
Dinding dan langit-langit ruangan kecil itu kini berwarna biru, seperti warna langit di sore hari, biru cerah tanpa awan. Warna itu membuatku jauh lebih semangat menyambut pagi, seperti jiwa yang baru saja mendapatkan transfusi. Tapi yang ini kusebut ia sebagai transfusi cinta -- cinta dari Reza Dinata.
"Halo Inara. Jangan HALU! Reza bahkan belum pernah mengatakan kalau dia mencintaimu." Kukatakan itu pada pantulan cermin di hadapanku.
Kemarin Reza memberitahuku bahwa dia akan berada di Surabaya selama dua hari lagi, dan akan kembali ke Bogor besok lusa. Dia meminta waktuku full day selama dua kali dua puluh empat jam bersamanya.
Hari itu hari kelima kebersamaan kami, dia ingin mengajakku jalan-jalan katanya, dan akan menjemputku jam sepuluh pagi. Saat ia datang, aku sangat percaya diri membukakan pintu untuknya. Aku merasa dia terpesona saat melihatku. Dengan jumpsuit-ku yang berwarna biru langit, kerah sabrina yang melebar berbentuk horizontal dari bahu ke bahu, juga rambutku yang terikat tinggi ke belakang, dia nampak terpaku dan terpukau melihatku pada detik-detik pertama, lalu melihatku dari atas ke bawah pada detik berikutnya. Aku menyadari dalam sepersekian detik itu, ketika dia melihatku matanya tak berkedip sama sekali.
Tetapi Reza membuat hatiku ciut ketika dia memintaku memakai jaket. Ternyata dia tidak suka melihatku dengan pakaian seperti itu, pikirku. Aku pun mengambil jaket dari dalam lemari, lalu memakainya tanpa protes dan tanpa bertanya apa pun.
"Pas." Dia mengacungkan dua jempol.
Setibanya di halaman parkir, aku baru mengerti maksud kata pas yang diucapkannya. Reza menjemputku dengan motor gede. Katanya pinjam dari karyawan Resto. Dan kata pas itu maksudnya tertuju pada jumpsuit-ku, aku bisa leluasa duduk di boncengannya ketimbang jika aku memakai dress. Juga pada jaket yang melindungi kulitku dari panasnya kota Pahlawan.
Reza mengajakku berwisata ke kampung Bulak, tidak jauh dari lokasi tempat kost. Kami berhenti di halaman parkir beberapa saat kemudian. dia pun memarkir motor lalu dengan cepat menarikku ke pelukannya, membuat jantungku serasa melorot ke perut.
"Kenapa?"
"Buka saja."
"Apanya?"
"Itu."
"Itu apa?"
"Jaket," katanya berbisik.
"Oh... jaket...," kataku.
Aku pura-pura biasa-biasa saja, sementara Reza tersenyum -- membuat kepercayaan diriku kembali seratus persen. Hatiku yang sempat ciut kembali mengembang sempurna, benar-benar sempurna.
__ADS_1
"Trims. Aku tahu kamu berdandan secantik ini untukku," katanya berbisik di telinga.
"GR!" Aku memekik ditebak benar begitu.
"Tatap mataku kalau aku salah."
Aku tidak bisa. Kalaupun benar dia salah, aku tetap tidak akan bisa menatap matanya, sebab di mata itu ada cinta yang mampu menembus tepat ke hatiku. Dan kau tahu, aku malah sibuk menahan senyuman yang tak hentinya mengembang. Oh, pipiku bersemu merah, aku malu.
Singkat cerita, lewat kampung itu, aku mengerti makna yang tersirat, bahwa dia ingin duniaku penuh warna, seperti cat tembok dan atap rumah-rumah yang ada di kampung Bulak, indah dengan warna-warni yang amat sangat cerah ceria. Kami mengabadikan momen itu dengan video singkat, berdua.
"Terima kasih, sudah mengajakku ke sini," kataku.
"Sama-sama. Tapi aku harap kamu paham tujuanku mengajakmu ke sini."
"Apa?" Aku pura-pura tidak mengerti.
Saat itu Reza mengusapkan jemarinya di pipiku, lalu menepukkannya di bibirku, lagi-lagi membuat darahku berdesir. "Kamu wanita hebat. Kamu pintar. Aku tahu kamu paham maksudku."
"Pelangi. Aku tidak akan bisa membawakan pelangi dari atas sana. Tapi aku bisa memberikan warna-warna yang indah itu ke dalam hidupmu. Selama kamu memberikan aku kesempatan."
Aku terdiam. Tentu saja dia mengerti kalau yang kumaksud tempo hari hanya sebuah kata kiasan. Tidak ada seorang pun yang bisa membawakan pelangi dari atas sana. Toh, pelangi itu sendiri hanyalah sebuah pembiasan cahaya yang tak dapat disentuh.
Sekali lagi dia mengusap-usapkan buku jarinya di pipiku. Mendadak aku teringat adegan mesra Reza Rahadian saat menyentuh wajah Ayushita dalam film The Gift, hampir saja aku berekspresi sama seperti ekspresi Ayushita yang menikmati sentuhan lembut dari tangan Reza Rahadian.
"Nara?" suara Reza memutus khayalan liarku.
"Emm?"
"Apa aku punya kesempatan itu?"
Aku terdiam sesaat, kemudian mengangguk -- tapi tidak mengatakan apa-apa. Sementara Reza tersenyum dengan penuh terima kasih, sembari menarikku ke pelukannya dan merengkuh tubuhku dengan erat, aku merasa tulang rusukku seakan remuk.
__ADS_1
"Aku menunggu saat-saat seperti ini selama tiga tahun, saat-saat menemukan seseorang yang akan menjadi bagian penting dalam hidupku," ucapnya. Suaranya terdengar parau.
Sembari mendesah, kusandarkan pipiku ke dadanya. Seolah-olah hanya ada kami berdua dan tak ada siapa-siapa di sana. Aku tak peduli, ini yang dinamakan dunia terasa milik berdua, betapa aku merasa nyaman berada dalam pelukannya.
...♡♡♡...
Reza tidak mengatakan apa pun saat aku bertanya selanjutnya dia mau mengajakku ke mana. Dia hanya memberikan senyuman dan mengisyaratkan aku untuk mengeratkan pelukan dan memberikan bahunya untuk aku bersandar. Dia membawaku melesat jauh, menempuh jarak hampir satu jam perjalanan dengan kecepatan cukup tinggi.
"Di sinilah kita," ujarnya ketika kami sampai di Ciputra Waterpark Surabaya.
Wow. Keren! Dia membawaku ke tempat wisata air terbesar di Indonesia, bahkan terbesar di Asia Tenggara.
"Za, terima kasih. Aku senang kamu kasih kejutan. Tapi kita tidak main basah-basahan, kan? Aku tidak membawa pakaian ganti. Harusnya kamu bilang tadi kalau mau ke sini," kataku.
"Aku ajak kamu ke sini dengan persiapan matang. Aku sudah siapkan pakaian ganti untuk kamu. Yang penting kamu menikmati kebahagiaanmu di sini, yuk?" Dia menjulurkan tangan. Tentu aku menyambutnya dengan sukacita.
Aku pernah membaca artikel di website, di sana tertulis bahwa wahana Ciputra Waterpark Surabaya adalah wahana permainan air yang terinspirasi dari dongeng petualangan Sinbad, tokoh utama dalam karya fiksi yang ada dalam salah satu kumpulan Kisah Seribu Satu Malam. Sinbad adalah seorang pelaut Arab yang menjelajahi samudra. Tapi aku tidak tahu lebih jauh tentang kisahnya. Sinbad’s Playground menggunakan konsep menara istana di mana masing-masing menaranya tersambung satu sama lain oleh jembatan goyang, ada beberapa perosotan plus drum air raksasa di sana.
Waktu itu Reza kembali mengajakku menguji adrenalin, tapi karena di sini adalah wahana air tentu aku berani. Kami menikmati wahana Roc Thunder Ride yang merupakan wahana peluncuran air dengan tinggi lima belas meter dan meluncur ke bawah melalui terowongan dengan kecepatan tinggi. Kami ketagihan sampai mengulanginya berkali-kali.
Setelah puas bermain, aku memikirkan kembali pakaian ganti yang sudah disiapkan olehnya. Cepat-cepat aku ke loker penyimpanan barang, dan benar saja, semuanya lengkap termasuk dalaman -- yang pas dengan ukuranku, dan semuanya baru, berwarna putih. Yang menjadi pertanyaanku -- siapakah yang turun tangan membeli semua itu? Rasanya memalukan jika Reza membeli sendiri semua itu untukku.
Aku menyingkirkan pertanyaan itu sementara. Buru-buru kuganti pakaianku. Set culottes warna putih. Model atasannya tanpa lengan dan dengan garis leher V. Sedangkan bawahannya adalah celana kulot, dengan panjang sedikit di bawah lutut. Aku agak lama di dalam karena harus berdandan ulang.
Reza sudah menungguku lima belas menit di luar. Dia mengacungkan jempolnya ketika melihatku keluar dengan pakaian ganti yang ia berikan untukku. Aku menanyakan siapa yang membelikan pakaian beserta dalaman itu. dia pun tertawa mendengar pertanyaanku.
"Kamu pikir aku ya yang beli sendiri? Bukanlah," katanya.
"Siapa?"
"Karyawan resto. Perempuan. Dia yang memilihnya sendiri. Aku cuma bilang harus serba putih. And see... jangan pernah takut lagi. Kamu selalu cantik dalam balutan warna apa pun. Kuncinya kamu hanya harus percaya diri. Kamu cantik, manis, dan aku menyukai itu."
__ADS_1