CCI

CCI
49


__ADS_3

Berburu pantai. Itulah satu-satunya rencana kami menghabiskan waktu sepanjang sore. Kami sudah menyinggahi beberapa pantai di kawasan Bali Selatan beberapa hari kemarin, seperti Pantai Kuta, Pantai Legian, Pantai Tanjung Benoa, Pantai Jimbaran, Pantai Pandawa, Pantai Gunung Payung, termasuk Pantai Geger yang merupakan salah satu pantai di kawasan Pantai Nusa Dua. Kami juga men-skip Pantai Dreamland, sebab aku sudah pernah ke pantai yang indah itu waktu pertama kali ke Bali. Jadi kami akhirnya memutuskan ke wilayah perbukitan di kawasan Uluwatu dengan jarak tempuh cukup jauh, hanya untuk berburu pantai.


Tujuan  kami hari ini untuk menyambangi Pantai Suluban. Kami berjalan kaki cukup jauh dari area parkir kendaraan dengan menuruni anak tangga yang diapit oleh tebing batu karang putih. Begitu sampai di ujung anak tangga yang paling bawah, kami melewati gua karang yang berlantai pasir nan lembut, barulah sampai ke bibir pantai. Dan waw waw waw, pantainya indah sekali. Seperti biasa, momen perjalanan ini kami abadikan dengan video singkat. Video yang meliput pasir putih, birunya air laut, cerahnya langit, indahnya pemandangan sekitar pantai, dan cinta kami sebagai objek utamanya. Maksudku -- pelukan dan ciuman kasih sayang antara kami berdua.


Tapi karena rasa parnoku, aku tidak mau berlama-lama di sana. Meskipun pemandangannya dilengkapi dengan kecantikan dan ketampanan bule-bule nan seksi dalam balutan hot pants dan bikini yang berwarna-warni, tetap saja aku takut kalau tiba-tiba air pasang, wisatawan bisa saja terjebak di sana. Maka itu segera aku mengajak Reza pergi.


"Lo, kita kan baru sampai, belum juga dua puluh menit."


"Aku takut lama-lama di sini. Kalau tiba-tiba air pasang atau tiba-tiba ombak menerjang sampai naik jauh ke pantai, bagaimana? Apa kita akan sempat lari ke atas? Aku tidak mau mati muda," tuturku.


"Ya kalaupun itu terjadi, toh kita akan mati bersama."


"Apa sih, Mas? Aku tidak mau mati muda dan menjadi arwah penasaran."


"Mana ada arwah penasaran, Sayang."


"Mungkin. Tapi aku pasti jadi arwah penasaran."


"Kenapa?"


"Penasaran -- penasaran melewati malam pertama bersama kamu." Aku pun langsung lari sebelum dia menangkap dan menggelitikiku.


Matanya terbalak sesaat. "Awas kamu, ya...," teriaknya sebelum ia mengejarku.


Tentu saja dia berhasil menangkapku, dan gelitikan jemarinya pun menyerangku dengan semangat membara hingga kami terjatuh dan bergulingan di atas pasir.


...♡♡♡...


Bergeser beberapa kilometer dengan jarak tempuh hanya beberapa menit, kami singgah ke Pantai Padang Padang Pecatu atau Pantai Labuan Sait. Awalnya aku keberatan sebab harus turun tangga lagi. Tapi karena penasaran dengan pantai yang pernah menjadi lokasi syuting film Hollywood berjudul Eat, Pray, Love dan sudah terlanjur sampai juga, aku pun akhirnya memaksakan diri. Orang jauh-jauh dari luar negeri saja ke sini, kenapa aku tidak? Begitulah kira-kira.


Yeah, memang melelahkan, tapi tidak apa-apa, pengorbananku dibayar dengan indahnya pesona alam di sana, dengan berbagai macam pesona perbukitan hijau yang menggemaskan, pesona pantai pasir putih, birunya air laut, dan karang-karang yang tersebar di bibir pantai.


"Mau belajar berselancar?" tanya Reza. Aku menggelengkan kepala. "Dicoba saja dulu, ya. Tunggu di sini." Dia pun langsung pergi tanpa menunggu jawabanku, meski aku memanggilnya, dia tetap keukeuh dan tidak mendengarku.


Reza kembali setelah sekian menit dengan menggotong papan selancar yang ia sewa. Lalu menarik tanganku dan mengajakku ke air. Meski setengah terpaksa, aku tetap mengikuti kemauannya. Dan yeah, percuma, aku tetap tidak bisa. Ujung-ujungnya aku hanya menjadi penonton yang menyaksikan dia begitu asyik menikmati deburan ombak. Meskipun begitu, kami tidak berniat berlama-lama ataupun menyaksikan sunset di sini, sebab kami tidak mau antre untuk menaiki tangga itu.


Akhirnya kami memutuskan untuk memburu sunset di kawasan Seminyak, supaya dekat juga untuk kembali ke villa. Sore-sore santai di pantai berteman dengan angin yang berembus mesra yang kan membelaimu, Cinta. Yap, seperti itu, seperti penggalan lirik lagu Sebelum Cahaya miliknya Letto, angin itu benar-benar membelaiku dengan mesra. Tapi tentu saja lebih mesra belaiannya Reza. Eh?

__ADS_1


Entah, apa itu yang dinamakan kebetulan atau itu yang dinamakan takdir, intinya sesuatu yang tidak disengaja. Di dekat kami ada anak kecil, laki-laki, menurutku umurnya sekitar dua tahun. Dia lucu, gendut, dan termasuk berkulit putih. Dia sedang berlarian menendang bola dengan ditemani ayahnya. Suara tawanya, wajahnya yang lucu, dan tingkahnya, semuanya menggemaskan, membuat Reza sangat antusias memerhatikannya bermain.


"Melihat pemandangan seperti ini rasanya pingin cepat punya anak. Bisa main ke pantai sore-sore. Main bola, main pasir, atau berenang. Pasti seru, seperti mereka," celotehnya.


Aku hanya tersenyum kecil. Memang itu merupakan pemandangan yang menghangatkan ketika melihat anak kecil berbahagia bersama orangtuanya,terutama bersama ayahnya. Tapi sekaligus juga mengiris sembilu relung hatiku, ngilu ketika bayang-bayang masa kecilku dan Ihsan yang tidak sebahagia itu bermunculan di ingatanku. Sebuah perbandingan yang aku sendiri tidak ingin membanding-bandingkannya, tapi itu terjadi di luar kendaliku. Ingatan-ingatan itu muncul begitu saja, mengoyak-ngoyak hatiku yang selama ini sudah cacat. Seperti ingatan tentang Ihsan, Ihsan kecil juga suka sekali bermain bola seperti itu, tapi tanpa seorang ayah.


Aku berusaha menutupi perih getir hatiku dengan menyandarkan kepalaku ke bahu Reza. Menelusupkan jariku ke ruas jari-jarinya. Tapi dia cukup peka untuk menyadari reaksiku.


"Cerita, apa yang kamu rasakan saat ini? Kamu mau kan berbagi cerita denganku?"


Aku menarik napas panjang sebelum menjawabnya. "Kamu mungkin sempat merasakan kebahagiaan seperti itu, Mas. Sedangkan aku tidak. Apalagi Ihsan, tidak sama sekali. Aku iri melihat pemandangan seperti itu. Bahkan Tirta lebih beruntung daripada aku. Dia punya ayah seperti Alfi yang sangat menyayanginya. Sedangkan aku, aku punya ayah kandung, tapi sama sekali tidak menyayangiku."


"Kamu tahu?"


Aku mengangguk. "Mayra sendiri yang cerita padaku. Tentang Tirta, tentang panti asuhan, juga tentang dirinya sendiri. Sama halnya seperti Mayra, dia juga beruntung memiliki Alfi yang mencintainya tanpa memandang kekurangannya. Ya... katakanlah aku tidak seberuntung anak-anak yang disayang ayahnya. Tapi apa aku bisa seberuntung Mayra yang dicintai lelaki seperti Alfi?"


Kali ini Reza terdiam, dia hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Apa kamu akan tetap mencintaiku seandainya aku punya kekurangan seperti Mayra?" Kutanyakan itu dengan menatap tajam kedua matanya.


"Tapi, kamu kan berharap punya anak banyak."


"Bisa adopsi."


"Kamu yakin?" tanyaku. Lagi-lagi dia hanya mengangguk. "Kalau aku melakukan kesalahan fatal, misalnya membunuh orang. Apa kamu akan terus mencintaiku? Atau justru kamu akan berhenti mencintaiku saat kamu tahu hal itu?"


Dia tercengang mendengar pertanyaanku. "Kamu?" tanyanya dengan raut seribu tanda tanya.


"Santai, Mas. Belum ada orang yang mati di tanganku. Tapi bisa saja terjadi."


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Jawab saja, Mas."


"Sudah, ya Sayang ya. Tidak ada gunanya membahas hal semacam ini."


"Kamu tidak bisa menjawabku? Atau sebenarnya kamu ingin menjawab tidak? Tidak apa-apa. Jujur saja."

__ADS_1


Dia terdiam sesaat seraya mengalihkan pandangan, lalu menatapku lagi dan balik bertanya, "Apa yang mendasari kamu bertanya seperti itu? Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan?"


"Oh... tidak. Tidak ada. Sungguh. Aku... hanya iseng. Serius," jawabku dengan gugup. "Emm... omong-omong kalau mau sering ke pantai sore-sore, berarti harus punya rumah di dekat pantai."


Aku berusaha mengalihkan pembicaraan, dan aku tahu Reza menyadari itu, hanya saja dia pun ikut menyeimbangi sikapku. "Kita akan bangun rumah di dekat pantai nanti."


"Emm? Memangnya Ibu mau diajak pindah?"


"Ibu akan ikut ke mana pun aku tinggal, nanti kalau aku sudah menikah. Kamu mau kan tinggal di mana pun tempat yang aku tuju?"


"Tentu. Jangankan nanti, sekarang pun aku mau ikut ke mana pun kamu pergi."


Dia tersenyum, manis sekali. Seperti manisnya gulali. "Kalau begitu, sepulang dari sini kamu ikut aku ke Bandung."


"Bandung?" Aku tertegun. "Emm... aku sudah pernah ke Bandung. Aku... aku tidak mau ikut."


"Lo? Tadi katanya mau ikut ke mana pun aku pergi." Keningnya mengerut.


"Yeah, Bandung memang tempat yang menyenangkan, sejuk, indah, nyaman lagi. Aku suka Kawah Putih dan Gunung Tangkuban Perahunya. Tapi aku sudah pernah ke sana. Aku tidak mau ikut. Tidak apa-apa, kan?"


Reza menatapku dengan penuh curiga yang tersirat nyata di matanya. "Kamu sudah pernah ke Bali, tapi--"


Putar otak. "Aku kangen suasana rumah," celahku cepat. "Aku kangen Bunda." Maaf aku berbohong, Mas. "Emm... omong-omong tentang panti asuhan. Kamu tidak pernah menceritakannya padaku." Lagi -- aku berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Emm... Ke na pa, karena... karena aku tidak ingin terdengar seperti membanggakan apa yang dilakukan keluargaku kalau aku tiba-tiba menceritakannya. Terdengar seperti menyombongkan amal? Iya, tidak?"


Aku mengedikkan bahu. "Mungkin, tapi sekarang tidak, kan sekarang aku yang bertanya."


"Hmm... panti asuhan itu Ibu yang mendirikan, di balik banyak alasan, salah satu alasannya karena itu cara Ibu mengenang masa lalunya. Dia yang berasal dari panti asuhan. Dia tahu rasanya jadi anak yatim piatu yang besar di panti. Sebab itu ibu mengasihi anak-anak yatim piatu."


Aku tertegun. Lagi-lagi aku terjebak dalam obrolan yang membuatku tidak nyaman. "Yeah. Ibu hebat karena dia bisa mengenang masa lalunya dengan cara positif. Aku? Aku malah berusaha melupakan yang sejatinya tidak akan pernah bisa kulupakan."


Ah... cengeng. Kenapa sih sesorean ini harus berlangsung seperti ini?


"Jangan memaksakan," katanya seraya menghapus air mataku. "Kalau tidak bisa lupa, ya sudah, jalani saja. Yang terpenting itu menata kebahagiaan. Jika kita bahagia, kita tidak punya waktu untuk mengingat-ingat masa lalu. Apa aku benar? Hmm?


Yeah. Dia benar. Tapi kebahagiaanku tidak akan pernah sempurna selama hatiku menyimpan banyak beban.

__ADS_1


__ADS_2