CCI

CCI
71


__ADS_3

Risau -- satu kata yang tepat untuk menggambarkan suasana hatiku saat ini. Aku butuh seseorang untuk berbagi, orang yang bisa mendengarkan curahan hatiku, yang bisa mengerti dan memahami keresahan dan kegundahanku. Yeah, aku ingin curhat, sebab itu aku menelepon ibuku. Waktu itu sekitar jam sepuluh pagi, Reza sedang tidak di rumah. Aku bisa leluasa bercerita tentang segalanya, terlebih tentang sikap Reza beberapa hari ini yang selalu menghabiskan waktu di luar dan selalu pulang malam. Sambil sesekali mencelupkan kakiku ke kolam, aku mendengarkan nasihat ibuku dari seberang sana.


"Tetaplah sabar. Reza butuh waktu untuk sendiri, dia pasti punya alasan kenapa dia tidak menceritakan hal itu. Mungkin dia tidak mau membuat kamu khawatir semisal kamu tahu kalau dia mau terbang. Sedangkan kalau kamu tahu kamu pasti akan melarangnya. Iya kan?"


"Iya, tapi itu demi kebaikannya, Bund."


"Bunda tahu, Sayang. Bunda tidak menyalahkan kamu, tapi kita juga tidak bisa menyalahkan Reza. Setiap orang punya caranya sendiri untuk mengatasi kesedihan."


"Tapi..."


"Kalau kamu sedih, kamu melarikan diri entah ke mana, apa Bunda bisa mencegahmu? Kamu selalu kabur. Ingat?"


Kata-kata ibuku menohokku dengan telak. Keadaan ini rumit, aku bingung. Emosi Reza sedang tidak stabil, aku merasa bersalah jika aku membiarkannya dengan hal-hal yang menantang maut. Tetapi melarangnya pun pasti akan membuatnya semakin menjauh dariku, bisa-bisa aku dianggap tidak pengertian, karena belum tentu dia mau mendengarkan aku.


"Sabar ya, Sayang. Bilang saja kalau kamu bisa menemaninya ke mana pun yang dia mau, dan kamu tidak akan melarang apa pun yang ingin dia lakukan. Tapi jangan memaksa kalau dia tetap menolak."


"Iya, Bund. Nara--"


Eh?


Aku tersentak kaget. Tiba-tiba Reza berdiri di belakangku, membenamkan wajahnya di lekuk leherku dan dipeluknya aku erat-erat. Aku pun langsung menyudahi telepon dengan ibuku.


"Mas? Ada apa?" tanyaku. Reza menggeleng. Dia mengangkat wajahnya, lalu memelukku lebih erat lagi.


"Thanks."


"Untuk apa?"


"Untuk pengertianmu. Untuk memberi ruang. Untuk tidak marah-marah padaku karena sudah beberapa hari tidak menghabiskan waktu bersamamu, dan membiarkan kamu sendirian."


Aku menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Kubelai wajahnya dan kukecup pipinya. "Bohong kalau aku bilang tidak apa-apa. Tapi aku berusaha untuk tidak marah. Aku mengerti. Aku tidak menyalahkan kamu. Tapi harusnya kamu memberitahuku. Harusnya kamu ajak aku bersamamu. Jangan menghilang entah ke mana, lalu mengharapkan aku tidak usah cemas. Bukan begitu caranya."


Reza mendengarkan celotehanku tanpa bantah. Aku yakin dia bertemu Erik dan Erik pasti memberitahukan kedatanganku kemarin, sebab itu dia langsung pulang. Kalau tidak, pasti dia sudah melanglang buana lagi entah ke mana.


"Aku tahu. Aku minta maaf," katanya. Lalu dia melepaskan pelukannya, memutarku, dan menangkup wajahku. "Tapi harus kamu tahu, jujur, aku tetap ingat pulang karena aku ingat ada kamu yang menungguku. Trims, entah di mana aku kalau tidak ada kamu. I love you, Nara."


Lega. Aku tahu dia pasti kembali padaku. "I love you too. Aku akan terus berada di sisi kamu. Melekat seperti lem."


...♡♡♡...


Siang itu Reza mengajakku ke bioskop untuk membuatku kembali ceria. Kami sedang tidak ingin pergi jauh-jauh. Kau tahu film apa yang kami tonton? Yap, film comedy horror, Djoerig Salawe. Lo kok? Iya, yang nonton cuma Reza. Aku kan penakut, sebab itu aku lebih banyak menutup telinga. Bukannya menonton film, aku malah menonton Reza yang tertawa terpingkal-pingkal. "Benar-benar lucu," katanya.


Demi kamu Mas, tak apa aku ada di sini. Setidaknya ada sesi berbagi popcorn atau bercumbu mesra di sela-sela adegan film. Reza sudah kembali hangat dan bersikap manis kepadaku. Jadi selama sekian puluh menit itu aku bisa berpura-pura segalanya hampir normal. Kurasa tujuannya bukan untuk membuatku kembali ceria, melainkan untuk dirinya sendiri, pilihan kata yang tepat sebenarnya bukan mengajak tapi minta ditemani, sebab... Reza yang menentukan film apa yang mau ia tonton, dia suka komedi dan suka horor, kesukaan yang bertentangan dengan kesukaanku. Tapi cinta butuh pengorbanan, termasuk melawan rasa takut. Atas nama cinta, aku telah membuktikannya, aku bisa melawan rasa takutku demi dia.

__ADS_1


Ah, jangan protes. Aku memang tidak menonton film itu, tapi setidaknya aku berani masuk ke bioskop itu, kan? Netizen dilarang julit!


...♡♡♡...


"Kenapa kamu pilih gula jagung?" Reza bertanya padaku saat kami belanja di supermarket. Ada banyak keperluan dapur dan kebutuhan lainnya untuk dibeli.


"Karena kamu," kataku. "Ayah kamu punya riwayat diabetes, dan itu berpotensi besar menurun ke kamu."


Reza mengernyitkan kening. Sebelum dia bertanya dari mana aku tahu, cepat-cepat kukatakan aku tahu dari ibunya. Ibunya menceritakan itu padaku.


"Kapan?"


"Waktu di rumah sakit. Kamu lagi di luar waktu itu."


Reza manggut-manggut, mencoba memikirkan ulang cerita-cerita seminggu yang lalu.


"Ibu meminta aku menemani dan mengurusi kamu. Kalau waktu itu kita sadari, sebenarnya Ibu sudah tahu apa yang akan terjadi."


Reza manggut-manggut lagi, dia sependapat denganku. "Lalu Ibu bilang apa lagi?"


"Kamu mau tahu? Ada syaratnya, nanti kamu harus belikan es krim untuk kita berdua, dan kamu harus ikut makan es krim itu denganku."


"Iya, oke."


"Tidak juga, aku cuma tidak suka buang-buang waktu."


"Alasan." Aku pun mencibir.


Aku berhenti sejenak, mengambil cokelat bubuk dari raknya, lalu bergeser sedikit, mengambil teh tarik. Aku mengingat-ingat, sudah cukup lama aku tidak meminumnya, terhitung sejak dekat dengan Reza. Aku malah sering minum teh melati seperti dia.


"Terus apalagi?" tanya Reza memutus lamunanku.


"Kata Ibu, kamu itu tidak bisa menaruh perhatian pada hal-hal kecil. Contohnya, kamu abai waktu harus bayar listrik atau saat harus isi token listrik, pantas waktu kita di villa listrik sampai padam. Dan wajar Ibu mau kamu cepat menikah, kamu tidak bisa mengurusi hidup kamu sendiri."


"Hanya pada hal-hal tertentu, ya. Tidak pada semua hal," sanggahnya.


"Oke. Tidak ada yang melarang kamu menyanggah hal itu."


Dia pun tersipu, meskipun dia menyangkal, tapi hal-hal itu tidak bisa dipungkiri. Dan aku beruntung, ibunya sempat menyampaikan hal-hal itu kepadaku, meski terdengar sepele, tapi itu hal-hal yang cukup penting untuk kupahami.


"Ibu juga bilang kamu itu pemakan segala jenis makanan, tapi kalau kamu sedang bosan makan yang itu itu saja, solusinya mudah, cukup masak pekasam, peda, belukang, jenis-jenis ikan asin lainnya, juga ikan asap."


"Balur dan Salai," katanya menegaskan.

__ADS_1


"Iyo, uji wong Palembang itu kalu ikan di enjuk garem terus dijemur namonyo balur, kalu diasap itu namonyo salai, nah kalu dipermentasi itu pekasam. Dak usah nak diomongke nian ye, aku ingat," ocehku dengan jengkel.


Well, aku mencebik. Sedangkan Reza terkekeh senang. "Gadis Palembang itu memang lucu, ya."


"Memangnya kamu paham apa yang kukatakan tadi?"


...♡♡♡...


Ice cream. Siapa yang tidak suka es krim? Makanan yang dingin dan menyegarkan ini disukai oleh semua orang dari segala usia. Apalagi di siang bolong seperti hari itu.


Kami tiba di gerai es krim italia dan memesan dua scoop gelato rasa cokelat.


"Enak, kan?" tanyaku.


"Mmm-hmm," Reza menyetujui, dia menyendok gelatonya. "Ayo jalan," katanya sejenak kemudian.


Kami menyusuri jalan, melewati beberapa toko, dan langsung masuk ke mobil begitu sampai di parkiran.


"Mas, kamu ingat waktu pertama kali aku bertemu Ibu. Waktu itu kamu bertanya kenapa kami menangis?"


"Ingat," katanya. Dia diam sejenak, mencoba mengenang kembali masa itu. "Memangnya kenapa? Emm... maksudku kenapa kalian menangis waktu itu? Ibu mengatakan sesuatu?"


Aku mengangguk. "Waktu itu Ibu minta aku berjanji."


"Janji? Janji apa?"


"Tidak perlu menyelah, Mas. Cukup dengarkan aku. Oke?"


"Baiklah, aku mendengarkan."


"Emm... waktu itu Ibu minta aku berjanji untuk menikah dengan kamu. Kamu kan tahu sendiri, aku tidak suka berjanji, tapi karena Ibu menangis, aku jadi berjanji. Katanya dia akan tenang kalau aku berjanji padanya. Malah Ibu terang-terangan bilang kalau mungkin umurnya tidak akan lama lagi dan dia menitipkan kamu ke aku. Aku tidak menyangka kalau itu semacam wasiat atau semacam amanahnya untukku."


Mata Reza berkaca-kaca. "Thanks ya, kamu bersedia memenuhi permintaan Ibu. Berkat kamu, aku merasa hidupku masih berarti. Aku masih punya tujuan hidup dan masih punya tempat untuk pulang. You are my home, Nara. Kamu adalah rumah yang kutuju."


"Itu Aku, Sheila On Seven," kataku. Aku nyengir. "Simbiosis mutualisme, apa jadinya aku dan entah ada di mana aku saat ini jika tidak ada kamu?"


Reza tersenyum simpul dan kembali menjadi Reza yang usil. Dia mencoletkan es krimnya ke wajahku, persis di rahang kananku.


"Kamu baru saja mengucapkan terima kasih. Sekarang sudah jahil. Tanggung jawab! Bersihkan wajahku.!" Aku pun menyodorkan tisu.


"Aku tidak butuh tisu," katanya. Dia menaruh es krimnya, lalu mendekat ke wajahku. Dan kau tahu kan apa yang ia lakukan?


Modus!

__ADS_1


Tapi menyenangkan. Dan aku suka.


__ADS_2