya kau cintaku


Ku tak pernah pikir tuk pergi darimu

__ADS_1


Walau hanya sekejap


Oh janjiku... janjiku padamu


Tuk mencintaimu sekali dalam hidupku


Kasihku dengarkan hanya engkau yang bisa


Temani hidup ini


Sampai akhir usia kita


Lagu Maafkan milik Rio Febrian itu sudah selesai ia nyanyikan, suara tepuk tangan pun bergemuruh dengan meriah, tapi aku masih berdiri di sana selama beberapa waktu, hanya menatap ke arahnya. Sungguh, aku menyimak baik-baik setiap lirik yang disampaikan Reza dari hatinya, sampai aku terpaku. Dia bukan sekadar menyanyi, tapi menyampaikan permintaan hati, dan itu sangat menyentuh hatiku.


Pada detik berikutnya, Reza berdiri dan berjalan mendekat. Dia berlutut di hadapanku dengan buket mawar merah dalam genggamannya. "Bunga untukmu."


Saat itu aku berusaha keras untuk tidak merona apalagi sampai menangis, tapi bisa kurasakan seakan hawa panas mulai menjalari wajahku. "Terima kasih," kataku seraya menerima bunga dari tangannya.


Sesaat setelah buket bunga itu beralih ke tanganku, Reza langsung memeluk kedua kakiku dan itu kontan membuatku kaget. "Mas, jangan begini," kataku. "Malu."


"Biar saja. Aku rela melakukan apa pun, bahkan aku bersedia mencium kakimu demi bisa menghapuskan luka di hatimu."


"Tapi kamu tidak perlu berlutut."


"Aku harus. Aku ingin mendapatkan maafmu seutuhnya. Aku sadar, kesalahanku terlalu besar dan sulit untuk dimaafkan, dan sakit hatimu tidak akan hilang meski kamu balas menamparku. Tapi sungguh, aku menyesal. Aku tidak sengaja dan tidak pernah bermaksud melukaimu. Tolong, maafkan aku dengan sepenuh hati. Aku mohon?"


Aku mengangguk. "Aku memaafkan kamu. Luka hatiku pasti akan sembuh seiring waktu."


Dia tersenyum simpul sambil mendongak melihatku. "Terima kasih," katanya. Dia mengelus dan mencium perutku sebelum akhirnya berdiri dan memelukku.


"Cinta adalah tindakan maaf tanpa batas. Aku bisa memaafkan kamu dan mengulang semuanya dari awal."

__ADS_1


Reza pun tersenyum lebar sampai akhirnya aku melepaskan diri dari pelukannya. Tanpa malu dan seakan tak peduli pada siapa pun, bahkan pada kamera yang on di sekitar kami, dia menangkup wajahku lalu mencium dan menikmati bibirku. Ya ampun, aku hampir tidak bisa mendeskripsikan bagaimana perasaanku saat itu. Sensasi berciuman bibir di depan umum yang sangat mendebarkan. Aku sungguh tidak pernah menyangka akan mengalami semua keromantisan seperti saat ini. Ditambah lagi dia memberikan ciuman di kening sebagai penutup yang manis. "Aku sangat mencintai kamu."


Karena malu, kusembunyikan wajahku ke dalam pelukannya. "Aku juga mencintai kamu, Mas. Tak ada yang lebih kuinginkan di dunia ini selain hidup dan menua bersamamu. Dan mencintaimu hingga aku mati," ujarku sambil berusaha menyembunyikan senyuman lebar yang membelah wajahku. Aku hanya bisa menunduk memandangi lantai. Wajahku takkan pernah terasa normal lagi. Akan selalu ada rona merah karena rasa malu di ujung telinga.


__ADS_2