
Reza tidak melonggarkan cengkeraman tangannya sedikit pun. Kami berhenti sejenak di sudut sana, dia menangkup wajahku dan menghapus air mataku.
"Jangan memperlihatkan air mata ini di depan orang-orang," katanya. "Biarkan dunia tahu bahwa kamu adalah wanita yang paling bahagia dan paling beruntung sedunia."
"Beruntung apanya? Kamu membuatku menangis kesekian kalinya, itu yang kamu bilang beruntung?"
"Tolong... tahan emosi kamu, ya? Kita cari tempat yang nyaman untuk bicara." Dia berkata sepelan mungkin.
Sejenak kemudian ia menghapus air mataku sampai tuntas dan kembali menarikku menuju parkiran.
"Tante...," teriak Khiara. Dia berlari ke arahku. "Tante habis menangis, ya?"
"Menangis? Kok Khiara tahu?" Aku duduk berjongkok di depan gadis kecil itu. Aku tidak bisa mengatakan tidak, aku tidak mau berbohong pada anak kecil, apalagi sampai menjadi contoh bagi mereka.
"Mata Tante melah," sahutnya.
"Iya deh Tante mengaku, Tante tadi memang menangis."
"Memangnya Tante kenapa? Dimalahin Oom Leza, ya?
Ya Tuhan, anak ini, aku spechless dibuatnya. Reza malah nyengir kesenangan, seolah sedang menonton tayangan sitkom kesukaannya.
"Tidak," kataku sambil menggeleng.
"Gala-gala aku minta sepeda ke Tante, ya?"
"Bukan, bukan gara-gara Khiara. Pokoknya soal sepeda nanti Tante bujuk Oom Reza. Tapi Tante harus pulang dulu. Oke?"
"Oke... Oom Leza jangan malahin Tante lagi, ya? Oom Leza jangan nakal. Janji?"
"Iya, Oom janji," Reza menyahut.
Aku pun nyengir melihat mereka menautkan kelingking satu sama lain. Sejenak kemudian Reza menyuruhnya masuk dan Khiara langsung menurut.
"Am I missed something?" Alis Reza terangkat bersamaan dengan gelombang lipatan muncul di keningnya.
"Anak-anak kepingin punya sepeda," kataku. "terutama Khiara. Kamu..."
"Oke," sahutnya cepat tanpa bertanya atau menunggu aku menyelesaikan kata-kataku. Aku tahu, dia sudah paham maksudku. "Nanti kita belikan mereka sepeda, ya. Tapi sekarang kamu ikut aku, kita cari tempat untuk ngobrol."
Kami pun masuk ke mobil. Reza sudah siap di belakang kemudi dan mulai menstarter mobilnya.
"Tidak perlu jauh-jauh dan tidak perlu tempat bagus. Bahkan kita bisa mengobrol di dalam mobil, yang terpenting itu kualitas obrolannya -- solusi masalah kita," ujarku dengan menatap tajam kedua matanya.
Reza mengangguk-anggukkan kepala. "Terkadang kamu menyeramkan," katanya.
__ADS_1
"O ya? Lebih menyeramkan mana dibanding masa lalu kamu yang selalu menghantui aku?"
...♡♡♡...
Reza memarkir mobil di depan sebuah minimarket. Dia menawariku untuk ikut masuk ke minimarket, tetapi aku menolak.
"Oke, kamu tunggu di sini, jangan ke mana-mana. Dan ya, ponsel kamu masih ada padaku, tetap di sini kalau kamu masih menginginkannya."
"Aku tidak suka diancam," kataku. Aku tidak bilang iya ataupun oke, tetapi aku juga tidak ingin membantahnya.
Reza pun turun sendiri dan masuk ke minimarket. Ketika dia keluar, dia hanya menenteng plastik berisi dua cup besar es krim rasa cokelat. Dia memberikan satu untukku.
"Mas, soal sepeda untuk anak-anak, mungkin kamu bisa jual perhiasan yang kemarin kamu beli untuk Ibu. Ibu pasti senang kalau kamu membuat senang anak-anak di panti. Tapi terserah kamu, itu hanya pendapatku saja." Aku berkata sehati-hati mungkin.
"Kita tidak perlu jual perhiasan itu, pokoknya aku pasti membelikan sepeda untuk mereka."
"Oh, oke." Aku mengangguk, lalu mengalihkan pandangan ke es krim di tanganku.
Sesaat kemudian, Reza mencoleti wajahku dengan es krim miliknya, es krim itu mengenai ujung bibirku. Aku tahu apa maksudnya melakukan itu, aku tahu apa yang hendak ia lakukan, ia hendak bermesraan denganku seperti hari itu.
"Aku kangen sekali padamu," katanya.
Aku diam saja, tidak berkomentar sama sekali, kubiarkan Reza melakukan apa yang dia mau, kubiarkan dia membersihkan es krim itu dengan mulutnya, sampai dia mencium dan mel*mat bibirku dengan lembut. Mungkin dia berharap aku bereaksi sama seperti waktu itu, membalas ciumannya -- memberikannya kenikmatan yang sama. Jangan bermimpi.
"Jangan bersikap seolah kamu tidak merasakan hal yang sama. Aku tahu kamu juga kangen," ucapnya lirih di telingaku, dengan kening bertumpu di sisi kepalaku dan tangannya berpaut di leherku.
Reza melepasku, ia kembali duduk bersandar di kursi pengemudi dan membuang muka. "Itu kan menurutmu."
"Well, kalau begitu kamu selesaikan semuanya. Bersikaplah tegas pada Salsya, lalu kita menikah. Terserah kalau dia mau bunuh diri. Gampang, kan?"
Reza menarik napas panjang, lalu menatapku. "Sayang, ini tidak sesederhana yang kamu pikirkan," katanya. "Aku tidak mau seseorang mati karena aku."
"Bukan kamu yang membunuhnya."
"Tetap saja, aku yang menjadi alasan di balik kematiannya."
"Kalau begitu kita yang putus."
"Aku tidak mau."
"Ini bukan soal kamu mau atau tidak."
"Tolong, jangan korbankan hubungan kita."
"Kamu -- kamu yang mengorbankan hubungan kita, bukan aku."
__ADS_1
"Aku tidak ingin putus," katanya, suaranya melemah.
Reza meraih tanganku lalu menunduk -- memohon dengan menciumi tanganku. Andai kami tidak berada di dalam mobil, mungkin dia akan bersujud di kakiku. Aku ingin sekali menyentuh dan membelainya, ingin kukatakan dia tidak perlu seperti itu -- tidak perlu memohon sampai seperti itu, seperti menyembah kepadaku.
"Apa ada solusinya?" tanyaku, dengan sedikit menurunkan egoku.
Reza mengangkat wajahnya. Matanya merah dan berkaca-kaca. "Kamu mau mendengarku?"
"Mau mendengar, belum tentu aku akan setuju."
Reza kembali menarik napas panjang, lalu tersenyum samar, tetapi aku masih bisa melihatnya. "Aku sudah bicara pada Salsya, dan sudah merundingkan dua hal. Pertama, aku berhasil membuat dia yakin kalau aku akan benar-benar menikahinya setelah dia melahirkan. Kedua, aku sudah mengatakan kepadanya, kalau aku akan tetap menikahi kamu, kamu akan tetap menjadi yang pertama untukku."
Aku menatapnya, menggelengkan kepala dengan muak. "Aku tidak mau dimadu dan tidak sudi kamu duakan."
"Tidak akan," ucapnya. "Karena itu tadi aku mengajaknya ke ruang bayi. Aku berharap naluri keibuannya terpanggil, supaya dia bisa mencintai bayinya. Aku berharap dengan begitu dia akan berpikir panjang, dan tidak akan berpikir untuk bunuh diri lagi."
Ya Tuhan, aku bukannya orang yang suka berburuk sangka. Tapi aku punya sudut pandangku sendiri terhadap Salsya, sudut pandang sesama orang gila. "Bagaimana kalau dia masih mengancam untuk bunuh diri?" tanyaku.
"Kita coba ingatkan dia pada anaknya." Hanya itu jawaban yang diutarakan oleh Reza. Benar-benar naif.
Aku kembali menatapnya dengan muak, betapa naifnya dia saat itu. "Kamu mengkhawatirkan dia, tapi aku mengkhawatirkan kamu. Sikap cemen kamu ini membuat orang bisa dengan mudah memanfaatkan kamu."
Aku diam sejenak, meredamkan emosiku. Kulihat es krim yang belum sempat dimakan itu sudah mencair.
"Apa yang akan kamu lakukan seandainya Salsya membawa seorang penghulu, sementara satu tangannya memegang pisau tajam yang siap menusuk perutnya?"
Reza menatapku tanpa suara, matanya sendu. Aku tahu pertanyaan itu membuatnya serba salah, dia bingung hendak menjawab apa. Dia tidak mungkin menjawab A, sementara jawaban B jelas-jelas akan menambah luka di hatiku.
"Aku tahu kamu tidak akan bisa menjawab. Kamu pengecut," kataku.
"Mungkin Salsya tidak akan berpikir sejauh itu," jawabnya. Jawaban yang seolah untuk menipu dirinya sendiri.
"Orang gila bisa bertindak di luar batas," sahutku. "Aku tahu, kamu akan menjabat tangan si penghulu dan mengucapkan ijab kabul, ya kan?"
"Oke. Walaupun aku melakukannya, tapi pernikahan itu tidak sah."
Aku habis kesabaran. "Orang gila tidak akan peduli sah atau tidak. Yang terpenting baginya dia bisa memiliki kamu. Kamu ngerti? Dia akan meminta kamu untuk tidur dengannya. Kamu bahkan bisa bercinta dengan dia kalau kamu selalu pengecut seperti ini. Dia bisa mengancam kamu dengan memasang bom di tubuhnya. Dia akan bilang kalau dia akan menekan tombolnya kalau kamu tidak bersedia memberikan nafkah batin untuknya. Dan, dan kamu akan menurut. Kamu tahu? Membayangkannya saja membuatku depresi. Bagaimana kalau aku harus menyaksikan -- kamu dan dia masuk ke kamar, menutup pintu, lalu... melakukan itu."
Bergumul dengan hebat, itu yang ingin kukatakan. Sementara aku hanya akan membeku di luar kamar, mendengarkan setiap desahannya, mendengar erangannya ketika mereka klimaks, dan pada akhirnya deru napas mereka beradu, saling bersahutan, dan di wajah Salsya akan tersirat senyuman bahagia -- betapa hebatnya Reza memuaskannya di ranjang. Seperti itulah yang kubayangkan tentang masa lalu ibuku, ketika ayahku "bersenang-senang" dengan pel*cur-pel*cur kesayangannya, sementara ibuku kelimpungan mengurusi rumah dan kedua balitanya.
"Kamu paham kan maksudku? Bukan terletak dengan senjata apa dia mengancam kamu atau bagaimana caranya mengancam kamu."
Reza mengangguk. "Aku harus bagaimana? Membiarkan dia mati?"
"Kirim dia ke rumah sakit jiwa, dia akan dianggap gila karena punya kecenderungan ingin bunuh diri. Kalau dokter menyatakan dia waras, dengan kata lain dia sekadar mengancam kamu, kirim saja dia ke penjara."
__ADS_1
Reza menggeleng mendengar jawabanku. Jelas dia tidak sependapat denganku. "Bagaimana dengan anaknya kalau dia dikurung?"
Fix! Aku geram. "Ok, fine! Jadilah suaminya dan jadilah ayah untuk anaknya. Kita -- putus!"