CCI

CCI
55


__ADS_3

Pukul 06.30 pagi, sebelum mengukur jauhnya perjalanan yang akan kami lalui dengan suka cita dan penuh cinta, kami sudah mengisi perut dengan sarapan bubur ayam, plus roti penambah ganjalan perut. Jadi waktu di jalan, urusan dalam negeri sudah aman, begitu pun dengan camilan yang seabrek sudah duduk santai di kursi belakang.


Eits, kami tidak langsung melakukan perjalanan keluar dari wilayah Bandung. Kami menyempatkan ke Taman Bunga Cihideung, Parongpong. Tidak hanya untuk melihat-lihat, berfoto cantik, ataupun merekam video manis yang manisnya bisa membuat kita sampai diabetes, tapi juga untuk membeli beberapa jenis bunga sebagai oleh-oleh untuk ibuku dan ibunya Reza. Aku suka sekali taman bunga, benar-benar suka. Di sini kami tidak berfoto mesra, tapi lebih ke potret wajah dan bunga, yang kata Reza sama-sama indah, sama-sama cantik, cetar, dan membahana, tapi tidak lebih indah jika tanpa aku. Nah, itu baru namanya gombal...


"Kalau berdasarkan informasi si mbah, katanya--"


"Mbah siapa? Mbahnya kamu?" potong Reza.


"Mbah google...," kataku setengah memekik.


"Oh... aku kira mbahnya kamu."


"Ih kamu mah begitu," rajukku.


Reza cengengesan. "Bercanda, Sayang...," katanya sambil mencubit kedua pipiku dengan gemas, seperti gemasnya mencubit pantat bayi. Kau tahu kan pantat bayi? Apa kau pernah mencubitnya? Yeah, rasanya seperti itu. "Terus apa kata mbah kamu?"


Kuhela napas karena jengkel. "Kata mbahku, yang sebentar lagi bakal jadi mbah-nya kamu, di dekat sini ada sungai terkenal, namanya Sungai Cikahuripan." Aku mendikte persuku kata nama sungai yang kumaksud. "Sebutan kerennya Green Canyon Bandung Barat."


"Kamu mau mampir ke sana?" tanya Reza yang lebih tepatnya menebak tapi tidak tepat.


"Tidak. Cuma menarik saja artikelnya. Katanya kalau kita melemparkan koin lima ratusan sambil make a wish, harapan kita bakal terkabul. Apa kamu percaya?"


Reza menggeleng. "Tidak," katanya. Dia sedang melihat koleksi foto yang baru saja dia jepret, lalu menolehku. "Semuanya kan tergantung Tuhan. Kalau Dia berkenan mengijabah harapan hambanya, ya bakal terkabul. Begitu pun sebaliknya, kalau Tuhan tidak berkenan, mau sampai sejuta koin pun, tetap tidak bakal terkabul."


"Jadi kamu tidak mau melakukan hal semacam ini?"


Dia menggeleng lagi. "Tidak," katanya dengan jawaban yang sama. "Kalau kamu?"


Aku mengangkat kedua bahu. "Mungkin. Jika aku sudah putus asa."


Reza menolehku, menatapku dengan sorot mata yang tidak bisa kumengerti, membuat alisku refleks terangkat. "Apa? Siapa yang tahu kan dengan perjalanan kita ke depan? Takdir baik tidak akan selalu berpihak pada kita, Mas. Aku hanya tahu, aku harus terus bertahan untuk hidup, meski seburuk apa pun takdir dan seputus asa apa pun diriku."


"Meskipun ada aku di sisimu?" tanya Reza yang kini sudah berdiri di depanku dan melingkarkan lengannya di pinggangku dengan erat, membuat dadaku terhenyak ke dada bidangnya.


Aku menggeleng. "Bukan. Tapi di saat kamu membuatku patah hati."


"Tidak akan. Tidak akan pernah," katanya dengan yakin dan pasti, lengkap dengan gelengan kepala.


"Yeah... aku berusaha untuk selalu percaya. Tapi... lepaskan aku. Malu dilihat orang."


Reza pun tertawa dengan sumringah dan sempat-sempatnya mendaratkan bibirnya di pipiku. "Ok, Baby."


...♡♡♡...


Setelah satu jam berkeliling taman bunga, meskipun tidak semua area, kami segera melanjutkan perjalanan ke Taman Batu Citatah atau dengan nama kerennya Stone Garden Citatah, jarak tempuhnya lumayan jauh tapi masih termasuk wilayah Bandung Barat. Kalau dari postingan di berbagai blog alamatnya di tulis Gunung Masigit, Cipatat, Padalarang. Dan berdasarkan google, alamat lengkapnya di Gunung Masigit, Citatah, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Terserahlah ya, yang penting lokasi yang dimaksud tempatnya sama. Lokasinya bisa dikatakan berada di dataran tinggi karena terletak di atas sebuah bukit. Di sekitar bukit Taman Batu ini ada sebuah gua alam yang disebut dengan Gua Pawon yang sama purba-nya seperti taman batu ini.


Bebatuan artistik satu per satu menyambut kedatangan pengunjung, kemudian jalanan terus menanjak. Setelah tiba di puncak bukit yang menjadi pondasi taman batu ini, pengunjung disuguhkan dengan hamparan pertanian milik warga sekitar, langit yang terbuka lebar, Gunung Masigit yang sama indahnya dengan taman batu, pabrik-pabrik pasir lengkap dengan asap hitamnya, hingga festival truk-truk pengangkut yang berseliweran di depan mata. Dan yang paling menarik di tempat ini adalah susunan batu yang benar-benar artistik, menjulang rapi seperti berformasi. Hasil foto di atas bebatuan tinggi itu begitu instagenic, sangat sangat memuaskan untuk seseorang dengan jiwa petualang.


"Mas, foto dengan pose ini, please?" pintaku seraya menyodorkan ponselku yang menampilkan pose hot ala Priyanka Chopra dan Shahid Kapoor dalam film Pyaar Ka Punchnama.


"Malu, Sayang."


"Please...," rengekku.


Akhirnya Reza pun menuruti keinginan gilaku berkat bujukan jurusku yang ampuh. Dia meminta tolong orang untuk menjepret kami. Kemudian ia bersandar ke salah satu batu besar bak posenya Shahid Kapoor. Meski tidak se-hot busana seperti yang dikenakan Priyanka Chopra, split skirt selutut yang kukenakan cukup mendukung untuk pose satu ini.


"Tangan kamu cukup nempel di pahaku, jangan gerak-gerak dan jangan nakal. Malu dilihat orang."


"Kalau tidak ada yang melihat, bagaimana?" tanyanya dengan senyuman nakal.


"Jangan bercanda, Mas. Ayo, berpose dengan serius."


Tiga, dua, satu, cekrek! Dan selesai!


...♡♡♡...


Jam 11.30, kami melanjutkan perjalanan menuju Cianjur. Little Venice Kota Bunga adalah destinasi tujuan pertama kami di kabupaten penghasil beras pulen nan wangi ini. Hari itu, matahari yang perkasa menunjukan eksistensinya melalui sinarnya yang terik saat hamparan padi nan hijau mulai menyambut ketika kami memasuki daerah Cianjur. Butuh waktu hampir dua jam perjalanan untuk sampai ke lokasi tujuan kami. Tapi sebelum melanjutkan petualangan, lelakiku yang tampan itu minta waktu istirahat untuk mengisi iman, isi tenaga, dan isi perut.


Jam 14.00, kami sudah tiba di gerbang Kota Bunga di mana tempat yang bernama Little Venice itu berada di dalamnya. Setiba di gerbang itu, karena itu sebenarnya merupakan gerbang perumahan elite, Reza bertanya kepada satpam, “Little Venice?” dan sang satpam pun membenarkan. Langsung saja kami masuk dengan semangat tinggi, terlebih semua amunisi yang perlu di isi sudah di isi full tank.


Perumahan di sini memiliki bentuk yang sangat eksotis dan berwarna-warni. Ya Tuhan, bangunan cantik-cantik seperti itu kira-kira berapa harga satu unitnya? Well, ini villa, bukan rumah, yang pasti memang mengutamakan konsep kemewahan dan keasriannya. Aku berdecak kagum melihat kiri kanan dengan ekspresi norak.


"Bagusan juga sketsamu, Sayang," tutur Reza serasa mengejekku.


Sketsa doang apa bagusnya?


Ada dua bundaran jalan sebelum sampai ke gerbang Little Venice. Pemandangan dari bundaran pertama sangat ciamik. Setibanya di bundaran kedua, kami belok kiri. Di sini pemandangannya lebih asri lagi dan semua kompleks di sebelah kanan sudah bergaya mandarin, sedangkan di sebelah kirinya jauh lebih mewah.


Wow, bangunan gerbang yang gambarnya begitu dielu-elukan di google sudah berada di depan mata. Kami pun langsung saja menuju loket dan membeli tiket. Setelah itu sang Barrier mengucapkan selamat datang dengan ramah dan memakaikan gelang tiket untuk di-scan barcode-nya sebagai tanda masuk.


"Tahu tidak? Banyak cewe yang melirik kamu tadi."


"Itu hal biasa. Kamu tidak usah cemburu," sahut Reza dengan percaya diri tinggi, setinggi langit tingkat ketujuh.


Dasar, siapa juga yang cemburu? Benar adanya, orang tampan itu memiliki kepercayaan diri yang menjulang tinggi.


Kembali ke Little Venica Kota Bunga. Dari pintu masuknya pengunjung dapat melewati jembatan keren khas Venice, dan pemandangan yang pertama kali terlihat adalah tenda-tenda permainan kecil, seperti permainan menembak dan memalu. Yang ingin menaiki gondola dan perahu bisa langsung ke kiri.


Suasananya benar-benar khas Italia, ditambah dengan pemutaran lagu berbahasa Italia yang menambah kesan pada tempat yang disebut dengan Little Venice itu. Fitur lainnya adalah banyaknya gambar-gambar besar yang dikhususkan untuk tempat berfoto yang bertemakan landmark-landmark dunia seperti menara Eiffel dan Colosseum. Sengaja kami tidak mengambil foto. Hanya merekam kenangan dengan video-video singkat yang nantinya akan kami gabungkan menjadi satu video berdurasi panjang.


Masih tersisa waktu dua setengah jam bagi kami untuk menyambangi Taman Bunga Nusantara, itu pun dipotong jarak tempuh menuju lokasi dari Little Venice, tapi setidaknya cukup bagi kami untuk mengarungi luasnya hamparan bunga sampai jam taman ini di tutup.


Entah kenapa, keindahan sekuntum bunga memberikan kenyamanan sendiri di hatiku. Dan aku percaya dengan peribaratan yang katanya bunga itu mewakili rasa cinta, ungkapan kasih sayang, dan berbagai rasa yang sarat dengan energi positif. Jangankan yang tumpah ruah berhektar-hektar, berdiri di warung abang-abang penjual bunga yang cuma sepetak saja, aku betah tidak kepingin pulang. Ups! Tidak selebay itu juga, Nara...


Well, Gerbang besi besar bertuliskan Taman Bunga Nusantara terpampang nyata menyambut pengunjung yang datang ke destinasi wisata satu ini. Tampak terhampar di depan mata lapangan luas parkir dengan sebuah patung Angsa Hitam, icon dari Taman Bunga Nusantara -- patung yang dikelilingi oleh berbagai tumbuhan dan berada di dalam sebuah kolam bertingkat dengan air yang terus mengalir. Omong-omong, jujur, kalau tidak mampir ke Cianjur, aku tidak tahu kalau taman ini sudah ada sejak tahun 1995 dan diresmikan oleh Presiden RI kedua, Ir. Soeharto.


Kulihat di sekeliling, oh di sana loketnya. Setelah dari loket, sesi jepret-jepret dan rekaman video pun dimulai. Ada satu momen di mana Reza terkekeh melihat pengunjung taman yang notabenenya para mama-mama muda, mereka berselfie ria dengan semangatnya yang membumbung tinggi, sementara kaum papa muda bertugas menjaga anaknya masing-masing.


"Semoga nanti kamu sebagai seorang istri dan seorang ibu -- sadar betul kalau momen liburan itu adalah waktu untuk keluarga. Bukan untuk sibuk selfie sendiri. Ya?"


Dia benar. Tidak ada salahnya pamer-pamer foto di sosial media. Tapi bukan berarti itu membuat kita fokus menjepret foto dan kehilangan momen kebersamaan dengan keluarga.


"Siap, Papa," sahutku, membuat dia tersenyum lagi. Uh... imutnya...


Fokus, Neng! Kutegur diriku sendiri karena gagal fokus.


Taman Bunga Nusantara ini di bagi dalam beberapa kategori, salah satunya Taman Labirin. Sebenarnya Reza sempat bertanya apa aku ingin ke sana. Tapi aku mengatakan tidak. "Kenapa? Takut tersesat?"


"Bukan. Aku bukannya takut tersesat. Hanya saja, aku tidak mau membuang-buang waktu hanya untuk tersesat, ini sudah hampir jam lima."


Toh masih banyak pilihan lain, seperti Taman Prancis, Taman Jepang, Taman Amerika, Taman Bali, Taman Mediterania, Taman Mawar, Taman Palem, Air Mancur Musical dan masih banyak lagi. Dan untuk spot favoritku adalah taman Prancis, karena warna-warni bunga-bunga di sana paling cerah sehingga bagus untuk dijadikan spot foto. Di tengah-tengah tamannya juga terdapat air mancur.


Dan kau tahu, yang paling menyenangkan adalah ketika ketemu penjual bakso, cusss mampir. Ketemu penjual gorengan, yuk ah beli.  Terus ketemu penjual burger, Nara mau burger, Mas. Haha. Apalagi kalau ketemu warung yang menawarkan minuman dingin, kerongkongan mendadak melambai-lambai minta dialiri air segar, dingin dan cmiwiwww. Masih untung aku tidak minta dipijat, sebab pegalnya luar biasa. Dan meskipun begitu, selesai dari taman bunga, tetap harus berburu kuliner, sate maranggi menjadi incaran utama kami hari ini.


...♡♡♡...


Esok harinya, sang alarm sudah diserahkan sebuah tugas yang begitu berat untuk dipikul. Yang mana setelah salat Subuh kami memilih untuk tidur lagi. Sampai tiba jam enam teng, sang alarm tiba masanya untuk menjerit-jerit karena tugas yang ia pikul sangatlah dahsyat, bunyinya menyayat hati, meminta siapa pun yang menjadi sasaran rintihannya untuk segera bangun dari tidurnya yang lelap.


Berisik! Kupilih opsi abaikan dan lanjut tidur.

__ADS_1


"Bangun...," seru Reza sambil mengacak-ngacak rambutku.


"Aku masih ngantuk, Mas."


"Oke. Kalau begitu batal ya kita ke Curug Cikondang."


"Kamu mah begitu." Dengan merengut aku memaksakan bangun.


"Yang semangat dong, Nona Pengembara," bujuknya.


Aku mencebik. Untung saja aku sudah mandi dari subuh. Jadinya tidak lecek-lecek amat karena baru bangun tidur dan walau tanpa mekap. Rencana awal kami ingin langsung bergegas menuju Curug Cikondang, The Little Niagara milik Cianjur. Tapi, sebelum masuk ke mobil, aku ingat dengan buah strawberry-ku yang kusimpan di kursi belakang. Dengan mewek kutunjukkan buah merah yang sudah tidak segar lagi itu ke Reza, memang belum busuk, masih bisa untuk camilan. Tapi tidak segar lagi kalau untuk jus, apalagi untuk hiasan kue. Rupanya sudah jelek karena hampir dua puluh empat jam keluar dari lemari pendingin.


"Salah kamu sendiri. Kamu kebanyakan mampir sana sini. Kalau langsung pulang kan beda ceritanya." Komentar Reza mencabik-cabik hatiku. "Apa? Mau ngambek?"


Aku merengut. "Kamu komentarnya begitu, nyelekit."


"Nyelekit? Apa itu?"


Menyebalkan! "Auh ah," rajukku, yang pagi itu memang badmood karena dipaksa bangun.


Setelah membuka pintu mobil, aku merebahkan sandaran kursi dengan maksimal, lalu berbaring dengan memunggungi Reza selama di perjalanan.


"Ayo, turun," ajaknya.


Sampai? Aku bingung, kami berkendara baru sekitar tiga puluh menit. "Sudah sampai?"


"Sampai, di kebun strawberry."


"Kebun strawberry? Serius?" Aku kegirangan dan langsung duduk tegak.


"Senang?"


"Hu'um. Saaaaaaangat." Aku langsung memeluknya dengan penuh cinta. Badmood-ku langsung luntur tak berbekas sama sekali. "Thanks you Mas. You are the best. Aku sayang kamu." Rasa bahagiaku sungguh tak terbendung.


...Sweetberry Agrowisata...


...Villa Green Apple Garden...


...Jl. Mariwati Cipanas - Puncak...


...Cianjur 43253...


...Jawa Barat...


...BUKA SETIAP HARI...


...Senin – Jum’at :...


...Pukul : 07.30 – 17.00 WIB...


...Sabtu, Minggu & Libur Nasional :...


...Pukul : 07.00 – 17.30 WIB...


Itu -- informasi yang kami dapatkan dari google. Kami datang kepagian dan harus menunggu sekitar dua puluh menit. Sementara Reza memanfaatkan waktu dengan mengisi perut, aku memanfaatkan waktu untuk berdandan.


"Jangan terlalu merah," tegurnya saat aku melukiskan lipstik ke bibirku. "Nanti aku bingung yang mana bibir kamu dan yang mana strawberry."


Aku mengecupkan kedua bibirku dua kali supaya lipstikku merata. "Mas... Mas. Bingung atau tidak kan tidak ada pengaruhnya. Kamu bilang seperti itu seolah kamu mau mencium bibirku."


Reza menolehku, dia baru mau membuka mulut untuk bicara, tapi aku lebih dulu menyalipnya.


"O ya?"


"Sok pikun."


"Kemarin waktu di Kawah Putih--"


"Itu cuma sentuhan bibir. Bukan ciuman," sanggahku, memotong kalimatnya lagi.


"Oke. Jadi kamu kangen dicium?"


"Tidak."


"Yakin?" tanyanya lagi. Sementara aku hanya merengut. "Kalau diam berarti iya?"


Kucubit pinggangnya sampai dia menjerit. "Kamu menyebalkan," kataku.


Reza cekikikan. "Sudah jam tujuh. Ayo."


Kami pun membeli tiket masuk dan langsung menuju hamparan perkebunan strawberry seluas tiga hektar dengan keranjang di tangan kami masing-masing. Ternyata sensasi memetik buah strawberry yang segar ini melebihi espektasiku. Dan aku merasa benar-benar konyol, aku pernah pergi ke Batu Malang, dua kali ke Bandung, dan sering ke Bogor, tapi tidak pernah menyinggahi perkebunan strawberry, padahal aku suka sekali buah merah merona yang manis cenderung asam ini.


Setelah lebih dari satu jam menikmati keindahan hamparan perkebunan strawberry, kami pun langsung bergegas menuju Curug Cikondang di bagian selatannya Cianjur.


"Kamu sandaran melulu. Bagus lo pemandangan di sini," celoteh Reza yang menikmati perjalanan dengan melihat pemandangan di kanan kiri jalan dan membiarkan angin membelai wajahnya.


Aku tersenyum. "Bagusan juga pemandangan di depanku."


"Gombal."


"Kamu pasti GR, merasa aku melihat ketampanan kamu, ya?"


"Terus? Apa?"


"Aku sedang melihat sosok lelaki -- kekasihku yang penuh cinta."


Dari raut wajah dan ekspresinya, Reza nampak ingin tahu maksud kalimat yang baru saja kuucapkan itu. "Kamu itu pengertian. Aku ngambek sedikit, kamu bela-belain cari lokasi untuk kita beli strawberry baru. Aku terharu dengan sikap manis kamu. Terima kasih, ya."


"Ssst... jangan memujiku. Nanti aku melayang."


"Memang begitu kenyataannya, Mas."


"Ya... karena aku sayang kamu. Sudah menjadi tugasku untuk membahagiakan kamu. Ya kan?"


Aku mengangguk. "Kalau kamu mau sesuatu dariku, kamu bilang ya. Aku juga mau membahagiakan kamu."


"Trims, Sayang. Kamu punya niat saja aku senang bukan kepalang," katanya lengkap dengan senyuman dan genggaman tangan yang lembut.


Setelah dua jam lebih berkutat di jalanan sambil mampir-mampir cantik dan ngemil-ngemil cantik, kami tiba di area parkir Curug Cikondang dengan selamat, kurang bugar, dan sedikit menjadi lebih jelek. Oh sori, cuma aku. Reza masih dengan ketampanan dan kebugaran yang sama, yang Reza banget.


"Kamu mau apa?"


"Mau dandan dulu, Mas."


"Ya salam...." Dia menepuk jidat.


"Kita kan mau foto, aku harus dandan dulu biar lebih kecceh...," kataku membela diri dengan sedikit lebay mengucapkan kata kece, membuat Reza geleng-geleng kepala.


Sementara aku sibuk berdandan, Reza kembali menyempatkan mengisi perut. Dia meraih Laksa Cianjur yang sempat kami beli, sengaja di bungkus sebab warungnya ramai dan kami tidak kebagian tempat duduk. Yah, ceritanya kami memang belum sarapan yang benar-benar sarapan, mengertikan maksudku? Yap, kami belum memakan sesuatu yang sifatnya mengenyangkan. Dan dengan manisnya, Reza rela menyuapiku dan membiarkan aku dengan kesibukanku mempercantik diri.

__ADS_1


"Kamu kok malah dandan? Memangnya tidak mau basah-basahan?" tanyanya.


Lagi-lagi pas di saat aku melukiskan lipstik ke bibirku yang mungil. Lipstik yang tadi sudah agak pudar. "Aku mau foto berdua dengan kamu, kalaupun basah, yang basah cuma pakaian, tidak benar-benar mandi. Aku masih pakai pembalut, tahu!"


"Belum selesai?"


"Emm... biasanya selesai lima hari. Tapi jaga-jaga saja, daripada nembus."


"Oh," mulutnya membulat. "Omong-omong perasaanku tidak enak, jangan bilang kalau kamu mau pose nyeleneh."


Aku nyengir. "Emm... kamu kan biasanya mau , Mas. Please, ya? Please, please, please. Ya Mas ya? Mau, ya?" Kuberikan dia senyuman manis hingga ia tak mampu menolakku.


Setelah Reza mengiyakan, aku pun memperlihatkan contoh pose yang kumaksud, sehingga ekspresinya langsung berubah drastis. Nampak lipatan-lipatan di dahinya -- mewakili perasaannya yang tak bisa ia ungkapkan karena dia sudah terlanjur mengiyakan.


Uh... senangnya hatiku karena Reza memenuhi kemauanku. Lima pose ala film RDX Love pun terealisasi. Meski malu, dia bersedia bertelungkup di atas batu super besar dan aku berbaring di atasnya dalam pose pertama yang kami lakoni. Lalu pose kedua, masih dengan Reza yang bertelungkup, disusul aku yang ikut bertelungkup menindihnya. Dalam pose ketiga, giliran aku yang berbaring dengan satu kaki lurus dan satu kaki menekuk, sementara Reza duduk membungkuk di sampingku dan mencium perutku. Pose ke empat, pose yang membuat dia harus lebih menahan malu, tapi dia bersedia memenuhinya, dia bersedia mencium kakiku persis di poster RDX Love yang ketujuh belas versi filmibeat. Dan pose yang paling kusukai adalah pose terakhir, pose kedelapan belas versi filmibeat. Dengan pose setengah kayang, Reza menahan pinggangku dengan tangannya yang kekar, lalu mencium perutku dengan lembut.


"Trims... kamu rela menahan malu demi aku," bisikku setelah kami selesai dengan ritual memupuk kemesraan ala RDX Love.


Dia mencium pipiku. "Everything for you," katanya -- balas berbisik di telingaku. Ah... meleleh aku mendengarnya, karena itu ia ucapkan setelah ia mau mempertaruhkan harga dirinya demi membahagiakan aku. Termasuk menyelipkan lembaran merah sebagai ucapan terima kasih pada seorang pengunjung yang berbaik hati meluangkan waktu untuk menjadi photographer dadakan hari ini. Terima kasih untuk seseorang yang aku tidak tahu siapa namanya.


Selain pada Reza dan si photographer dadakan, terima kasih juga pada Aarin dan Mayra. Sebab, keinginan gilaku ini berkat terkontaminasi virus-virus pecinta Bollywood dari Aarin, dan berkat setelan sabrina split skirt dari Mayra, pose ala Bollywood impianku bisa terealisasi. It's very sweet moment. I love you all.


Oh ya, di sekitar lokasi objek wisata Curug Cikondang Cianjur, ada hamparan perkebunan teh dan sawah-sawah terasiring yang cukup menghipnotis mata. Mirip dengan persawahan di Kaliurang dan Ubudnya Bali. Pemandangannya sangat bagus, beberapa tempat cocok untuk foto-foto. Hawa sejuk nan segar khas daerah pegunungan dan landskap perbukitan kebun tehnya begitu berkesan di sanubari. Terlebih akhirnya aku tahu bahwa objek wisata Situs Gunung Padang ternyata lokasinya di sekitar sini. Bagaimana aku bisa tahu? Berikut ceritanya.


Begitu kami selesai berganti pakaian karena pakaian kami basah terkena percikan air. Kami berisitirahat di gazebo di sekitar curug sembari menentukan ingin ke destinasi wisata mana kami selanjutnya. Sambil santai kami makan siang dan menyeruput dawet yang Reza beli di jalan waktu kami menuju lokasi curug, sayangnya tingkat kedinginannya sudah berkurang, es batunya keburu habis karena terlalu lama ditinggal.


"Mau ke mana lagi, Sayang?" tanyanya memecah kefokusanku menatap layar ponsel.


"Aku bingung, Mas. Tidak ada itinerary yang jelas. Jadi tidak tahu arah dan tujuan yang efisien. Dan..."


"Apa?"


"Taman, air terjun, danau, dan lain-lain. Apa kamu tidak bosan?"


"Asal ada kamu dan bersama kamu, di mana pun akan selalu menyenangkan," ujarnya, ia tersenyum lebar.


"Ah kamu... gombalnya ngejiplak."


"Jadi mau ke mana?"


"Langsung menuju Jakarta saja kali, ya."


Dia mengangguk. "Oke," sahutnya tanpa menoleh. Ia sedang menikmati dawetnya. "Dawetnya manis, tapi lebih manis kamu."


"Hoekkk. Dasar gombal!"


Kutaruh ponselku dan kembali fokus menikmati dawet. Saat itulah Reza mengutarakan keinginannya untuk pergi ke Situs Gunung Padang, dan itu sontak membuatku tersedak. "Kenapa?"


"Aku tidak mau," tolakku.


"Karena kamu tidak mau mendaki? Dari informasinya ini bukan gunung sungguhan, Sayang. Ada tangga untuk sampai ke puncak."


"Oh," mulutku membulat. "Eh, tapi bukan karena itu. Aku takut ah ke sana. Seyem..."


"Seram?"


"He-eh. Itu lokasi syuting film horor. Kalau tidak salah judulnya Gerbang Neraka, film yang dibintangi Reza Rahadian. Aku takut ah ke sana."


"Reza Rahadian lagi. Lama-lama aku bisa cemburu lo, ya."


"Apa sih, Mas? Kok nyambung-nyambungnya ke situ? Kita kan lagi bahas gunung itu, kenapa disangkut pautkan ke Reza Rahadian?"


"Oke... jadi mau kan menemani aku ke sana?"


Aku menggeleng kuat-kuat, bersikeras menolak.


"Itu kan cuma lokasi syuting, bukan berarti di sana benar-benar lokasi yang horor. Kamu biasanya suka apa pun yang berhubungan dengan Reza Rahadian."


Aku berdalih. "Untuk yang satu ini tidak sama sekali. Lagipula sekarang kan aku sukanya apa pun yang berhubungan dengan Reza Dinata."


"Nah, Reza Dinata suka tempat-tempat bersejarah. Jadi bagaimana?"


"Mas..."


"Sayang..."


"Mas, jangan memaksa."


"Kamu orangnya tidak adil ternyata."


"Maksud kamu?"


"Ya tidak adil. Aku mau melakukan apa pun untuk kamu, bahkan mencium kaki kamu hanya untuk sebuah foto, aku mau. Tapi giliran aku yang minta, kamu dengan mudahnya menolak."


"Kamu tidak ikhlas? Kamu mau hitung-hitungan denganku?" tanyaku sedikit memanas seperti kayu yang tersulut api.


Reza tidak menjawab. Dia mengalihkankan pandangan ke arah lain. Baru kali ini aku melihatnya ngambek. Catat; ngambek, bukan marah. Tapi kau tahu sendiri bagaimana keras dan egonya aku. Aku tidak mau mengalah.


"Aku pergi sebentar," katanya. Saat itu aku tidak memerhatikan ke mana Reza pergi. Aku rasa saat itu dia mencoba meredam kekecewaannya, sebab dia pergi cukup lama. Tapi kali ini pemikiran-pemikiran aneh tidak menghinggapiku lagi. Wah, surprise, ada kemajuan. Aku tidak berpikir bahwa dia akan pulang dan meninggalkan aku di sana sendirian, atau mencari hal-hal lain yang menghiburnya, misalnya mendekati pengunjung lain yang cantik atau yang menarik perhatian, tidak sama sekali.


Dua puluh menit kemudian, atau lebih dari itu, Reza kembali. Aku tidak tahu pasti, tahu-tahu dia sudah ada di sampingku, dia duduk persis di sebelah kananku dengan posisi menghadap berlawanan arah.


"Aku minta maaf, ya?" katanya tiba-tiba. "Aku tidak bermaksud memaksakan kehendakku. Aku pikir mumpung kita berada di sini, bisa sekalian ke sana. Tapi tidak apa-apa. Kamu punya hak untuk menolak."


Deg!


Hatiku rasanya kena tonjok. Rasa bersalah pun langsung bertahta di hatiku, persis setelah tonjokan itu mengena tepat pada sasarannya.


"Aku yang minta maaf, Mas. Aku yang egois. Kamu sudah melakukan banyak hal untuk membuatku bahagia. Aku sadar, tidak seharusnya aku menolak. Lagipula, selama kita bersama rasanya aku tidak pernah melakukan sesuatu untuk kamu. Maaf, ya. Aku sudah berlaku tidak adil pada kamu."


Dia tertegun. "Maaf, aku tidak sengaja tadi mengucapkan itu," ucapnya. Nampak jelas dia menyesali kata-kata yang tidak sengaja ia lontarkan itu.


"Tidak apa-apa. Yang kamu katakan itu benar. Aku egois. Aku tidak adil."


Kami berdua terdiam sesaat, mungkin lebih dari tiga menit. Ini ceritanya bermaaf-maafan tapi masalah tidak selesai seutuhnya.


"Masih mau di sini? Atau mau melanjutkan perjalanan sekarang?"


Aku hanya mengangguk, lalu berdiri, yang artinya mari melanjutkan perjalanan. Kami pun berjalan menuju parkiran.


"Ayo, kita ke Situs Gunung Padang," kataku, persis setelah Reza menstarter mobil.


Dia menolak, bahkan tanpa menoleh. "Tidak usah. Aku tidak mau kalau kamu terpaksa."


Eit dah, ternyata begini kalau dia ngambek. Dengan pelan, kusentuh lengannya dan berusaha membujuknya. "Tidak, Mas. Aku mau kok, demi kamu."


"Ikhlas?"


Aku takut, tapi demi kamu. "Iya, ikhlas," kataku sambil mengangguk, meskipun ekspresiku tidak mengatakan demikian. Lagipula tadi aku sendiri yang menyuruhnya mengatakan saja apa yang dia mau. Lagi-lagi aku termakan omonganku sendiri.

__ADS_1


__ADS_2